
Brayen berusaha untuk menahan tawanya, mendengar ucapan istrinya. " Tapi kau tahu, aku selalu bertindak kejam, bukan? Biasanya aku tidak pernah menolong orang." jawab Brayen.
Devita berdecak kesal, "Aku tahu, sebenarnya kau ini sangat baik, Brayen! Aku mohon bantu Angkasa, kasihan Laretta. Tadi pagi aku melihatnya begitu muram." bujuk Devita.
"Aku tidak sebaik yang kau pikir jika dalam hal berbisnis, Devita" balas Brayen.
Devita mencebik. " Baiklah, kalau begitu berikan aku uang satu milyar dollar. Aku ingin berbelanja sepuasnya." ucap Devita ketus.
"Kau ingin belanja apa sebanyak itu?" tanya Brayen, ia berusaha keras untuk menahan tawanya.
"Sejak kapan kau pelit, Brayen! Aku ingin berbelanja sesukaku. Karena semua isi mall akan aku beli," balas Devita kesal.
Brayen mengangguk - anggukan kepalanya. Seolah mengiyakan perkataan Istrinya. " Tapi satu milyar dollar itu sangat banyak, itu sama seperti kau membangun sebuah perusahaan besar. Jadi rasanya aku tidak mungkin memberikanmu uang sebanyak itu sekarang. Aku akan memberikanmu uang untuk membuka perusahaan mu sendiri tetapi setelah kau lulus kuliah," jelas Brayen.
"Kau pelit, Brayen!" Geram Devita.
"Aku tidak pelit, Devita. Kau bisa meminta apapun yang kau mau. Aku pasti akan menurutinya." balas Brayen.
"Kau tidak mau membantu Angkasa. Kau juga tidak mau memberikan uang satu milyar dollar padaku! Kau egois Brayen!" Seru Devita, ia langsung beranjak berdiri. Namun, tangan kokoh Brayen menahannya. "Aku menyukai kau yang seperti ini, jangan bangun." bisik Brayen.
"Baiklah, kalau kau masih menginginkan aku untuk duduk di pangkuanmu. Turuti keinginanku." Tukas Devita.
"Apa kau sedang memeras suamimu sendiri?" tanya Brayen datar.
"CK! Aku tidak memerasmu kau memiliki banyak uang Brayen! Kenapa kau ini pelit sekali! Dan tidak hanya pelit kau juga tidak pernah memikirkan perasaan Laretta-" Brayen yang sudah tidak tahan mendengar suara istrinya, ia langsung menarik tengkuk leher Istrinya. Brayen mencium dan ******* bibir ranum Devita yang sejak tadi terus mengomel padanya. Brayen menggigit bibir Marsha hingga membuat Marsha memekik kesakitan.
"Bibirmu itu harus segera di tutup dengan bibirku. Sejak tadi bibirmu terus berisik." ucap Brayen saat tautan bibirnya terlepas.
Devita langsung memukul lengan Brayen. "Kenapa kau menggigitku!"
"Karena bibirmu itu tidak bisa diam. Maka aku akan menyumpalnya dengan cara yang lain." balas Brayen.
"Brayen! Kau itu menyebalkan!" Seru Devita.
Brayen menarik dagu Marsha. Ia mencium dan ******* kembali bibir Marsha. Kali ini Brayen menciumnya dengan sangat lembut. Devita memejamkan matanya dan kini ia membalas setiap ******* yang di berikan oleh Brayen.
...***...
Brayen turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion. Hari ini dia pulang sedikit terlambat, karena ada pertemuan dengan rekan bisnisnya. Brayen yakin, Devita pasti sudah tertidur pulas. Tadi sore, Brayen memang meminta Devita untuk pulang lebih dulu. Karena ada meeting penting yang tidak bisa untuk dia tinggal. Akhirnya, Brayen meminta Devita untuk pulang lebih dulu dan temani oleh sopir. Meskipun Devita awalnya menolak di antar oleh sopir, tapi karena paksaan dari Brayen, mau tidak mau Devita pun menuruti perintah Brayen.
Sebenarnya Brayen lebih menyukai Devita dengan sopir dari pada harus mengendarai mobil sendiri. Alasannya tentu demi keselamatan istrinya. Namun percuma, karena Devita tidak pernah suka jika harus berpergian dengan sopir.
Brayen harus berdebat dan memaksa, jika meminta Devita harus pergi dengan sopir. Dan Devita memang tidak terlalu suka, jika Brayen memperlakukannya terlalu berlebihan. Bahkan hingga detik ini, Devita masih melarang Brayen untuk tidak mencari asistent pengganti Ruby. Bagi Devita, saat ini dirinya belum membutuhkan asisten.
Brayen melangkah masuk kedalam rumah, saat ia berjalan masuk langkahnya terhenti ketika sudah melihat Laretta berdiri di depan. Brayen menautkan alisnya dan menatapnya dengan lekat. " Apa yang kau lakukan disini, Laretta?" tegur Brayen.
"Kau ingin berbicara denganku, di malam hari? Apa kau tidak mengenal besok?" tukas Brayen dingin.
Laretta mendesah pelan. " Ini sangat penting, karena aku ingin berbicara denganmu sekarang, Kak."
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan, Laretta?" tanya Brayen dingin.
Laretta menatap lekat Brayen. " Aku tahu, Kakak yang membantu Angkasa. Tetapi kenapa kau harus menggunakan namaku, Kak?"
"Aku tidak membantunya." jawab Brayen singkat.
"Jangan bohong, Kak. Aku sudah tahu, karena Angkasa yang sudah memberitahuku. Dia juga bertanya kepadaku, kenapa aku menjadi investor di perusahaannya. Dua miliyar dollar mana mungkin aku bisa mengeluarkan uang yang sebanyak itu, jika tanpa seizin darimu." ujar Laretta. Ia tahu, semua pasti karena Brayen yang sudah membantu Angkasa. Hanya Laretta ingin bertanya langsung pada Kakaknya itu apa tujuan dia membantu Angkasa.
"Karena memang aku tidak berniat untuk membantunya," balas Brayen dingin.
"Jika Kakak tidak berniat untuk membantu Angkasa, kenapa Kakak harus menginvestasikan dua milyar dollar ke perusahaan milik Angkasa? Aku sudah melihat berita tentang perusahaan Angkasa yang sedang mengalami masalah," kata Laretta, ia tidak habis pikir kenapa Brayen tidak mengakuinya.
"Laretta, aku tidak mungkin membantunya. Kalau kau bertanya alasan aku berinvestasi, bukannya sudah jelas aku meletakkan namamu sebagai investor? Itu artinya aku memintamu untuk belajar tentang perusahaan." tukas Brayen, penuh dengan penekanan.
Laretta tersenyum, ia langsung menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Brayen. " Aku tahu, kau memang selalu keras. Ketika aku kecil, aku kesal dengan sifatmu yang begitu arrogant. Bahkan hingga sekarang kau tetap arrogant. Tapi dari semua itu, aku sangat tahu Kak. Kau sangat baik, kau menyayangiku. Dan aku juga sangat menyayangimu."
Brayen tidak bergeming dengan wajahnya yang datar ia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari adiknya. " Tidurlah kau butuh istirahat. Tidak baik bagi wanita hamil jika harus tidur malam." balas Brayen.
Laretta melepaskan pelukannya dan menatap lekat Brayen. " Terima kasih Kak. Aku tahu, kau itu sangat baik."
"Masih banyak yang harus dilakukan oleh pria itu, untuk membuktikan jika dia memang pantas untukmu." tukas Brayen, lalu ia berjalan meninggalkan Laretta.
Laretta kembali tersenyum. Meski dia tahu, Brayen itu sangat keras, tapi dia yakin di balik semua itu Kakaknya memiliki hati yang baik. Ya, Laretta juga menyadari akibat sifat keras dan arrogant dari Brayen, banyak orang yang tidak menyukai Brayen.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.