Love And Contract

Love And Contract
Pertanyaan Bibi Caroline



Brayen dan juga Devita tersenyum melihat tingkah Sean yang begitu bahagia mendapatkan mainan baru.


"Olivia, aku dan Brayen masuk dulu. Aku sangat lelah." ucap Devita sambil menatap Olivia.


Olivia menggangguk. "Istirahatlah, Devita. Nanti aku yang akan main dengan Sean."


Devita tersenyum. "Terima kasih, Olivia."


Kemudian Brayen menyerahkan shopping bag di tangannya pada pelayan. Lalu dia dan Devita masuk kedalam kamar. Sedangkan Sean yang begitu senang mendapatkan mainan baru, dia langsung mengajak Olivia untuk menemaninya bermain.


"Bibi Olivia, robotku bagus kan?" Sean menunjukkan robot barunya yang di belikan oleh Brayen.


"Bagus sayang," Olivia mengelus lembut pipi gemuk Sean.


"Bibi Olivia, apa Bibi Olivia sudah menikah dengan Paman Felix?" tanya Sean sambil menatap Olivia.


Olivia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sean. Dia langsung mengelus lembut rambut Sean. "Sayang, kau tahu darimana bahasa menikah?"


"Dari Daddy. Daddy bilang padaku, kelak ketika aku dewasa, aku harus menikah dengan wanita seperti Mommy. Daddy bilang Mommy sempurna. Jadi, aku harus menikah dengan wanita seperti Mommy." ucap Sean dengan suara polosnya.


Olivia tersenyum, dia membawa Sean, duduk di pangkuannya. "Kau benar, sayang. Kau harus mencari dan menikah dengan wanita seperti Mommymu. Mommymu itu wanita yang baik dan juga cantik."


"Tapi aku juga menyukai Bibi Olivia dan Bibi Laretta. Kalian berdua sangat cantik," Sean memeluk leher Olivia, lalu mengecup pipi Olivia.


Olivia tersenyum mendengar ucapan Sean, dia mengelus pipi gemuk Sean. "Bibi juga


menyukai Sean, karena Sean sangat tampan."


"Jadi Bibi Olivia apa sudah menikah dengan Paman Felix?" Sean kembali bertanya sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan Olivia.


"Belum sayang, Bibi Olivia dan Paman Felix belum menikah," jawab Olivia dengan suara yang lembut.


"Apa Bibi Olivia mencintai Paman Felix seperti Daddy mencintai Mommy?" Sean menjauhkan kepalanya, lalu menatap Olivia.


Olivia mengecup pipi gemuk Sean, lalu berkata, "Bibi Olivia mencintai Pamanmu. Sama seperti Daddymu mencintai Mommymu."


"Tapi kenapa Bibi Olivia belum menikah dengan Paman Felix?"Sean memiringkan kepalanya, hingga membuat Olivia dan terus mencium Sean.


"Suatu saat, Bibi akan menikah dengan Paman Felix. Kelak, ketika Sean dewasa, Sean akan mengerti." Olivia memeluk erat Sean, dia terus menciumi pipi Sean. Mencium aroma harum parfum bayi yang begitu dia sukai.


Tanpa Olivia sadari, Felix tengah berdiri di ambang pintu, dia yang baru saja tiba, tanpa sengaja mendengar percakapan Olivia dan juga Sean. Seketika hatinya menghangat mendengar ucapan Olivia. Ya, meski kenyataannya Olivia masih belum bisa menerimanya, tapi tidak masalah bagi Felix. Dia sudah berjanji akan selalu menunggu Olivia.


Felix masih tidak bergeming dari tempatnya. Dia terus menatap Olivia yang tengah memeluk Sean. Dia memilih untuk tidak menghampiri Olivia dan juga Sean sekarang. Terlebih, Olivia dan Sean baru saja membicarakan tentang dirinya. Kali ini Felix bersyukur memiliki keponakan yang sangat aktif dan cerdas.


...***...


"Sean, sepertinya menyukai tidur dalam pelukanmu," Felix mendekat ke arah Olivia, dia menatap Sean yang tertidur pulas dalam pelukan Olivia. Senyum di bibirnya terukir, kala melihat Sean tertidur begitu pulas dalam pelukan Olivia.


Olivia menoleh, dia menatap Felix yang mendekat ke arahnya. "Kau sudah pulang?" tanyanya dengan suara yang pelan. Dia tidak ingin membuat Sean terbangun.


Felix menggangguk, dia langsung duduk di samping Olivia. "Kenapa kau belum memindahkan Sean ke kamarnya?"


"Tadi, saat aku ingin memindahkan Sean, dia terbangun. Jadi aku membiarkan dia tidur dalam pelukanku. Lagi pula, aku suka melihat Sean tidur dalam pelukanku," jawab Olivia sambil mengecup hidung Sean. Dia melihat Sean yang tertidur begitu pulas, membuat hatinya menghangat.


"Sean beruntung, kau sangat menyayanginya." ucap Felix sembari mengelus lembut pipi gemuk Sean.


"Aku sudah menganggap Sean seperti anakku sendiri." Olivia mengecup kening Sean. Tatapannya terus menatap lembut Sean yang begitu tenang, tidur dalam pelukannya.


Olivia menatap lembut Felix. "Terima kasih, kau selalu menungguku, Felix."


"Aku sudah berjanji untuk selalu menunggumu." Felix mengecup kening Olivia. "Sekarang, lebih baik kau beristirahat. Besok, aku akan membawamu ke suatu tempat bersama dengan Sean. Berikan Sean padaku, biarkan aku yang mengantarnya kedalam kamar."


Olivia mengangguk. Kemudian Olivia memberikan Sean dengan hati - hati pada Felix. Dia tidak ingin membuat Sean terbangun. Kini Felix menggendong Sean dan langsung membawa Sean masuk kedalam kamarnya.


Sedangkan Olivia yang masih tidak bergeming dari tempatnya, terus menatap Felix yang terlihat begitu menyayangi Sean. Ya, Olivia bisa melihat jika Felix begitu ingin memiliki keluarga. Tanpa sadar, air mata Olivia keluar dari sudut matanya. Dengan cepat Olivia langsung menghapus air matanya. Kemudian, Olivia beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah masuk kedalam kamarnya.


...***...


Suara dering ponsel terdengar, membuat Devita yang tengah tertidur begitu pulas harus terbangun. Devita mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melirik jam dinding kini sudah pukul sebelas malam. Dia melihat kesamping, Brayen masih tertidur pulas. Dering ponsel Devita, kembali terdengar. Devita berdecak, ketika dering ponselnya kembali terdengar.


Dengan terpaksa, Devita mengambil ponselnya yang terus berdering itu. Dia juga menghidupkan lampu yang ada di ada di atas nakas. Devita mengerutkan keningnya, kala menatap layar ponsel nomor Caroline. Ibunya Olivia yang muncul di layar ponselnya. Devita terdiam sesaat, tidak biasanya Ibunya Olivia menghubunginya. Namun, dia tidak ingin membuat Caroline menunggu lama, dia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.


"Bibi Caroline?" sapa Devita, saat panggilannya terhubung.


"Devita, apa Bibi menganggumu?" tanya Caroline dari sebrang telepon.


"Tidak Bibi, aku senang Bibi menghubungiku. Apa kabar Bibi?"


"Bibi baik, sayang. Tapi ada hal yang ingin Bibi tanyakan padamu?"


"Ada apa, Bibi?"


"Devita, apa kau tahu selama tiga tahun ini, Olivia tidak pernah pulang ke negara K? Lalu apa kau tahu, alasan kenapa Olivia menatap tinggal di negara M? Padahal, sejak dulu dia tidak mau jauh darimu, Devita. Apa Olivia menceritakan sesuatu padamu?"


Devita terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari Caroline. Jika Caroline bertanya seperti ini padanya, itu artinya Olivia tidak pernah menceritakan apapun pada Caroline.


"Bibi Caroline, saat ini aku sedang berada di negara M. Aku mengajak Sean berlibur sekaligus menemui Olivia dan Felix. Untuk alasan kenapa Olivia tidak pernah pulang ke negara K, jujur aku tidak tahu Bibi. Tapi aku yakin, dia memiliki alasan sendiri kenapa selama tiga tahun ini tidak pulang. Aku berjanji setelah ini akan berbicara pada Olivia. Dan alasan kenapa Olivia menetap di negara M, mungkin Olivia ingin mendapatkan suasana yang baru, Bibi. Selama di negara M, Olivia juga membantu Felix di perusahaan. Lagi pula, ini adalah tahun terkahir Olivia tinggal di negara M. Dia akan kembali ke Negara I bersama denganku."


Helaan nafas berat Caroline terdengar dari balik teleponnya. "Jadi kau ada di negara M? Tolong, sampaikan pada Olivia, dia harus mengujungi orang tuanya. Dia sudah menjalin hubungan begitu lama dengan seorang pria, tapi tidak sama sekali menunjukkan keseriusan hubungan."


"Bibi Caroline, Felix dan Olivia sedang menjalin hubungan yang sangat serius. Aku yakin, Olivia pasti memilki alasan tersendiri."


"Baiklah Devita. Tolong kau ajak bicara Olivia. Karena dia selalu menghindar jika Bibi bertanya hubungannya dengan Felix. Ya sudah Devita, Bibi tutup dulu. Terima kasih untuk waktumu."


"Iya Bibi."


Panggilan tertutup, Devita meletakkan kembali ponselnya yang ada di atas nakas. Dia mendesah pelan, ternyata Olivia selalu menghindar dari pertanyaan orang tuanya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.