Love And Contract

Love And Contract
Berita Perusahaan



Devita beranjak dari tempat duduknya, dia langsung memeluk lengan suaminya. Devita tahu kini Brayen sedang menahan amarahnya. " Brayen jangan seperti itu, William hanya berpamitan dia akan meninggalkan Indonesia."


William tersenyum miring. " Tenanglah Brayen Adams Mahendra, aku tidak akan merebut istrimu dari sisimu kau tidak perlu khawatir."


"Ini pertama dan terakhir aku melihatmu William Dixon! Jika aku melihatmu lagi, percayalah aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!" Peringat Brayen tajam dan menusuk.


"Allright, aku tidak akan menganggu istrimu. Tenang saja, aku juga akan meninggalkan negara ini." balas William dengan santai.


Brayen mengeluarkan dompetnya, dia meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja untuk makanan yang sudah di pesan oleh Istrinya. Dengan cepat Brayen menarik tangan Devita dan berjalan keluar dari kafe. Brayen tidak akan pernah mau berlama-lama dengan William.


"Brayen, kau menyakiti tanganku!" Seru Devita kesal, tangannya harus di tarik seperti ini


Terlebih banyak orang yang melihat dirinya dan juga Brayen.


Tak memperdulikan ucapan dari Devita, Brayen menarik paksa tangan Devita. Dia membuka kasar pintu mobil dan mendorong pelan tubuh Devita masuk kedalam mobil. Setelah Devita masuk, Brayen langsung masuk kedalam mobil. Dengan penuh amarah Brayen menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak gas. Brayen mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan halaman parkir Mall.


"Brayen! Aku belum ingin mati! Bahkan kita belum memiliki anak! Apa kau ingin membunuhku!" Sentak Devita, dia tidak habis pikir jika suaminya itu mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


Mendengar ucapan dari Devita, Brayen menurunkan kecepatannya. Brayen membuang napas kasar, sudah berkali - kali Brayen mengatakan, jangan pernah berbicara dengan William tapi istrinya itu tidak juga mendengar.


"Aku sudah berapa kali mengatakan padamu Devita! Jangan pernah lagi berbicara dengan pria sialan itu! Kenapa kau tidak pernah mendengar perkataanku!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


Devita terkesiap, saat Brayen meninggikan suaranya. Devita kini bisa melihat dengan jelas, jika suaminya kini begitu marah padanya. Devita tahu, Brayen pasti sangat marah karena memang sebelumnya Brayen mengatakan untuk tidak berbicara dengan William.


"Brayen, dengarkan aku. Maaf, aku sungguh minta maaf. Tapi sungguh, William datang hanya ingin berpamitan. Aku tidak mungkin hanya diam saja, ketika dia ingin berpamitan. Lagi pula, dia juga akan pindah dari Indonesia. Jadi jangan lagi marah Brayen." kata Devita berusaha untuk meredakan emosi dari Brayen. Namun kenyataannya Brayen masih diam dan tidak merespon apapun.


Devita menarik napas dalam, benar-benar membuat kepalanya pusing. Kenapa Brayen seperti anak kecil sekali. Padahal dirinya tidak melakukan apapun. Dia hanya mengobrol pada William di kafe.


"Brayen, aku minta maaf jangan marah." Devita kembali berusaha membujuk suaminya yang sama sekali tidak merespon perkataannya.


"Aku sudah mengatakan berkali - kali padamu, Devita Mahendra! Don't talk to him! Kau sudah mengatakan tidak berbicara lagi padanya! Tapi kau tetap berbicara dengannya Devita!" Suara Brayen terdengar begitu dingin dan geraman menahan amarah.


"Ya, maafkan aku. Sungguh aku berbicara dengan William karena bagaimanapun William pernah membantu kita saat itu. Dia juga terlibat membantuku Brayen. Aku mohon jangan marah lagi Brayen." Devita tidak ada pilihan lain lagi selain meminta maaf pada suaminya. Tapi kenyataannya Brayen tidak bergeming. Devita juga tidak mungkin untuk mengusir William tadi. Benar - benar dia tidak tahu harus bagaimana. Brayen seperti anak kecil.


"Brayen, kenapa kau mendiamkan aku? Aku sudah meminta maaf padamu!" Gerutu Devita, mengerutkan bibirnya.


Terdengar dering ponsel. Brayen mengalihkan pandangannya dan mengambil ponselnya, menatap ke layar tertera nama Albert. Kemudian Brayen memilih untuk menjawab telepon itu daripada harus berdebat dengan Istrinya.


"Ada apa?" tukas Brayen dingin, saat panggilannya terhubung.


"Tuan, maaf saya menganggu waktu, Tuan. Tapi ada hal yang ingin saya katakan Tuan." jawab Albert terdengar cemas dari sebrang telepon.


"Ada apa? Kenapa kau seperti mendapatkan masalah?"


"Tuan, ini tentang Gelisa Wilson. Maafkan atas keterlambatan saya mengetahui ini, Tuan."


"T-Tuan. Saya sungguh minta maaf . Tapi ada berita di media yang mengatakan, jika Tuan telah melakukan pencucian uang. Saya sudah menyelidiki ini semua, Tuan. Dan yang melakukannya adalah Gelisa Wilson. Akibat pemberitaan dari media saham dari Mahendra Enterprise menurun Tuan. Kondisi Tuan David juga memburuk setelah melihat pemberitaan dari media," Albert menjelaskan dengan gugup, suaranya bergetar, dan Brayen sangat tahu, Asistennya kini merasa sangat ketakutan.


Brayen menggeram, dia mencengkram dengan kuat stir mobil " Sialan! Aku tidak butuh pencucian uang! Berita macam apa itu! Dan kau terlambat untuk mengetahuinya! Urus semua berita itu! Dan berikan juga bukti jika aku tidak pernah terlambat membayar pajak! Sialan! Gelisa Sialan!! Lenyapkan wanita itu, Albert! Buat perhitungan padanya karena dia sudah berani membuat saham perusahaanku menurun!" Bentak Brayen dengan penuh emosi.


"B- Baik, Tuan."


"Aku hanya memberimu waktu satu hari Albert! Jika dalam waktu satu hari, kau belum juga membereskan masalah ini! Lebih baik kau angkat kaki dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Berapa kali aku sudah mengatakannya padamu untuk tidak lengah! Kenapa kau bisa sebodoh ini, Albert!" Geram Brayen memberikan peringatan tajam.


"M- Maaf Tuan. Saya berjanji ini tidak akan terulang lagi."


Brayen memutuskan sambungan teleponnya, dia membanting ponselnya hingga membuat Devita tersentak. Devita melirik ke arah Brayen yang kini penuh dengan amarah, bahkan dia tidak berani untuk menatap suaminya. Brayen menginjak gas dan semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Devita menelan salivanya, dia memegang seatbelet set kuat. Tangannya bergetar, dia sungguh sangat takut.


"B- Brayen tenangkan dirimu. Setiap masalah bisa di selesaikan Brayen." Devita berusaha untuk menenangkan Brayen, meskipun Devita sangat takut karena Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Brayen tidak menjawab, hingga mereka kini sudah memasuki halaman parkir mansion. Brayen turun dari mobil dan membanting kasar pintu mobil. Devita turun dari mobil, seketika Devita langsung mual. Kepala Devita mulai pusing. Devita memuntahkan semua isi perutnya. Beruntung Brayen tidak melihatnya. Saat ada pelayan, Devita meminta pelayan untuk membersihkan lantai.


Devita duduk di sofa ruang tamu, kepalanya mulai pusing, mungkin karena Brayen mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Tapi kali ini kepalanya mulai pusing, bahkan rasanya dia tidak mampu lagi berdiri.


"Nyonya, apa Nyonya sakit? Saya akan memanggilkan dokter jika Nyonya sakit." kata pelayan, saat melihat wajah Devita yang terlihat pucat.


Devita menggeleng pelan, " Tidak, aku tidak apa-apa. Apa kau lihat suamiku?"


"Tuan Brayen langsung masuk kedalam ruang kerjanya, Nyonya. Sepertinya Tuan Brayen sedang berada dalam masalah." jawab pelayan.


Devita mendesah pelan, " Biarkan saja, jangan sampai dia tahu jika aku muntah. Brayen sedang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jangan menganggunya."


Pelayan itu mengangguk patuh. " Baik Nyonya,"


Devita mulai beranjak, dengan kepala yang mulai berat dia mulai berjalan masuk ke dalam kamar.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.