Love And Contract

Love And Contract
Amarah Brayen



Richard mengulurkan tangannya pada Olivia, dan Olivia pun membalas jabat tangan Richard.


"Richard,"


"Olivia,"


"Ternyata kau memiliki teman dari Kanada juga,"


"Ibuku asli orang Indonesia, Ayahku berasal dari Kanada. Dulunya aku tinggal di Kanada, tapi setelah aku lulus SMA, aku pindah ke kota B ini," jelas Devita.


Richard mengangguk paham "Pantas kau sangat cantik, Devita."


Devita memutar bola matanya malas mendengar ucapan Richard.


"Sekarang kau lebih baik menjawab pertanyaanku tadi Richard." Devita kembali meminta Richard untuk kembali menjawab pertanyaan yang tadi tertunda.


Richard tersenyum, " Well, aku ke kota B karena Kakak tiri ku tinggal di sini. Lalu aku ke Dixon's Group, karena Kakak tiri ku adalah pemilik Dixon's Group,"


Devita sangat terkejut mendengar ucapan Richard, "Tunggu, Kakak tirimu pemilik Dixon's Group? Maksudmu William Dixon?" tanya Devita.


"Ya, aku adalah Richard Alexander Dixon. Aku satu Ayah dengan William. Kami berbeda 3 tahun. Usiaku 25 tahun. Ayahku sudah berpisah lama dengan Ibunya William. Ayahku kini tinggal di Berlin bersama dengan Ibuku," jelas Richard.


"Jadi William sudah tidak tinggal dengan Ayahnya?"


"Tidak. Ayahku dan Ibunya William sudah berpisah sejak lama. Tapi hubunganku dengan William tetap baik," jawab Richard. "Ayahku juga sudah membagi bagian William. Karena William anak pertama tentu saja dia yang mengambil alih Dixon's Group,".


"Jadi sebenarnya kau tinggal di mana? Kau tinggal di Berlin atau Indonesia?" tanya Devita kembali.


"Aku memiliki perusahaan di Berlin, itu adalah perusahaan milikku sendiri. Tapi untuk tinggal sebenarnya, aku lebih sering tinggal di Berlin," balas Richard. "Aku hanya sesekali mengunjungi kota B. Karena bagaimanapun aku memiliki bagian saham di Dixon's Group. Aku juga ke kota B karena ingin bertemu dengan Kakakku,"


"Lalu, kenapa kau bisa di Dixon's Group? Apa kau sedang magang di sini?" tanya Richard yang sejak tadi ingin bertanya alasan Devita, bisa berada di Dixon's Group.


Devita mengangguk. "Ya, aku memang magang di sini," jawab Devita.


"Kenapa kau tidak magang di perusahaan suamimu?"


"Tidak. Aku tidak ingin. Semua orang tahu aku Istrinya. Mereka pasti akan sungkan padaku. Jadi aku lebih suka magang di kantor lain,"


Olivia melihat arlojinya kini sudah pukul satu siang, "Devita, Richard, sepertinya aku harus duluan. Masih banyak yang harus aku selesaikan." Olivia terpaksa memotong ucapan Devita. Karena dia harus segera kembali ke perusahaan.


"Sebelum aku pergi, aku ingin bertanya padamu Richard. Apa kau masih lama tinggal di kota B?" tanya Olivia pada Richard.


"Aku akan menetap sekitar satu bulan," jawab Richard.


"Great! Dua hari lagi adalah hari ulang tahunku. Aku harap kau bisa datang. Berikan nomor ponselmu padaku," Olivia menyerahkan ponselnya pada Richard, lalu Richard langsung mengetik nomor ponselnya. Setelah selesai mengetik nomor ponsel miliknya, Richard langsung memberikan ponsel milik Olivia."


"Aku akan mengirimkan alamat klub malam, tempat aku merayakan ulang tahunku. Jadi Richard, aku harap kau bisa datang," kata Olivia.


"Ya, aku pasti akan datang Olivia," jawab Richard.


"Baiklah aku duluan,"


"Olivia kamu tidak ingin menungguku?" tanya Devita sambil menatap kesal Olivia, karena sahabatnya itu tidak menunggu dirinya.


"Kau mengobrol saja dengan Richard. Aku harus duluan." pamit Olivia dia langsung meninggalkan Devita dan juga Richard.


"Well, jadi kau akan datang di hari ulang tahun Olivia nanti?" tanya Richard saat Olivia sudah pergi.


"Aku tidak mungkin tidak datang, dia pasti akan marah besar padaku jika aku tidak datang," jawab Devita dengan helaan napas berat.


"Aku lihat kalian bersahabat sangat dekat. Saat di lobby kau tertawa dengannya sampai tidak melihat jalan," ujar Richard yang kembali mengingat tawa Devita dan juga Olivia.


Devita tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. "Aku minta maaf, aku tidak sengaja. Aku memang dekat dengan Olivia. Kami memang bersahabat sejak kecil. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri,"


"Tidak apa, aku bahkan senang karena kau menabrakku," Richard terkekeh pelan.


Devita mengulum senyumnya dan berkata, "Maaf Richard,"


"Ya, tidak masalah." jawab Richard. " Kalau boleh tahu, kau berapa bersaudara, Devita?"


"Aku anak tunggal, aku ingin sekali memiliki adik. Menjadi anak tunggal sangat kesepian," jawab Devita.


"Kau benar, aku juga demikian. Aku hanya memiliki Kakak tiri, meskipun hubungan kita baik, tapi kami tidak terlalu dekat," balas Richard.


"Tapi William sangat baik, dia pria yang sangat ramah,"


"Aku rasa kau sangat dekat dengan Kakak tiriku?"


"Tidak terlalu dekat. Aku hanya berteman saja. Dulunya dia satu kuliah dengan Brayen di Harvard university,"


"Benarkah? Aku tidak tahu jika dia teman Brayen Adams Mahendra,"


"Kau tidak tahu? Dia Kakakmu?"


"Devita mengangguk paham. Sepertinya kita harus kembali sekarang. Aku tidak enak jika harus meninggalkan kantor terlalu lama,"


"Baiklah sebentar, aku akan meminta bill. Kemudian Richard meminta bill dan membayarnya. Setelah selesai membayar, Devita dan Richard berjalan meninggalkan restoran.


Sepanjang jalan Devita tertawa lepas mendengar lelucon dari Richard. Ternyata Richard adalah pria yang sangat ramah dan menyenangkan.


"Devita!" Suara bariton memanggil namanya dengan cukup keras, hingga Devita dan Richard mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara itu.


"B..Brayen?" Devita mengerutkan dahinya, melihat Brayen yang melangkah mendekat ke arahnya.


Pandangan Brayen kini menatap tajam Devita bersama dengan Richard.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Brayen dengan nada dingin dan tersirat tidak suka.


"Aku makan siang dengan Richard dan juga Olivia" jawab Devita


"Good, tapi aku hanya melihat kau berdua saja dengan Richard. Dimana Olivia?" tukas Brayen dingin.


"Olivia sudah kembali ke kantor," balas Devita.


"Olivia sudah kembali ke kantor, dan kau masih makan siang dengan teman priamu? Hebat Devita Mahendra. Kau rupanya ingin membuat skandal?" seru Brayen.


"Brayen Adams Mahendra, kami hanya makan siang. I think it's not a big thing," sambung Richard.


Brayen tersenyum sinis, " Devita adalah Istriku. Aku yang akan menentukan itu hal besar atau hal kecil,"


Kemudian Brayen langsung menarik tangan Devita, Brayen memaksa masuk Devita kedalam mobil. Richard hanya diam, karena ia tidak memiliki hak untuk melarang Brayen membawa Devita.


"Brayen, aku masih harus bekerja," ucap Devita yang mencoba keluar dari mobil, namun Brayen mencengkram kuat tangan Devita.


"Bekerja? Kau ingin bekerja atau berkencan Devita?" tanya Brayen sambil tersenyum miring. " Kau rupanya ingin membuat skandal? Bagaimana jika ada media yang melihatmu!" Tukas Brayen sarkas.


"Brayen, kenapa yang ada di pikiranmu itu hanya ada pemberitaan dari media? Dengarkan aku baik - baik, Richard adalah temanku! Kau tidak berhak untuk melarang ku Brayen!" Bentak Devita dengan penuh emosi.


"Kau sudah lupa rupanya jika aku adalah suamimu! Aku berhak atas hidupmu! Kau boleh mendekati pria manapun, tapi setelah kita bercerai nanti!" Tukas Brayen dingin dan menatap tajam Devita.


"Kau lupa aku juga Istrimu! Kau bahkan memiliki kekasih, bertindaklah adil. Jika kau memiliki kekasih kenapa aku tidak bisa? Kenapa!" Seru Devita yang sudah kehilangan kesabarannya.


Brayen menggeram tanpa memperdulikan ucapan Devita. Dia langsung menarik paksa tengkuk leher Devita. Dia mencium kasar bibir Devita, dia menghisap kuat bibir Devita, Devita mendorong kuat tubuh Brayen. Namun, Brayen tidak memperdulikannya. Brayen terus mencium kasar bibir Devita. Bahkan tangan Brayen meremas dengan kuat gundukkan kembar di dada Devita. Hingga membuat Devita memekik terkejut.


Devi memukul dada Brayen, memberontak saat Brayen menyentuh dadanya. Tapi tetap saja tenaganya hanya bagaikan kapas. Semakin Devita berusaha untuk melepaskan diri, Brayen semakin menciumnya dengan kasar. Hingga akhirnya Devita diam dan membiarkan Brayen mencium bibirnya.


"Jangan lagi memancing amarahku Devita! Menurutlah atau kau akan tahu akibatnya," geram Brayen, tatapannya menatap Devita dengan penuh peringatan.


"Kenapa Brayen? Kenapa kau tidak bertindak adil? Kenapa hanya aku yang harus menurutimu? Jika hanya karena kau menghidupiku dan membiayai seluruh hudupku. Maka mulai detik ini aku akan mengembalikan semuanya. Ingat Brayen, aku tidak memerlukan uangmu! Aku tidak pernah kekurangan uang!" Seru Devita dia mencoba menahan emosinya. Brayen selalu bertindak tidak adil padanya. Karena memang dia tidak pernah membutuhkan uang dari Brayen.


"Diamlah Devita! Aku tidak perduli dengan berapa banyaknya uang yang sudah aku keluarkan untukmu! Kau jangan membuatku marah! Atau kau akan lihat, apa yang akan aku lakukan pada pria yang tadi!" Seru Brayen


dengan nada penuh penekanan. Tersirat nada penuh dengan ancaman dan peringatan.


"Brayen, dia itu Richard orang yang membantuku di Berlin. Kau jangan berlebihan Brayen. Di temanku!" Geram Devita. Napasnya memburu, dia berusaha mengendalikan emosinya. Dia tidak habis pikir, dengan apa yang di pikirkan oleh Brayen.


"Teman? Kalian bahkan terlihat sangat dekat! Dia sampai terbang dari Berlin ke kota B untuk bertemu denganmu!" tukas Brayen dingin.


"For god sake! Brayen, dia itu adik tiri William. Dia datang ke kota B karena ingin menemui Kakaknya. Bukan karena ingin menemui ku. Kau ini berlebihan Brayen, dimana pikiranmu?" seru Devita yang kesal mendengar ucapan dari Brayen.


"Apa kau bilang tadi? Adik tiri William?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap dingin Devita. Devita mengangguk "Ya, aku juga baru tahu. Ternyata dia adik tiri William. Dia satu Ayah dengan William. Ayah William kini tinggal di Berlin bersama dengan Ibunya Richard,"


"Pantas, mereka tidak ada bedanya," tukas Brayen sarkas.


Devita mendengus dan berkata, "Jika kau ada masalah dengan William, jangan melibatkan Richard! Kau ini sudah tua Brayen, tapi kau masih bersikap kekanak-kanakan "


"Jangan berani membelanya! Kita pulang sekarang!" Brayen mulai menghidupkan mesin, dan menginjak rem. Kemudian dia mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Kau sungguh gila Brayen! Aku bekerja, bagaimana bisa aku seenaknya pulang!" Geram Devita. Dia melayangkan tatapan tajam pada Brayen.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.