
Laretta menatap lukisannya. Sebuah lukisan yang beberapa bulan lalu sengaja dia buat. Lukisan yang menggambarkan sebuah kebahagiaan keluarga. Laretta tersenyum, melihat lukisannya. Dulu Laretta selalu memikirkan lukisan ini menggambarkan dirinya bersama dengan Angkasa dan anaknya. Terlihat di lukisan itu Laretta dan Angkasa tengah merasakan kebahagiaan. Meski Laretta tidak pernah tahu, apa mungkin dirinya akan bersatu dengan Angkasa?Laretta selalu memiliki harapan, bahwa dirinya bisa bersatu dengan Angkasa.
"Lukisanmu sangat indah," suara bariton memuji lukisan Laretta. Hingga membuat Laretta yang tengah melamun terkejut mendengar suara itu.
Laretta membalikkan tubuhnya ke sumber suara itu. Seketika tubuh Laretta mematung saat menatap Angkasa yang kini melangkah mendekat ke arahnya.
"A-Angkasa?" dengan cepat Laretta beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menarik tangan Angkasa untuk masuk ke dalam. Laretta melihat keluar dan segera mengunci pintu. Laretta bernafas lega, melihat tidak ada pengawal di depan studio lukisnya.
Laretta menarik tangan Angkasa. Membawa pria itu untuk duduk di sofa. "Apa yang kau lakukan di sini, Angkasa? Apa kau ingin membunuh dirimu? Bagaimana jika Kakakku dan pengawalnya melihatmu?!"
Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Kau jangan khawatir, karena aku sudah berhasil menembus keamanan Kakakmu itu. Sebelumnya aku juga sudah pernah melakukannya, bukan? Jadi bukan masalah, jika aku melakukannya lagi sekarang. Anak buahku sedang berjaga - jaga di depan. Mereka akan memberitahuku, jika terjadi sesuatu. Aku hanya memiliki waktu selama tiga puluh menit."
Laretta mendesah pelan. "Kenapa kau itu begitu berani sekali, Angkasa? Kau sama saja mengantarkan kematianmu. Jika sampai Kakakku melihatmu, kau akan mendapatkan masalah Angkasa. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Kau tahu seperti apa sifat Kakakku. Aku tidak ingin kau dalam bahaya Angkasa. Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku takutkan."
"Laretta, apa kau percaya padaku?" Angkasa menatap manik mata Laretta.
"Aku percaya padamu, Angkasa. Tapi-" Laretta sedikit menunduk. Bukannya tidak percaya, tapi Laretta hanya tidak yakin, jika Angkasa itu mampu melawan Kakaknya. Dengan apa yang di miliki oleh Brayen, rasanya terlalu sulit bagi Angkasa untuk melawan Brayen.
Angkasa mengangkat dagu Laretta dengan telunjuknya, "Tapi apa? Kau takut aku akan menyerah? Kau pikir aku akan memilih mundur dari semua ini?"
"A-Aku-" Laretta tidak mampu berkata-kata, dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungannya dengan Angkasa. Terlalu rumit bagi Laretta, ingin sekali Laretta memiliki harapan jika Angkasa akan mampu melawan semuanya. Namun, Laretta tidak ingin terlalu berharap. Laretta takut, harapannya itu hanya menjadi mimpi yang tidak pernah menjadi sebuah kenyataan.
"Laretta, aku tahu dengan apa yang kau cemaskan. Aku memahami rasa takutmu." ucap Angkasa sambil mengelus lembut pipi Laretta. "Percayalah, aku tidak akan pernah menyerah. Meski aku tahu, melawan Brayen sama saja akan membunuh diriku sendiri. Tapi aku tidak akan pernah perduli. Aku tidak akan pernah berhenti. Segala yang terjadi, aku akan siap untuk menerimanya. Kau dan anak kita sangat berharga Laretta. Aku akan memperjuangkan kalian."
Mata Laretta berkaca - kaca mendengar perkataan dari Angkasa. Pria itu akan melakukan apapun untuknya, hatinya begitu terharu. Tidak pernah ada selama ini pria yang mengatakan itu padanya.
Angkasa menghapus air mata yang jatuh di pipi Laretta. "Aku bertanggung jawab atas hidupmu dan anak kita Laretta. Aku tidak suka melihatmu menangis. Sejak saat aku memutuskan untuk membuka hatiku padamu, aku sudah memutuskan untuk selalu membahagiakanmu. Apapun yang terjadi di masa depan, aku akan tetap memperjuangkanmu dan juga anak kita. Meski taruhannya aku harus kehilangan segala harta yang aku miliki.
"Angkasa, kenapa kau melakukannya sampai seperti ini. Aku tidak ingin kau kehilangan segalanya." kata Laretta lirih. "Kau akan membuat keluargamu menderita, jika kau terus memperjuangkanku. Aku tidak ingin itu terjadi padamu dan keluargamu Angkasa."
"Laretta, jangan pernah memikirkan hal lain. Aku akan tetap bertanggung jawab pada keluargaku," jawab Angkasa meyakinkan. "Aku pastikan keluargaku akan baik - baik saja. Aku tidak akan pernah mungkin, membiarkan sesuatu terjadi pada keluargaku."
"Kenapa kau tidak menyerah Angkasa?" Laretta menatap sendu Angkasa. Laretta memang sangat bahagia dengan apa yang di katakan oleh Angkasa. Tapi di sisi lain, Laretta tidak tega pada Angkasa. Laretta tidak ingin melihat keluarga Angkasa mengalami kesusahan karenanya.
Angkasa menangkup kedua pipi Laretta, dia menempelkan keningnya pada kening Laretta. "Kau tahu jawabannya Laretta. Kau dan anak kita itu terlalu berharga. Aku itu tidak akan menyerah begitu saja. Meski artinya aku harus melawan Brayen, aku akan tetap melakukannya. Aku yakin, Brayen ingin melihatmu bahagia.Dan aku akan menunjukkan padanya, kau hanya akan bahagia jika bersama denganku."
Air mata Laretta kembali berlinang membasahi pipinya. Hingga kemudian, Angkasa mendekatkan bibirnya pada Laretta dan memagut bibir wanita itu dengan lembut. Laretta memejamkan matanya ketika Angkasa memagut bibirnya. Tidak hanya diam, Laretta mulai membalas pagutan pria itu.
"Aku harus pergi," ucap Angkasa saat pagutannya terlepas. "Jaga kesehatanmu baik - baik. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan kandunganmu."
Laretta tersenyum, lalu mengangguk samar. "Ya, aku akan menjaga diriku dan juga kandunganku. Tapi aku mohon, kau lebih berhati - hati sebelum mengambil keputusan Angkasa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
Kemudian, Angkasa berjalan meninggalkan Laretta. Namun, langkah Angkasa terhenti ketika Laretta menahan lengan Angkasa.
"Ada apa?" tanya Angkasa membalikkan tubuhnya, lalu menyentuh tangan Laretta. Membawa tangan wanita itu mendekat ke bibirnya dan mengecup punggung tangannya.
"Kakakku sedang tidak dalam keadaan baik, Angkasa. Aku berharap kau jangan menganggunya untuk saat ini," ujar Laretta mengingatkan.
"Brayen memiliki masalah?"Angkasa mengerutkan keningnya.
"Ya, ini semua karenaku." jawab Laretta dengan wajah yang tampak muram.
"Karenamu? Maksudmu, karena kau menjalin hubungan dengan ku?" balas Angkasa.
"Bukan," Laretta menggelengkan kepalanya. "Aku meminta Devita menutupi tentang Alena pada Kakakku. Sejak kejadian waktu itu, Kakakku itu sangat marah dengan Devita. Dan kau pasti tahu, Kakakku itu tidak pernah bisa mengendalikan emosinya dengan baik."
"Harusnya kau menceritakan itu padaku Laretta," Angkasa meremas pelan tangan Laretta. "Jangan pernah menutupi sesuatu dariku Laretta. Jika ada keluargaku yang menghinamu, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan membelamu."
"Angkasa, aku hanya ingin Alena menyukai diriku tidak dengan paksaan." balas Laretta. "Aku tidak ingin memaksa Alena untuk menyukaiku. Adikmu itu, masih selalu mengharapkan Devita. Aku tahu, aku itu tidak sebaik Devita. Tapi aku ingin menunjukkan pada Alena, jika aku masih pantas berada di sisimu Angkasa. Itu kenapa, aku memilih untuk tidak menceritakannya padamu."
"Kau salah Laretta," Angkasa menangkup kedua pipi Laretta. "Kau bukan hanya masih pantas berada di sisiku. Tapi kau sangat pantas, bahkan aku merasa begitu beruntung memilikimu. Dan aku mohon, jangan pernah bandingakan dirimu dengan Devita. Aku mencintaimu Laretta dengan segala kebaikan hatimu dan ketulusanmu. Dengan statusmu yang lahir dari keluarga Mahendra, kau memiliki hati yang sangat baik. Aku sungguh berterima kasih, kau telah membuka hatimu untukku."
"Aku berjanji padamu, Laretta. Setelah ini aku akan menjagamu dengan lebih baik. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menghina dirimu. Aku juga minta padamu, jangan lagi menutupi sesuatu dariku Laretta. Jika dulu, Brayen berdiri di depanmu untuk membelamu, sekarang biarkan aku yang mengambil alih semuanya. Aku yang akan berdiri di depan ketika ada orang yang melukaimu. Aku pastikan, kau dan anak - anak kita tidak akan pernah terluka."
Laretta tersenyum haru, matanya kembali berkaca-kaca. Hatinya begitu tersentuh dengan perkataan Angkasa.Laretta bersyukur, takdir mempertemukannya dengan Angkasa. Meski Angkasa adalah pria di masa lalu Kakak Iparnya, tapi Angkasa adalah pria yang sangat baik. Kini Laretta sadar, kenapa Angkasa menjadi cinta pertama Devita. Karena memang, sifat Angkasa akan selalu membuat para wanita jatuh cinta.
"Aku berjanji, setelah ini aku akan selalu mengatakan apapun padamu.Terima kasih karena sudah mencintaiku dengan caramu yang begitu luar biasa." Hingga kemudian Laretta mendekatkan bibirnya pada bibir Angkasa, kini Laretta lebih dulu memberanikan diri ******* bibir pria itu. Tidak hanya diam, Angkasa memeluk pinggang Laretta dan membalas ******* yang di berikan oleh wanita yang berada di pelukannya itu.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.