
Devita menyesap teh di tangannya, sesaat dia menatap Ivana yang duduk di hadapannya. Dia meletakkan kembali cangkir yang berisi teh itu, ke tempat semula. Ya, kini Devita berada di sebuah cafe yang tidak jauh dengan perusahaan Brayen.
"Nyonya Devita, apa dulu Tuan Brayen juga selalu membawa anda ke kantor?" tanya Ivana yang lebih dulu memulai percakapan.
"Tidak, dulu aku masih kuliah. Dan tidak mungkin Brayen terlalu sering mengajakku ke kantor." jawab Devita. "Sekarang, setelah aku lulus kuliah, aku tidak terlalu memiliki kesibukan. Itu kenapa Brayen membawaku ke kantor."
Ivana mengangguk paham, dia mengulas senyuman tipis di wajahnya. "Apa rencanamu kedepannya Nyonya Devita? Mengingat kau sudah lulus kuliah."
"Aku tidak memiliki rencana apapun untuk saat ini," balas Devita. "Lebih tepatnya fokusku adalah suamiku dan juga anakku. Mungkin, setelah aku melahirkan nanti dan usia anakku sudah jauh lebih besar, aku akan memikirkan rencanaku kedepannya."
"Ya, kau benar. Kau begitu beruntung memilki suami yang begitu mencintaimu." ujar Ivana dengan tatapan yang tak lepas menatap manik mata Devita. "Nyonya Devita, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan?" Devita mengambil cangkir yang berisikan teh hangat, lalu kembali menyesapnya.
"Aku pernah membaca di artikel, pemberitaan tentangmu dan Tuan Brayen. Apa benar kalian di jodohkan?" Ivana bertanya dengan tatapan yang begitu serius menatap Devita. Tatapan yang tersirat mencari sebuah kebenaran.
"Rupanya Nona Ivana Wilson sangat menyukai membaca pemberitaan media tentang diriku dan juga suamiku?" Devita tersenyum miring, tatapannya menandakan ketidaksukaannya.
Ivana membalas senyuman Devita. Kemudian dia menjawab, aku rasa hampir semua wanita ingin tahu kehidupan dari seorang pengusaha seperti Tuan Brayen Adams Mahendra?"
"Apa begitu? Ternyata suamiku begitu terkenal," Devita menganguk - anggukan kepalanya, seolah-olah mempercayai perkataan Ivana. "Kalau begitu, aku sangat beruntung memiliki pria yang banyak di kagumi oleh para wanita."
"Ya, kau benar Nyonya Devita." jawab Ivana. Dia mengangkat wajahnya, menunjukkan ketegasan dan ke anggunan dalam dirinya.
"Apa yang di beritakan media benar. Aku dan Brayen di jodohkan. Ayahku bersahabat dengan Ayahnya Brayen." Devita memilih untuk menjawab pertanyaan Ivana. Dia tidak ingin membuat wanita yang duduk di hadapannya ini begitu penasaran.
"Maaf, biasanya seseorang yang di jodohkan tidak pernah tumbuh rasa cinta. Jika aku salah, aku minta maaf. Karena aku hanya melihat dari banyaknya orang yang ada di sekelilingku. Pernikahan atas perjodohan tidak pernah di dasari dengan rasa cinta." Ivana mengambil secangkir kopi capuccino di hadapannya, lalu menyesap capuccino itu. Meski Ivana tengah menikmati capuccinonya, tatapannya tidak lepas menatap Devita.
Devita tersenyum, mendengar perkataan dari Ivana. Kemudian dia menjawab. "Sayangnya, aku dan Brayen tidak seperti itu. Aku dan Brayen memang menikah bukan di dasari karena perasaan cinta. Kami menikah karena perjodohan kedua orang tua kami. Tapi pada akhirnya kami saling jatuh cinta satu sama lain. Mungkin, jika kami tidak saling jatuh cinta, aku tidak mungkin mengandung buah cinta kami, bukan?
Kali ini, Ivana menunjukkan senyuman yang berbeda. Senyuman tersirat yang menertawakan dan mencomooh. Namun, dia begitu cerdas untuk menutupi semua itu. Hingga kemudian, Ivana berkata dengan nada yang terdengar mengejek, "Aku senang mendengarnya, jika kalian berdua sama - sama saling jatuh cinta. Tapi, jika ditanya kenapa seorang wanita bisa hamil dalam sebuah pernikahan, jawabannya belum tentu karena mereka saling mencintai. Sangat banyak kehamilan terjadi, atas dasar kebutuhan sang pria. Tidak hanya itu sebagai pewaris dari Mahendra Enterprise, tentunya Tuan Brayen membutuhkan penerusnya, bukan? Jadi aku rasa, setiap pria yang berada di posisi seperti Tuan Brayen, memang harus memiliki seorang anak sebagai pewaris keluarganya."
Devita sedikit tertawa mendengar perkataan Ivana. Dia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menyilangkan kakinya, dan berkata dingin. "Aku bukan wanita yang seperti itu, Nona Ivana Wilson? Jika kau berpikir hubungan suami-istri di lakukan atas kebutuhan semata maka aku katakan, aku bukanlah wanita yang seperti itu. Aku hanya melakukan, jika kami adalah pasangan yang saling mencintai.
Devita sedikit mengangkat bahunya, kemudian melanjutkan perkataannya. "Aku tidak tahu dengan dirimu, mungkin kau hanya melakukan sebuah hubungan **** hanya karena kebutuhan semata saja. Karena pada dasarnya, kita memiliki cara pandang dan sudut pandang yang berbeda. Aku dan Brayen saling mencintai, jika suamiku tidak mencintai diriku, mungkin tidak mungkin jika selama ini begitu banyak kasih sayang yang dia tunjukkan di hadapanku. Dan untuk orang seperti suamiku, dia sangat tidak menyukai berpura-pura."
Devita membalas perkataan Ivana begitu anggun dan dengan nada yang terdengar santai. Namun, tersirat tajam dan penuh sindiran. Sesaat Devita dan juga Ivana melayangkan tatapan dingin. Namun, mereka begitu menutupinya. Devita terlihat begitu anggun ketika berbicara dengan ivana. Begitupun dengan Ivana yang menjaga setiap penuturan katanya saat berbicara dengan Devita.
"Devita?" panggil Brayen saat sudah tiba di kafe. Dia langsung menghampiri Devita. Sebelumnya, anak buahnya sudah melaporkan apa saja yang di lakukan oleh istrinya itu.
Devita mengalihkan pandangannya, dia sedikit terkejut suaminya berada di hadapannya. "Brayen? Kau di sini? Apa kau sudah selesai dengan Mr. Lee dan Mr. Nicholas?"
"Tuan Brayen?" sapa Ivana ketika melihat Brayen ada di hadapannya.
Brayen mengangguk singkat membalas sapaan Ivana. Lalu dia kembali menatap ke arah Devita, dan mengecup kening Devita. "Ya, aku sudah selesai meeting? Kau sudah makan? Aku tadi meminta Nagita untuk menyiapkan makanan untukmu?"
"Ya sudah, kita kembali ke kantor." Brayen mengambil dompet lalu, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, Brayen mengulurkan tangannya, membantu Devita untuk berdiri.
"Nona Ivana, saya rasa aku harus pergi duluan. Senang bertemu denganmu." Devita tersenyum penuh maksud. Dia langsung memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan Ivana yang tidak bergeming dari tempatnya.
Ivana hanya bisa menatap lirih Brayen dan juga Devita, hingga hilang dari pandangan Ivana. Tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan air mata. Terlihat wajah Ivana yang begitu sedih dan muram.
"Apa kau sudah puas melihat kebahagiaan mereka?" suara seorang perempuan berseru dari arah belakang, hingga membuat Ivana memutar tubuhnya dan menatap wanita yang kini melangkah mendekat ke arahnya.
"Monika?" sapa Ivana sedikit terkejut melihat sahabatnya ketika sudah duduk di hadapannya. "Kenapa kau di sini Monika?"
"Kau masih bertanya? Apa maksud tujuanku datang? Kau sudah melihat kebahagiaan Brayen dan Devita. Sampai kapan kau hanya mengawasi mereka? Kau sungguh sangat menakutkan Ivana? Aku sangat takut, kau akan berniat buruk pada Devita."
Ivana tersenyum miris. "Aku memang sangat mencintai Brayen. Tapi aku belum berniat untuk melukai Devita. Jika kau bertanya, maka aku tidak tahu. Aku hanya ingin memandang Brayen dari jarak dekat. Aku yakin, dia akan mengingat diriku suatu saat nanti."
"Kau salah Ivana Wilson!" Sela Monika cepat. "Brayen tidak mengingatmu. Dia tidak akan pernah mengingatmu!"
"Aku akan membuat Brayen mengingat diriku!" Tukas Ivana menekankan.
Monika mendesah kasar, dia menggelengkan kepalanya menatap tak percaya dengan apa yang di pikirkan oleh Ivana. "Seharusnya, kau tidak kembali Indonesia. Jika kau hanya mengingat Brayen. lebih baik kau melanjutkan hidupmu di California. Mulailah kehidupanmu dari awal. Tinggalkan Indonesia, dan mulailah hidup baru di negara lain. Aku tidak ingin kau terus di bayang - bayangi pria yang begitu kau cintai. Karena sangat menyakitkan jika kita mencintai pria yang sama sekali tidak mencintai kita."
Mata Ivana berkaca-kaca, tatapannya begitu sendu, dia berkata lirih. "Aku tidak bisa melupakan Brayen. Aku merubah penampilanku hanya demi dia. Aku tidak bisa melupakannya."
Monika menyentuh tangan Ivana, dan menatap lembut wanita yang ada dihadapannya itu. "Kau pernah hampir bunuh diri karena Brayen. Aku tidak ingin kau akan melakukan hal yang sama lagi, Ivana. Kau begitu cantik, aku yakin banyak pria yang akan menyukai dirimu. Lupakan Brayen dan mulailah hidupmu dengan pria lain."
"Tidak bisa Monika! Sudah berapa kali aku katakan padamu. Aku itu hanya mencintai Brayen. Aku tidak bisa melupakannya! Meski kau memintaku untuk melupakan Brayen, jawabanku adalah tidak! Aku memilih untuk mencintainya, meski aku harus tersakiti melihat dia bersama dengan istrinya!" Seru Ivana, pandangannya lurus kedepan, dia mengatakan ini dengan begitu tegas. Tersirat dirinya berusaha untuk menguatkan hatinya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.