Love And Contract

Love And Contract
Lukisan Laretta



"Biarkan Devita, bukannya Mom tidak ingin menemuinya. Hanya saya Daddymu belum bisa bertemu dengannya. Dia masih belum mau menemui Laretta. Biarkan Brayen yang menjaga Laretta. Mom percaya, Brayen akan melakukan yang terbaik.


Devita mendesah pelan, "Aku mengerti, Mom.Aku dan Brayen akan menjaga Laretta dengan baik. Terpenting Mom dan Dad saat ini sehat. Aku tidak ingin kalian sakit."


"Mommy memang tidak pernah salah memilih menantu. Mom, sangat beruntung Brayen menikah denganmu, Devita."


"Aku juga beruntung menikah dengan Brayen, Mom."


Rena tersenyum dari balik teleponnya. "Devita, besok adalah hari ulang tahunmu, benarkan, sayang? Mommy dan Daddy sudah membelikanmu sesuatu. Besok pagi asisten Mommy akan mengantarnya. Mom harap, kamu menyukainya ya sayang,"


"Mom, aku pasti akan selalu menyukai apapun yang Mommy belikan untukku. Terima kasih, Mom dan sampaikan terima kasih juga untuk Daddy."


"Iya sayang. Ya sudah Mommy harus menemani Daddymu. Sampaikan salam Mommy untuk Brayen. Dan satu lagi, Mommy titip Laretta. Terima kasih kau mau menjaga Laretta, Devita."


"Tidak perlu terima kasih, Mom. Laretta itu adalah adik Iparku. Aku juga sangat menyayanginya. Ya sudah sampaikan salamku juga untuk Daddy."


"Iya sayang. Sampai bertemu nanti,"


"Iya, Mom."


Panggilan tertutup, Devita kembali menyimpan ponselnya kedalam tas. Namun, saat dia ingin menyimpan ponselnya, terdengar dering ponsel masuk. Devita langsung melihat ke layar, tertera nomor telepon, Nadia, Ibunya yang mengirimkan pesan padanya. Kemudian Devita langsung membaca pesan dari ibunya itu.


My Mommy : Sayang, Mama dan Papa sedang berada di London. Maaf kami baru memberitahumu. Mama harus menemani Papa untuk perjalanan bisnis. Besok adalah hari kelahiranmu, sudah saatnya kau merayakannya bersama dengan suamimu, sayang. Mama dan Papa akan mengirimkan hadiah kerumahmu. Selamanya kau adalah putri kesayangan Mama.


Devita tersenyum kecut membaca pesan dari Nadia. Ternyata Ibunya kini sedang menemani Ayahnya perjalanan bisnis ke London. Ya, sekarang Devita sudah menikah. Devita sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Brayen, suaminya. Tapi, dia sungguh tidak tahu, apakah Brayen mengingat ulang tahunnya atau tidak.


Kini Devita melangkah menuju ke parkiran mobil. Dia langsung masuk kedalam mobil. Hari ini, dia memiliki janji dengan Laretta, untuk menjadi model yang di lukis oleh adik Iparnya itu.


...***...


"Kakak? Kau sudah pulang?" Laretta sedikit terkejut melihat Brayen masuk kedalam studio lukisnya.


"Dimana Devita?" tanya Brayen. Dia mengabaikan pertanyaan Laretta sebelumnya.


"Devita belum pulang, Kak. Dia mungkin masih di jalan, Kak. Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau bilang akan pulang malam?" tanya Laretta menatap bingung Brayen.


"Ya, aku sudah menyelesaikan beberapa pekerjaanku lebih awal, sisanya aku akan meminta Albert untuk menanganinya," jawab Brayen datar.


"Laretta!" Suara teriakan Devita terdengar begitu kencang memanggil Laretta. Kemudian, dia melangkah kedalam studio lukis Laretta. Seketika Devita terkejut melihat Brayen ada di dalam studio lukis Laretta. Pasalnya tadi pagi, Brayen mengatakan padanya, jika dirinya akan pulang terlambat. Tapi kenapa ada di studio lukis Laretta?


"Brayen? Kau sudah pulang?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Brayen. Dia melangkah mendekat ke arah suaminya itu


Brayen menundukkan kepalanya lalu mengecup bibir Devita. "Ya, aku menyelesaikannya lebih cepat. Jadi, aku memilih untuk langsung pulang. Bukankah Laretta mengatakan kau akan di lukis?"


Devita mengangguk. "Ya, aku akan di lukis olehnya,"


Kemudian tatapan Brayen teralih, melihat Laretta yang tidak jauh darinya. " Laretta, kau juga belum pernah melukisku. Jadi, hari ini kau harus melukisku dan juga istriku," tukasnya tanpa nada penekanan dan tanpa bantahan.


Laretta mendengus, "Kau ini, jadi pulang cepat karena ingin di lukis berdua dengan Istrimu kan? Benar - benar! Kenapa tidak bilang dari tadi saja, Kak Brayen!"


"Sudahlah kau jangan berisik Laretta! Aku hanya memintamu untuk melukisku dan juga Istriku," tukas Brayen dingin.


Devita mengulum senyumannya dia berusaha menahan tawanya. Suami dan adik iparnya itu sungguh menggemaskan, jika berdebat masalah kecil seperti ini.


Laretta mencebikkan bibirnya. "Baiklah, kalian di sebelah sana. Pastikan jangan bergerak - gerak. Nanti hasil lukisanku berantakan." tunjuknya ke tempat yang sudah Laretta sediakan.


Kemudian Brayen merengkuh pinggang Devita. Lalu melangkah ke tempat yang di tunjuk oleh Laretta. Kini mereka membiarkan Laretta menyelesaikan lukisannya. Devita berusaha untuk menahan tawanya, ternyata suaminya juga ingin di lukis dengannya.


"Kakak jangan terlalu banyak bergerak! Kau bisa merusak hasil lukisanku nanti!"


"Hem! Kau ini berisik sekali persis seperti Devita," tukas Brayen dingin.


Devita mendelik. "Aku berisik, maksudmu Brayen?" ucapnya ketus.


"Sayang, Laretta harus segera menyelesaikan lukisannya. Kita bahas ini nanti di kamar." Brayen menjawab cepat demi menghindar dari perdebatan.


"Done! Aku sudah menyelesaikannya," kata Laretta begitu semangat ketika lukisan Brayen dan juga Devita sudah selesai.


Devita langsung belari ke arah Laretta, dia sudah tidak sabar ingin melihat hasil lukisan dirinya bersama dengan suaminya itu. Saat melihat hasil lukisan Laretta, Devita langsung tersenyum puas. Lukisan dirinya bersama dengan Brayen sangat bagus. Brayen terlihat sangat tampan.


"Bagaimana mana hasilnya?" tanya Brayen, dia langsung mendekat dan melihat hasil lukisan dengan istrinya.


"Bagaimana lukisanku, aku sangat berbakat bukan?" kata Laretta dengan nada bangganya.


"Lumayan," jawab Brayen singkat.


Laretta mencebikkan bibirnya. "Kakak! Kenapa kau ini menyebalkan sekali!"


"Jangan mendengarkannya Laretta, hasil lukisanmu sangat bagus. Lihatlah bahkan Brayen terlihat sangat tampan di sini," ucap Devita, namun dengan cepat dia langsung menepuk bibirnya. Merutuki dirinya yang keceplosan bicara ini. Bisa - bisa Brayen sangat percaya diri nanti.


Brayen mengulum senyumannya. "Jadi kau sudah mengakui kalau suamimu ini sangat tampan?" suara Brayen terdengar sengaja menggoda Devita, sungguh ini membuat Devita tidak bisa lagi menahan malunya.


"Tidak, maksudku itu. Wajahmu terlihat lumayan bagus," ralat Devita dengan cepat.


Brayen menganggukkan kepalanya seolah mempercayai ucapan Devita. "Begitu kah?" Dia melangkah mendekat ke arah Devita dan memeluk pinggang Istrinya itu.


"Brayen, lepaskan! Kau ini!" Seru Devita, pipinya sudah merona, karena Brayen membuat dirinya malu.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan. Sebelum istriku mengakuinya," bisik Brayen sembari mengecupi leher Devita dan semakin mengeratkan pelukannya.


Devita sudah tidak tahan merasakan geli di bagian lehernya, dia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tawanya. "Brayen ada Laretta, lepaskan tidak enak," pekik Devita.


"Aku tidak perduli ada Laretta atau tidak," Brayen terus mengecupi leher jenjang istrinya itu.


Laretta yang menjadi penonton Kakak dan istrinya, dia langsung mendengus. "Apa kalian tidak ada kamar untuk bermesraan?"


Namun Brayen seolah tidak mendengarkannya, dia terus mengecupi leher jenjang Devita dan menggigit kecil leher Devita.


"Ya ya Brayen. Aku mengakui kau memang sangat tampan," ucap Devita cepat karena dia sudah tidak bisa lagi menahan geli akibat serangan dari Brayen ini.


"Sudahlah, kalian nikmati hari kalian. Aku kembali ke kamar," gerutu Laretta, kemudian dia langsung meninggalkan studio lukisnya.


"Brayen, ini karenamu. Laretta pergi dari studio lukisnya!" Seru Devita dengan tatapan kesal pada suaminya itu.


"Aku tidak perduli. Studio lukisnya ini berada di dalam rumah kita, jadi kita jauh lebih berhak," jawab Brayen dingin.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan **********, "Aku masih memiliki urusan dengan istriku, yang ternyata sangat mengagumi suaminya ini."


"Aku tidak-" ucapan Devita terpotong, Brayen mencium dan ********** dengan sangat lembut.


"Kau juga sangat cantik, sayang." bisik Brayen. Lalu ia menarik tangan Devita membawanya masuk kedalam pelukannya.


Devita tersenyum, dia langsung membalas pelukan dari suaminya, seraya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.