
Hari ini Brayen berangkat lebih awal. Beruntung, Devita tidak terlambat bangun. Menjadi seorang istri, menyiapkan segala keperluan suaminya. Membuat Devita sangat nyaman dengan hidupnya saat ini. Jika dulu Devita tidak berniat untuk menikah muda, namun sekarang dia begitu bersyukur. Menikah muda atau tidak, terpenting bagi Devita adalah menemukan pria yang tepat di hidupnya.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Lalu menginterupsi masuk kedalam kamarnya.
"Nyonya Devita maaf menganggu." kata sang pelayan saat masuk kedalam kamar.
Devita menoleh ke arah pelayan itu, lalu mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Ada apa?"
"Di bawah ada Nona Olivia, Nyonya." jawab pelayan itu.
Devita menggangguk. "Ya, aku akan turun ke bawah. Tolong siapkan cheese cake dan jus Alpukat."
"Baik Nyonya," pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Devita.
...***...
"Devita, kenapa kau lama sekali!" Seru Olivia kesal saat melihat Devita menghampirinya.
"Maaf, aku baru selesai berdandan." Devita langsung memeluk erat Olivia.
Olivia mendengus. "Kau ini, cuma dandan saja lama sekali."
Kemudian Devita dan Olivia pun duduk di sofa dan mengambil cheesecake yang sudah di siapkan oleh pelayan. Olivia langsung menikmati cheesecake kesukaannya. Sedangkan Devita mengulum senyumannya, melihat tingkah Olivia yang sejak kecil tidak berubah.
"Apa cheesecake nya enak?" suara Devita bertanya tersirat nada meledek sahabatnya itu.
"Jika tidak enak, aku tidak mungkin memakannya hingga sebanyak ini Devita Mahendra," tukas Olivia kesal
Devita terkekeh. "Olivia, kenapa kau tidak datang bersama dengan Felix? Biasanya Felix ingin selalu bersama denganmu."
"Ada yang ingin aku ceritakan padamu, Devita?"
"Ada apa?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Olivia.
"Belakangan ini, Felix selalu mengatakan padaku, jika dia seperti mengenal Ivana Wilson." ujar Olivia.
"Mengenal Ivana lama? Apa maksudmu, Olivia?" Devita menatap serius Olivia, menuntut Olivia untuk menjelaskan.
"Felix bilang padaku, dia sepertinya pernah bertemu dengan Ivana Wilson. Tapi hingga detik ini, Felix masih belum bisa mengingat Ivana. Itu yang membuatku sangat kesal. Dia terus berusaha untuk mengingat Ivana Wilson. Bahkan sekarang, Felix sering membaca artikel tentang Ivana Wilson." balas Olivia mendengus tidak suka. Suaranya terdengar menahan emosinya.
"Apa mungkin Ivana itu teman lama Felix?" Devita mencoba menebak.
"Bukan, Felix sudah bilang padaku. Dia sangat yakin, jika Ivana Wilson bukan teman lamanya." balas Olivia. "Sudahlah, jangan membahas Felix. Mungkin saja dia sudah jatuh cinta dengan Ivana Wilson. Aku sudah menduganya sejak awal. Pasti Felix akan jatuh cinta pada Ivana Wilson."
Devita mendesah pelan. "Kau ini! Kenapa mengatakan itu? Aku yakin, Felix tidak mungkin melukaimu, Olivia. Lagi pula aku juga yakin, jika Felix tidak akan mencintai Ivana Wilson."
"Kenapa kau begitu yakin?" Olivia menyandarkan punggungnya di sofa dan wajahnya masih terlihat kesal. "Aku saja yang jadi kekasihnya tidak seyakin itu. Felix itu bukan Brayen. Mereka sangat berbeda jauh."
"Olivia, kau itu kekasihnya Felix. Harusnya kau lebih percaya pada Felix." Devita mengelus bahu Olivia. "Aku yakin Felix tidak mungkin berpaling darimu. Ya, karena dia saja tidak mudah mendapatkanmu. Aku sangat yakin, Felix tidak akan melukaimu."
"Kau ingat bukan, dulu Felix begitu mengejarmu. Dia berusaha untuk mendapatkanmu, ketika kau terus menolak dirinya. Sedikitpun Felix tidak pernah menyerah. Dan untuk masalah Ivana, mungkin Felix hanya penasaran. Karena dia mengenalnya. Felix tidak mungkin berpaling darimu." Devita melanjutkan perkataannya.
Olivia menggangguk. "Ya kau benar, tapi jujur aku itu tidak mengerti, kenapa Felix selalu merasa yakin, kalau dia itu mengenal Ivana Wilson? Devita, apa Brayen juga seperti Felix? Merasa seperti mengenal Ivana Wilson?"
"Tidak, Brayen tidak mengatakan apapun padaku. Brayen tidak pernah bilang kalau dia mengenal lama Ivana Wilson." jawab Devita. "Tapi Olivia, aku pernah sepertimu. Aku takut Brayen akan berpaling dan meninggalkanku."
"Brayen tidak akan pernah seperti itu." tukas Olivia menekankan. "Kau sangat tahu, suamimu itu begitu mencintai dirimu. Tidak mungkin dia melukaimu."
Devita tersenyum. "Kau benar. Aku yakin, Brayen tidak akan pernah melukaiku."
"Sudahlah, lebih baik kita ke taman. Aku ingin melihat bunga - bunga indah di tamanmu." ujar Olivia. "Aku tidak ingin membahas Ivana Wilson. Hariku akan berantakan jika membahas tentangnya."
Devita mengulum senyumannya. "Kau benar, lebih baik kita ke taman." kemudian Olivia dan Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah taman.
...***...
Tidak lama kemudian mobil Olivia sudah tiba di mansion Felix. Tanpa bertanya pada pelayan, Olivia yakin, kalau Felix ada di ruang kerjanya dan langsung menuju ke ruang kerja Felix.
"Felix" panggil Olivia, saat masuk kedalam ruang kerja Felix.
Felix tengah menatap layar Ipadnya, menoleh ke suara yang memanggilnya. "Sayang, kau di sini?"
Olivia tidak menjawab, dia langsung duduk di hadapan Felix. "Kau sedang apa? Masih mencari tahu tentang Ivana Wilson?"
Felix mengangguk, "Maaf sayang, tapi memang aku harus mencari tahu tentang Ivana Wilson. Aku merasa ada sesuatu tentangnya."
Olivia mendesah kasar. "Mau sampai kapan Felix? Bagaimana kalau kau tetap tidak mengingat Ivana Wilson? Apa kau akan tetap mencari tahu wanita itu?"
"Dua hari yang lalu, ada yang membuntuti Brayen dan juga Devita, saat mereka pergi ke rumah Bibi Rena." balas Felix. "Tidak hanya itu, tapi ada yang menggangu Devita dengan nomor asing. Dan aku merasa ada sesuatu di balik ini semua."
"Tunggu," sela Olivia cepat. "Maksudmu ada yang membuntuti Brayen dan juga Devita."
"Ya, ada yang membuntuti Brayen dan Devita saat waktu itu mereka bertemu dengan kita di rumah Bibi Rena dan aku yakin, orangnya sama dengan nomor asing yang menggangu Devita." ujar Felix. "Semua ini bertepatan dengan hadirnya sosok Ivana Wilson. Aku masih mengingat perkataan Ivana Wilson yang mengatakan, dia selalu membaca artikel tentang Brayen dan Devita."
"Kau menuduh Ivana Wilson yang melakukan semua ini?" Olivia menautkan alisnya. Dia terkejut mendengar ucapan dari Felix, yang secara tidak langsung menuduh Ivana Wilson.
"Aku belum bisa memastikan. Aku sedang mencari bukti." ujar Felix dengan tatapan yang begitu serius ke arah Olivia. "Tapi aku menangkap dari perkataan Ivana. Aku juga melihat di mata Ivana mengagumi Brayen."
"Aku baru saja kembali dari rumah Devita," balas Olivia. "Tapi, kenapa Devita tidak mengatakan apapun."
"Mungkin Devita tidak ingin membuatmu khawatir." kata Felix.
Olivia mengangguk. "Felix, apa alasanmu memiliki keyakinan Ivana ada di balik ini."
"Aku tidak tahu, sayang. Aku belum memastikan. Dan alasan kenapa aku mencurigai Ivana, karena beberapa kali aku melihat Ivana begitu mengagumi Brayen. Aku merasa ada sesuatu, dan aku yakin aku mengenal Ivana."
"Felix, apa mungkin Ivana adalah wanita yang mengagumi Brayen secara diam-diam?" Olivia berusaha menebak dengan apa yang ada di pikirannya.
Namun, seketika Felix terdiam mendengar ucapan Olivia. Raut wajah Felix berubah menegang. Terlihat di wajahnya, Felix tengah memikirkan sesuatu.
"Felix, kau kenapa?" tegur Olivia. Dia menatap Felix yang diam dan tengah memikirkan sesuatu.
"Aku rasa, aku akan segera mengetahui siapa Ivana Wilson." tukas Felix dengan seringai di wajahnya.
"Kau sudah mengingat Ivana Wilson?" tanya Olivia memastikan.
"Belum sepenuhnya, tapi aku tahu dimana aku bisa menemukan bukti." jawab Felix. "Aku harus pergi, ada hal penting yang harus aku cari tahu." sambung Felix lalu menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja, lalu mengecup kening Olivia. Sedangkan Olivia, dia hanya diam dan membiarkan Felix untuk mencari tahu semuanya.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.