Love And Contract

Love And Contract
Siapa Ayah Dari Anak Itu?



"Sudah tiba waktunya makan siang," jawab Devita.


Olivia mendengus, "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi! Kalau soal makan siang tidak bisa di tunda! Let's go, kita makan sekarang." ucap Olivia, dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk lengan Devita.


Devita terkekeh, "Oke, tapi siang ini kita akan makan siang dengan sepupuku."


"Sepupumu?" tanya Olivia mengerutkan keningnya. "Siapa sepupumu?"


"Felix, dia adalah sepupunya Brayen," balas Devita.


Olivia mencebik. "Kenapa kau mengajakku, aku tidak enak menganggu kalian."


"Tapi dia ingin aku membawamu," Devita menjawab dengan santai.


Olivia sedikit terkejut mendengar ucapan Devita " Kenapa dia ingin aku ikut?"


"Kau berisik sekali Olivia. Aku sudah lapar!" Devita menarik tangan Olivia, memaksa sahabatnya itu meninggalkan ruang kerjanya.


...***...


Mobil Devita sudah tiba di restoran dekat dengan perusahaan Dixon's Group. Selama perjalanan Olivia terus bertanya kenapa Felix memintanya untuk datang. Tapi Devita tidak menjawab, Devita membiarkan Olivia yang akan bertanya sendiri pada Felix.


Devita dan Olivia turun dari mobil, mereka masuk kedalam restoran. Tatapan Devita sudah melihat Felix duduk di dekat jendela. Devita langsung berjalan ke arah Felix sambil memeluk lengan Olivia.


"Felix? Maaf membuatmu menunggu lama," kata Devita saat tiba di hadapan Felix.


Felix tersenyum dan berkata, "Tidak masalah aku juga baru datang,"


Kemudian Devita dan Olivia duduk tepat di hadapan Felix.


"Aku sudah memesan steak untuk kalian, jika kalian tidak menyukainya kalian bisa memesan yang lain" ujar Felix.


"Tidak Felix, kebetulan kami berdua sangat menyukai steak," jawab Devita.


"Ya benar, apa yang di katakan Devita, kami berdua memang menyukai steak," sambung Olivia yang membenarkan ucapan Devita.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang di pesan oleh Felix. Kini makanan sudah tersedia di atas meja, mereka mulai menikmati makanan mereka


"Devita, ini untukmu. Aku harap kau menyukainya," Devita menyerahkan shopping bag pada Felix.


"Kau sungguh baik Devita, terima kasih." Felix menerima shopping bag yang diberikan oleh Devita.


"Bukalah, aku berharap sesuai dengan yang kau sukai," kata Devita.


"Aku pasti menyukainya," Felix langsung membuka shopping bag itu. Senyum di bibir Felix terukir melihat jam tangan Rolex edisi terbaru yang di berikan oleh Devita.


"Kau sangat baik Devita. Aku belum memiliki edisi ini. Terima kasih," ucap Felix dengan tulus.


Devita tersenyum, " Aku senang kau menyukainya,"


Tatapan Felix kini beralih menatap Olivia, " Olivia, apa kamu ingin pesan lagi?" tanya Felix.


"Tidak Felix, ini sudah cukup," jawab Olivia.


Devita mengulum senyumannya. " Kau biasanya selalu menambah, Olivia. Saat kau mentraktirku makan kau selalu memesan makanan yang banyak sekali,"


Olivia menatap tajam Devita, tangan kanannya mencubit tangan Devita. Hingga membuat Devita meringis kesakitan.


Kemudian Olivia memaksakan senyuman di wajahnya. " Aku sudah kenyang, Felix. Jangan mendengarkan Devita,"


"Baiklah, jika kau ingin memesan sesuatu, kau pesan saja," balas Felix dan Olivia mengangguk.


"Devita, aku dengar Ayahmu memintamu untuk menangani bisnis keluargamu?" tanya Felix pada Devita.


Devita mendesah, " Sebenarnya aku belum siap. Tapi tidak mungkin aku menolak, aku ini anak tunggal. Jika aku memiliki seorang Kakak sudah pasti aku akan melimpahkan tanggung jawab itu pada Kakakku."


"Tenanglah, aku yakin Brayen akan membantumu. Dulu saat dia memegang perusahaan, dia juga belum menyelesaikan kuliahnya," jawab Felix meyakinkan.


"Ya, aku tahu pasti dia akan membantuku. Tapi sepupumu itu terkadang sangat menyebalkan," komentar Devita kesal.


"Menyebalkan, tapi kau mencintainya!!"Olivia mencebik, dia mengatakan dengan nada yang menyindir.


Felix tertawa " Kalian berdua itu sungguh menggemaskan,"


"Dan Devita kenapa kau tidak magang di perusahaan Brayen? Aku mendengar kau magang di Dixon's Group?" Felix kembali bertanya.


Felix mengangguk, dia menatap kagum Devita, " Great, kau memang layak menjadi menantu di keluarga Mahendra "


"Devita tersenyum. " Felix, sepertinya aku dan Olivia harus segera pergi. Kami sudah terlalu lama meninggalkan kantor. Weekend ini kau datang lah ke mansion Brayen yang baru. Kita bisa mengobrol bersama."


"Penawaran yang menarik. Sepertinya aku tertarik. Tapi apa Olivia ikut? Aku ingin sekali Olivia ikut?" kata Felix sembari melirik ke arah Olivia.


Olivia tersedak mendengar ucapan Felix. "Kenapa aku harus datang? Aku tidak bisa! Weekend ini orang tuaku datang ke Kota B,"


Felix menatap Olivia, " Benarkah? Kalau begitu apakah aku bisa bertemu dengan orang tuamu? Tidak masalah bukan, jika aku berkenalan dengan orang tuamu?"


"kenapa kau ingin berkenalan dengan orang tuaku?" Olivia menautkan alisnya, tatapannya menatap dingin Felix.


Felix mengedikkan bahunya, " Hanya berkenalan? Tidak masalah bukan?"


"Tidak! Nanti orang tuaku berpikir, kau adalah kekasihku," tolak Olivia cepat.


Devil terkekeh, " Sudah, lebih baik kita kembali ke kantor sekarang, Olivia "


Olivia menganguk setuju.


"Felix, kami duluan. Jangan lupa minggu ini kau datanglah ke mansion Brayen yang baru,"


"Tenanglah, aku pasti akan datang," balas Felix.


Devita tersenyum, dia dan Olivia langsung berjalan meninggalkan Felix. Mereka tidak mungkin berlama - lama karena jam makan siang terbatas, dan masih banyak yang harus mereka selesaikan.


...***...


"Kenapa kau meminta aku untuk datang ke Apartemenmu!" Seru Elena dengan nada tinggi, ketika dia tiba di Apartemen milik pria itu.


Pria itu tersenyum, lalu menyesap wine yang berada di tangannya. "Kau melarangku untuk datang ke Apartemenmu, jadi aku yang harus memanggilmu kesini bukan?"


Elena membuang napas kasar dan berkata, "Aku ini sibuk! Jangan menggangguku!"


Pria itu melangkah mendekat ke arah Elena, dia menarik dagu Elena dan berkata sinis, "Aku sudah membelikanmu satu set berlian dengan harga puluhan juta dollar. Aku juga sudah mengirim uang ke rekeningmu dua puluh lima juta dollar. Kau memang tidak tahu terima kasih. Setidaknya kau masih harus melayaniku, karena bayaran mu sangat mahal,"


Elena mendorong dada pria itu, "Aku ini memang mahal! Dan kau harus ingat! Aku ini artis terkenal tidak pernah menerima bayaran murah!"


Pria itu menyeringai, "Well, jadi karena kamu seorang artis, bayaran mu sangat mahal? Padahal sudah berapa puluh pria yang sudah bersamamu? Sungguh memalukan."


"Diam kau! Katakan apa yang membuatmu memanggil ku kesini!" Seru Elena dengan tatapan menghunus tajam pada pria itu.


Pria itu tersenyum miring, lalu menatap lekat Elena. "Kau hamil bukan? Siapa Ayah di kandunganmu itu?"


"Ya, aku ini hamil. Tentu saja ini anak Brayen! Anakku akan menjadi penerus Mahendra Enterprise, ingat itu!" Tukas Elena menegaskan.


Pria itu tertawa mendengar ucapan Elena. "Kau sungguh bermimpi, jangan di pikir aku ini Brayen yang mudah kau tipu. Sekarang katakan siapa Ayah dari anak itu? Jika itu anakku, aku akan mengambilnya. Jika itu bukan aku anakku, maka aku tidak akan perduli,"


"Dia bukan anakmu. Kau pikir aku hanya tidur denganmu!" Bentak Elena dengan penuh emosi.


Pria itu tersenyum sinis, "Apa kau juga tidak tahu, siapa Ayah bayimu? Aku rasa, kau memang tidak tahu. Tenanglah, aku akan test DNA, jika itu terbukti anakku maka aku akan mengambil anak itu. Dan kau, jangan berharap bisa menemui anakku, karena anakku tidak perlu tahu jika dia memiliki ibu sepertimu,"


"Sudah aku katakan dia anak Brayen, kau ini terlalu percaya diri! Jangan menggangguku, aku tidak ingin bertemu denganmu," Elena membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan pria itu.


Pria itu menyeringai mendengar ucapan Elena, dia membiarkan Elena melakukan segalanya. Dia ingin tahu, sejauh mana Elena bertindak.


"Jangan panggil aku William Dixon jika aku tidak bisa melakukan apapun yang aku inginkan," desis William tajam.



...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.