
Melihat Brayen yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Devita pun akhirnya mendesah lega. Dan Devita sebenarnya tidak tega mendiamkan suaminya itu, tapi dia rasa mendiamkan sesekali bukanlah hal yang salah.
Devita melangkah menuju ke arah wardrobe pakaian tidur Brayen, dia memilih piyama untuk Brayen dan meletakkannya di sofa. Setelah menyiapkan piyama untuk suaminya, Devita kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian, Devita berpura - pura tertidur, dia tidak ingin Brayen kembali bertanya apa alasan dirinya mendiamkan Brayen.
Lima belas menit kemudian Brayen baru saja selesai mandi. Brayen mengambil piyama yang sudah di siapkan oleh Devita dan langsung menggantinya. Kini tatapan Brayen menatap Devita yang sudah memejamkan matanya. Brayen melangkah mendekat ke arah ranjang, dia membaringkan tubuhnya di samping Istrinya.
"Devita? Kau sudah tidur?" Brayen mengusap lembut rambut Devita.
Tidak ada jawaban kemudian Brayen menarik pelan tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.
"Bagaimana ingin mendiamkannya, kalau Brayen selalu saja memelukku ketika tidur seperti ini!" Keluh Devita di dalam hati. Dia tetap berpura - pura untuk tidur.
Hingga kemudian, Brayen mengeratkan pelukannya dan juga ikut memejamkan matanya menyusul istrinya dalam mimpi yang indah.
...***...
"Pagi," sapa Brayen saat memakai dasi. Dia melihat sedikit ke arah Devita yang baru saja membuka matanya.
Devita tidak menjawab, dia memilih beranjak dari tempat tidurnya. Namun, saat Devita hendak menuju ke arah kamar mandi, tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Brayen.
"Kau ini kenapa, Devita?" seru Brayen sambil menatap lekat Devita. Sudah sejak tadi malam Devita terlihat berbeda.
"Brayen, aku sedang lelah!" Tukas Devita dingin.
Brayen mencoba untuk mengatur emosinya, dia mendekat dan memeluk Devita. "Kau marah karena kemarin aku tidak membangunkanmu? Aku tidak tega, sayang. Kau tidur terlalu pulas."
Brayen mengelus lembut pipi Devita, namun pandangan Devita menoleh ke samping tidak menatap suaminya itu. Meski Devita mengalihkan pandangannya, tapi Brayen terus menatap wajah istrinya. Brayen pun lebih memilih untuk mengalah dan tidak berdebat dengan Devita.
"Brayen, aku ingin mandi. Lebih baik kau berangkat sekarang," Devita berusaha melepaskan pelukan Brayen. "Lepaskan Brayen, aku ingin mandi!"
Brayen mengurai pelukkannya, dia memberikan kecupan di kening Devita. "Aku harus segera berangkat, pulang nanti kau harus menjelaskan padaku ada apa denganmu."
Setelah mengatakan ini, Brayen langsung berjalan meninggalkan Devita. Sedangkan Devita hanya mengulum senyumannya ketika melihat Brayen sudah pergi. Brayen memang tidak pernah bisa jika di diamkan oleh dirinya. Devita membalikkan tubuhnya menuju ke arah kamar mandi. Berendam di pagi hari adalah hal yang ternyaman sebelum memulai aktivitas hari ini
...***...
"Pagi Devita," sapa Laretta saat melihat Devita masuk ke dalam ruang makan.
"Pagi Laretta," balas Devita. Dia langsung duduk di hadapan Laretta, tidak lama kemudian pelayan mengantarkan pasta aglio olio yang Devita sudah pesan tadi.
"Devita, aku rasa Kak Brayen benar - benar tidak ingat, jika hari ini adalah hari ulang tahunnya" Laretta mengulum senyumannya. "Aku juga sudah meminta kepada Daddy dan Mommy untuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kak Brayen. Dan aku juga sudah mengatakan kepada mereka kalau kita akan memberikan kejutan."
"Good, itu artinya rencana kita berhasil." balas Devita. "Tapi bagaimana dengan Albert? Albert tidak mungkin melupakan ulang tahun Brayen."
"Kau tenang saja, aku sudah bicara dengan Albert. Aku sudah minta Albert untuk diam dan berpura-pura tidak ingat ulang tahun Kakakku," ujar Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Apa kau yakin? Kau tahu, Albert begitu setia pada Brayen." kata Devita yang mulai ragu.
"Kau jangan cemas, Devita." jawab Laretta. "Aku sudah memberikan ancaman pada Albert. Aku mengatakan kepada Albert, kalau dia sampai memberitahu Brayen, maka dia akan di pecat olehmu."
Laretta tersenyum puas, dia mengambil orange juice yang ada di hadapannya dan mulai menyesapnya. "Aku selalu membawa namamu Devita, kau tenang saja Albert pasti akan takut. Mengingat dia sudah lama ikut dengan Kakakku."
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Kau sungguh berbahaya Laretta Gissel Mahendra. Ancaman mu membuat seseorang tidak bisa berkutik."
Laretta mengangkat bahunya acuh. "Karena aku adalah adik dari Brayen Adams Mahendra. Aku pastikan setiap ancaman yang terlontar dariku akan membuat orang tidak mampu untuk melawannya."
"Great, kau memang yang luar biasa hebat." Devita terkekeh geli
Laretta tersenyum, "Aku juga sudah meminta Olivia dan Felix untuk datang, karena hari ini Kakakku pastinya akan sangat terkejut dengan kejutan yang akan kita berikan."
"Terima kasih karena sudah membantuku." balas Devita.
"Tidak perlu berterima kasih, karena Kak Brayen adalah Kakakku." ujar Laretta. "Lebih baik kita bersiap sekarang. Aku juga sudah memberitahu kedua orang tuaku untuk datang."
"Kau tidak perlu cemas, Devita." jawab Laretta dengan santai. "Karena aku sudah menghubungi Paman Edwin dan Bibi Nadia untuk datang. Jadi aku pastikan mereka akan datang hari ini."
Devita tersenyum senang. "Terima kasih Laretta, kau memang banyak membantuku. Ya sudah, aku akan siap - siap."
Laretta mengangguk, kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk kedalam kamar. Dan Devita sangat yakin setelah ini Brayen pasti akan sangat terkejut dengan segala kejutan yang dia berikan.
...***...
Brayen turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam perusahaan. Pikirannya tidak tenang, sejak Devita terlihat berbeda sejak kemarin. Sebenarnya Brayen ingin memaksa Devita untuk berbicara padanya, tapi Brayen tidak ingin berdebat dengan istrinya itu Brayen pun memilih untuk menunggu nanti malam dan langsung berbicara dengan istrinya.
Brayen berjalan masuk kedalam ruang kerjanya. Albert yang berada di depan ruang kerja Brayen, langsung masuk ketika Brayen mengisyaratkan Albert untuk masuk kedalam.
"Kau sudah menemukan Asisten untuk, istriku?" tanya Brayen dingin. Kini dia sudah duduk di kursi kerjanya. Jemari tangannya mengetuk meja secara berirama.
"Dua hari lagi saya akan membawakan Asisten untuk Nyonya Devita, Tuan. Saat ini, saya masih memilih yang terbaik untuk Nyonya." jawab Albert.
Brayen mengangguk singkat. "Albert, apa menurutmu aku melakukan hal yang membuat istriku marah?"
"Maaf Tuan, bagaimana maksudnya?" Albert menatap bingung Brayen. Terlihat jelas, Albert tidak mengerti apa yang di maksud dari perkataan Brayen.
Brayen membuang napas kasar. "Apa menurutmu aku melakukan kesalahan? Kemarin ketika aku pulang kerumah, istriku terlihat berbeda. Dia mendiamkan ku tidak seperti biasanya. Jika dia marah padaku karena aku pulang terlambat, aku rasa tidak mungkin. Karena biasanya Devita tidak akan marah lama jika hanya karena aku yang pulang terlambat."
"Tuan, menurut saya mungkin karena Nyonya sedang hamil. Seorang wanita hamil, memiliki sifat yang cenderung mudah sekali marah." jawab Albert.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin diam saja jika istriku masih mendiamkan ku," balas Brayen
"Berikan Nyonya sedikit waktu, Tuan. Saya yakin Nyonya tidak mungkin lama mendiamkan anda, Tuan." jelas Albert.
"Semoga yang kau katakan itu benar," jawab Brayen. "Jam berapa kita meeting dengan Mr. Lee dan Mr. Nicholas?"
"Sudah waktunya, Tuan. Kita pergi sekarang." balas Albert. "Tapi Tuan, ada yang ingin saya sampaikan sebelum kita meeting. "
"Ada apa?" Brayen mengernyitkan dahinya.
"Hari ini Mr. Lee dan Mr. Nicholas merubah tempat meetingnya Tuan."
"Kenapa mereka tiba - tiba merubahnya?"
"Maaf Tuan, untuk itu mereka tidak memberikan alasan kenapa mereka merubah tempatnya."
Brayen mendengus tidak suka, "Katakan dimana tempat yang mereka pilih?"
"Di Hotel Ritz Carlton, Tuan."
"Kita berangkat sekarang," Brayen tidak memilki pilihan lain, dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan berjalan keluar ruang kerja. Albert menunduk, kemudian Albert mengikuti Brayen dari belakang.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.