
"Tuan, Nyonya." sapa Albert menundukkan kepalanya saat Brayen dan juga Devita keluar dari lift.
"Hi Albert, bagaimana kabarmu?" tanya Devita dengan senyuman ramah di wajahnya.
"Baik Nyonya, bagaimana dengan Nyonya?" tanya Albert.
"Aku baik," jawab Devita.
"Devita, kau masuklah duluan kedalam ruangan ku. Nanti aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan untukmu." ucap Brayen sambil mengelus lembut pipi Devita.
Devita mengangguk, "Ya aku akan masuk sekarang." kini Devita berjalan meninggalkan Albert dan Brayen yang masih berada di luar. Devita langsung menuju ke arah kamar pribadi milik Brayen yang berada di ruang kerja suaminya itu.
"Albert, kapan asisten baru untuk istriku datang?" tanya Brayen saat Devita sudah berjalan pergi meninggalkannya.
"Hari ini Tuan, hari ini Nagita akan datang." jawab Albert.
"Maaf Tuan, apa Tuan nanti ingin bertemu dengannya? Atau saya memberikan Nagita untuk bertemu dengan Nyonya terlebih dulu?" tanya Albert memastikan.
"Berikan padaku, biar aku yang akan menilainya apakah dia pantas menjadi asisten dari Istriku atau tidak," Brayen melirik arlojinya, kemudian menatap Albert. "Lebih baik kita keruangan meeting sekarang. Jangan lupa kau siapkan sarapan untuk istriku. Dan bawakan cake serta buah untuk istriku."
Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."
Brayen sengaja ingin bertemu dengan Asisten baru yang dia pilih untuk Devita. Kali ini dia tidak ingin salah dalam memilih asisten untuk istrinya. Terlebih Devita tengah hamil, tentu Brayen tidak ingin sembarangan memilih asisten untuk istrinya. Meski Brayen tahu, Albert akan memilihkan yang terbaik hanya saja Brayen ingin memastikannya terlebih dahulu.
...***...
Setelah selesai meeting, Brayen langsung menyusul Devita menuju ke arah kamar pribadi yang berada di ruang kerjanya. Brayen sengaja mempercepat meetingnya, dia tidak bisa meninggalkan istrinya terlalu lama.
Saat Brayen masuk kedalam, dia mendapati Devita yang tengah tertidur sambil memeluk bingkai foto. Brayen mendekat, dia duduk di tepi ranjang. Semenjak hamil, Devita memang sering tertidur pulas.
Brayen merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah istrinya itu. Jemari Brayen mengusap lembut bibir ranum istrinya, dia langsung memberikan kecupan di bibir istrinya itu.
Devita menggeliat, ketika merasakan ada yang menyentuh wajahnya. Devita membuka matanya, dia tersenyum ketika Brayen berada di hadapannya.
"Brayen, kau sudah selesai meeting?" tanya Devita dengan suara serak.
"Ya, aku sengaja selesai lebih awal." jawab Brayen. "Apa kau sudah makan?"
"Sudah," Devita mendekat, dia meletakkan kepalanya ke atas pangkuan Brayen. "Apa hari ini kau masih meeting lagi?"
"Masih, aku harus bertemu dengan seseorang," Brayen mengusap rambut panjang istrinya, "Devita, minggu depan kita akan menghadiri pesta pertunangan Davin temanku."
Devita mengangguk dan bertanya, "Apa nanti Olivia dan juga Laretta akan ikut?"
"Terakhir Felix bilang akan membawa Olivia," balas Brayen.
"Laretta? Apa dia juga ikut?" tanya Devita lagi.
"Aku rasa Laretta akan ikut. Tapi aku masih belum tahu karena aku belum bertanya padanya." jawab Brayen yang masih sedikit ragu.
"Baiklah, aku saja yang akan bertanya. Nanti aku akan mencari gaun bersama dengan Olivia dan juga Laretta." ucap Devita.
"Aku sudah meminta desainer langganan Mom Rena untuk menemuimu. Kau tidak perlu ke mall, nanti ada desainer yang akan datang kerumah kita."
Devita mendesah pelan. "Kalau begitu, desainer itu harus merancang gaun untukku, Laretta dan juga Olivia. Karena aku ingin memilih gaun bersama dengan Laretta dan Olivia."
Devita tersenyum. "Terima kasih, sayang."
"Devita, ada yang ingin aku katakan padamu." Brayen menyelipkan rambut Devita ke telinga istrinya itu.
"Ada apa?" Devita bangun, dia langsung duduk mensejajarkan tubuhnya dengan suaminya.
"Aku sudah meminta Albert untuk mencarikan Asisten baru untukmu. Hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku akan memilihkan yang terbaik untukmu. Kejadian yang dulu aku pastikan tidak akan pernah terulang lagi. Sebenarnya, aku sudah meminta Albert untuk mencarikan Asisten yang baru sejak lama, tapi terakhir banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan sekarang aku rasa, aku tidak bisa lagi menundanya," ujar Brayen sambil menatap Devita.
"Brayen aku tidak butuh asisten. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula aku sudah bersama dengan sopir. Aku tidak ingin bersama dengan Asisten."
Devita merengut kesal, Brayen selalu saja bertindak berlebihan. Brayen memang pernah mengatakan kepadanya, akan mencarikan Asisten untuknya, hanya saja Devita berharap agar Brayen membatalkan niatnya. Devita tidak suka jika harus di ikuti oleh Asisten. Pergi bersama dengan sopir saja sudah membuat Devita kesal. Apalagi sekarang harus bertambah dengan adanya asisten yang mengikutinya. Memikirkannya membuat Devita semakin sakit kepala. Karena suaminya itu terlalu berlebihan semenjak dirinya hamil.
"Kau membutuhkannya Devita, aku tidak ingin kau sendirian. Belakangan ini kau sering berbelanja. Aku ingin ada asisten yang menemanimu. Aku tidak suka di bantah Devita, jadi kau harus selalu menuruti apa yang sudah aku putuskan," tukas Brayen menekankan. Di memang tidak suka jika istrinya itu membantah dirinya.
Devita mendesah kasar. "Terserah kau saja! Tetapi, jika terlalu banyak orang yang mengikutiku lebih baik aku berada di dalam kamar saja! Aku tidak suka jika banyak orang yang mengikutiku pergi! Karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang - orang!"
Devita hendak beranjak dari ranjang, namun tangan Brayen menarik Devita dan membawanya duduk ke atas pangkuannya. "Kau mau kemana?"
"Lepas Brayen, aku ingin keluar. Kepalaku pusing." Devita mencoba untuk melepaskan pelukan dari Brayen, namun sia - sia karena Brayen semakin mengeratkan pelukannya.
"Dengarkan aku Devita, aku tidak suka jika kau membantahku. Kau sangat tahu itu." peringat Brayen dingin.
Devita mengerutkan bibirnya menatap kesal Brayen. "Aku hanya tidak suka jika ada Asisten, sayang!"
"Aku melakukan semua ini karena kamu sedang hamil Devita..." Brayen menarik dagu istrinya mencium dan ******* bibir istrinya dengan lembut. Kemudian Brayen melepaskan ciumannya dan berkata. "Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri. Aku tahu,kau tidak terbiasa dengan semua ini. Tapi untuk kali ini saja, aku minta kau agar mau menurutiku. Aku ingin kau selalu bersama dengan sopir dan asisten. Setidaknya, itu akan membuatku jauh lebih tenang."
Devita terdiam, dia mengerti kekhawatiran suaminya. Hingga kemudian, Devita membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. "Baiklah, aku akan menurutimu. Sudah cukup sopir dan asisten saja. Aku tidak ingin kau menambah lagi. Kau bisa pikirkan, aku sedang berbelanja dan harus di ikuti oleh banyak orang, itu benar-benar membuatku tidak nyaman."
Brayen tersenyum dia mengeratkan pelukannya. "Tidak sayang, aku rasa sopir dan asisten memang sudah cukup. Tapi jika nantinya kedepannya aku melihat kau membutuhkan pengawal, maka aku akan meminta pengawal untuk menemanimu."
Devita menjauhkan wajahnya, dia menatap dingin suaminya itu. "Brayen! Kau ini benar - benar! Aku tidak mau! Bersama sopir dan asisten saja sudah banyak Brayen!"
Brayen mengulum senyumannya, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Devita dan memagutnya dengan lembut. "Aku melakukan ini, karena aku takut terjadi sesuatu denganmu Devita." bisik Brayen tepat di bibir Devita.
Devita tersenyum, dia mengelus lembut rahang Brayen. "Tidak akan terjadi apapun denganku atau anak kita."
Hingga kemudian Devita membenamkan bibirnya ke bibir Brayen. Dia mencium dan ******* dengan lembut bibir suaminya. Brayen yang mendapatkan ciuman dari Devita, dia langsung membalas ciuman istrinya itu. Devita memeluk leher Brayen, menikmati setiap decapan bibir mereka yang saling berpagutan.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.