
Konten dewasa, harap bijak dalam membaca! untuk anak dibawah umur, harap menjauhi bab ini!
Happy Reading....
...***...
Brayen memilih untuk tidak menjawab, dia memilih untuk mengambil sendok dan mulai menikmati masakan istrinya. Saat Lobster buatan Devita menyentuh lidahnya, Brayen tersenyum. Harus di akui, masakan istrinya itu memang sangat enak.
"Apa kau tidak ingin tahu bagaimana pendapatku tentang masakanmu?" suara Brayen yang sengaja menggoda istrinya yang sejak tadi mengerut kesal.
"Bagaimana?" tanya Devita dengan nada yang ketus.
"Sangat enak, aku menyukai masakanmu."ujar Brayen. Dia kembali menyendok Lobster Ravioli itu dan memasukkan kedalam mulutnya
"Kau tidak membohongiku kan?" Devita memincingkan matanya, menatap penuh dengan selidik.
"Kalau ini tidak enak, aku tidak mungkin masih memakannya," balas Brayen sambil menikmati Lobster Ravioli itu. Lidahnya begitu menyukai masakan yang di buat oleh istrinya itu.
Devita memilih diam dan tidak lagi bertanya.
Hingga kemudian, Brayen kembali meletakkan sendoknya. Lalu mengambil gelas yang berisi air putih di hadapannya dan meneguknya hingga tandas.
"Katakan padaku, ada apa denganmu?Kenapa kau terlihat marah?" Brayen meletakkan gelas yang ada di tangannya ke tempat semula. Dia menatap lekat manik mata istrinya itu. "Sebelumnya kau tidak apa - apa. Lalu, kenapa sekarang kau marah?"
"Aku tidak marah!" Bantah Devita.
Brayen beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekat ke arah Devita. Dia menarik dagu Devita menatap penuh dengan selidik mata istrinya itu. "Kau tidak bisa membohongiku. Katakan padaku kenapa kau marah?"
"Kau tadi meeting dengan siapa? Kenapa sampai larut malam seperti ini?" tanya Devita dengan nada yang ketus.
Kening Brayen berkerut dalam. "Aku meeting dengan rekan bisnisku dan aku tidak pulang larut malam, sayang. Jam tujuh tadi aku sudah pulang."
"Jika aku tidak memintamu untuk pulang lebih awal. Kau pasti akan pulang terlambat!" Cebik Devita kesal.
"Sebenarnya ada apa, sayang? Kau tahu, aku itu sering pulang terlambat karena pekerjaanku." Brayen menatap tak mengerti ke arah Devita. "Kau sedang tidak mencurigaiku, bukan? Sangat lucu, kalau kau mencurigai suamimu sendiri."
Devita mendengus tidak suka. "Tadi kenapa ada wanita yang mengaku bernama Ivana menghubungimu malam - malam? Tadi dia bilang, dia rekan bisnismu! Tidak biasanya ada rekan bisnis wanita yang menghubungimu!"
Seketika senyum di bibir Brayen terukir, mendengar perkataan Devita. Brayen menggelengkan kepalanya, rupanya istrinya itu marah karena ada Rekan bisnisnya yang menghubunginya.
"Kenapa kau hanya tersenyum? Tidak ada yang lucu Brayen!" Devita mendengus tidak suka. Melihat Brayen yang terus tersenyum melihat ke arahnya.
Brayen menangkup kedua pipi Devita, dan memberikan kecupan di bibir istrinya bertubi - tubi. "Kau tidak perlu cemburu, sayang. Ivana rekan bisnis perusahaan keluargamu. Aku meeting dengannya karena menggantikan Ayahmu. Nanti, aku akan mengatakan pada Albert untuk mengingatkannya jangan menghubungiku ketika aku berada di rumah."
"Jadi, kalau tidak di rumah dia akan bebas menghubungimu? Begitu maksudmu Brayen?" seru Devita. "Tadi, saat dia menghubungimu, suaranya begitu menggoda!Pasti dia sangat cantik dan juga seksi!"
"Aku dan dia hanya rekan bisnis. Dia menghubungiku hanya sebatas pekerjaan saja, sayang. Kau tidak perlu takut, karena di mataku, tidak ada wanita yang secantik dirimu. Kau jauh lebih sempurna darinya." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Apa kau masih cemburu Mrs. Mahendra?"
"Aku tidak cemburu!" Tukas Devita. Dia memalingkan wajahnya tidak mau menatap suaminya.
"Akh!" Devita memekik terkejut, saat Brayen membopong tubuh Devita.
"Brayen! Turunkan aku!" Devita mendorong tubuh Brayen, namun suaminya itu mengunci pergerakannya hingga membuat dirinya tidak bisa bergerak.
"Jadi seperti ini cemburunya wanita hamil, hm?" Brayen mengecupi tengkuk leher Devita. Dan hembusan nafas Brayen membuat tubuh Devita meremang. Seolah setiap sentuhan dari Brayen begitu menghipnotis dirinya. Hingga kemudian, Brayen mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya dan berbisik. "Aku menyukai setiap kau cemburu. Melihat wanita hamil cemburu ternyata begitu menggemaskan."
"Kau ingin membuatku cemburu setiap hari?" Devita melayangkan tatapan dingin pada Brayen.
Brayen menarik dagu Devita. Mencium dan m***mat lembut bibir istrinya itu. "Kau boleh cemburu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, tidak akan pernah ada wanita yang menggantikan posisimu. Selamanya kau akan menjadi istri. Dan wanita yang aku cintai satu - satunya hanya dirimu. Kau adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Kau juga wanita terseksi yang pernah aku lihat."
Wajah Devita merona, mendengar perkataan Brayen. "Kau itu sangat cerdas sekali merayu!"
"Aku sedang tidak merayu, sayang." bisik Brayen di telinga istrinya.
"Brayen, nanti ada orang yang melihat-" d**ah Devita, saat Brayen mulai menyelipkan telapak tangannya ke gaun tidurnya. Brayen meremas pelan gundukan kembar di dada Devita.
"Dokter Keira mengatakan padaku, tidak masalah jika harus berhubungan. Kandunganmu sudah kuat sayang." bisik Brayen.
"B-Brayen, tapi kita sedang ada di dapur. Akh-" d****an lolos dari bibir Devita ketika Brayen mencubit puncak dadanya.
"Brayen, nanti ada yang melihat." Devita memejamkan matanya kala Brayen menghisap lehernya hingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Tidak akan ada yang melihat. Mereka pasti sudah tertidur," bisik Brayen.
Devita tidak menjawab, dia lebih memilih untuk menuruti keinginan Brayen. Tubuhnya tidak mampu lagi menolak setiap sentuhan lembut dari suaminya.
Devita memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya. Tidak bisa di pungkiri , sentuhan suaminya begitu menjadi candu baginya.
"You are looking so hot," bisik Brayen di telinga Devita.
Brayen pun tidak bisa lagi menunggu, dia memulai penyatuannya. Devita berteriak ketika Brayen memulai memasukinya.
"Pain," rintih Devita merasakan sakit.
"It will be fine sweetheart." bisik Brayen tetap di depan bibir Devita.
D****an saling bersahutan memenuhi dapur itu. Bahkan mereka tidak perduli dengan mereka yang tengah bercinta di dapur. Pertama kalinya Devita bercinta di luar kamar tidurnya.
"Brayen-" desah Devita ketika Brayen mulai mempercepat temponya. Devita mendongakkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya. Permainan suaminya memang selalu luar biasa.
Hingga akhirnya, mereka berdua mendapatkan pelepasan. Tubuh Devita terkulai lemah. Napasnya mulai terengah - engah. Brayen mengecup kening istrinya. Kemudian Brayen membantu Devita memakai kembali pakaiannya dan dia juga langsung merapihkan pakaiannya. Brayen membopomg Devita gaya bridal kembali menuju ke kamar mereka.
...***...
Suara dering ponsel terdengar, membuat Devita yang tengah tertidur lelap harus membuka matanya. Devita menggeliat, dia mengerjap beberapa kali. Dia melirik ke arah samping suaminya. Suaminya sudah tidak ada di sampingnya. Devita mendengus kesal namun dering ponsel miliknya terus berdering. Devita menyambar ponselnya. Dia melihat ke layar tertera nama Olivia. Dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian, meletakkan ke telinganya.
"Ya?" Devita menjawab dengan suara serak khas baru bangun tidur, saat panggilan terhubung.
"Devita kau sudah bangun?" tanya Olivia dari sebrang telepon.
"Jika aku belum bangun, aku tidak bisa menjawab teleponmu Olivia Roberto! Katakan padaku, ada apa kau menghubungiku sepagi ini?"
Olivia terkekeh dari balik teleponnya. "Aku hanya ingin mengatakan, setelah hari kelulusan kita nanti, aku akan kembali ke Kanada untuk sementara."
Devita tersentak mendengar ucapan Olivia. "Kau kembali ke Kanada? Maksudku kau tidak bekerja di perusahaan milik Felix?"
"Kau tenang saja Devita Mahendra. Aku tidak mungkin meninggalkan Indonesia. Aku hanya sementara di Kanada. Mungkin, satu atau dua bulan. Ayahku memintaku menggantikan sebentar posisinya. Kondisi kesehatannya sedang memburuk. Aku tidak ingin menyusahkannya."
"Paman Rendy sakit?"
"Ya, kondisi kesehatannya menurun. Aku tidak memiliki pilihan. Aku akan menggantikan posisi Ayahku untuk sementara. Mungkin satu atau dua bulan."
Devita mendesah pelan. "Jika aku tidak hamil, pasti aku akan menjenguk Ayahmu?"
"Tidak apa-apa Devita. Nanti aku akan menyampaikan salammu pada orang tuaku."
"Tapi tunggu, mungkin saat usia kandunganku sudah lima bulan. Aku bisa mengunjungimu. Nanti aku akan berkonsultasi dengan Dokter Keira."
"Lebih baik kau pastikan dulu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keponakanku. Kau tahu bukan? Anakmu itu pewaris Mahendra Enterprise. Jadi jangan sampai terjadi sesuatu pada anakmu."
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.