Love And Contract

Love And Contract
Keinginan Olivia



Felix duduk di samping Olivia, dia tidak menjawab. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan minuman untuknya. Felix memilih untuk minum orange juice yang sudah di sediakan untuknya. Felix menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Sedangkan sejak tadi, Olivia terus menatap tajam Felix yang tidak juga pergi dari rumah.


"Felix? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku sudah lelah dan ingin beristirahat!" Olivia menggeram dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.


Felix meletakkan gelas yang berada di tangannya ke atas meja, lalu dia menoleh menatap lekat Olivia. "Kau bertanya padaku, apa yang aku inginkan? Aku rasa kau sudah tahu jawabannya? Aku menginginkan dirimu Olivia Roberto. Apa susah untuk menerima itu? Sudah ku katakan berkali-kali. Aku hanya menginginkan dirimu. Aku tidak akan pernah menginginkan seorang wanita di hidupku seperti saat ini. Dan harus aku tekankan lagi padamu, ini pertama kali dalam hidupku mengejar seorang wanita yang terus menolakku berkali - kali!"


Olivia terdiam bahkan ia tidak mampu untuk berkata - kata, setelah mendengar ucapan dari Felix. Ini pertama kalinya Felix mengatakannya dengan suara yang tegas seperti ini. Biasanya Felix selalu menunjukkan tingkah konyol yang sering membuat dirinya geram.


"Hentikan Felix! Sudah aku katakan lebih baik kau mencari wanita dewasa untukmu.Aku bukan wanita yang tepat untuk hidupmu, Felix. Aku tidak memintamu untuk mengejarku. Lebih baik kau menyerah dan tidak perlu lagi mengejarku. Karena jawabanku akan tetap sama. Aku tetap tidak bisa!" Tukas Olivia menegaskan. Dia ingin di detik ini Felix pergi dari hadapannya. Meski ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya setelah mengatakan ini, tapi semua yang dia ucapkan adalah yang terbaik.


Felix mendekat, dia menarik dagu Olivia. Tatapan mereka saling menatap lekat satu sama lain. Olivia berusaha untuk tidak menatap Felix namun sia - sia. Felix menarik dagu Olivia dan memaksa Olivia untuk menatap dirinya. Jantung Olivia terus berdegup kencang saat ini, dia berusaha untuk mengendalikan diri, tapi kenyataannya tidak bisa.


"F- Felix, lepaskan aku." ucap Olivia gugup.


Felix tersenyum miring, "See? Kau gugup saat kita dekat seperti ini, sweet heart. Aku tahu, kau juga memiliki perasaan padaku. Tapi kau selalu menutupi itu padaku. Sekarang, tanpa kau menjawab perasaanmu, aku sudah bisa mengetahui isi hatimu."


"Apa-" ucapan Olivia terpotong. Matanya membelalak sempurna saat Felix mencium dan ******* bibirnya. Dengan sekuat tenaga Olivia mencoba mendorong tubuh Felix. Tapi sia - sia karena tubuh Olivia hanya bagaikan kapas untuk Felix.


"Manis," komentar Felix saat dia melepaskan ciumannya.


"Kau gila!" Teriak Olivia kencang, dia memukul dada Felix. Dengan cepat Felix menangkap tangan Olivia.


"Hentikan! Kau masih terus saja berpura-pura padaku, Olivia! Atau aku akan melakukannya lebih dari sekedar ciuman agar aku bisa memilikimu seutuhnya!" Seru Felix dengan nada tinggi hingga membuat Olivia terkesiap.


"Kumohon, jujurlah pada perasaanmu, Olivia. Aku bersumpah, hal yang kau takutkan itu tidak akan pernah terjadi, Olivia. Aku tidak akan pernah melukaimu, Olivia. Demi Tuhan, untuk mendapatkanmu saja aku harus bersusah payah. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan melakukan itu, Olivia? Aku mohon, jangan membohongi perasaanmu." kata Felix dengan penuh permohonan.


Olivia menggigit bibirnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi melihat Felix yang seperti ini, terlebih apa yang di katakan oleh Felix benar - benar membuatnya tersentuh.


"A-Aku," Felix menempelkan telunjuknya di bibir Olivia. "Aku minta perkataanmu ini jujur dari hatimu, Olivia." pinta Felix.


Olivia menarik nafas dalam. "Baiklah, aku akan berusaha mempercayaimu. Asalkan kau menuruti keinginanku."


Felix tersenyum senang mendengar ucapan dari Olivia. " Apa yang kau inginkan? Mobil? Rumah? Atau bisnis untukmu? Aku akan menuruti semuanya, asal aku bisa bersama denganmu?"


Olivia mendengus tak suka, " Aku tidak membutuhkan itu! Aku meminta yang lain!"


"Apa yang aku inginkan?" Felix mengernyitkan keningnya.


"Keinginan yang pertama aku ingin bertemu dengan Tuan Muda Alvaro Samudera. Lalu keinginanku yang kedua, aku ingin kau membawa mawar berwarna biru dan juga mawar berwarna hijau asli salah satu bunga langka. Kau harus bisa menemukan itu. Lalu aku ingin kau membangun taman yang indah di mansionku dengan semua jenis bunga. Termasuk mawar hijau dan mawar biru," ujar Olivia dengan tegas. "Apa kau sanggup?" tanya Olivia dengan senyuman sinis.


Felix mengumpat di dalam hati, dia tidak pernah tahu jenis - jenis mawar. Tapi tidak masalah dia bisa meminta asistennya untuk mencarinya.


"Fine! Aku setuju! Tapi kenapa kau meminta ingin bertemu dengan Alvaro Samudera? Apa yang kau inginkan jika sudah bertemu dengannya? Ingat dia sudah menikah, Olivia!"


"Aku tidak ingin memberitahumu, terpenting aku bisa bertemu dengannya. Dan ingat, aku juga tidak akan merusak hubungan rumah tangga Alvaro dengan istrinya!"


"Baiklah, tapi saat aku mendapatkan semua yang kau inginkan kau harus menjadi milikku!" Tukas Felix dengan penuh percaya diri.


"I find it," balas Felix dengan seringai di wajahnya.


...***...


Brayen memeriksa tumpukan dokumen yang di berikan oleh Albert. Sebelum mendatangi setiap dokumen Brayen selalu memeriksanya dengan teliti. Meski dia tahu, Albert sudah memeriksanya dengan baik, tapi bagi Brayen dia harus tetap memeriksa dokumen yang di berikan oleh Albert ini.


Brayen menyandarkan punggungnya sebentar, dia memejamkan matanya lelah. Terdengar suara ketukan pintu, Brayen membuang napas kasar. Dia paling tidak suka jika dirinya sedang sedikit bersantai harus di ganggu seperti ini.


"Kau ini kenapa sejak tadi aku mengetuk pintu dan kau tidak langsung memintaku untuk masuk?" suara Felix berseru menerobos untuk masuk. Felix tidak memperdulikan tatapan tajam dari Brayen, bahkan Brayen juga tidak mengatakan Felix untuk masuk tapi dia tetap tidak perduli. Terpenting, bagi Felix dia sudah mengetuk pintu.


"Ada apa kau kesini?" tukas Brayen dingin.


Felix berdecak kesal, " Apa begini caramu menyambut sepupumu sendiri, Brayen?"


"Cepat katakan! Jangan membuang waktuku Felix! Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" Brayen mengabaikan kehadiran Felix, dia kembali memeriksa dokumen yang berada di atas meja.


Felix melangkah mendekat, dia duduk di hadapan Brayen. " Aku membutuhkan bantuanmu, Brayen. Kali ini kau harus membantuku." ucap Felix to the point. Dia tidak ingin berbasa-basi dengan sepupunya yang menyebalkan ini.


"Apa yang kau inginkan?" Brayen masih terus memeriksa pekerjaannya tanpa menoleh ke arah Felix.


Felix membuang napas kasar. " Bantu aku untuk bisa bertemu dengan Alvaro Samudera karena aku tahu, kau berteman dekat dengannya. Dan aku juga membutuhkan bantuanmu untuk menemukan bunga mawar berwarna biru dan hijau. Aku sudah meminta Asistenku untuk mencarinya. Sekarang aku membutuhkanmu untuk mempercepat waktu."


Brayen mengalihkan pandangannya kini dia tetap menatap lekat Felix. " Apa kau ingin mengerjaiku? Memintaku untuk mencari bunga yang kau maksud? Kau pikir aku ini tukang kebun!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


"Dan kenapa tiba - tiba kau ingin bertemu dengan Alvaro?" sambung Brayen.


"CK! Bukan begitu maksudku sialan! Aku ini minta bantuanmu karena aku baru mendapatkan syarat dari Olivia. Dia mengatakan akan menerimaku jika aku berhasil mempertemukannya dengan Alvaro Samudera dan berhasil memberikannya bunga mawar berwarna biru dan juga hijau. Kau sebagai sepupuku harus membantuku. Karena selama ini aku selalu membantumu!" Felix mempertegas, dia kembali mengingatkan atas semua kebaikannya. Tidak perduli dengan tatapan tajam dari Brayen, terpenting saat ini dia membutuhkan bantuan dari Brayen.


"Memangnya asistenmu itu tidak bisa mempertemukanmu dengan Alvaro dan tidak mampu menemukan bunga yang kau cari itu, sampai meminta bantuan padaku? Menyusahkan sekali!" Tukas Brayen dingin.


Felix berdecak pelan, " Akan lebih cepat jika kau yang menghubungi Alvaro untuk mengatur pertemuan denganku. Dan untuk Asistenku dia juga belum bisa menemukannya. Jadi aku memintamu untuk membantuku! Jangan lupa kebaikanku, Brayen! Kalau bukan saran dariku, mungkin kau tidak akan pernah bisa bersama dengan Devita!"


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.