
Sinar matahari pagi menembus jendela, menyentuh wajah Devita hingga membuat Devita mulai membuka matanya. Devita menguap dan menggeliat. Devita melihat kesamping ternyata tidak ada Brayen. Pasti Brayen sudah bangun lebih dulu.
Devita beranjak dari tempat tidur, lalu mengikat asal rambutnya. Pandangan Devita melihat tubuhnya yang masih terbalut pakaian yang dia pakai kemarin.Devita menepuk keningnya pelan, dia pasti tertidur di mobil. Devita menggeleng tak percaya dirinya, tertidur begitu lama. Bahkan Brayen membopong dirinya, tapi tetap tidak terbangun. Devita mendesah lega. beruntung Brayen tidak berani menggantikan pakaiannya.
Tidak lama kemudian Brayen keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya. Devita menatap Brayen dengan dada telanjang dan hanya memakai handuk dia menelan salivanya susah payah, tubuh Suaminya itu begitu sempurna. Dada bidang, otot perut tercetak begitu sempurna. Devita tersenyum canggung, dia bersikap untuk seperti biasa tapi jantungnya semakin berdegup dengan kencang, dan Devita mengumpat di dalam hati, dia langsung menepis pemikirannya itu.
"Kau sudah bangun?" pertanyaan dari Brayen membuat Devita berusaha untuk bersikap biasa.
Devita mengangguk samar, " Iya sudah. Maafkan aku sudah tertidur terlalu pulas,"
" Ya, kau tertidur hingga aku berpikir kau tidak akan bangun kembali." Tukas Brayen dingin.
Devita mendengus kesal dan berkata, " Kau tidak ingin aku bangun lagi?!"
"Jangan berisik di pagi hari." balas Brayen datar. " Hari ini kau mau kemana?" tanya Brayen.
"Aku ingin kita ke Brandenburg Gate, kita berfoto di sana," jawab Devita antusias.
"Kau ini seperti anak kecil saja!" Komentar Brayen.
Devita berdecak kesal. "Aku bukan anak kecil! Aku hanya ingin kita berfoto di sana. Ayolah Brayen,"
Brayen membuang napas kasar, dan berkata, "Ya, sekarang kau lebih baik membersihkan diri dan cepat bersiap."
Devita tersenyum bahagia, dia langsung memberikan kecupan di pipi kanan dan pipi kiri Brayen. Sedangkan Brayen, dia menggelengkan kepalanya menatap tak percaya dia membawa anak kecil dalam perjalanan dinasnya.
Saat Brayen hendak menganti baju, terdengar dering ponsel. Dia langsung berjalan dan mengambil ponselnya di atas nakas. Terlihat dilayar ponsel jika Mommynya yang menghubunginya. Brayen menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon, sebelum kemudian mendekatkan ke telinganya.
" Ya," jawab Brayen datar saat panggilannya terhubung.
"Sayang, kau sedang di Berlin bersama dengan Devita?" tanya Mom Rena dari sebrang telepon.
" Ya,"
"Great! Nanti, saat kau pulang dari Berlin. Mommy ingin mendengar Devita hamil ya. Kau harus membuatnya hamil cepat. Mommy sudah tidak sabar ingin memiliki seorang cucu. Kau tampan dan Devita cantik. Anak kalian adalah perpaduan yang sempurna."
"Mom, sudahlah. Lagian Devita masih kuliah. Dia baru lulus kuliah tahun depan. Biarkan dia menyelesaikan pendidikannya terlebih dulu."
" Tapi terlalu lama, Brayen! Mom sudah tidak sabar!"
Brayen membuang napas kasar. "Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, nanti aku akan menghubungi Mom Lagi,"
Panggilan terputus, Brayen langsung memutus panggilan itu. Dia tidak ingin lagi Ibunya membahas kehamilan Devita. Brayen tahu, itu semuanya tidak akan mungkin pernah terjadi.
Brayen meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu dia langsung mengganti pakaiannya. Setelah sudah mengganti pakaian, tatapannya kini telah melihat Devita yang sudah terbalut dengan mini skirt dengan crop top length of shoulder. Brayen terus menatap penampilan Istri kecilnya itu. Wanita itu menggerai rambut indahnya, leher jenjang dan pundak mulusnya terlihat begitu sempurna. Dengan cepat, Brayen langsung menepis pikirannya.
"Brayen, apa kau sudah siap?" tanya Devita yang kini sudah ada di hadapan Brayen.
"Sudah," jawab Brayen dingin." Lebih baik kita sarapan, setelah sarapan kita langsung berangkat."
Devita menganguk setuju. Mereka duduk di sofa, dan langsung menikmati sarapan yang sudah di hidangkan di atas meja. Brayen memang sengaja meminta pelayan mengantarkan sarapan ke kamar hotel. Dia sedang ingin makan di kamar dari pada harus di bawah.
Setelah Devita dan Brayen telah selesai sarapan, mereka berdua pun berjalan meninggalkan kamar hotel. Saat tiba di lobby, sopir telah tiba untuk menjemputnya.Tujuan mereka hari ini adalah ke Brandenburg Gate sesuai keinginan Devita.
...***...
Brandenburg Gate atau gerbang Brandenburg merupakan gerbang kota dan salah satu simbol utama di Berlin, Jerman.Terletak diantara Pariser Platz dan Platz Des 18.
Mobil yang membawa Devita dan Brayen, telah tiba di Brandenburg Gate. Mereka turun dari mobil langsung melangkah mendekat ke Brandenburg Gate.
Gerbang Brandenburg terdiri dari dua belas kolom doric, enam di setiap membentuk lima pintu masuk menuju ke arah jalan raya.
Design gerbang di dasarkan pada propylaeya, gerbang masuk Acropolis di Athena, Yunani berkaitan dengan sejarah Berlin pada klasikisme arsitektur pertama, Baroque dan Neo - Palladian. Gerbang ini adalah 'Athena di tepi sungai ' pertama oleh arsitek Karl Gotthard Von Langhans. Quadriga di buat oleh Johann Gorrfried Schadow.
"Brayen, ayo kita tersenyum kita berfoto bersama," kata Devita sambil memegang ponselnya untuk mengambil foto selfie berdua dengan Brayen.
" Tapi aku mau berfoto bersamamu!" Cebik Devita kesal.
Brayen membuang napas kasar, dia tidak menjawab dia langsung mengambil alih ponsel milik Devita, dan memotret beberapa kali foto dirinya dan juga Istri kecilnya itu.Saat Brayen sedang mengambil gambar, Devita selalu memeluk lengan Brayen bahkan mencium pipi kanan pipi Brayen. Setelah puas berfoto menggunakan ponsel milik Devita, Brayen langsung mengembalikan foto milik Devita, Istri kecilnya itu langsung menyambar ponsel miliknya.
" Kembalikan ponselku!" Tukas Brayen dingin.
Devita mendengus tidak suka dan berkata, " Harus adil Brayen! Kita sudah berfoto menggunakan ponsel milikku. Jadi, aku juga harus berfoto menggunakan ponsel milikmu," Devita menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya memperlihatkan gigi putih miliknya.
Brayen tidak menjawab, dia langsung mengambil ponsel miliknya yang berada di tangan Devita. Dia memotret beberapa kali foto dirinya dengan Devita menggunakan ponselnya.
"Brayen, aku ingin ice cream," pinta Devita ketika dia selesai berfoto dengan Brayen.
"Ayo Brayen! Buy Ice cream for me," Devita mengerutkan bibirnya, sambil menarik kaos Brayen meminta kepada suaminya agar mau menuruti keinginannya.
Brayen melayangkan tatapan dingin dan mengintimidasi ke arah Brayen. " Kau ini menyusahkan saja! Kau seperti anak kecil!"
Devita semakin mengerutkan bibirnya kesal, kemudian dia menjawab, " Salahkan dirimu sendiri! Kenapa kau menikahiku yang masih kecil! Jadi, bersiaplah dengan sikapku yang masih kekanakan!"
Tanpa memperdulikan ucapan Drvita, Brayen langsung berjalan ke toko ice cream, dia tidak ingin berdebat dengan Istri kecilnya itu. Setelah membeli ice cream dua porsi, dia langsung menghampiri Devita.
" Ini Ice cream mu," Brayen langsung memberikan dua ice cream di tangannya pada Devita.
"Brayen, ini dua - duanya untukku?" Devita menautkan alisnya, ketika menerima dua ice cream itu. " Lalu, kau tidak membeli untukmu?"
"Tidak, aku tidak suka manis," jawab Brayen datar.
"Padahal ice cream itu sangat enak," balas Devita sambil menikmati ice cream yang berada di tangannya.
Brayen menggelengkan kepalanya menatap tak percaya dia memiliki Istri yang bahkan kekanakan.
"Brayen, berikan ponselmu." pinta Devita."
" Untuk apa?" balas Brayen malas.
"Kita berfoto lagi, tapi kali ini kita berfoto dengan aku yang tengah makan ice creamku,"
" Tidak!"
"Ayolah Brayen,"
Brayen mendengus, dia mengeluarkan ponselnya lalu menuruti Devita untuk memotret mereka berdua. Devita berpose pada ice cream yang berada di tengah antara bibir Devita dan juga bibir Brayen.
"Hasilnya sangat bagus," ucap Devita tersenyum dengan senang ketika melihat foto yang di ambil oleh Brayen tadi. " Brayen, ayo sekarang kita kembali ke hotel,"
"Kita makan dulu, sebelum kembali ke hotel," jawab Brayen datar.
Devita mengangguk setuju. " Baiklah, aku juga sudah sangat lapar,"
Brayen dan Devita memutuskan untuk mencari restoran terdekat. Setelah selesai makan malam, mereka langsung berjalan kembali ke hotel.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.