Love And Contract

Love And Contract
Perkataan Selena



"Aku datang kesini untuk meminta maaf," jawab Selena. "Teman - temanku yang membicarakan Laretta, mereka sungguh menyesal dengan apa yang mereka lakukan. Mereka terhasut dengan perkataan Alena. Aku sungguh minta maaf. Harusnya sebagai pemilik acara, aku bisa bertindak lebih tegas. Tapi malam itu, ketika aku ingin menahan Alena, Laretta melarangku."


"Aku tahu, sebagai Kakak kau pasti tidak akan terima dengan apa yang telah di lakukan oleh Alena. Itu memang sungguh keterlaluan, aku tidak menyangka, jika Alena akan melakukan itu. Tapi tujuanku datang kesini adalah meminta maaf padamu, Brayen. Bagaimana pun, Laretta adalah temanku juga."


"Aku tidak memiliki masalah denganmu, kau tidak perlu meminta maaf padaku," jawab Brayen dingin. "Aku akan memilki masalah denganmu, jika di malam itu kau juga ikut menghina adikku. Sekarang, jika kau tidak memiliki urusan padaku, lebih baik kau pergi dan jangan pernah lagi menemuiku!"


Brayen melayangkan tatapan dingin dan tidak suka. Terlihat jelas, jika Brayen tidak menyukai kedatangan Selena. Karena memang, selama ini Brayen tidak pernah memiliki teman wanita. Bagi Brayen, tidak akan pernah ada pertemanan lawan jenis.


Selena berusaha untuk tersenyum, ini bukan pertama kali bagi Selena dengan sifat Brayen yang begitu dingin padanya. Karena Selena sudah terbiasa dengan segala penolakan dari Brayen. Bahkan rasanya, hatinya kini jauh lebih kuat karena sering mendapatkan penolakan dari Brayen.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" suara Selena terdengar begitu tenang, meski sebenarnya dia sedang menutupi hatinya yang terluka karena perkataan dari Brayen.


"Apa yang ingin kau tanyakan? Jangan membuang waktuku!" Tukas Brayen.


"Apa kau tidak pernah bersikap tidak ramah padaku dan begitu membenciku, karena aku pernah menyatakan perasaanku padamu?" tanya Selena dengan tatapannya menatap lekat wajah Brayen.


Brayen membuang napas kasar. "Aku tidak perduli dengan perasaanmu, aku sudah mengatakannya padamu bahwa kau itu hanya teman adikku. Jika kau memiliki perasaan padaku, itu bukan urusanku. Dan satu hal, aku tidak pernah mengatakan aku membencimu."


"Jika kau tidak membenciku, kenapa kau tidak pernah bersikap baik padaku Brayen?" tanya Selena dengan nada yang mendesak dan menuntut jawaban pada Brayen.


"Aku tidak memiliki kewajiban untuk bersikap baik kepadamu Selena Martinez!" Balas Brayen. "Apa kau memiliki pertanyaan lain? Jika tidak, segeralah kau meninggalkan ruang kerjaku. Karena aku tidak ingin di ganggu. Aku ingatkan padamu, kedepannya jika aku menolak bertemu denganmu jangan berani kau menerobos masuk kedalam ruang kerjaku lagi. Hari ini kau sangat beruntung aku tidak meminta security untuk mengusirmu karena sudah berani menerobos masuk ke dalam ruang kerjaku. Tapi untuk kedua kalinya, aku tidak mungkin untuk berbaik hati menerima seseorang yang tidak memiliki aturan sepertimu."


Brayen mengatakannya dengan tegas. Tersirat tatapan yang tak suka apa yang telah di lakukan oleh Selena hari ini. Kali ini, dia masih bersikap baik tapi tidak mungkin kedepannya Brayen akan bersikap seperti itu. Bukan membenci Selena, hanya saja Brayen tidak menyukai pertemanan dengan wanita. Jika bukan dengan rekan bisnis, maka Brayen tidak akan pernah berbicara banyak pada seseorang wanita. Brayen sama sekali tidak perduli dengan pandangan orang lain menilai dirinya.


Terlihat jelas mata Selena berkaca-kaca setelah mendengar perkataan dari Brayen yang begitu menyakitkan. Selena sudah tahu, perkataan ini pasti akan di ucapkan oleh Brayen.


Hingga akhirnya, Selena beranjak berdiri. Dia berusaha untuk tidak menangis di depan Brayen. Selena mengangkat wajahnya seolah dirinya baik - baik saja.


"Terima kasih atas waktu yang kamu berikan Brayen Adams Mahendra. Meski aku terluka dengan perkataanmu, tapi aku menyukai caramu memperlakukan wanita lain. Sungguh beruntung Devita menjadi istrimu. Kau memiliki segalanya, kau tampan, berkuasa dan banyak wanita yang mengejarmu. Namun, Devita istrimu tetap tenang dan tidak merasakan ketakutan kau meninggalkannya. Karena kau tidak pernah melirik wanita lain selain istrimu sendiri."


"Terkadang aku sangat iri dengan Devita, dia memiliki segalanya, cantik dan suami yang hebat. Kehidupan istrimu sungguh sempurna. Ketika aku bertemu dengan istrimu, aku tahu alasan kau menyukainya. Istrimu adalah wanita yang baik dan juga lembut. Semua orang pasti akan menyukainya saat pertama kali melihatnya. Begitu pun dengan diriku, yang menyukai sifat istrimu."


"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Brayen. Meski kau tidak pernah menganggapku, tapi aku akan tetap mengagumimu. Di mataku, kau tetap seorang pria sempurna yang selalu di impikan oleh para wanita. Aku senang kau menemukan istri yang baik seperti Devita. Kalian berdua adalah pasangan yang serasi."


Selena mengulas senyuman hangat di wajahnya setelah mengatakan ini, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan membalikkan tubuhnya meninggalkan ruang kerja Brayen.


"Selena tunggu," panggil Brayen yang membuat langkah Selena berhenti. Selena masih dengan posisi yang sama, memunggungi Brayen. Wanita itu tidak membalikkan tubuhnya menatap Brayen.


"Kau salah jika menilaiku sempurna," balas Brayen. "Seperti yang kau bilang, sifatku itu tidak pernah baik padamu. Dan ini salah satu kekuranganku. Aku tidak bisa berpura - pura bersikap baik. Tapi aku tidak pernah mengatakan aku membencimu. Jangan lagi menyukaiku Selena, karena kau pantas mendapatkan pria yang baik di hidupmu."


Pertama kalinya, Brayen mengeluarkan kalimat panjang untuk Selena. Brayen sedikit merasa iba setelah mendengar perkataan dari Selena. Namun, Brayen tetap tidak mungkin untuk berpura-pura baik di hadapan wanita itu .


"Terima kasih, Brayen." Selena menjawab, dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan kerja Brayen.


...***...


Laretta duduk di taman, menikmati suasana taman yang indah. Hembusan angin menyentuh kulit begitu menyejukkan. Berada di taman, adalah pilihan terbaik bagi Laretta. Pikirannya tidak pernah berhenti, memikirkan masalah dengan Angkasa. Hingga detik ini Laretta tidak tahu harus melakukan apa, mengingat ancaman yang di berikan oleh Brayen membuat Laretta tidak bisa berkutik. Laretta tidak ingin membahayakan perusahaan Angkasa. Meski Angkasa selalu mengatakan jika dirinya itu baik - baik saja. Tapi Laretta sangat tahu, berhadapan dengan Kakaknya adalah hal yang paling tersulit.


Terdengar suara dering ponsel, membuat Laretta menghentikkan lamunannya. Laretta mengambil ponsel, dia menatap ke layar. Laretta terdiam sesaat ketika membaca nama yang tertera dilayar itu. Angkasa tengah menghubunginya. Hingga kemudian, Laretta lebih memilih untuk menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian, menempel di telinganya.


"Angkasa?" Laretta menjawab dengan suara yang tenang saat panggilan terhubung.


"Tidak Angkasa? Bagaimana kabarmu?"


Helaan nafas berat Angkasa terdengar dari balik teleponnya. "Kau tahu bagaimana kabarku Laretta. Saat ini aku sedang tidak bisa berpikir jernih."


"Maafkan aku Angkasa...."


"Kenapa kau meminta maaf Laretta? Ini bukan kesalahanmu."


"Alena? Aku sudah melihat berita tentang Alena. Aku sungguh minta maaf Angkasa."


"Jangan meminta maaf, Laretta. Karena adikku itu pantas mendapatkannya. Biarkan dia mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dia perbuat."


"Angkasa, jika Kakakku sudah jauh lebih tenang, aku berjanji akan berusaha untuk membujuknya."


"Tidak, jangan lakukan itu Laretta. Kau hanya akan membuat Brayen semakin membenci keluargaku."


"Tapi aku tidak mungkin diam saja Angkasa. Adikmu berada di dalam penjara, dan ini semua karena aku."


"Adikku itu memang pantas mendapatkannya. Setelah apa yang sudah dia lakukan padamu."


"Tapi-"


"Laretta, aku mohon jangan pernah menyalahkan dirimu. Ini semua karena kesalahan adikku. Kau sama sekali tidak pantas di perlakukan seperti itu. Aku minta maaf padamu Laretta, karena adikku sudah sangat melukai hatimu."


"Angkasa, aku mengerti kenapa Alena melakukan semua ini. Aku memahaminya Angkasa, dia menginginkan Devita untuk menjadi Kakak Iparnya. Aku pun tidak mungkin memaksa seseorang untuk menyukaiku Angkasa."


"Laretta, kenapa bisa kau terlalu baik? Kau tidak pantas mendapatkan perilaku buruk dari adikku. Aku bersumpah, tidak akan pernah Alena. Adikku itu, akan mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dia lakukan."


"Angkasa jangan seperti itu. Bagaimana pun juga Alena adalah adikmu. Jadi kau harus membantunya."


"Aku tidak akan membela seseorang yang sudah melakukan kesalahan besar. Terlebih kesalahannya adalah menghina calon istriku."


"Tapi-"


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.