
Raymond tersentak. "Kau sudah menikah?"
"Ya," jawab Devita singkat tanpa menoleh ke arah pria itu.
Brayen yang baru saja selesai, seketika pandangannya menajam pada pria yang duduk di samping istrinya. Brayen langsung menghampiri Devita.
"Devita," panggil Brayen. Dia melemparkan tatapan dingin pada pria yang duduk di samping istrinya.
"Brayen? Kau sudah selesai berenang?" Devita tersenyum saat melihat Brayen mendekat ke arahnya.
"Sudah," Brayen mengecup kening Devita.
"Kau siapa?" suara Brayen bertanya dengan nada tak suka pada pria yang duduk di samping Devita.
"Aku tadi hanya ingin berkenalan dengannya. Tapi aku mendengar kalau dia sudah menikah." jawab Raymond dengan santai.
Brayen melayangkan tatapan tajam. "Jika kau sudah tahu dia seorang wanita yang telah menikah dan memiliki suami, kenapa kau masih di sini!"
"Aku hanya ingin menatapnya saja. Istrimu itu sangat cantik." balas Raymond.
"Brayen, sudah.." Devita langsung mengelus pelan dada Brayen. Menenangkan suaminya dari kemarahan. Devita sangat mengenal suaminya dengan baik.
"Tuan, lebih baik kau pergi. Aku sedang tidak ingin di ganggu." kata Devita tegas pada pria yang terus mengajaknya berkenalan itu.
"Kau masih disini? Apa kau tidak bisa menggunakan fungsi pendengaran mu itu dengan baik?" seru Brayen.
Raymond tersenyum tipis, lalu menatap Devita. "Aku baru pertama kali melihat seorang yang wanita tulis sepertimu. Kau juga sangat cantik, semoga aku masih bisa melihatmu lagi."
Brayen hendak mendekat ke arah Raymond. Dengan cepat Devita langsung memeluk lengan suaminya itu. Kemudian Brayen mengedipkan sebelah matanya dan berjalan meninggalkan Devita.
"Brayen, lebih baik kita makan. Karena aku sudah sangat lapar." kata Devita yang berusaha untuk mengalihkan rasa marah suaminya itu.
Brayen tidak menjawab, dia menarik tangan Devita berjalan meninggalkan Laretta dan Olivia yang sejak tadi tersenyum melihat tingkah Brayen.
"Olivia, dimana Brayen?" tanya Felix yang kini sudah di depan Olivia.
"Pergi dengan Devita, mungkin mereka sedang mengganti baju." jawab Olivia.
"Apa Brayen sudah mau pulang? Kenapa tidak memberitahuku?" seru Felix kesal.
"Tadi, ada seorang pria yang ingin berkenalan dengan Devita. Kau seperti tidak mengenal Kakakku saja, dia pasti sedang cemburu." ucap Laretta sambil terkekeh pelan.
Felix membuang napas kasar. "Ya sudah, lebih baik kita ganti baju setelah itu kita cari restoran yang terdekat."
"Felix dimana Angkasa?" tanya Laretta yang menyadari tidak ada Angkasa.
"Dia masih berenang, pasti dia menyusul. Lebih baik kau ganti bajumu." balas Angkasa.
Laretta mengangguk pelan, kemudian mereka berjalan menuju ke ruang ganti.
...***...
Suasana hening di dalam mobil. Olivia dan Laretta tengah fokus pada ponsel mereka. Begitupun dengan Angkasa dan juga Felix. Sedangkan Devita, sesekali melirik ke arah Brayen yang terlihat masih kesal. Devita menghela nafas dalam. Karena sejak tadi Brayen tidak mengatakan apapun.
Kini mereka telah tiba di Pamplona Cocktails and Tapas. Angkasa sengaja mengusulkan restoran ini. Terlebih seafood yang ada di restoran ini sangat terkenal di Las Vegas.
Seperti biasa, Brayen memilih ruangan VVIP. Brayen memang lebih suka berada di ruangan VVIP. Awalnya mereka tidak bisa mendapatkan ruangan VVIP. Tapi Brayen langsung membayar lima kali lipat agar mendapatkan ruang VVIP.
Devita menggelengkan kepalanya. Melihat Brayen begitu mudahnya membuang uang. Seumur hidup Devita dia tidak pernah membuang uang seperti yang di lakukan oleh suaminya itu.
Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan hidangan seafood. Crabs, prawn, octopus,squid sudah terhidangkan di atas meja. Mereka mulai menikmati makanannya yang sudah berada di atas meja.
"Devita, besok hari terakhir kita di Las Vegas. Kau ingin pergi kemana?" tanya Laretta sambil menikmati makanannya.
"Mungkin Night Market," jawab Devita. "Siangnya, kita bisa bersantai di hotel."
"Aku setuju." sambung Olivia cepat.
"CK! Kau ini, selalu saja pekerjaanmu itu yang menjadi nomor satu Felix!" Olivia mencibir kesal.
"Tagihanmu banyak Olivia. Kalau aku tidak bekerja lalu siapa yang akan membayar tagihanmu yang banyak itu?" ujar Felix dengan santai.
Olivia mendengus. "Kau ini selalu saja membahas itu!"
Devita mengulum senyumannya, dia menatap suaminya yang masih tetap diam. Devita langsung mengarahkan sendoknya yang sudah berisi crabs ke mulut Brayen.
"Sejak tadi kau itu terus minum. Buka mulutmu." Devita memaksa suaminya itu untuk membuka mulutnya.
"Aku belum ingin makan." tukas Brayen.
"Tapi aku ingin melihatmu makan!" Desak Devita, dengan terpaksa Brayen membuka mulutnya, menerima suapan dari istrinya itu.
Devita tersenyum, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Brayen dan berbisik. "Anakmu yang meminta Daddynya untuk makan."
Mendengar ucapan dari Devita, seketika Brayen tersenyum tipis. Devita mengelus lembut rahang Brayen dan memberikan kecupan yang singkat.
...***...
Saat mobil memasuki lobby hotel, Brayen melihat istrinya kini sudah tertidur pulas. Setelah makan malam mereka memang memutuskan untuk kembali ke hotel. Terlihat Olivia dan juga Laretta tertidur pulas.
Brayen turun dari mobil dan membopong istrinya gaya bridal masuk kedalam hotel. Tidak hanya Brayen, tapi Angkasa juga membopong Laretta. Begitu juga dengan Felix yang membopong Olivia masuk kedalam hotel. Baik Brayen, Angkasa dan juga Felix tidak ada yang tega untuk membangunkan pasangan mereka.
Brayen menempelkan kartu untuk membuka pintu kamar. Meski Devita sedang hamil, Devita memang memiliki tubuh yang tetap langsing. Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Dia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dan membantu Devita untuk melepaskan sepatu.
Brayen duduk di tepi ranjang, dia mengelus lembut pipi Devita yang sudah terlihat berisi. Brayen memberikan kecupan di kening, mata, hidung, dan bibir istrinya.
Namun, perlahan Devita mulai membuka matanya ketika merasakan sentuhan di wajahnya. Devita mengerjap melihat Brayen yang berada di hadapannya. Devita melihat ke sekeliling kini dirinya sudah berada di dalam kamar hotel.
"Brayen, kita sudah di hotel?" Devita bangun dan duduk mensejajarkan tubuhnya dengan suaminya.
"Istirahatlah, aku akan mandi," Brayen hendak beranjak, tapi Devita langsung menahan tangan Brayen.
"Apa kau marah karena pria tadi?" akhirnya Devita berani untuk mengatakan ini.
Brayen mengusap kepala Devita. "Tidak."
"Lalu, jika kau tidak marah padaku. Kenapa kau mendiamkan ku?" Devita mengerutkan bibirnya. Dia tidak suka jika dia diamkan oleh suaminya.
"Aku hanya minta padamu, lain kali tidak perlu bicara dengan pria asing." jawab Brayen datar.
Devita menghela nafasnya. "Aku tidak berbicara dengannya Brayen. Aku tadi sudah memintanya untuk pergi, tapi dia tetap tidak ingin pergi. Lagi pula di sana ada Olivia dan juga Laretta."
Brayen menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Ya aku tahu, tapi aku tetap tidak suka kau berbicara dengan pria asing."
"Aku tidak akan pernah berbicara dengan pria asing." Devita membalas pelukan Brayen, dia membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Brayen tersenyum tipis, dia mengecup puncak kepala istrinya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.