
Gelisa dan Lucia melangkah masuk kedalam loby hotel. Ketukn heels yang mereka pakai begitu menggema, mereka melangkah dengan begitu anggun memasuki lobby hotel. Sudah sejak tadi, terutama Lucia menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak? dengan balutan gaun berwarna maroon membuatnya terlihat begitu cantik dan juga seksi.
Gelisa dan Lucia melangkah masuk kedalam sebuah restoran yang berada di Four Seasons Hotel di kota B. Saat Gelisa dan Lucia melangkah masuk kedalam, langkah mereka terhenti saat Hardwin Asistennya, Edwin sudah berdiri di depan Gelisa dan juga Lucia.
"Menyingkirlah, aku ingin bertemu dengan Edwin," tukas Gelisa dingin.
"Nyonya Gelisa, saat ini Tuan Edwin masih bertemu dengan rekan bisnisnya. Lebih baik anda kembali, dan menemui Tuan Edwin besok hari." ujar Hardwin menjelaskan, karena memang Edwin masih tidak bisa di ganggu.
"Tidak!" Tolak Gelisa dengan tegas. "Aku dan putriku bisa menunggunya di dalam sampai Edwin bisa menyelesaikan meetingnya. Menyingkirlah jangan menghalangi langkahku."
"Tapi Nyonya-" ucap Hardwin terpotong, saat Gelisa dan Lucia langsung menerobos masuk ke dalam restauran. Hardwin menggelengkan kepalanya dan membuang napas kasar. Rupanya sangat sulit sekali mengendalikan Gelisa dan juga putrinya itu. Hardwin membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk kedalam restauran. Saat ini, tugas Hardwin adalah memastikan Gelisa dan juga Lucia akan memilih tempat yang jauh dari Edwin dan tidak menganggu Edwin.
Gelisa dan juga Lucia memilih kursi di ujung yang jaraknya cukup jauh dari Edwin. Tetapi Gelisa masih dapat melihat Edwin. Bahkan Edwin begitu terkejut saat melihat dirinya datang. Terlebih hari ini Gelisa khusus membawa putrinya.
Tidak lama kemudian, Edwin telah selesai meeting dengan rekan bisnisnya. Edwin langsung memanggil Hardwin untuk mendekat ke arahnya.
"Tuan," Hardwin menundukkan kepalanya, saat Edwin memanggil dirinya.
"Kenapa ada Gelisa? Dan siapa gadis yang ada bersama dengan Gelisa?" Edwin bertanya dengan suara yang dingin namun tidak keras. Karena dia tidak ingin percakapannya di dengar oleh yang lain. Terutama Gelisa.
"Nyonya Gelisa ingin bertemu dengan Tuan? Tadi saya mendapatkan telefon dari Diana. Dia mengatakan Nyonya Gelisa dan putrinya datang memaksa ingin bertemu dengan anda Tuan." jawab Hardwin. "Maaf Tuan, Diana terpaksa memberitahukan karena Nyonya Gelisa memaksanya untuk mengatakan keberadaan Tuan."
Edwin membuang napas kasar. " Jadi Gelisa datang bersama dengan anaknya?"
"Benar Tuan." balas Hardwin. " Tuan, apa Tuan akan menemui mereka?" tanya Hardwin hati - hati.
"Tidak ada pilihan lain, mereka sudah datang. Tidak mungkin aku mengusir mereka." Edwin beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah mendekat ke arah Gelisa dan juga Lucia.
Gelisa yang melihat Edwin datang menemuinya, dia langsung mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Kau sudah selesai?"
Edwin mengangguk singkat, lalu duduk di hadapan Gelisa. " Ya, aku sudah selesai."
"Edwin, ini Lucia. Putri kita." Kata Gelisa yang memperkenalkan Lucia. Edwin melirik ke arah Lucia lalu tersenyum tulus pada Lucia. " Apa kabarmu, Lucia?" sapa Edwin.
Lucia membalas senyuman dari Edwin. "Aku baik, Dad. Kau bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." ujar Edwin, dia terus menatap Lucia.
"Terima kasih, Dad." balas Lucia. "Hem.. tapi sayang, Kakakku Edgar tidak bisa datang. Next time, Daddy harus menemui Kak Edgar."
"Ya, aku akan menemui Edgar. Maaf, selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku." Edwin berusaha untuk menjelaskan alasannya dirinya belum menemui Lucia dan juga Edgar.
"Tidak masalah Dad. Yang terpenting aku bisa melihatmu sekarang, aku sudah sangat senang." ucap Lucia dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Aku berharap, kedepannya Daddy selalu dapat meluangkan waktuku dan juga Edgar. Sejak kecil, aku selalu ingin bertemu denganmu, Dad."
Edwin terdiam, hatinya tersentuh saat mendengar perkataan dari Lucia. Rasanya begitu menyakitkan saat Lucia mengatakan ini padanya. Karena memang ini semua kesalahan ada pada dirinya. Edwin merasakan sesak di hatinya, dia merasakan bersalah pada Lucia dan juga Edgar. Tapi di sisi lain, Edwin memikirkan Nadia istrinya dan juga putri kesayangannya Devita.
Dering ponsel Edwin memecahkan keheningan. Edwin meminta maaf pada Lucia dan juga Gelisa. Dia harus melihat ponselnya. Kemudian Edwin mengambil ponselnya di dalam saku jas, dia melihat ke layar tertera nama Nadia mengirimkan pesan.
Edwin, besok kita harus mengurus surat perceraian kita. Aku tidak ingin menunda lagi, dan jangan mempersulit karena aku ingin semuanya di buat mudah. Aku akan segera menghubungi pengacaraku
"Dad? Kau kenapa?" tanya Lucia, dia terus menatap Edwin yang terlihat pucat dan seperti menahan marah.
"Tidak, aku tidak apa - apa?" jawab Edwin, dia berusaha untuk menutupi.
Lucia mengangguk paham. " Besok apa Daddy bisa menemaniku?"
"Kau mau kemana, Lucia?" tanya Edwin.
"Aku ingin jalan-jalan denganmu, Dad. Selama ini, aku tidak pernah merasakan jalan bersamamu." jawab Lucia antuasias.
Edwin tersenyum tipis lalu mengangguk. " Ya, besok kita akan pergi."
"Terima kasih, Dad! Aku menyayangimu!" Lucia beranjak dari kursinya dan langsung memeluk erat Edwin. Mendapat pelukan dari Lucia, Edwin mengelus rambut Lucia. Bagaimana pun ini adalah takdir yang harus di terima oleh Edwin.
"Singkirkan tanganmu dari mertuaku." suara bariton begitu kencang dan menggelegar. Tanpa mereka semua sadari, restauran ini sudah tidak ada lagi pengunjung. Hanya ada Lucia, Gelisa dan juga Edwin.
"Brayen.."
Nama itu tercetus dari bibir Gelisa saat melihat Brayen melangkah masuk kedalam restauran. Brayen menatap tajam ke arah Gelisa yang masih duduk di tempatnya. Gelisa mengalihkan pandangannya dan tidak ingin menatap Brayen yang terlihat begitu jelas, menatap tajam dirinya.
Edwin sangat terkejut, saat melihat menantunya itu datang menghampiri dirinya. Terlebih Brayen melihat Lucia memeluk dirinya. Edwin berusaha untuk bersikap seperti biasa, karena memang bagi Edwin ini adalah takdir yang harus dia terima. Mau tidak mau, Edwin memang memiliki anak dari wanita lain. Itulah yang ada di pikiran Edwin saat ini.
"Brayen? Kau di sini son?" sapa Edwin.
Brayen mengangguk singkat. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Gelisa dan juga Lucia. "Kalian datang menemui mertuaku? Untuk memberitahukan drama kalian? Sungguh memalukan!" Tukas Brayen tajam.
Gelisa mendelik, tidak terima dengan perkataan dari Brayen. "Apa maksudmu?"
"Brayen, tenanglah. Papa hanya ingin bertemu dengan Lucia." Edwin berusaha untuk menengahi.
Brayen tersenyum sinis, "Berikan aku sebuah alasan kenapa Papa harus menemui Lucia?"
"Kau tahu Lucia adalah anak Papa. Tidak mungkin Papa menolaknya." ujar Edwin, dia melihat kemarahan di menantunya itu. Tapi dia sendiri tidak bisa melakukan apapun. Karena memang ini adalah takdir yang harus dia terima.
"Apa Papa sangat yakin, jika Lucia adalah anakmu?" tanya Brayen. Tatapannya tetap menatap tajam Gelisa
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.