Love And Contract

Love And Contract
Penolakan Brayen




Devita melangkah keluar dari kelas, dia baru saja menyelesaikan UAS. Memijat lehernya yang mulai terasa pegal, lalu Devita melirik setiap sudut mencari keberadaan Olivia. Namun sahabatnya itu tidak juga terlihat. Devita mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, dan mencari kontak Olivia. Nada tersambung tetapi Olivia tidak juga menjawab telepon darinya. Devita membuang napas kasar, bisa - bisanya Olivia langsung menghilang.


Devita berjalan menuju ke arah taman, dia berharap sahabatnya itu berada disana. Karena biasanya, Devita selalu menunggu Olivia setelah selesai kelas di taman. Saat Devita sudah di taman, ternyata memang benar, Olivia tengah duduk di taman. Tapi tunggu, dari kejauhan Devita melihat wajah Olivia yang terlihat muram.



Dengan cepat Devita melangkah mendekat ke arah Olivia.


"Olivia," sapa Devita, dia langsung duduk di hadapan Olivia.


"Devita? Kau sudah selesai?" Olivia terlihat tidak begitu bersemangat. Devita terus menatap sahabatnya itu. Terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Ada apa Olivia? Kau memiliki masalah? Atau nilaimu hancur?" tanya Devita dia terus menatap lekat Olivia.


Olivia mendengus." Memangnya, kalau aku sedih seperti ini selalu dengan nilaiku yang hancur?"


Devita mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, sebenarnya ada apa? Kenapa kau tidak bercerita padaku."


"Ini masalah yang sangat berat, bahkan aku tidak tahu harus apa?" jawab Olivia dengan helaan nafas panjang.


Devita menautkan alisnya, dia menatap lekat wajah Olivia. "Ada apa sebenarnya, Olivia?"


"Sebentar lagi kita lulus kuliah dan orang tuaku meminta ku untuk kembali ke Kanada. Ayahku memintaku untuk tidak tinggal di Indonesia." ujar Olivia dengan raut wajah yang langsung muram.


Devita mendesah pelan, " Jadi kau akan kembali ke Kanada setelah lulus nanti?"


"Tidak, aku tidak mau Devita. Aku menyukai tinggal di sini. Lagi pula, sejak kecil kita selalu bersama Devita. Aku menyusulmu tinggal di kota B karena kau pindah kesini, Devita. Aku tidak bisa jauh darimu. Kau tahu bukan? Sejak kecil kita selalu bersama." kata Olivia lirih, dia terlihat begitu muram.


Devita tersenyum dan mengulurkan tangannya menyentuh punggung tangan Olivia. " Tenanglah Olivia, nanti kau akan bicarakan pada orang tuamu. Kau bisa mengatakan padanya. Kau ingin memiliki kehidupan di sini." balas Devita yang berusaha untuk menenangkan Olivia. Namun, dia kembali teringat perkataan Nadia, Ibunya. "Sebenarnya Ibuku juga ingin pindah dari kota B. Dia mengatakan padaku, jika nanti dia bercerai dia akan kembali ke kota K." raut wajah Devita terlihat begitu muram saat mengatakan ini.


Olivia mengerjap, "Ibumu akan kembali ke kota K?"


"Ya, kalau dia bercerai dengan Ayahku dia akan kembali ke kota K."


"Lalu, apa kau juga akan ikut Ibumu kembali ke kota K?"


Devita menarik napas panjang. " Jangan bercanda Olivia. Aku ini sudah menikah. Brayen tinggal di sini. Suamiku tidak mungkin meninggalkan Kota B. Perusahaan pusatnya berada di sini. Aku memang mendengar dari Brayen dia akan membuka perusahaan cabangnya di Kanada. Tapi dia tidak mungkin pindah, karena kau tahu bukan? Perusahaan pusat harus di pimpin oleh Brayen. Ayah mertuaku sudah tidak mungkin untuk terus memimpin."


"Tapi apa kau pernah berpikir untuk kembali ke Kanada?" tanya Olivia dia menatap lekat wajah Devita.


"Sebenarnya aku ingin. Tapi tidak mungkin rasanya aku kembali menetap di sana. Aku ini sudah menikah dengan Brayen. Lagi pula warga negaraku sudah berpindah. Aku sudah memilih warga negara Ibuku." jawab Devita. "Mungkin nanti, ketika aku memiliki anak, aku akan meminta Brayen agar salah satu anakku memimpin perusahaan cabang di Kanada. Dan aku juga ingin anakku nanti bisa menikah dengan gadis asal Indonesia." sambungnya.


Olivia tersenyum. " Aku juga sama denganmu. Aku juga ingin anakku nanti menikah dengan gadis asal Indonesia. Mungkin, jika aku menikah dengan pria asal Kanada, aku akan meminta suamiku nanti untuk mengizinkan anakku menetap di Indonesia. Jadi, anak kita bisa bersahabat seperti kita Devita."


Devita mengulum senyumannya." Bukan hanya bersahabat, tapi mereka adalah sepupu."


"Karena kau akan menikah dengan Felix. Jadi anakmu pasti akan menjadi sepupu dari anakku." jawab Devita dengan santai.


Olivia mencebik. " Jangan bicara yang tidak - tidak, Devita!"


Devita terkekeh geli. " Sudahlah, lebih baik kita ke cafe, jangan terlalu di pikirkan. Aku juga sedang berusaha mengalihkan pikiranku dari masalah yang datang. Minum hot chocolate dan cheese cake pasti enak." ajak Devita, dan Olivia pun mengangguk setuju. "Let's go!"


Kemudian Devita dan Olivia beranjak dari tempat duduknya. Kini mereka berdua meninggalkan taman dan menuju ke arah kafe di dekat kampus. Sepanjang perjalanan Devita dan Olivia selalu menjadi pusat perhatian. Olivia selalu memiliki banyak cara untuk membuat Devita tertawa dengan candanya. Terlebih mereka selalu mengingat masa kecil mereka.


...***...


Brayen mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, lalu dia berjalan menuju mobil yang terparkir khusus di halaman parkiran perusahaan. Dia melirik arlojinya kini sudah pukul tiga sore. Hari ini, dia ingin pulang lebih awal, pekerjaannya dia serahkan pada Albert. Bertemu dengan Istri jauh lebih menenangkan pikirannya daripada harus kembali bekerja.


"Brayen Adams Mahendra." suara seorang perempuan membuat Brayen menghentikkan langkahnya saat ada yang memanggilnya. Brayen membalikkan tubuhnya menatap sosok wanita yang berjalan mendekat ke arahnya. " Apa kabar Brayen?" sapa wanita itu dengan anggun.



Brayen menatap lekat wanita yang ada di hadapannya, " Kau siapa?" suara Brayen terdengar begitu dingin.


Wanita itu berpakaian sangat seksi rambut pirang tergerai, dan gaun berwarna merah yang sangat pas hingga membuat wanita itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat indah. Terlihat begitu jelas, dia adalah wanita yang sangat matang.


Wanita itu melangkah mendekat ke arah Brayen. Lalu, dia mengibaskan dengan pelan rambut panjang dan indahnya. Mengukir senyuman hangat di wajahnya pada Brayen. "Perkenalkan aku Lucia Wilson, senang berkenalan denganmu, Brayen."


Brayen menatap wanita yang ada di hadapannya ini dengan tatapan yang dingin. "Untuk apa kau datang menghampirku?"


"Tidak ada salahnya bukan, mengenalkan diriku padamu? Terlebih, aku ini satu darah dengan Devita. Jadi, memperkenalkan diriku padamu tidak masalah bukan?" kata Lucia dengan suara yang masih sama. Anggun dan berkelas.


Brayen tersenyum sinis, dia melangkah mundur agar tidak berdekatan dengan wanita yang ada di hadapannya itu. " Sayangnya, aku tidak ingin berkenalan denganmu. Aku menghindari anak dari Gelisa Wilson." tukas Brayen tajam.


Terdengar tawa pelan Lucia. " Aku sudah menduganya. Aku dengar kau adalah pria yang tidak pernah menyambut ramah wanita yang ingin berkenalan denganmu. Tapi apa kau tahu Brayen? Sikapmu yang seperti ini membuat para wanita tidak akan menyerah untuk berusaha berkenalan denganmu. Aku sarankan kau jangan menolakku, karena biasanya aku tidak pernah mengajak seseorang berkenalan. Lagi pula, jika hanya berkenalan tidak buruk bukan?"


"Dan aku ingatkan padamu, aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan siapapun. Jika kau ingin membahas pekerjaan, maka kau bisa melewati Asisten atau sekertarisku lebih dulu. Sekarang kau berdiri di hadapanku dan kau ingin berkenalan denganku? Aku harap kau segera menghilang dari pandanganku. Karena aku sudah mengingatkanmu, aku tidak akan pernah mau mengenal anak dari Gelisa Wilson. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah kau mencoba untuk menemuiku lagi!" Brayen langsung berjalan masuk kedalam mobilnya, sedangkan Lucia, melihat Brayen meninggalkannya membuatnya geram. Ini adalah pertama kalinya di dalam hidup Lucia di tolak oleh seorang pria.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.