Love And Contract

Love And Contract
Berlin, Jerman.



Devita terbangun dari tidurnya, dia menggeliat dan menguap. Perlahan Devita sudah mulai membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Sampai dia merasa kepalanya memberat. Ketika Devita bangun, dia merasakan tangan kokoh melingkar di perutnya. Devita membulatkan matanya, saat melihat Brayen memeluk dirinya.


"Brayen!!" Jerit Devita kencang. Hingga membuat Brayen terkejut.


"****! Kenapa kau berteriak pagi - pagi bodoh!" Seru Brayen. Telinganya sakit mendengar jeritan Devita yang sangat kencang.


"Kenapa kau memelukku! Kau kurang ajar! Tanganmu tidak memiliki sopan! Beraninya memelukku!" Protes Devita tidak terima jika Brayen memeluknya. Itu artinya, sepanjang malam dia tertidur, Brayen memeluk dirinya, padahal di tengah selalu ada guling yang menjadi pembatas mereka.


"Kau pikir, saat aku tidur, aku tahu kemana saja gerakkan tanganku? Lagipula itu tidak di sengaja. Tubuh kurus sepertimu tidak pernah membuatku tertarik!" Brayen beranjak dari tempat tidurnya.


"Sekarang kau menghinaku kurus?" Devita tidak terima di katakan kurus oleh Brayen, padahal Devita cukup berisi tapi Brayen selalu menghinanya kurus.


"Sudahlah, kau jangan selalu berisik di pagi hari! Aku mau mandi. Kita akan berangkat pagi ini!" Seru Brayen kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi.


"Menyebalkan sekali!" Gerutu Devita.


Devita bangun dari ranjang, dia memeriksa barang - barang pribadi yang akan dia bawa. Untuk pakaian dan keperluan Devita dan Brayen semuanya telah di siapkan oleh pelayan. Brayen memang mengatakan jangan terlalu banyak membawa pakaian, karena mereka bisa membelinya di Berlin nanti,"


Dua puluh menit kemudian, Brayen baru saja selesai mandi. Melihat Brayen sudah selesai, Devita langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin berendam terlebih dahulu, mirelekskan tubuhnya, sebelum perjalanannya ke Berlin.


Brayen menuju ke arah walk in closet, dia memilih pakaian casual dengan jeans dan kaos serta jaket kulit berwarna hitam. Perjalanan bisnis kali ini memang sengaja membawa Devita. Dia tidak mau harus mendengar amarah dari Mommynya karena tidak membawa Devita. Dia juga tidak ingin memberikan kesempatan untuk William mendekati Devita.


Tidak lama kemudian Devita keluar dari kamar mandi dan masih memakai bathrobe dengan rambut yang di lilit oleh handuk. Devita melihat Brayen sudah selesai untuk bersiap. Dia langsung menuju ke arah walk in close, dia memilih celana jeans dan tube top berwarna hitam. Memang sangat sexy, tapi dia memang menyukai penampilannya kali ini. Devita memoles wajahnya dengan make up flawless dan rambutnya yang di ikat membuat Devita sangat cantik dan menawan.


Devita memilih high helss dan tas hermes berwarna maroon. Penampilannya kali ini, terlihat sangat dewasa, Ya Devita harus menyesuaikan karena Devita sudah menikah dengan Brayen. Usia mereka terpaut tujuh tahun, dan Brayen sangat dewasa tidak mungkin Devita berpenampilan seperti seorang mahasiswi.


Devita keluar dari walk in closet, dan Brayen sedikit terkejut dengan penampilan Devita yang sungguh berani. Sangat sexy dan tidak menunjukkan jika Devita gadis berusia 20 tahun. Brayen tidak berhenti menatap penampilan Devita, oh **** gadis yang menyebalkan ternyata sangat cantik dan sexy.


"Brayen, aku sudah siap. Kita berangkat sekarang," ucap Devita yang kini sedang berada di hadapan Brayen.


Brayen mengangguk, kemudian mereka berjalan meninggalkan kamar. Para pelayan membawa barang - barang bawaan mereka dan meletakkannya di dalam mobil. Kemudian mobil mereka mulai meninggalkan masion menuju ke bandara.


...***...


Setibanya di bandara, Devita melihat beberapa paparazzi yang mencoba mengambil foto Devita dan juga Brayen. Dia memang harus terbiasa. Karena sudah menjadi Istri dari Brayen Adams Mahendra.Kalau boleh jujur, Devita pusing menjadi incaran para Paparazzi. Tetapi Devita tidak bisa berbuat apapun.


Mereka kini mulai menaiki private jet milik Brayen.


"Selamat pagi Tuan Brayen dan Nyonya Devita, Perkenalkan saya adalah kapten Suga," ucap Suga yang merupakan seorang pilot.


"Selamat pagi," balas Devita dengan senyum ramah sedangkan Brayen hanya mengangguk.


Devita berjalan masuk ke dalam private jet yang di dominasi dengan warna silver dan gold. Perpaduan warna yang terlihat mewah. Devita tidak henti menatap private jet milik suaminya ini, ternyata memang Brayen sangat kaya. Pantas saja pria itu sangat sombong.


"Brayen, kenapa kita tidak naik pesawat komersial saja?" keluh Devita. Dia lebih suka naik pesawat biasa dari pada private jet.


"Aku tidak suka!" Jawab Brayen. Kemudian mereka duduk. Devita lebih memilih untuk duduk di sebrang Brayen dari pada harus duduk di samping Brayen.


Tidak lama kemudian pilot memberikan intruksi jika pesawat akan take off. Devita pun lebih memilih untuk memejamkan matanya.


...***...


Berlin, Jerman.


Setelah perjalanan yang cukup jauh. Kini Devita dan Brayen sudah di tiba di Berlin.Devita sebenarnya masih mengantuk, tapi dia terpaksa harus menahan sampai dia harus tiba di hotel nanti dan Brayen sudah meminta pihak hotel untuk menjemput mereka.


Devita dan juga Brayen melangkah menuju ke arah lobby. Mereka sudah melihat sopir dari pihak hotel sudah menjemput. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan kini mobil yang membawa mereka mulai berjalan meninggalkan lobby bandara.


"Brayen, apa hari ini kau akan bertemu dengan clientmu?" tanya Devita.


"Apa kau memiliki perusahaan cabang di Berlin?" tanya Devita lagi.


"Aku akan membukanya tahun ini, rencananya sudah di susun. Gedung sudah aku beli, tinggal mengurusnya," balas Brayen


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di Hotel Adlon Kempinski, Berlin. Dengan cepat Devita langsung menuju ke kamar. Dia sudah tidak tahan lagi, dia langsung ingin beristirahat.


...***...


Olivia sedang duduk di Lounge Dixon' s Group. Dia merasa kesepian karena Devita tidak ada, satu minggu ini dia harus sendiri tanpa Devita. Merasa sangat kehilangan karena selalu teebiasa dengan adanya Devita tapi kali ini Devita tidak ada.


"Olivia," suara bariton memanggil namanya membuat Olivia mengalihkan pandangannya.


"T...Tuan William?" Olivia sangat terkejut saat melihat pemilik dari Dixon' s Group berjalan menghampirinya.


"Apa kabar?" tanya William, kemudian dia duduk tepat di depan Olivia.


"B...baik, Tuan." jawab Olivia gugup.


"Santai saja, aku datang hanya ingin bertanya. Apa benar Devita ikut dengan suaminya, untuk melakukan perjalanan bisnis?" tanya William sambil menatap Olivia.


"Benar Tuan. Devita mengatakan kepadaku, dia akan menemani suaminya ke Berlin selama satu minggu." jawab Olivia. Sungguh Olivia tidak menyangka William datang menghampirinya karena hanya menanyakan Devita. Memang Devita sungguh beruntung bisa di kelilingi oleh laki - laki tampan dan kaya raya.


"Kenapa Devita tidak magang di kantor suaminya atau di perusahaan Ayahnya? Aku lihat Smith Company juga berkembang sangat pesat. Edwin Smith adalah Ayah Devita, harusnya Devita bisa magang di perusahaan keluarganya atau perusahaan suaminya itu," ujar William.


"Jika Devita magang di perusahaan keluarganya itu sama saja dia tidak mandiri, karena mengandalakan perusahaan keluarganya Dan jika dia magang di perusahaan suaminya, semua orang tahu, jika Devita sudah menjadi istri dari Brayen Adams Mahendra, orang di perusahaan Mahendra pun tentu akan segan dan takut pada Devita," jelas Olivia.


"Sangat jarang aku menemui gadis seperti Devita, biasanya gadis yang sudah biasa hidup mewah dengan kekayaan orang tuanya dia tidak ingin bersusah payah." balas William.


"Ayah Devita memulai karirnya dari bawah. Devita tidak hanya ingin langsung menikmati hasil kerja keras Ayahnya," terang Olivia. Dia sangat tahu, karena Olivia dan Devita memang tumbuh bersama. Mereka bersahabat sudah sedari mereka kecil hingga mereka dewasa.


William pun mengangguk paham. " Ya, kau benar mungkin itu alasannya."


"Apa Tuan William mengenal Tuan Brayen?" tanya Olivia hati - hati.


"Ya, kami dulu satu kuliah di Harvard University," jawab William sembari menuangkan wine yang ada di hadapannya ke gelas sloki kosong. Kemudian dia mulai menyesapnya.


"Ah begitu, kalian pasti orang yang cerdas hingga bisa memimpin perusahaan besar," kata Olivia menatap kagum William.


William tersenyum. "Baiklah, aku harus pergi. Aku berharap Devita bisa kembali secepatnya." William meletakkan gelas sloki di tangannya ke tempat semula, lalu dia berjalan meninggalkan Olivia.


"Aku sangat yakin William sangat menyukai Devita. Memang gadis keras kepala itu sungguh betuntung," ucap Olivia dalam hati.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.