Love And Contract

Love And Contract
Meminta Maaf



Brayen semakin menatap tajam ke arah Devita setelah mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Wajahnya menunjukkan kemarahan, namun dia masih diam dan tidak menjawab pertanyaan yang terlontar dari Devita.


"Aku tidak ingin membahasnya Devita!" Geram Brayen. Rahangnya mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.


Devita mendesah pelan, dia mendekatkan dirinya pada Brayen. Tatapannya menatap lembut ke arah Brayen. "Brayen, jika William membencimu harusnya dia tidak menolongku. Harusnya dia membiarkanku saat Elena berniat melukaiku. Dia tahu aku istrimu, seharusnya dia tidak menolongku jika memang dia membencimu."


"Dia menyukaimu! Dia menginginkanmu! Itu kenapa dia membantumu!" Seru Brayen, dia menahan emosinya tidak ingin berdebat dengan Devita.


Devita menyentuh tangan Brayen, dia masih terus menatap lembut Brayen. "William sangat tahu, aku tidak mungkin berpaling darimu. Dan alasanku menemuinya, aku ingin kau berdamai dengan William. Aku melihat ketika William menjelaskan tentangmu. Ada kepedulian dalam dirinya padamu, Brayen. Aku berkata pada William, aku tidak tahu apa masalahmu dengannya hingga kalian saling membenci. Tapi aku istrimu, aku akan selalu membelamu, Brayen."


"Aku tidak mungkin berdamai dengan orang seperti dia, Devita!" Brayen menggeram tertahan. Dia kembali mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin meluapkan amarahnya pada istrinya. Terlihat jelas wajah Brayen, menolak dengan tegas berdamai dengan William.


Devita hanya bisa menghela nafas dalam, dia terdiam sesaat. Tidak langsung menjawab Brayen. Devita ingin sekali bisa melihat Brayen bisa berdamai dengan William. Dia bertemu dengan William kemarin, hanya ingin memastikan kebencian Brayen pada William. Kenyataannya, meski Devita mendengar William mengatakan langsung membenci Brayen, tapi Devita melihat William masih memperdulikan Brayen.


"Brayen...." Devita memanggil dengan suara pelan dan lembut.


"Jika kau terus memaksaku berdamai dengan pria sialan seperti dia, aku menolaknya, Devita! Dan aku tidak ingin kau bertemu dengannya lagi!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


Devita kembali lagi diam, dia menundukkan kepalanya. Jika sudah seperti ini, di tidak bisa melakukan apapun. Devita tidak ingin melawan dan membuat amarah Brayen semakin bertambah. Ya, Devita sudah tahu ini pasti akan terjadi kalau dia meminta suaminya berdamai dengan William. Tapi sebagai seorang istri, Devita hanya ingin Brayen tidak memiliki musuh.


Hingga kemudian, Devita beranjak dari tempat duduknya. Dia menatap lekat manik mata Devita. "Aku berjanji, tidak akan menemui William. Aku minta maaf, aku sudah berbicara dengannya. Tapi aku sungguh tidak berbicara lama dengannya. Aku ingin sekali melihatmu berdamai dengan William." Devita membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Brayen.


"Apa kau menyukainya? Sampai kau memintaku untuk berdamai dengan William?" Brayen berkata dengan sarkas. Tatapannya menghunus tajam.


Langkahnya terhenti mendengar perkataan Brayen. Dia tidak menyangka perkataan itu terlontar dari Brayen. Devita tidak ingin berdebat dia mengakui kesalahannya. Meski dia hanya ingin melihat Brayen bisa berdamai dengan William. Tapi kenyataannya, sangat sulit untuk mempersatukan Brayen dan juga William.


Devita kembali membalikkan tubuhnya, dia menatap Brayen yang melayangkan tatapan tajam kepadanya. Namun, Devita lebih memilih untuk menatap lembut suaminya, dan berkata dengan nada yang pelan. "Kalau kau masih mengatakan seperti itu, artinya kau itu masih meragukan perasaanku, Brayen. Setelah banyaknya yang telah kita lalui bersama, kau menganggapku mudah berpaling denganmu. Aku berbeda denganmu, Brayen. Setidaknya kau pernah merasakan memilki kekasih seperti seperti yang lain. Sedangkan aku tidak pernah sekalipun."


"Ya, aku akui aku pernah memiliki cinta pertama. Tapi aku tidak bisa memilki cinta pertamaku. Tidak sepertimu. Seharusnya dengan itu, kau tahu tidak mungkin aku menyukai pria lain. Ketika aku telah menikah denganmu, dan aku memilihmu, artinya aku akan selamanya selalu memilihmu. Jika kau salah mengartikan pertemuanku yang tidak di sengaja dengan William, itu artinya selama ini kau tidak pernah mempercayaiku, seperti aku yang selalu mempercayaimu."


"Aku sudah berjanji tidak akan menemuinya, dan bukan hanya itu. Aku juga tidak ingin memaksamu untuk berdamai dengannya. Sebagai seorang istri, aku hanya ingin mendukungmu dan memberikan yang terbaik."


Devita membalikkan tubuhnya, dia berjalan meninggalkan kamar. Sedangkan Brayen masih terdiam mendengar semua perkataan Devita. Sejak dulu Brayen dan William saling membenci. Brayen tahu, William dan Veronica di jebak oleh Beatrice. Tapi kebencian di dalam diri Brayen, tidak akan mungkin hilang pada William. Dan Brayen yakin, apa yang dia rasakan sama seperti yang William rasakan. Bagi Brayen, dulu William membantu Devita yang ingin di lukai oleh Elena, hanya karena William pernah menyukai Devita.


Brayen memejamkan mata singkat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kemudian, dia beranjak dari tempat tidurnya dan memilih tidur di kamar tamu. Dia tidak ingin berdebat dengan istrinya. Seperti tadi, apa yang dia lontarkan adalah salah dan sudah melukai hati Devita. Ini yang sejak dulu sangat Brayen hindari. Dia tidak ingin berdebat, karena nantinya dia yakin akan melukai hati Devita.


...***...


Suara petir begitu kencang, membuat Devita begitu terkejut. Devita terbangun dari tidurnya, tubuhnya di penuhi dengan keringat akibat rasa takut pada suara petir. Dia menoleh ke samping, tapi Brayen tidak ada. Devita tahu, Brayen memilih untuk tidur di kamar tamu. Ya, Devita sangat mengenal suaminya. Setiap perdebatan, Brayen akan lebih memilih untuk menghindar.


Kemudian, Devita beranjak berdiri. Dia berjalan meninggalkan kamarnya menemui Brayen di kamar tamu. Dia tahu Brayen masih marah padanya, tapi jika dia hanya diam dan berjauhan seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Devita memilih mengalah dan menemui Brayen.


Saat Devita tiba di kamar tamu yang di tempati oleh Brayen, dia menatap suaminya yang sudah tertidur. Devita memberanikan diri melangkah mendekat, dia langsung membaringkan tubuhnya di samping Brayen.


Devita menatap Brayen yang tengah tertidur, dia mengelus rahang Brayen dan memberikan kecupan di rahang suaminya itu. Tidak peduli Brayen masih marah padanya, tapi Devita memilih untuk mengalah dan menemui suaminya itu.


Devita mulai merapatkan tubuhnya pada tubuh Brayen, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Setelah berdebat, Devita selalu merindukan suaminya itu. Merasakan pelukan hangat Brayen adalah hal yang ternyaman. Meski dia tahu suaminya itu masih marah padanya.


...***...


Brayen beranjak dari tempat tidurnya dia membopong tubuh Devita gaya bridal menuju ke arah kamar mereka. Saat tiba di kamar, Brayen langsung membaringkan tubuh Devita di ranjang. Senyum di bibir Brayen terukir, melihat sang istri yang tetap tertidur pulas. Kemudian Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Tidak lama kemudian, Brayen sudah selesai mandi, dia melangkah masuk ke arah walk in closetnya. Tatapannya, menatap Devita yang tengah menyiapkan jas untuknya. Dia melangkah masuk dan mendekat ke arah Devita.


"Aku hari ini tidak berangkat ke kantor. Kau siapkan pakaian santai saja untukku."


"Brayen, kau sudah selesai mandi?" Devita menoleh ke arah Brayen setelah mendengar suaranya. Dia mengulas senyuman di wajahnya. "Kau tidak ke kantor hari ini?" sambung Devita dengan suara yang lembut


"Ya, aku hanya ingin bekerja di rumah saja." jawab Brayen datar. "Devita, ada hal yang ingin aku katakan padamu." Brayen menatap lekat manik mata Devita.


"Ada apa Brayen?" Devita menatap Brayen dengan serius. "Apa ada masalah?"


"Tidak," Brayen menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Apa yang ingin kau katakan padaku?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Brayen.


"Aku ingin minta maaf, karena telah melukai hatimu. Aku sungguh menyesal..."


Devita tersentak, mendengar Brayen meminta maaf padanya. Namun seketika hatinya menghangat ketika mendengar perkataan dari Brayen. Devita mendekat kemudian dia mengelus rahang Brayen dan berkata lembut. "Aku sudah memaafkanmu, sebelum kau meminta maaf, sayang. Aku memang terluka dengan ucapanmu, tapi aku lebih memilih mengerti dirimu. Selalu akan ada maaf untukmu, Brayen."


Brayen langsung menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Aku hanya takut kau akan meninggalkanku Devita. Aku takut kau memilih bersama dengan pria yang lain Dan aku minta maaf karena aku selalu meragukanmu."


Devita tersenyum, dia menempelkan hidungnya pada hidung Brayen lalu menggeseknya pelan. "Aku mencintaimu Brayen. Aku tidak akan pernah memilih pria yang lain. Ketika aku sudah memilihmu, maka tidak ada kesempatan bagi pria lain untuk menggantikanmu. Selamanya, aku hanya tetap memilihmu. Apa kau sudah percaya padaku sekarang?"


"Aku percaya padamu, sayang?" Brayen mengecup bibir Devita, dan ******* kecil bibir ranum istrinya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.