Love And Contract

Love And Contract
Persyaratan Ke Dua



Brayen melangkah keluar dari ruang meeting, ia melirik arloji kini sudah pukul tiga sore. Hari ini Brayen memiliki banyak jadwal meeting, karena sebelumnya dia selalu menunda meeting dengan rekan bisnisnya


Brayen berjalan menuju ke ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria yang baru saja keluar dari lift. Brayen menatap pria itu, yang kini berjalan menghampirinya. Hari ini Brayen memang meminta Angkasa untuk datang. Alasannya, Brayen tidak ingin membahas tentang masalah Laretta di rumah. Bagi Brayen membicarakannya di kantor adalah tempat yang paling tepat.


"Maaf, jika aku terlambat." kata Angkasa yang kini sudah berdiri di hadapan Brayen.


"Kita keruanganku." tukas Brayen dingin. Ia langsung melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang kerjanya. Angkasa mengikuti langkah Brayen masuk ke ruang kerja Brayen.


Brayen masuk kedalam ruang kerjanya, ia berjalan menuju ke ruang lemari minumannya. Brayen mengambil satu botol red wine dan dua gelas sloki. Lalu dia duduk di tempat kerjanya. Angkasa juga duduk tepat di hadapan Brayen.


"Aku rasa memulai percakapan dengan wine terlihat tidak buruk," tukas Brayen dengan raut wajah yang masih sama. Ia tidak terlihat bersahabat saat Angkasa datang. Namun, kali ini Brayen ingin memulai percakapannya dengan minum bersama pria yang berada di hadapannya. Kemudian Brayen menuangkan wine yang ada di tangannya ke gelas sloki, lalu ia memberikannya pada Angkasa dan satunya pada Brayen ambil untuk dirinya sendiri.


"Suatu kehormatan bisa berbicara denganmu sambil menikmati wine. Itu terdengar sangat bagus," balas Angkasa, ia mengambil gelas sloki yang ada di hadapannya dan menyesap winenya.


"Jadi apa kau masih mampu dengan persyaratan selanjutnya?" suara Brayen bertanya terdengar begitu dingin.


"Jika aku tidak mampu, maka aku tidak mungkin berada di hadapanmu saat ini." jawab Angkasa dengan nada penuh penekanan.


Brayen terseyum sinis. "Well, keberanianmu itu harus aku akui, tapi apa kau tidak takut? Sebagai contoh aku tidak menyetujui hubunganmu dengan adikku. Lalu aku membuat perusahaanmu bangkrut. Kau tidak memiliki apapun, dan tidak juga memiliki adikku. Apa yang akan kau lakukan?"


Angkasa membalas tatapan Brayen. " Aku rasa kau bukan orang seperti itu. Kau terlihat begitu kejam, tapi sebenarnya kau masih memiliki hati. Kau melindungi adikmu dengan baik. Dan kau juga tidak mungkin membuat adik dan Istrimu kecewa atas sifatmu bukan?"


Mendengar ucapan dari Angkasa, Brayen hanya tersenyum sinis. Ia tidak menjawab ucapan Angkasa.


"Jadi, persyaratan selanjutnya apa yang akan kau berikan?" tanya Angkasa yang sudah tidak sabar mendengar persyaratan yang di berikan oleh Brayen.


"Rupanya kau sudah tidak sabar. Baiklah, aku akan memberitahumu. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk mengenal dekat dengan Laretta. Tapi bulan ini, aku harus mendengar perusahaanmu berkembang lebih baik. Tunjukkan kemampuanmu dalam mengelola perusahaan. Aku ingin melihatnya, jangan pernah kau mencoba untuk curang dalam mengelola perusahaanmu. Jika di akhir bulan ini, aku melihat perusahaanmu bisa meningkat, maka aku akan memberikanmu kesempatan untuk saling mengenal dengan Laretta." ujar Brayen.


"Kau harus ingat, aku memberikanmu kesempatan untuk mengenal Laretta. Aku tidak ingin langsung memberikanmu izin untuk menikahi adikku. Kau harus mendekatinya, dan mengambil hatinya. Karena aku sangat tahu, siapa pria yang di cintai oleh adikku. Tentu itu bukan dirimu." lanjut Brayen dengan nada suara yang terdengar begitu dingin dan tajam.


Brayen sangat tahu, siapa pria yang Laretta cintai, tiga tahun yang lalu Brayen mengetahui, jika Laretta pernah menyatakan perasaannya pada Felix. Saat mengetahui itu, Brayen marah besar pada Laretta. Bagaimana mungkin Laretta bisa menyatakan perasaannya pada sepupunya sendiri. Hubungan Brayen dan Felix pernah merenggang, namun akhirnya Felix menjelaskan pada Brayen, jika Felix hanya menganggap Laretta sebagai seorang sepupu. Bukan sebagai lawan jenis yang bisa tumbuh rasa cinta. Dan saat itu, Brayen memaksa Laretta untuk menghentikan perasaan cintanya pada Felix.


Berkali - kali Laretta mengatakan pada Brayen, jika perasaannya pada Felix sudah tidak ada. Tapi Brayen tidak sepenuhnya percaya. Brayen bisa melihat cara tatapan Laretta ketika menatap Felix. Meski adiknya itu selalu menutupi, tapi kenyataannya Brayen mengetahui semuanya. Hanya saja Brayen memilih untuk membiarkan. Karena sekarang Brayen sudah yakin, Laretta tidak akan mungkin berjuang untuk mendapatkan Felix di saat dirinya sedang mengandung anak dari pria lain.


Angkasa mengangguk setuju. " Aku akan membuktikannya. Kau tenang saja, aku memang ingin cara instan. Tapi tidak dengan mencurangi perusahaanku sendiri. Aku akan melakukan itu, dan kau akan melihatnya di akhir bulan ini. Aku akan menunjukkannya." ujar Angkasa.


"Dan untuk pria yang Laretta cintai itu, aku tidak memperdulikannya, saat ini Laretta sedang mengandung anakku. Laretta juga akan menjadi istriku, sama seperti Laretta. Aku juga memiliki masa lalu. Aku tidak akan pernah memikirkan pria di masa lalu Laretta. Karena yang aku tahu, aku adalah pria masa depannya," ucap Angkasa dengan tegas.


Brayen terdiam sejenak. " Well, aku harus mengakui apa yang kau katakan itu benar. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Lebih baik untuk membuat Laretta jatuh cinta padamu dari pada harus menunggu Laretta untuk melupakan masa lalunya," balas Brayen.


"Alright, aku ingin melihat bagaimana caramu, membuat adikku bisa jatuh cinta padamu," tukas Brayen.


"Aku harus pergi. Sesuai dengan persyaratanmu. Saat ini, aku lebih banyak fokus pada perusahaanku." Angkasa beranjak dari kursinya, lalu ia melangkah meninggalkan Brayen. Namun, tidak lama kemudian Angkasa menoleh ke arah Brayen. "Aku harus mengakui dirimu yang seperti ini, pantas mendapatkan kesuksesan di puncak yang tertinggi. Karena aku bisa menilai kau orang yang ambisius. Tidak heran, jika perusahaanmu sangat hebat." kata Angkasa lalu melangkah keluar dari ruang kerja Brayen.


Brayen menatap punggung Angkasa, yang kini sudah hilang dari pandangannya. Brayen terseyum sinis, ia hanya ingin adiknya mendapatkan pria yang terbaik. Ia juga ingin, jika Laretta bisa mendapatkan suami yang bertanggung jawab. Dengan meminta Angkasa untuk mengembangkan perusahaannya lebih besar, setidaknya Brayen tidak akan melihat Laretta mengalami kesusahan. Sejak Brayen pernah mendengar perusahaan Angkasa pernah mengalami kebangkrutan. Brayen selalu meminta anak buahnya, untuk selalu mengawasi perusahan milik Angkasa itu.


...***...


"Laretta," suara teriakan Devita memanggil Laretta, ia langsung melangkah masuk ke dalam studio lukis Laretta.


Laretta yang sedang melukis pun menoleh saat mendengar namanya di panggil. " Devita? Kau sudah pulang?"


Devita berjalan dan mendekat kemudian ikut duduk di samping Laretta. " Maaf aku sedikit terlambat. tadi, Olivia temanku, mobil dia bannya kempes. Jadi, aku harus mengantar Olivia pulang dulu." ujar Devita.


"Olivia? Apa dia gadis yang Felix maksud?" tanya Laretta.


"Ya, Olivia adalah gadis yang Felix maksud. Maaf jika melukaimu perasaanmu," ucap Devita. Ia takut melukai hati Laretta.


Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Tidak Devita, aku tidak apa - apa. Aku hanya penasaran dengan Olivia. Apa kau bisa menceritakannya sedikit tentang Olivia,"


"Kau ingin mendengar tentang Olivia?" tanya Devita dan Laretta mengangguk.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.