
Laretta tersenyum. " Tidak Felix kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahanmu. Aku tidak pernah menyesali memiliki perasaan kepadamu. Mencintai mu membuat aku belajar arti sesungguhnya hidup. Dan karena aku pernah mencintaimu, aku memutuskan untuk meninggalkan kota B dan bertemu dengan Angkasa. Mungkin, Angkasa adalah takdirku.
"Ya, kau benar. Angkasa adalah pria yang baik untukmu, Laretta. Bukalah hatimu untuknya, aku percaya cepat atau lambat kau akan mencintainya." ujar Felix.
"Memang tidak mudah, tapi aku akan berusaha untuk mencintainya, Felix. Kau tenang saja, aku sudah mengubur perasaanku padamu." kata Laretta yang berbohong. Bahkan detik ini saja, jantung Laretta terus berdegup saat dirinya dekat dengan Felix. Meski perasaan itu perlahan mulai pudar, tapi tidak sepenuhnya. Karena Laretta sudah terlanjur mencintai Felix begitu dalam.
"Aku senang mendengarnya, kau adalah sepupuku Laretta. Aku menyayangimu. Aku ingin yang terbaik untukmu." balas Felix.
"Terima kasih Felix, aku juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu." ucap Laretta.
"Felix, bagaimana dengan gadis yang kau cintai? Dia sahabat Devita, bukan? Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Laretta yang berusaha untuk bersikap tenang. Laretta juga ingin melihat Felix bahagia dengan wanita yang di cintainya.
Felix menggeleng pelan dan tersenyum. "Gadis itu tidak mudah aku dapatkan. Dia selalu beranggapan jika dia masih kecil. Ya, mungkin karena kebiasaannya bermain games. Dia bahkan selalu mengatakan, jika aku ini penguntit dan penculik.
Felix membuang napas kasar. " Dia mengatakan, aku ini penguntit karena aku tahu tentang dirinya. Bahkan rumah Olivia yang berada di Kanada pun aku tahu. Dan dia juga mengatakan, jika aku ini penculik, karena aku selalu memaksanya untuk ikut denganku. Aku terpaksa melakukan itu, jika tidak pasti dia tidak mau ikut denganku."
Mendengar ucapan Felix, membuat hati Laretta bergemuruh. Ternyata Felix begitu menginginkan Olivia. Betapa beruntungnya Olivia, itulah yang di pikirkan oleh Laretta. Tapi sebisa mungkin Laretta menepis itu. Laretta juga ingin agar Felix bahagia bersama dengan wanita yang dia cintai.
"Ah, begitu? Menggemaskan sekali. Pantas saja kau menyukainya. Bahkan sepertinya kau sangat mengejarnya." balas Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Ya, aku masih berusaha. Tapi aku yakin aku akan mendapatkannya." ucap Felix dengan penuh keyakinan yang kuat.
Laretta tersenyum, "Kau pasti akan mendapatkannya, Felix. Kau hanya membutuhkan waktu untuk meluluhkan hatinya."
"Kau benar, dan aku akan bersabar untuk menunggu waktu itu datang. Dan aku pastikan, jika dia menjadi milikku maka selamanya dia akan selalu menjadi milikku." tukas Felix dengan penuh penekanan.
"Betapa beruntungnya Olivia. Bisa di cintai oleh Felix." ucap Laretta di dalam hati. Ia berusaha mengulas senyuman di wajahnya.
"Lebih baik kita masuk kedalam, aku juga ingin menyapa Devita dan terpaksa juga menyapa Brayen." kata Felix dan Laretta mengulum senyumannya, lalu mengangguk setuju. Kemudian Felix dan juga Laretta beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan masuk kedalam rumah.
...***...
Devita kini masih menonton film romantis kesukaannya dan di temani oleh Brayen. Satu harian ini Devita ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Brayen. Kapan lagi Brayen akan meliburkan diri dari pekerjaannya. Biasanya, suaminya itu selalu saja sibuk. Jadi, Devita tidak mau menyia-nyiakan waktunya bersama dengan Brayen.
"Brayen, kita sejak tadi di kamar. Aku tidak enak dengan Laretta." ujar Devita, ia sungguh tidak enak pada Laretta. Pasti Laretta sedang menyendiri di studio lukisnya.
"Dia pasti mengerti," jawab Brayen singkat.
Devita mendesah pelan. " Ya, tapi aku hanya kasihan dia sendiri."
"Dia selalu menghabiskan waktunya di studio lukis," balas Brayen.
Terdengar suara ketukan pintu, Devita menoleh ke arah pintu dan langsung memintanya untuk masuk. Brayen menggeram, ia sudah mengatakan jika dirinya tidak ingin di ganggu.
"Tuan, Nyonya. Maaf saya menganggu." ucap sang pelayan menundukkan kepalanya masuk ke dalam.
"Aku sudah mengatakan padamu, bukan. Jangan ada yang mengangguku dan istriku." tukas Brayen dingin.
"M.. Maafkan saya, Tuan." jawab pelayan itu menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.
"Brayen, jangan seperti itu." tegur Devita pelan.
"Ada apa?" tanya Devita lembut pada pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Maaf Nyonya, jika saya sudah menganggu Nyonya dan Tuan. Tapi saya datang karena di minta Tuan Felix untuk menghampiri Nyonya dan Tuan." jawab pelayan itu.
"Felix datang?" tanya Devita lagi.
Pelayan itu mengangguk. " Benar Nyonya. Di bawah ada Tuan Felix dan sedang di temani oleh Nona Laretta di ruang keluarga."
"Aku akan turun. Tolong siapkan cake dan juga minuman." ucap Devita.
"Baik Nyonya." pelayan itu menunduk lalu undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.
Brayen membuang napas kasar. " Biarkan saja dia temani Laretta."
"Brayen, jangan seperti itu. Felix sudah datang pasti dia ingin bertemu denganmu." ujar Devita.
"Biarkan dia bawah, aku sedang tidak ingin keluar." jawab Brayen.
"Jangan seperti itu Brayen. Ayok kita turun." Devita beranjak dari tempat duduknya. Ia menarik tangan Brayen untuk beranjak namun Brayen begitu enggan.
"Brayen!!" Seru Devita yang mulai kesal.
"Kenapa dia harus datang di saat yang seperti ini." akhirnya Brayen beranjak dari tempat duduknya. Devita tersenyum dan langsung memeluk lengan Brayen. Kini mereka berjalan meninggalkan kamar.
...***...
"Laretta, dimana Devita?"
"Hari ini Kakakku tidak ke kantor. Mereka pasti menghabiskan waktu bersama. Kau tahu sendiri bukan, belakang ini Kakakku itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya." ujar Laretta.
"Sejak kapan kau ikut campur." tukas Brayen ia melangkah masuk kedalam ruang keluarga bersama dengan Devita.
Devita mengulum senyumannya karena sejak tadi dia dan Brayen mendengarkan ucapan Felix. Devita sudah tahu, suaminya pasti akan berdebat dengan sepupunya sendiri.
"Kau ini jangan seperti wanita, cepat sekali marah." balas Felix.
Devita dan Laretta terkekeh pelan. " Apa kabar Felix?" tanya Devita.
"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana? Sekarang kau terlihat jauh lebih cantik." ujar Felix.
"Jangan menggodanya." peringat Brayen tajam.
"Devita, bukankah suamimu itu berlebihan." tukas Felix.
Devita terkekeh geli. " Sudahlah, jangan berdebat. Lebih baik kau mencoba cake yang sudah pelayan sediakan."
"Ya, itu lebih baik." Felix langsung mengambil tiramisu cake dan mencobanya.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Devita.
"Ini sangat enak." ucap Felix.
"Minggu depan chef baru di mansion ini akan tiba. Dia akan memasak makanan kota B. Kau datanglah dan coba masakan chef baru kami."ujar Devita.
"Aku tidak mungkin menolak untuk itu." balas Felix.
"Brayen, aku ingin bicara penting denganmu." kata Felix, ia menatap lekat Brayen yang duduk di hadapannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Brayen dingin.
"Tentang proyek kerjasama kita. Ini sangat penting." jawab Felix.
"Aku tidak ingin membahas pekerjaan ketika sedang di rumah." balas Brayen.
"CK! Ini sangat penting. Baiklah, besok aku akan ke perusahaanmu." tukas Felix. Ia terpaksa mengikuti keinginan Brayen. Percuma saja jika Brayen tidak ingin berbicara, maka apapun yang dia katakan pasti Brayen tidak akan pernah mendengarkannya.
"Kalau itu penting saat aku tidak ada di kantor, kau bisa berbicara dengan Albert." balas Brayen.
"Aku tidak suka berbicara denganmu harus melalui Albert! Kau pikir aku ini orang lain!" Seru Felix.
"Aku mengatakan, jika aku tidak ke kantor kau bisa mengatakan itu pada Albert." tukas Brayen.
"Sudahlah kalian ini selalu berdebat, kepalaku sakit mendengarnya," keluh Devita dan akhirnya Brayen memilih diam.
Terdengar dering ponsel. Devita menoleh ternyata ponsel miliknya berdering. Devita mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponselnya. Senyum di bibirnya merekah, Nadia, Ibunya kini tengah menghubungi dirinya.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Brayen, ia menatap ponsel Devita yang terus berdering.
"Mama Nadia. Aku harus menjawabnya dulu." jawab Devita dan Brayen mengangguk.
Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Brayen. Ia tidak mungkin menjawab telepon di sana.
"Ya, Ma." jawab Devita saat panggilnya terhubung.
"Devita." suara Nadia terisak. Devita mendengarnya begitu jelas, Ibunya kini terisak begitu pilu. Ini pertama kalinya, Devita mendengar Ibunya menangis begitu pilu.
"Ma? Mama kenapa, Ma?" tanya Devita yang cemas dan panik.
"Maafkan Mama, Sayang." ucap Nadia dengan Isak tangisnya.
"Ma, kenapa Mama minta maaf? Ada apa, Ma?" tanya Devita yang semakin cemas dan panik. Ibunya menangis dan meminta maaf kepadanya. Tubuh Devita menegang saat mendengar tangis Ibunya.
"Devita sayang, kau sudah dewasa apapun yang terjadi. Devita adalah putri kesayangan Mama." Devita mendengar dengan jelas Ibunya berusaha untuk menahan diri agar tidak menangis.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis? Katakan padaku, Ma?" ucap Devita gelisah
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.