Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Elena Dan Devita



Pria itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia melangkah mendekat kearah Elena, memeluk pinggang Elena. Lalu dia membopong tubuh Elena di atas meja.


"Harus aku akui, tubuhmu sangatlah indah. Bagaimana aku bisa melupakan tubuhmu yang indah ini? Bahkan aku menginginkanmu saat ini," bisik pria itu di telinga Elena.


"Kau yakin menginginkanku? Apa kau sanggup memberikan berlian yang terbaru?Aku tidak mau hanya kalung. Tapi satu set berlian dengan kualitas terbaik. Dari salah satu perancang perhiasan terkenal di Italia. Apa kau bisa?" tanya Elena berbisik sedikit di telinga pria itu.


Pria itu menyeringai, " Aku bukan pria miskin, aku sangat mampu. Tapi semua itu tergantung dengan bagaimana kau melayaniku, baby,"


"Well, kau tahu aku sangat berpengalaman. Let' s do it," bisik Elena tepat di depan bibir pria itu.


Tanpa menunggu pria itu langsung membopong Elena dan langsung berjalan menuju ke arah ranjang.


...***...


Sinar matahari pagi menembus jendela, menyentuh kulit wajah Devita. Perlahan Devita mulai membuka matanya. Dia mengerjap dan menggeliat. Ketika Devita sudah membuka matanya, dia melihat kesamping, namun Brayen sudah tidak ada. Saat Devita beranjak dari ranjang, dia melihat note kecil yang berada di atas nakas. Devita langsung mengambil not itu.


* Aku berangkat lebih pagi, ada rekan bisnisku dari Hongkong datang ke kota B. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Malam ini aku akan pulang terlambat. - Your Husband Brayen.*


"Dia itu sudah bekerja sepagi ini, memangnya tidak mengantuk? Aku saja yang ikut kelas pagi biasanya tidak bisa tahan mengantuk," Devita mendengus dia beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama kemudian, setelah Devita selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Dia mengambil tas lalu berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruangan makan.


"Selamat pagi Nyonya," sapa pelayan menundukkan kepala, saat melihat Devita melangkah masuk ke dalam menuju ke ruang makan.


"Selamat pagi," balas Devita dengan senyuman ramah. "Apa Brayen tadi sebelum berangkat dia breakfast?"


"Tidak Nyonya, Tuan berangkat pagi. Tuan langsung berangkat ke kantor Nyonya," jawab pelayan itu dan Devita pun mengangguk paham.


"Silahkan di makan dulu , Nyonya " pelayan memberikan beef cheese omlete dan oranye juice pada Devita.


"Terima kasih," Devita mulai menikmati sarapan yang terhidangkan untuknya.


"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu Nyonya?" tanya pelayan.


"Tidak, terima kasih," jawab Devita.


"Kalau begitu saya permisi," pelayan itu menundukkan kepalanya lalu undur diri.


Devita menatap ruang makan yang besar dan mewah, tetapi hanya dia sendiri. Dulu, ketika Devita belum menikah, biasanya dia jarang sarapan di rumah. Devita lebih sering sarapan di caffe dekat dengan kampusnya. Kini dia mulai merindukan kedua orang tuannya. Nadia, Ibunya selalu memaksa dirinya untuk sarapan di rumah. Namun, Devita lebih memilih untuk sarapan di kampusnya. Jika saja waktu bisa di putar, Devita akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk kedua orang tuanya.


"Nyonya Devita," seorang pelayan menyapa, membuat Devita mengehentikan lamunannya.


"Ya, ada apa?" tanya Devita, ketika menyadari pelayan berada di hadapannya.


"Maaf Nyonya kalau saya menganggu, tetapi ada tamu yang mencari Nyonya." jawab pelayan itu.


"Tamu?" Devita mengerutkan keningnya. "Siapa yang datang?" tanya Devita.


"Baiklah, aku kesana." Devita beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil tas yang berada di atas meja lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.


Saat Devita sudah tiba di ruang tamu, dia melihat seorang wanita dengan tubuh yang indah dan berpakaian sangat elegan berada di ruang tamu. Devita langsung melangkah dan mendekat ke arah wanita itu. Dia penasaran siapa yang datang, terlihat dari penampilannya dia adalah wanita dewasa.


"Selamat pagi, maaf anda siapa?" sapa Devita.


Perempuan itu yang membelakangi Devita, dia langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah Devita. " Hai Devita..."


"Elena?" Devita sedikit terkejut, karena wanita yang datang adalah Elena.


"Ya, aku Elena. Aku rasa kau mengenalku dengan baik bukan?" Elena duduk di sofa, dengan menyilangkan kakinya. Tatapannya tidak lepas menatap Devita yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa kau kesini Elena?" Devita memilih duduk di hadapan Elena.


Elena mengedikkan bahunya acuh. "Aku rasa kau sudah tahu tujuanku datang. Jadi tidak perlu berpura-pura padaku,"


"Maaf, tapi aku sungguh tidak tahu tujuanmu datang kesini," balas Devita dengan suara tenang.


Elena membuang napas kasar, tatapannya kini menghunus tajam ke arah Devita. "Aku rasa kau tahu, aku dan Brayen adalah sepasang kekasih. Kami telah menjalin hubungan selama empat tahun. Dan kau adalah orang baru yang masuk kedalam kehidupan Brayen. Kau tahu, bagaimana perasaanku ketika aku datang ke kota B dan mendengar kekasihku telah menikah? Aku sangat hancur Devita! Sangat hancur. Aku rasa sebagai sesama wanita kau mengerti,"


Devita terdiam sesaat, dia mengulas senyuman di wajahnya. Ya, tanpa Elena memberitahu, sebagai seorang wanita tentu saja Devita sangat mengerti, hingga kemudian dia menjawab dengan suara yang lembut, " Aku sangat mengerti. Tapi kau harus menerima kenyataan yang ada Elena. Aku dan Brayen sudah menikah. Aku minta maaf jika menyakitimu, tapi aku harap kau harus menerima ini semua."


Perkataan Devita sukses membuat Elena semakin melayangkan tatapan tajam ke arah Devita. Dia berkata sinis, " Bagaimana aku bisa menerima ini? Kau tahu, akulah kekasih Brayen. Aku yang menemani hari - harinya di Milan. Akulah yang selalu di sisinya. Aku mencintainya. Bagaimana bisa ada perempuan sepertimu Devita? Memintaku menerima kenyataan ini? Dimana hatimu? Aku mendengar dari berita putri dari Edwin Smith sangat baik. Kenyataannya? Kau yang sudah merebut priaku!"


Devita tetap tersenyum mendengar perkataan Elena. " Aku tidak pernah merebut siapapun. Awalnya kami menikah karena perjodohan. Aku rasa kau tahu ini bukan? Aku tidak pernah berniat mengambil kekasihmu. Tapi seiring berjalannya waktu kami bersama, kami telah jatuh cinta. Aku rasa aku jatuh cinta pada suamiku sendiri, bukanlah sebuah kesalahan bukan?"


Elena tersenyum mengejek dan berkata sarkas, " Cerdas, kau bisa berdebat denganku. Tapi sayangnya aku datang kesini, karena aku ingin menegaskan, Brayen adalah milikku. Kau tahu, jika di Milan aku selalu tinggal dengannya. Aku rasa sebagai seorang wanita yang sudah menikah kau pasti mengerti. Malam - malam yang telah aku lalui dengan Brayen selama empat tahun"


"Aku tahu, dan tentu aku mengerti. Suamiku berusia 27 tahun, aku rasa itu adalah hal yang wajar yang di lakukan oleh pria dewasa. Sama sekali, tidak ada yang salah bukan? Kau juga wanita dewasa. Tapi setiap malam yang kau lalui selama empat tahun adalah masa lalu. Aku adalah Istrinya dan aku adalah masa depannya. Bukankah masa lalu tidak perlu kita lihat lagi? Kita hanya menatap masa depan. Bukan masa lalu!" Tukas Devita menegaskan. Tatapannya menatap lekat Elena, namun terlihat jelas kemarahan di wajah Elena.


"Aku juga mendengar Brayen sudah sangat baik padamu, dia membelikanmu Apartemen mewah, mobil sport keluaran terbaru padamu. Kehidupan mewah sudah kau nikmati. Berhentilah berperan jika dirimu adalah pemilik Brayen. Karena orang - orang pasti akan menertawakan mu jika kau berkata seperti itu. Pernikahan kami tidak di tutupi. Semua media juga sudah mengetahuinya. Kau bisa membaca artikel siapa istri dari Brayen Adams Mahendra. Di sana tertera namaku,"


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.