Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Brayen dan Devita



Kota B, Indonesia.


Devita dan Brayen kini sudah tiba, di kota B. Sopir sudah menjemput Brayen dan juga Devita. Kemudian Brayen dan Devita berjalan ke arah mobil. Barang - barang milik Brayen dan juga Devita sudah di bawa oleh anak buah Brayen yang sengaja Brayen panggil untuk menjemputnya di bandara.


Devita melihat paparazi yang tengah memotret dirinya bersama dengan Brayen. Devita mendengus kesal, dia tidak suka jika kehidupan pribadinya harus ada di media. Jika seperti ini, suatu saat nanti jika Angkasa kembali ke Indonesia akan sulit membuat Devita bertemu dengan Angkasa.


Devita dan Brayen langsung masuk ke dalam mobil, bahkan ketika mereka sampai kedalam mobil saja masih ada yang memotret mereka.


"Apa kau masih mengantuk?" tanya Brayen melihat ke arah Devita.


"Tidak, aku sudah tidak mengantuk," jawab Devita datar.


"Good, karena aku tidak mau di repotkan dengan menggendongmu," balas Brayen dingin.


"Kau tidak mau di repotkan, tapi selalu menggendongku. aku rasa kau menyukainya jika kau menggendongku!" Tukas Devita yang sengaja mengejek Brayen.


Brayen tersenyum miring dan berkata, " Kau terlalu percaya diri, kau itu tidur seperti orang yang tidak akan bangun lagi. Jadi, mau tidak mau aku harus terpaksa menggendong tubuh kurusmu itu."


"Kau-" geram Devita. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke luar. Brayen sungguh menyebalkan.


...***...


Tidak lama kemudian Devita dan Brayen sudah tiba di mansion. Devita melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Barang - barang mereka telah di bawa oleh pelayan.


Setibanya di kamar, Devita memilih untuk langsung mandi, dia ingin berendam untuk merilekskan tubuhnya. Perjalanan yang cukup melelahkan dari Berlin ke kota B. Aroma madu yang di campur dengan milk, membuat kulit Devita lebih halus dan indah. Devita memang menyukai berendam untuk merilekskan tubuhnya. Selain itu, dengan berendam membuat kulitnya jauh lebih indah.


Setelah Devita mandi dan mengganti bajunya. Devita melihat Brayen tengah duduk di sofa, dia langsung mendekat dan duduk di samping Brayen.


"Kau sudah selesai?" tanya Brayen saat melihat Devita sudah duduk di sampingnya.


Devita menganguk, "Sudah, kau mandilah dulu."


"Ya," kemudian Brayen masuk kedalam kamar mandi.


Devita melihat koper yang ada di dalam kamarnya. Dia menghela nafas, dia tidak menyangka membeli begitu banyak barang untuk orang - orang terdekatnya. Saat Devita berjalan ke arah koper, terdengar suara dering ponsel di dalam tas miliknya. Dia langsung mengambil ponselnya di dalam tas dan ternyata Olivia, sahabatnya. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, kemudian meletakkan di telinganya.


"Ya, Vi." sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita, kau dimana?" tanya Olivia dari sebrang telepon.


"Aku sudah di rumah," jawab Devita.


"Kau sudah di kota B. Astaga, kenapa kau tidak memberitahuku?!"


"Aku baru saja tiba,Vi. Besok saja kita bertemu ya. Aku sudah membelikan banyak oleh - oleh untukmu."


"Good! Kau memang sahabatku yang terbaik."


Saat Devita sedang mengobrol dengan Olivia, tiba - tiba terdengar ponsel milik Brayen berdering. Awalnya Devita tidak menghiraukannya. Tapi ponsel Brayen tidak berhenti berdering.


"Olivia aku tutup dulu ya. Sampai bertemu besok,"


"Baiklah, see you,"


Panggilan tertutup dan Devita langsung berjalan mengambil ponsel milik Brayen yang berada di atas meja. Dia menatap di layar tertera nama Elena. Devita ragu untuk menjawab, tetapi sudah dua puluh panggilan lebih tidak terjawab. Serta puluhan pesan yang belum Brayen baca. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Hallo," sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Kau siapa!" Sentak suara wanita dari sebrang telepon.


"Apa kau mencari Brayen?" tanya Devita dengan lembut.


"Aku menghubunginya, tentu saja aku mencarinya! Kau ini bagiamana! Katakan dimana, Brayen! Berikan ponselnya padanya!"Suara wanita bernama Elena meninggi. Hingga membuat Devita membuang napas kasar. Kenapa Brayen bisa memiliki teman yang tidak sopan seperti ini.


"Nona, Brayen sedang mandi. Kau bisa menghubunginya lagi nanti dalam tiga puluh menit kedepan," balas Devita yang berusaha menahan kesalnya.


Brayen menatap ke layar ponselnya, ternyata Elena yang menghubunginya dia pun langsung berjalan meninggalkan kamar. Devita mengerutkan keningnya ketika Brayen berlari keluar kamar.


"Elena, ada apa?" tanya Brayen yang kini menjawab.


"Brayen, kenapa ada perempuan yang menjawab teleponmu?!" Seru Elena dengan nada kesal.


"Sudah bicarakan itu nanti saja. Sekarang ada apa?"


"Kenapa kau mengabaikan pesan dan teleponku "


"Maaf, aku sibuk."


"Baiklah, aku hanya ingin memberitahumu dua hari lagi aku akan tiba di Indonesia. Aku ingin kau menjemputku di airport."


"Aku usahakan, jika aku tidak bisa aku akan meminta asistenku atau pengawal ku untuk menjemputmu."


"Tidak. Aku tidak mau! Harus kamu yang menjemputku." ketus Elena.


"Aku usahakan, tapi aku tidak bisa berjanji . Ya sudah aku tutup dulu, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."


"Baiklah, aku merindukanmu "


Panggilan tertutup Brayen langsung cepat berjalan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Devita yang tengah duduk di sofa, dia langsung berjalan menghampiri Devita.


Dengan di penuhi oleh amarah Brayen melayangkan tatapan tajam ke arah Devita. "Kenapa kau berani menjawab ponselku!" Seru Brayen dengan nada tinggi hingga membuat Devita terkejut.


"Maaf, ponselmu tidak berhenti berdering jadi aku menjawabnya, aku pikir itu penting." jelas Devita.


"Kau sudah melebihi batasan mu Devita! Kenapa kau berani sekali menjawab teleponku!" Bentak Brayen dengan nada tinggi.


"Aku sudah minta maaf padamu, Brayen. Aku hanya berpikir kalau itu sangat penting. Sudah puluhan kali panggilan tidak terjawab, jadi aku menjawabnya. Maafkan aku," jawab Devita, dia berusaha untuk tenang karena di salahkan oleh Brayen.


"Jangan berpikir aku sudah baik denganmu, jadi kau menyandang status menjadi istriku yang sebenarnya. Kau harus tahu batasan mu Devita. Bukankah di perjanjian kita tertulis,kau tidak boleh mencampuri urusan pribadiku?" seru Brayen menggeram menahan emosinya.


"Kenapa hanya kau yang bisa mengatur semuanya? Kenapa Brayen?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun pada gadis itu. Aku hanya menjawab teleponmu yang tidak henti berdering. Aku tidak mengatakan apapun pada gadis itu. Aku hanya mengatakan, jika dia ingin menghubungimu lagi, dia bisa menghubungimu tiga puluh menit kedepan. Aku juga mengatakan kau sedang mandi. Setelah itu, aku tidak mengatakan apapun." balas Devita yang tidak terima jika terus di salahkan.


"Kedepannya kau jangan pernah menjawab telepon dari ponselku. Aku tidak suka kau mencampuri urusan pribadiku!" Tukas Brayen penuh dengan peringatan. Lalu dia berjalan menuju ke arah walk in closet miliknya.


Pertama kali sejak Devita menikah dengan Brayen,ini adalah pertama kalinya Brayen membentaknya dengan sangat kasar. Padahal dia hanya menjawab panggilan telepon di ponsel milik Brayen. Entah kenapa hati Devita merasakan sakit. Sakit karena Brayen memarahinya, sakit dengan perkataan Brayen yang mengatakan Devita harus memiliki batasannya.


Devita tahu, ini semua hanya di landasi oleh sebuah kontrak perjanjian. Dia sudah melarang dirinya untuk jatuh kedalam pesona Brayen. Tapi kini Devita semakin tersadar dengan perkataan Brayen, jika dia memang harus menyadari apa batasan dirinya di sini. Pernikahan mereka hanya di landasi oleh sebuah kontrak perjanjian, dan ketika kontrak itu berakhir, Devita sudah tidak lagi menjadi Istri dari Brayen Adams Mahendra.


Air mata Devita mulai membasahi pipinya, dengan cepat Devita menghapus air matanya. Brayen tidak boleh melihatnya menangis. Dia tidak akan membiarkan Brayen melihat dirinya menangisi Brayen.


"Siapa wanita yang bernama Elena itu," batin Devita.


Devita memilih untuk keluar dari kamar dan memilih untuk tidur di kamar tamu. Hatinya masih begitu sakit mengingat perkataan Brayen.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.