Love And Contract

Love And Contract
Tidak Akan Menyerah



Brayen menautkan alisnya. " Cara? Apa caranya?"


"Satu - satunya cara adalah membuat Nyonya khawatir pada anda," jawab Albert.


Seketika Brayen terdiam. Tanpa menunggu, Brayen langsung turun dari mobil. Hujan masih begitu deras. Albert menatap Brayen yang kini sudah basah akibat terkena hujan. Dengan cepat Albert langsung turun dari mobil dan membawa payung, dia tidak mengerti kenapa tiba - tiba Brayen langsung turun dari mobil. Padahal hujan masih begitu deras.


"Tuan, anda bisa sakit jika seperti ini?" kata Albert yang kini sudah memayungi Brayen.


"Kau pergi sekarang, Albert," ucap Brayen dingin.


"Apa Tuan akan ke kamar, Nyonya?" tanya Albert memastikan.


"Ya, aku akan menemui istriku. Setidaknya aku akan tetap berusaha untuk menemuinya. Meski dia menolak nanti aku tidak perduli. Ribuan kali dia menolakku maka aku akan tetap mengejarnya,". Brayen langsung berlari masuk kedalam hotel dengan tubuh yang basah karena hujan.


...***...


Devita baru saja selesai berendam, tubuhnya terasa begitu rileks. Aroma jasmine membuat kulitnya lebih halus dan segar. Devita memang sangat menyukai berendam. Terlebih jika ia memiliki banyak pikiran, berendam membuatnya menghilangkan sejenak pikiran yang membebaninya.


Devita mengganti pakaiannya dengan gaun tidurnya. Sebelumnya Devita sudah membeli beberapa baju untuknya. Karena memang Devita tidak membawa baju satu pun, dia juga enggan untuk kembali ke rumah hanya untuk mengambil pakaiannya.


Devita berjalan menuju ke arah meja, tadi dia sudah memesan soup kepiting dengan mashed potato. Saat Devita ingin menikmati makanannya, terdengar bell pintu kamarnya berbunyi.


Devita mengerutkan keningnya, siapa yang memencet bel, harusnya sudah tidak ada lagi yang datang. Karena tadi pelayan sudah mengantarkan makanan untuknya. Bell terus berbunyi, Devita beranjak dan berjalan menuju pintu, dan langsung membuka pintu.


"B... Brayen?" Devita terkejut saat menatap Brayen yang bajunya sudah basah, wajahnya terlihat begitu pucat.


"Kau kehujanan?" tanya Devita cemas.


Brayen mengangguk, "Apa aku boleh masuk?"


"Masuklah," jawab Devita. Dia tidak mungkin tega melihat Brayen seperti ini. Kemudian mereka masuk kedalam, dan Devita langsung menutup pintu kamarnya.


"Brayen, lebih baik kamu langsung membersihkan dirimu," ucap Devita. Brayen pun mengangguk, lalu dia melangkah menuju ke arah kamar mandi.


Melihat Brayen menuju ke arah kamar mandi, Devita menghubungi pihak hotel untuk memberikan satu porsi lagi soup kepiting dan mashed potato.


Sepuluh menit kemudian Brayen keluar dari kamar mandi dan hanya memakai bathrobe, Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dan duduk di sofa.


"Aku sudah menyiapkan soup kepiting dan mashed potato untukmu. Makanlah, selagi hangat," kata Devita sambil menyerahkan makanannya.


"Aku tidak lapar," jawab Brayen singkat.


Devita menempelkan tangannya ke dahi Brayen. " Badanmu hangat Brayen, kau harus makan dan segera minum obat. Kenapa bisa kau terkena hujan?"


Brayen memilih diam dan tidak menjawab apapun.


"Buka mulutmu, Brayen." Devita mengarahkan sendok yang berisi soup kepiting ke mulut Brayen dan Brayen pun membuka mulutnya.


"Jangan melakukan hal seperti ini, Brayen " Devita mengarahkan sendok yang berisi soup kepiting ke mulut Brayen dan Brayen pun membuka mulutnya.


"Jangan melakukan hal yang seperti ini Brayen. Kau bisa sakit, besok kau harus bekerja. Bagaimana jika kau sakit!" Seru Devita kesal. Tanpa Devita sadari Brayen selalu menatap dirinya.


Setelah selesai makan Devita memberikan obat untuk Brayen. Devita tidak ingin besoknya Brayen demam. Devita tidak habis pikir kenapa bisa Brayen datang dengan baju yang basah terkena hujan.


"Kau istirahatlah dulu, aku akan menghubungi butik untuk membawakan baju untukmu," ucap Devita dan Brayen terdiam.


Devita menarik tangan Brayen dan membawa Brayen menuju ke arah ranjang lalu membaringkan tubuh Brayen ke arah ranjang. "Sebentar, aku akan menghubungi butik, untuk membawakan baju untukmu,"


Brayen menggeleng pelan, " Tidak perlu,"


"Brayen, kau tidak mungkin tidur dengan bathrobe. Wajahmu juga sudah terlihat begitu pucat. Aku tanya kepadamu, kenapa bisa kau kehujanan. Kau ini membawa mobil, rasanya tidak mungkin kau kehujanan, Brayen." kata Devita kesal, dia tidak suka jika melihat Brayen sakit.


"Aku membiarkan diriku terkena hujan," jawab Brayen.


Devita mengerutkan keningnya, "Maksudnya kau sengaja melakukan ini agar mendapatkan perhatian dariku? Begitu maksudmu?"


Tiba - tiba tangan kokoh Brayen menarik Devita, membawa Devita kedalam pelukannya. "Aku mohon hanya untuk malam ini, biarkan seperti ini. Aku hampir gila tidur tanpamu. Aku sudah terbiasa berada di sisimu. Aku terbiasa mencium aromamu. Aku tidak bisa jauh darimu, Devita." ucap Brayen dengan penuh permohonan.


"Brayen lepaskan aku, jangan seperti ini." Devita berusaha melepaskan pelukan Brayen yang begitu erat.


"I beg you, hanya untuk malam ini. Aku tidak mampu lagi Devita. Aku tidak sanggup jauh darimu. Kau benar - benar membunuhku secara perlahan, Devita. Berada jauh darimu membuatku gila, Devita." suara Brayen terdengar begitu lemah. Tatapannya menatap Devita penuh permohonan.


Brayen semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak perduli jika aku harus sakit. Aku tidak perduli, Devita. Asal aku bisa memelukmu, saat aku tidur dan bangun di pagi hari. Karena saat kau tidak ada di sampingku membuatku gila, Devita. Aku tidak pernah bosan mengatakan padamu, jika aku sangat mencintaimu, Devita. Aku tidak akan pernah mampu berada jauh darimu,"


Devita terdiam mendengar semua ucapan dari Brayen. Jujur saja hatinya begitu tersentuh mendengar ucapan dari Brayen. Hingga kemudian dia menjawab, "Tidurlah Brayen, ini sudah malam. Kau butuh istirahat, aku tidak ingin kau sakit," balas Devita. Dia membiarkan Brayen memeluk dirinya dan menyampingkan amarah dalam dirinya. Mengingat keadaan Brayen yang kurang sehat, tidak mungkin dirinya tega meminta Brayen untuk pergi.


...***...


Sinar matahari pagi menembus jendela, perlahan Devita mulai membuka matanya, menguap dan menggeliat. Dia melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul delapan pagi. Devita menoleh ke arah Brayen yang masih tertidur pulas. Devita menempelkan tangannya ke dahi Brayen, badan Brayen masih hangat. Tadi malam badan Brayen deman, Devita harus mengompres badan Brayen yang demam.


Beruntung butik langganan Devita tadi mau mengantarkan beberapa pakaian untuk Brayen, jadi Brayen tidak lagi memakai bathrobe. Devita mengambil kain dan air dingin. Dia harus mengompres badan Brayen yang masih demam.


"Cepatlah sembuh, Brayen." kata Devita. Dia menarik selimut Brayen, menutupi tubuh suaminya itu.


Devita terdiam melihat Brayen yang masih tertidur lelap, dia kembali mengingat semua perkataan Brayen tadi malam. Hatinya memang tersentuh saat mendengar semua ucapan dari Brayen. Tapi tetap hatinya masih sangat terluka dengan apa yang di lakukan oleh Brayen.


Devita bisa melihat Brayen begitu menyesal. Bahkan ketika Brayen tertidur, dia tidak berhenti menyebut nama Devita. Tapi entah kenapa meski Brayen mengatakan dirinya sangat membutuhkan Devita, hati Devita masih belum bisa untuk menerima semuanya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.