Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Richard Di Dixon's Group



"Laretta sangat beruntung memilikimu sebagai kakaknya. Setidaknya kau mampu memimpin perusahaan keluargamu. Tidak seperti ku, aku tidak bisa menolaknya karena aku adalah anak tunggal. Tanggung jawab pasti ada padaku." Devita menghela nafas dalam, jika dia mengingat tanggung jawab yang dia miliki, membuatnya benar - benar sakit kepala.


"Banyak orang di dunia ini yang ingin lahir dari keluarga yang berkecukupan. Setidaknya kau harus bersyukur itu. Orang tuamu telah menyiapkan masa depan yang baik untukmu," balas Brayen.


"Ya, kau benar," jawab Devita.


"Aku berangkat dulu, mungkin malam ini aku akan pulang terlambat,". ucap Brayen.


Devita pun mengangguk dan berkata " Hati - hati Brayen,"


Brayen berjalan dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Devita. Sedangkan Devita masih terdiam di tempatnya, mendengar Brayen akan pulang terlambat.


Di pikirannya kini Brayen akan menemui Elena. Ingin sekali Devita bertanya tapi tetap tidak bisa mencampuri urusan Brayen. Pagi ini mereka mengobrol dengan baik. Tapi, Devita harus menyadari hanya mengobrol biasa. Dia tidak boleh melihat perasaannya.


Setelah selesai sarapan, Devita, mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu langsung melangkah meninggalkan rumah. Bekerja akan membantunya melupakan segalanya.


...***...


Mobil Brayen, mulai memasuki lobby. perusahaannya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam perusahaannya.


"Brayen, tunggu." suara seorang perempuan berteriak cukup keras membuat langkah kaki Brayen terhenti.


Brayen membalikkan tubuhnya dan mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya. Brayen mengerutkan keningnya, Ketika melihat sosok wanita yang berjarak tidak jauh darinya. "Elena? Kau di sini?" tanya Brayen.


Elena mendengus, lalu ia berjalan mendekat ke arah Brayen dan langsung memeluk lengan Brayen. "Ya, aku di sini. Aku kesal denganmu. Katanya kau ingin datang ke Apartemenku, tapi kau tidak datang,"


"Aku sibuk Elena, pulanglah. Nanti malam aku akan tempatmu." Brayen berusaha melepaskan pelukan Elena. Dia tidak ingin ada media yang mengambil gambarnya dengan Elena.


"Kau tidak berbohong kan?" tanya Elena sambil menyipitkan matanya ke arah Brayen.


"Tidak," jawab Brayen.


"Baiklah, aku pulang sekarang dan jangan berbohong padaku! Aku menunggumu malam ini!" Seru Elena dengan nada penekanan.


Brayen mengangguk kemudian berkata, "Ya, aku akan datang,"


"Aku pulang sekarang," Elena langsung mengecup pipi Brayen, kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Brayen.


Brayen melanjutkan lagi langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Di ikuti oleh Albert yang berada di belakangnya. Saat tiba di ruang kerja, Brayen meminta Albert untuk mengambil wine untuknya. Kemudian, Albert mengambil botol wine lalu menuangkan wine ke gelas sloki nya. Dia langsung memberikannya pada Brayen.


"Tuan, maaf ada yang ingin saya katakan," kata Albert, setelah memberikan wine yang dia telah tuangkan ke gelas sloki pada Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen sambil menerima gelas pemberian Albert, dan langsung menyesap winenya.


"Sepertinya Nona Elena jangan sering datang ke perusahaan. Saya takut akan ada media yang meliput Tuan dan Nona Elena. Ini untuk menghindari pemberitaan buruk. Terlebih Tuan David terkadang datang ke perusahaan. Jika Tuan David tahu, anda masih menjalin hubungan dengan kekasih Tuan Muda, pasti Tuan David akan sangat marah," ujar Alberlt yang berusaha memberi saran.


Brayen membuang napas kasar, "Kau benar, nanti malam aku datang ke Apartemen Elena. Aku akan memberitahukannya."


"Albert, kemarin aku dengar kau datang ke mansionku, karena Devita memanggilmu. Ada hal apa Devita memanggilmu?" tanya Brayen yang mengingat Devita meminta Albert datang ke rumahnya.


"Nyonya memberikan oleh - oleh untuk saya, Tuan. Nyonya membelinya di Berlin. Nyonya juga meminta saya mengirimkan oleh - oleh yang dia beli untuk keluarga anda dan juga keluarga Nyonya." jawab Albert. "Nyonya benar - benar seorang wanita yang sangat baik. Anda sungguh beruntung Tuan,"


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, " Dia memang wanita yang sangat baik. Kau pergilah Albert, selesaikan pekerjaanmu,"


"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.


Melihat Albert sudah pergi, Brayen memejamkan mata sebentar dan mencoba melupakan pikirannya yang sejak tadi terus memikirkan Devita. Tapi semakin dia melupakan, semakin dia mengingat gadis kecil itu. Brayen membuang napas kasar, ini sangat menganggu pikirannya.


...***...


"Devita, sudah waktunya makan siang, kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita setelah kita makan siang nanti," kata Olivia yang melihat Devita masih juga fokus pada pekerjaannya.


"Ya, kau benar. Kita makan siang sekarang," balas Devita, dia mengambil ponsel dan dompetnya lalu berjalan meninggalkan ruangannya bersama dengan Olivia.


Di lobby, Devita dan juga Olivia menjadi pusat perhatian. Mereka tertawa begitu bahagia, mereka memang sangat dekat. Apapun selalu mereka bahas ketika bersama. Bahkan karena Devita tidak pernah memiliki kekasih, banyak yang berpikir jika Devita tidak menyukai pria.


"Ah kau tahu bukan? Pria gemuk dan memakai kacamata tebal yang menyatakan perasaannya padaku itu! Dia kembali mengejarku!" Seru Olivia dengan tertawa mengudara, dia tidak bisa lagi menahan tawanya ketika mengingat pria yang mengejarnya.


Bruk.


Devita terkejut dia menabrak tubuh seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya. Tubuhnya hampir jatuh, dengan cepat pria itu langsung menangkap tubuh Devita dengan tangannya.


"Te... terimakasih, Tuan. Maaf aku sungguh tidak sengaja," kata Devita sambil menundukkan kepalanya.


Pria itu tersenyum, "Kita bertemu lagi, Devita,"


Devita Mengangkat kepalanya, ketika pria yang ada di hadapannya menyebutkan namanya. " R.. Richard? Kau? Bagaimana bisa ada di kota B?" tanya Devita yang terkejut dan heran akan kehadiran Richard.


"Mungkin kita memang di takdirkan bersama," jawab Richard dengan senyuman di wajahnya.



Olivia menelan salivanya melihat pria tampan yang ada di hadapannya. Olivia langsung menyenggol lengan Devita.


"Kau jangan bercanda Richard, kenapa kau bisa berada di kota B? Bukankah kau tinggal di Berlin? Lalu kenapa kau bisa ada di perusahaan ini?" tanya Devita yang penasaran. Bagaimana mungkin dia bisa bertemu dengan Richard saat dirinya sudah kembali ke kota B. Devita sungguh tidak menyangka bisa kembali bertemu dengan Richard.


"Well, pertanyaan mu sangat banyak. Mungkin aku bisa menjawabnya dengan makan siang bersama," jawab Richard dengan senyuman yang begitu menggoda.


"Tapi, aku ingin makan siang dengan sahabatku," kata Devita.


"Tidak masalah, aku akan mentraktir kalian berdua," balas Richard.


"Tapi-"


"Jangan menolak Devita, bukankah pertanyaanmu sangat banyak? Aku ingin mengobrol dengan mu?" potong Richard dengan cepat.


Devita pun mengangguk dan berkata, "Baiklah, kita akan makan siang bersama,"


Kemudian Devita, Olivia dan Richard melangkah menuju ke salah satu restoran terdekat dengan Dixon's Group.


Devita, Olivia, dan Richard sudah tiba di salah satu restoran terdekat dengan Dixon's Group. Richard memesan sirloin steak untuk Devita dan juga Olivia. Sedangkan, dirinya lebih memilih seafood. Tidak lama kemudian, pelayan sudah mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh Richard. Mereka pun langsung menikmati makanan yang terhidang di atas meja.


"Richard, sekarang kau harus menjawab ku. Kenapa kau ada di kota B? Dan kenapa kau berada di Dixon's Group?" tanya Devita yang sudah sejak tadi penasaran.


"Aku.."


"Tunggu Richard," potong Devita dengan cepat.


Richard mengerutkan dahinya, dia menatap bingung kenapa Devita menghentikan ucapannya yang bahkan dia belum menyelesaikannya.


"Aku minta maaf, aku lupa belum mengenalkanmu pada sahabatku," kata Devita dengan senyum lebarnya.


Richard tersenyum, gadis di hadapannya begitu menggemaskan.


"Richard, ini Olivia sahabatku. Dia satu kuliah denganku," ucap Devita yang memperkenalkan Olivia.


"Dan Olivia, perkenalkan ini Richard orang yang menemaniku saat dompet dan ponselku hilang. Aku pernah menceritakannya bukan, jika aku pernah kehilangan dompet dan ponselku saat di Berlin," ucap Devita sambil memperkenalkan Richard.


Richard mengulurkan tangannya pada Olivia, dan Olivia pun membalas jabat tangan Richard.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.