Love And Contract

Love And Contract
Kejadian Di Kasino



"Aku tidak mungkin membiarkanmu berbelanja dengan uang Kakakmu. Pakai ini, sekarang kamu itu adalah tanggung jawabku." Angkasa memaksa Laretta untuk menerima kartu kreditnya.


Laretta tersenyum, "Terima kasih, Angkasa."


"Felix, karena Brayen dan Angkasa menunggu di sini. Aku rasa kau juga pasti akan menunggu di sini bukan?" Olivia sudah lebih dulu menebaknya. Dia tahu tidak mungkin Felix ikut dengannya.


"Kau cerdas sayang." Felix mengeluarkan dompet dan langsung memberikan Olivia black cardnya. Dengan senang hati Olivia menerimanya.


"Setelah ini tagihanmu akan sangat banyak Felix," Olivia mendekat, dia memberikan kecupan di bibir Felix.


Felix mendesah pasrah, "Ya Olivia, apapun yang membuatmu bahagia aku akan menurutinya."


Kemudian Devita, Laretta, dan Olivia berjalan masuk kedalam butik. Sedangkan Brayen, Angkasa dan Felix menunggu di depan. Mereka tidak mungkin ikut kedalam butik. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi mereka terpaksa melakukan ini demi membuat wanita mereka bahagia. Tentu mereka tahu, berbelanja adalah hal yang membuat para wanita menjadi sangat bahagia.


"Brayen... Angkasa... lebih baik kita menunggu di kafe itu." Felix menunjuk salah satu Cafe di seberangnya.


"Ya," jawab Brayen singkat.


"Kau benar, lebih baik kita menunggu di sana," balas Angkasa.


Brayen, Angkasa dan Felix langsung berjalan menuju ke cafe terdekat. Mereka tahu, menunggu wanita berbelanja tidak mungkin hanya satu atau dua jam. Tapi membutuhkan waktu berjam-jam bagi para wanita untuk selesai berbelanja.


...***...


Kini Brayen, Angkasa dan juga Felix sedang duduk di cafe sembari menikmati kopi. Sudah tiga jam lamanya mereka menunggu tapi Devita, Laretta, dan Olivia masih belum selesai berbelanja.


"Sebenarnya mereka itu sedang berbelanja atau sedang bekerja di butik? Kenapa sejak tadi mereka belum selesai juga?" seru Felix yang mulai kesal. Dia bosan harus menunggu di sini.


"Kau seperti tidak tahu wanita," balas Angkasa sembari menyesap kopi di tangannya.


Felix membuang napas kasar, "Brayen, kau jangan lupa jika malam ini kau harus bermain kasino denganku. Aku pastikan kau akan kalah dariku seperti yang sebelumnya."


"Kau yakin akan menang dariku?" Brayen tersenyum miring. "Lebih baik kau siapkan kekalahanmu. Kau bisa kehilangan sebagian hartamu."


"CK! Lihat saja nanti! Aku pastikan aku akan menang!" Seru Felix dengan yakin.


Brayen mengedikkan bahunya acuh, lalu mengambil cangkir kopi yang ada di atas meja dan mulai menyesapnya.


Tak lama kemudian Devita, Laretta dan juga Olivia masuk kedalam kafe dimana Brayen, Angkasa dan Felix menunggu mereka. Barang belanjaan mereka telah di bawa oleh pelayan. Beruntung Brayen sengaja membawa pelayan. Jika tidak, saat ini mungkin Brayen, Angkasa dan Felix harus membawa barang belanjaan para wanita.


Devita melangkah mendekat ke arah suaminya. "Brayen, maaf sudah membuatmu menunggu lama."


Brayen mengalihkan pandangannya dia menatap istrinya yang sudah berada di sampingnya. Brayen langsung memeluk pinggang Istrinya. "Apa kau sudah selesai berbelanja?"


"Sudah, aku juga sudah membelikan banyak oleh - oleh untuk Mom Rena, Mama Nadia, Dad David dan Papa Edwin." Devita mengelus lembut rahang Brayen. "Tidak hanya itu, aku juga mau membelikan banyak pakaian untukmu."


Brayen tersenyum. "Apa kau ingin makan sesuatu?"


"Tidak, aku belum lapar." jawab Devita, dia langsung duduk di samping suaminya itu.


"Olivia, apa kau ingin membeli seluruh isi butik?" Seru Felix saat Olivia mendekat ke arahnya.


"Tadinya aku ingin seperti itu. Tapi aku kasihan dengan pelayan yang membawa barang belanjaanku," jawab Olivia dengan santai. Felix membuang napas kasar.


"Angkasa, maaf membuatmu menunggu." ucap Laretta yang tidak enak membuat Angkasa menunggu lama.


"Tidak masalah Laretta." balas Angkasa.


"Lebih baik kita ke Las Vegas Strip sekarang, banyak atraksi pertujukan di sana," ujar Devita dan semuanya mengangguk setuju.


Brayen mengeluarkan dompet dan meletakkan beberapa lembar dollar yang ada di atas meja. Devita langsung memeluk lengan Brayen dan berjalan keluar.


Sedangkan Olivia melirik ke arah Felix yang masih kesal dan Olivia langsung memberikan kecupan di bibir kekasihnya itu. Felix pun langsung tersenyum melihat Olivia menciumnya, dia langsung merangkul Olivia dan berjalan mengikuti Devita dan Brayen.


...***...


Las Vegas Strip tempat yang di pilih oleh Brayen sebelum Devita meminta untuk berbelanja. Las Vegas Strip di penuhi dengan hotel kasino mewah dan lampu neon merupakan ciri klasik Las Vegas.


Kini Devita dan Brayen menonton beberapa atraksi pertujukan di Las Vegas Strip. Seperti biasa, Devita selalu mengabdikan moment bersama dengan suaminya. Devita memotret banyak gambar dirinya bersama dengan suaminya. Tidak hanya mereka berdua, tapi Devita juga berfoto bersama Olivia dan juga Laretta.


Kali ini liburan Devita terasa begitu sempurna. Canda tawa di antara mereka saat menikmati liburan ini. Setelah puas berfoto dan menonton beberapa atraksi pertujukan, sesuai dengan permintaan Felix yang meminta bermain kasino mereka langsung menuju Bellagio. Brayen sengaja memilih Bellagio, karena sebelumnya Brayen terakhir ke Las Vegas bersama dengan Felix bermain ke Kasion di The Venetian.


"Brayen, kau bermainlah dulu. Aku ingin pergi ke toilet sebentar." kata Devita saat memasuki Bellagio.


"Aku akan menemanimu." ucap Brayen. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya sendiri.


"Tidak usah Brayen." Felix sudah menunggumu, tolak Devita dengan lembut.


"Kak, biarkan Devita bersama dengan ku saja. Aku juga ingin ke toilet." sambung Laretta. Brayen mengangguk pelan. Kemudian Laretta dan Devita berjalan menuju ke arah toilet. Sedangkan Brayen dan yang lainnya mulai masuk kedalam kasino.


"Brayen, apa kau takut?" Felix tersenyum miring.


"Diamlah, jangan banyak bicara dulu!" Tukas Brayen.


"Allright, mari kita bermain," sambung Angkasa.


Olivia duduk di samping Felix, dia memang tidak mengerti bermain kasino. Bagaimana dia mengerti, masuk kedalam kasino harus berusia 21 tahun. Sedangkan tahun ini usianya baru 21 tahun.


Devita dan juga Laretta baru saja keluar dari toilet. Mereka sudah melihat Brayen, Felix dan juga Angkasa tengah bermain kasino. Devita dan Laretta langsung berjalan mendekat ke arah Brayen, Felix dan juga Angkasa.


Brukk.


"Ah!" Jerit Devita, saat ada pelayan yang menumpahkan minuman di bajunya. Beruntung dirinya masih berpegangan dengan Laretta. Jika tidak mungkin Devita sudah terpeleset.


Brayen yang mendengar suara istrinya menjerit, dia langsung menghentikkan permainannya. Dengan cepat Brayen berlari menghampiri Devita.


"Devita? Apa kau terluka?" Brayen memegang bahu Devita menatap cemas istrinya. Hingga kemudian, Brayen menatap pelayan yang menabrak istrinya dan melemparkan tatapan tajam.


"Kau ini sebenarnya bisa bekerja atau tidak! Kau sudah menabrak istriku yang sedang hamil!" Sentak Brayen hingga membuat pelayan itu menunduk dan tidak berani menatap Brayen.


"M-maafkan saya Tuan. Nyonya saya sungguh tidak sengaja tadi." ucap pelayan itu dengan tatapan penuh permohonan.


"Maaf? Mudah sekali kau meminta maaf!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


"Sayang sudah, dia sudah meminta maaf." Devita mengelus dada Brayen, berusaha untuk menenangkan suaminya itu.


Devita menatap lembut pelayan yang tidak berani menatap dirinya itu. "Hi, aku sudah memaafkanmu. Lain kali kau harus berhati-hati. Kau boleh pergi sekarang."


"Terima kasih, Nyonya." pelayan itu langsung menunduk dan undur diri.


"Kenapa kau itu mudah sekali memaafkannya!" Brayen melayangkan tatapan dingin pada istrinya.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.