Love And Contract

Love And Contract
Ini Rumit



"Tidak Olivia, kemarin Angkasa menginap di sini. Jadi dia bisa sarapan dengan kita karena dia menginap di sini." jawab Laretta.


Olivia mengerjap. "Eh? Menginap di sini?"


Laretta terkekeh pelan. "Ya, menginap di sini, tapi Angkasa tidur di kamar tamu. Kau tenang saja, Olivia aku tidak mungkin tidur dengan Angkasa sebelum kami menikah."


Olivia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putih dan rapi miliknya. "Aku tidak bermaksud menuduhmu yang tidak - tidak, Laretta. Felix juga pernah tidur di kamarku dan kami hanya berpelukan saja. Tapi yang membuatku terkejut, Angkasa menginap di sini. Tidak biasanya Angkasa menginap di sini.


"Angkasa memiliki masalah, itu kenapa kemarin aku meminta Angkasa untuk tidur di sini saja. Lagi pula, aku lihat Angkasa terlalu banyak memikirkan sesuatu masalah," balas Laretta dan Olivia mengangguk paham.


"Hem, Laretta apa kau tahu masalah apa yang ada di perusahaan Felix? Kenapa Felix terlihat sibuk dan panik. Felix menghubungiku hanya satu kali setelah dia tiba di Madrid. Hingga detik ini, Felix belum lagi menghubungiku. Apa kau tahu, apa yang terjadi dengan perusahaan milik Felix? Aku hanya cemas saja padanya. Tidak biasanya Felix mendiamkan aku seperti ini," ujar Olivia dengan helaan nafas berat.


"Olivia, ada masalah berat di perusahaan milik Felix. Ini akibat dari salah satu rekan bisnis Daddyku yang sengaja mencari kelemahan Daddyku. Perusahaan cabang keluargaku di Madrid mengalami penurunan saham yang cukup drastis. Jika ini terus berlarut, perusahaan Felix akan terus ikut terseret. Karena perusahaan cabang keluargaku yang ada di Madrid dengan perusahaan Felix memiliki keterkaitan satu sama lainnya."


"Aku rasa, itu salah satu alasan Felix memilih mendiamkan mu. Tapi percayalah, Felix itu tidak bermaksud untuk mendiamkanmu. Felix akan segera pulang, dan dia akan segera memberikanmu kabar."


Laretta menyentuh tangan Olivia dan berusaha untuk menjelaskan serta menenangkan wanita itu. Laretta menatap Olivia, terlihat jelas raut wajah kekecewaan Olivia.


"Apa perusahaan milik Felix akan bangkrut?" tanya Olivia dengan tatapan yang menatap lekat manik mata Laretta.


Laretta tersenyum, "Felix adalah bagian dari keluarga Mahendra. Tidak mungkin Felix bisa bangkrut. Karena Kakak Brayen tidak akan pernah membiarkan keluarganya mengalami kesusahan. Percayalah, Felix pasti akan baik - baik saja Olivia..."


"Aku akan menunggu Felix hingga dia memberikan kabar padaku," balas Olivia.


Tidak lama kemudian, Devita melangkah masuk kedalam ruang makan. Devita sedikit terkejut ternyata Olivia sudah berada di rumahnya. Karena biasanya Olivia datang di sore hari. Tapi kini masih pagi hari Olivia sudah datang kerumahnya.


"Olivia? Kau sudah datang?" Devita menyeret kursi, lalu dia duduk di samping Olivia.


"Kau sudah bangun, Nyonya Mahendra?" ledek Olivia.


Devita mendengus. "Aku ini ibu hamil, kau ini bagaimana? Wajar saja jika ibu hamil bangun sedikit terlambat, bukan?"


Olivia memutar bola matanya malas. "Laretta yang juga hamil saja selalu bangun lebih awal."


Laretta menggeleng pelan dan terkekeh kecil. "Sudahlah, jangan berdebat di pagi hari. Lebih baik kau sarapan Devita."


"Ya, aku juga sudah lapar." Devita mengambil beef cheese omlete dan tomato juice yang sudah di siapkan oleh pelayan.


"Olivia, Devita... aku harus duluan, kepalaku sedikit pusing." kata Laretta yang telah menyelesaikan sarapannya.


"Apa kau mau aku hubungi Dokter Keira?" tawar Devita.


"Kau baik - baik saja, Laretta?" tanya Olivia.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya Ingin beristirahat sebentar," jawab Laretta.


"Baiklah, beritahu aku jika kau membutuhkan sesuatu," balas Devita.


"Kalian tenang saja, lebih baik nikmati waktu bersama kalian." Laretta beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan meninggalkan Olivia dan Devita yang sedang berada di ruang makan.


Setelah selesai makan, Devita dan Olivia memutuskan untuk duduk bersantai di gazebo. Cuaca yang menyejukkan membuat Devita dan Olivia ingin menikmati duduk bersantai di luar.


"Devita, kau kenapa?" tanya Olivia yang menatap lekat Devita saat mereka sudah duduk bersantai di gazebo. Terlihat jelas di wajah Devita sedang memikirkan sesuatu.


"Dua hari lalu aku bertemu dengan Alena, adiknya Angkasa." jawab Devita.


"Alena? Kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana kabarnya? Aku sudah lama tidak melihat Alena."


"Dia baik, dan sekarang Alena sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan mengagumkan."


"CK! Aku sudah tahu itu. Sejak kecil dia itu sudah sangat cantik."


"Tapi kemarin aku dengan Alena berdebat. Aku kecewa padanya."


Olivia tersentak. "Berdebat? Kenapa kau berdebat dengan Alena?"


Alena tidak suka dengan Laretta. Aku sangat kesal padanya saat dia menghina Laretta bukan wanita baik - baik."


"Tunggu, kenapa Alena langsung menilai buruk Laretta?"


Devita mendesah kasar, "Alena masih menginginkanku menjadi Kakak Iparnya. Dia masih ingat ucapanku dulu yang mengatakan akan menikah dengan Angkasa. Saat aku bertemu dengan Alena, aku sudah menjelaskan padanya kalau aku memang tidak di takdirkan untuk Angkasa. Tapi dia tetap tidak mau mendengarkannya. Alena malah menilai jika Laretta yang telah menjebak Angkasa, agar bisa menikah dengan Angkasa. Itu yang membuatku sangat kecewa pada Alena."


"Aku sudah menduga sejak awal." Olivia menghela nafas dalam. "Ini rumit, karena cinta pertamamu menjalin hubungan pada adik iparmu sendiri. Dan Alena, yang aku kenal dia memang keras kepala. Lalu tindakan apa yang Angkasa lakukan?"


"Aku tidak tahu tindakan apa yang Angkasa lakukan. Tapi ketik kemarin aku menceritakannya kepada Angkasa, dia langsung pergi menemui keluarganya. Aku yakin, Angkasa akan mengambil tindakan tegas untuk Alena." balas Devita.


"Setelah kau menikah dan sudah hamil saja, kau masih terjebak dengan masalah Angkasa." Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku berharap ini cepat selesai. Karena jika suamimu itu tahu tentang ini. Aku yakin, suamimu itu pasti akan sangat marah besar dan tidak mungkin hanya diam."


"Dan itu salah satu yang paling aku takutkan, Olivia. Aku sangat takut, jika Brayen akan mengetahui tentang ini semua. Kau tahu kan, suamiku itu memilki emosi yang tinggi. Aku saja sampai sangat sulit untuk menenangkan emosi Brayen, jika dia sudah marah." ujar Devita.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin, Angkasa akan mengambil tindakan yang tegas pada adiknya." balas Olivia. "Meski hingga detik ini aku masih tidak percaya, Laretta menjalin hubungan dengan pria yang ada di masa lalumu, Devita. Dan tidak semua orang bisa melewati semua masa ini."


Devita tersenyum. "Aku tentu bisa melewati masa ini, karena aku memang hanya menganggap Angkasa adalah teman masa kecilku. Aku tidak ingin mengingat Angkasa sebagai cinta pertamaku. Aku hanya mengingatnya sebagai teman masa kecilku."


"Baiklah sekarang harus aku akui Brayen sungguh hebat, dia mampu membuatmu yang dulunya begitu mencintai Angkasa berubah ketika sudah menjadi istri dari Brayen. Bahkan semua perasaan cintamu pada Angkasa bisa dengan mudahnya tergantikan oleh Brayen." kata Olivia dengan senyuman yang ada di wajahnya. "Tapi, kau dan Brayen memang pasangan yang sangat cocok. Sudah sejak awal aku menduga kau dan Brayen akan saling jatuh cinta."


"Ya kau benar. Aku juga masih tidak menyangka akan jatuh cinta dengan Brayen. Suamiku itu mampu membuatku mencintainya, melebihi perasaanku dulu pada Angkasa. Setidaknya, perasaan cintaku jauh lebih besar pada pria yang akan menemaniku seumur hidupku." balas Devita.


...***********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.