Love And Contract

Love And Contract
Menjenguk Devita



Rena turun dari mobil. Kini dia baru saja tiba di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa datang untuk melihat menantunya. Hari ini Rena datang untuk menjenguk Devita. Kondisi David sudah lebih baik, itu kenapa dia bisa meninggalkan David. Sebelumnya Rena selalu mendengar kabar dari Albert yang melaporkan perkembangan Devita setiap hari. Terlebih saat Rena mendengar, Devita tengah mengandung, rasanya Rena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan menantunya itu.


Rena berjalan masuk kedalam ruang rawat Devita. Dia menatap Laretta, putrinya yang juga berada di sana. Kemudian Rena melangkah mendekat ke arah Devita yang menyadari kedatangannya.


"Apa Mommy menganggu kalian?" suara lembut Rena membuat Devita dan Laretta menghentikan obrolan mereka. Laretta dan Devita menoleh menatap Rena yang melangkah mendekat.


"Mommy?" sapa Devita saat melihat Rena datang. Laretta beranjak dan tersenyum ketika melihat Rena datang.


"Apa kabar sayang?" Rena mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


"Sudah lebih baik, Mom. Mom Rena kesini sendiri? Bagaimana kabar Dad David?" tanya Devita.


"Daddy sudah lebih baik, sayang." jawab Rena. Kini pandangan Rena menoleh ke arah Laretta. "Bagaimana kabarmu, Laretta?"


"Aku baik, Mom. Aku sangat senang melihat Mommy datang." balas Laretta, di tidak bisa menutupi kebahagiaannya melihat ibunya datang. Karena memang sudah lama, Laretta tidak melihat kedua orang tuanya.


Rena tersenyum. "Mommy baru bisa datang karena Daddymu kondisinya sebelumnya memburuk. Tapi sekarang Daddymu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Aku senang mendengarnya, Mom. Aku selalu berdoa agar kalian berdua selalu sehat." balas Laretta. Rena kembali tersenyum hangat mendengar ucapan dari Laretta.


Pandangan Rena kini menoleh ke arah Devita. "Sayang, bagaimana dengan kandunganmu? Kau jangan terlalu lelah. Mommy dengar, kau sebentar lagi akan lulus kuliah. Mommy tidak ingin kau kelelahan."


"Iya Mom, aku akan menjaga kesehatanku dengan baik. Kuliahku, sudah tidak terlalu membebaniku. Sebelumnya aku juga sudah mengerjakan beberapa penelitian. Jadi sekarang tidak akan terlalu sibuk, seperti sebelumnya, Mom." ujar Devita.


"Bagus, kalau begitu. Nanti Mommy akan sering datang kerumahmu kalau kesehatan Daddymu sudah jauh lebih baik." balas Rena. Devita mengangguk dan tersenyum.


"Maaf, apa aku menganggu?" suara bariton terdengar dari arah pintu. Membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arah pintu.


Tubuh Laretta mematung,saat melihat sosok pria yang melangkah mendekat ke arah Laretta dan melirik ke arah Rena. Laretta tidak menyangka jika Angkasa akan datang tepat setelah ibunya datang. Laretta tidak mungkin mengusir Angkasa. Ini pertama kalinya Angkasa muncul di hadapan Ibunya. Karena memang sebelumnya saat Angkasa berniat untuk mendatangi kedua orangtuanya,dengan tegas Rena langsung menolaknya karena saat itu, kondisi kesehatan David menurun. Tapi bukan berarti Rena tidak tahu siapa Angkasa. Laretta sangat yakin, jika Ibunya itu telah menyelediki siapa Ayah dari bayi yang sedang di kandungnya ini.


"Angkasa? Masuklah." Devita tersenyum hangat, melihat Angkasa datang.


Sedangkan Rena menatap tidak ramah, saat Angkasa melangkah mendekat. Devita sedikit menoleh ke arah Ibunya mertuanya itu, terlihat wajah Rena yang tidak menyukai kedatangan Angkasa. Devita tidak bisa memaksa, karena memang Devita sangat paham kenapa Ibu mertuanya ini sangat membenci Angkasa.


"Nyonya Mahendra, apa kabar? Senang bisa melihat anda." Angkasa menunduk saat melihat Rena. Meski wajah Rena tidak menunjukkan keramahan, tapi Angkasa tetap menyapanya.


"Seperti yang kau lihat, aku baik." jawab Rena dingin. Laretta terus menatap Ibunya yang tidak ramah ketika Angkasa datang. Laretta tentu mengerti kenapa Ibunya itu bersikap tidak ramah pada Angkasa.


"Devita bagaimana kabarmu? Saat mendengar kau sadar, aku langsung kesini." kata Angkasa yang kini sudah berada di samping Devita.


Devita tersenyum. "Terima kasih, Angkasa. Aku sudah jauh lebih baik."


"Aku juga sudah dengar kalau kau sedang hamil? Selamat Devita." balas Angkasa. Devita mengangguk dan tersenyum.


"Devita sayang, maaf ya Mommy harus segera pulang." Rena beranjak lalu mengecup kening Devita. Kemudian Rena menoleh pada Laretta. "Mommy pulang dulu. Kau jaga kesehatanmu baik - baik."


Laretta mengangguk pelan, "Ya Mom. Hati - hati."


"Mom. Kenapa Mommy pulang cepat?" tanya Devita. Dia lebih suka jika Ibu mertuanya lebih lama berada di sisinya.


"Mommy harus menjaga Daddymu, sayang. Nanti Mommy akan kesini lagi." kata Rena dengan suara lembut. Dan Devita pun mengangguk paham.


Rena kini melihat ke arah Angkasa, yang berdiri di samping Devita. "Dan untukmu, aku tunggu kedatangan mu untuk menemuiku dan juga suamiku."


Tanpa menunggu jawaban dari Angkasa, Rena langsung berbalik dan melangkah keluar.


"Aku pasti datang," suara Angkasa berseru dengan keras. Membuat langkah Rena terhenti sebentar.


Kemudian Rena melanjutkan lagi langkahnya, namun saat di depan pintu Rena berpapasan dengan Brayen yang hendak masuk kedalam ruang rawat Devita.


"Mommy?" Brayen mengernyitkan keningnya menatap Rena.


"Kau darimana Brayen?" tegur Rena


"Aku bertemu dengan Felix." jawab Brayen.


"Jaga menantu Mommy dengan baik. Dan jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Nanti Mommy akan datang lagi. Sekarang Mommy harus menjaga Daddymu." ujar Rena.


"Daddymu jauh lebih baik. Kau harus menjenguknya. Kau ini benar - benar! Hanya mengurus perusahaan dan jarang melihat kedua orang tuamu!" Seru Rena.


Brayen membuang napas kasar, "Ya maaf. Aku akan kesana setelah Devita keluar dari rumah sakit."


"Mommy menunggumu. Kalau begitu Mommy pulang sekarang." jawab Rena. Dan Brayen mengangguk singkat.


Melihat Rena sudah pergi, Brayen melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang rawat Devita. Saat Brayen sudah masuk kedalam, dia sudah melemparkan tatapan tajam ke arah Angkasa yang ternyata berada di sana.


"Untuk apa kau kesini?" seru Brayen dengan tatapan tajam pada Angkasa.


"Brayen!" Devita menegur pelan suaminya itu.


"Menjenguk Kakak Ipar." jawab Angkasa santai. Brayen semakin menajamkan tatapannya pada Angkasa.


"Angkasa, lebih baik kita keluar. Aku sudah sangat lapar." Laretta langsung menarik tangan Angkasa.


"Laretta! Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?" suara Brayen berseru terdengar begitu dingin dan tajam.


"Kau pergi saja Laretta. Jangan lupa bawakan aku cheese cake." Devita melirik Laretta dan memintanya untuk pergi. Laretta mengagguk antusias, lalu dia kembali melangkah keluar sambil memeluk lengan Angkasa.


"Brayen kemarilah, aku sangat merindukanmu." ucap Devita. Brayen yang tadinya ingin menghalangi Laretta dan juga Angkasa, tetapi dia urungkan karena Devita memanggilnya. Dengan cepat Brayen melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.


"Harusnya kau tidak membiarkan mereka pergi, Devita?" tukas Brayen.


"Mereka hanya makan di luar, Brayen. Kau jangan seperti itu?" balas Devita.


Brayen tidak menjawab, di tidak ingin berdebat dengan Istrinya. Terlebih kondisi istrinya belum sembuh sepuhnya pulih.


"Kenapa kau tidak beristirahat?" Brayen merapihkan rambut istrinya, menyelipkan ke belakang daun telinga istrinya.


"Aku sudah kenyang istirahat, Brayen!" Gerutu Devita, Brayen mengulum senyumannya.


"Brayen, kemarilah mendekat." pinta Devita, dan Brayen menurut, dia semakin mendekat ke arah istrinya.


Devita menatap lekat suaminya, dia mengelus dengan lembut rahang suaminya. "Kau sepertinya sangat lelah Brayen. Apa kau memiliki banyak masalah?"


"Tidak sayang, aku hanya kurang istirahat." jawab Brayen yang terpaksa membohongi istrinya


"Kau lelah menjagaku ya? Maaf Brayen." kata Devita yang tidak enak.


Brayen menarik pelan tangan Devita, membawanya pelan kedalam pelukannya. "Aku tidak akan pernah lelah menjagamu. Hanya masalah kecil di perusahaan. Sebentar lagi pasti terselesaikan."


Devita mendongak dari dalam pelukkan Brayen. "Kapan aku sudah boleh pulang, Brayen? Aku bosan di sini. Dan aku juga sangat ingin menjenguk Olivia. Aku juga ingin beraktivitas seperti biasa."


Brayen mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala istrinya. "Nanti, kau akan pulang. Sekarang lebih baik, kau beristirahat, dan jangan pikirkan apapun."


Devita mendesah pelan. Devita tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah suaminya ini. Meski sebenarnya Devita sudah bosan di rumah sakit. Dia juga ingin segera melihat Olivia.


... *******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.