
Author sekali lagi mau minta maaf kalau ada ketidaknyamanan dalam membaca saat di chapter - chapter tertentu seperti ada tanda (******) itu artinya kata - kata vulgar atau kata - kata kasar yang di sensor dari pihak editornya yah...
Terima kasih banyak untuk kritik dan sarannya semoga kedepannya penulisan author bisa lebih baik lagi.
Happy Reading...๐ค
...๐บ๐บ๐บ๐บ...
Devita tersenyum penuh kemenangan. "Lagi pula aku memang berbicara kenyataan."
Brayen menggeleng pelan, sudah biasa baginya jika Devita selalu membawa - bawa kehamilannya. Bahkan Brayen sudah tidak terkejut lagi, jika Devita selalu membawa dirinya yang tengah hamil.
"Brayen?" panggil Devita sembari memainkan kancing kemeja Brayen.
"Hm?" Brayen meletakkan dagunya di puncak kepala Devita.
"Apa kau masih mengingat Selena?" tanya Devita.
"Selena?" Brayen mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama yang di maksud oleh Devita.
"Ya, apa kau masih mengingatnya?" Devita memang sengaja bertanya ini. Bukannya karena rasa cemburu, hanya saja Devita ingin tahu tentang Selena.
"Siapa Selena yang kau maksud?" Brayen menjauhkan wajahnya, dia menatap lekat manik mata istrinya.
"Selena itu temannya Laretta, dia dulunya itu terobsesi denganmu," jawab Devita dengan santai.
"Kenapa kau bertanya tentang wanita itu?" Brayen menautkan alisnya. Menatap bingung istrinya yang tiba-tiba saja bertanya tentang Selena.
"Tidak apa - apa, aku hanya bertanya saja." balas Devita. "Apa kau mengingatnya sekarang?"
"Dia teman Laretta, aku tidak terlalu mengingatnya. Tapi aku tahu, karena dia itu teman adikku." jawab Brayen datar.
"Ya, aku tahu itu. Tadi saat aku ke salon bersama dengan Laretta, aku bertemu dengannya. Laretta kemudian memperkenalkan Selena padaku. Lalu besok, Selena juga mengundangku dengan Laretta di pesta ulang tahunnya."
"Lebih baik kau tidak usah ikut."
"Eh? Kenapa? Aku tidak enak padanya, karena tadi aku sudah berjanji akan datang bersama dengan Laretta."
"Tidak usah Devita, di pesta nanti pasti akan ada minuman yang beralkohol. Aku tidak mengizinkanmu untuk berangkat!"
Devita mendengus kesal. "Aku tidak enak jika tidak ikut Brayen."
"Aku bilang tidak ya tidak Devita Mahendra! Apa kau ini tidak mendengar perkataan suamimu?" tukas Brayen dengan nada menekankan.
"Tapi aku hanya datang ke pesta ulang tahunnya saja, kenapa kau tidak memperbolehkanku? Lagi pula aku akan berangkat dengan Laretta?" cebik Devita. Tatapan kesal. Tidak perduli.
Brayen membuang napas kasar. "Baiklah, aku akan mengizinkanmu pergi, tapi ada satu hal yang harus selalu kau ingat. Aku tidak ingin kau minum yang beralkohol. Ingat! Kau ini sedang hamil Devita."
"Yeay! Terima kasih, sayang. Kau tenang saja, aku tidak mungkin minum yang beralkohol" Devita mengelus lembut rahang suaminya. "Aku tidak mungkin melukai anak kita, Brayen. Aku itu selalu menjaga asupan makanan yang masuk kedalam tubuhku. Setiap harinya, Dokter Keira selalu menghubungiku.Makanan apa saja yang baik untuk aku konsumsi dan yang tidak. Aku selalu menjaga anak kita dengan baik Brayen."
Brayen tersenyum, dia mengecup kening istrinya. "Terima kasih, karena kau selalu menjaga anak kita dengan baik."
...***...
Laretta berdiri di balkon kamar, dia memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang begitu menyejukkan dan menyentuh kulitnya. Cuaca di malam itu begitu menyejukkan.
"Kenapa kau selalu di sini? Angin malam tidak bagus untuk ibu hamil?" suara bariton menyapa, membuat Laretta membuka matanya dan berbalik ke sumber suara itu.
"Angkasa? Kau di sini? Tapi bagaimana bisa? Aku sudah mengunci pintu kamarku?" Laretta menatap bingung ke arah Angkasa. Padahal dirinya sudah yakin mengunci pintu kamarnya.
Angkasa tidak menjawab, dia melangkah mendekat lalu berdiri di samping Laretta. Menatap keindahan kota dari balkon kamar Laretta. "Aku selalu bisa masuk kedalam kamarmu ini, kapanpun aku mau."
"Kenapa bisa? Aku sudah mengunci pintu kamarku?" Laretta mengerutkan keningnya, dia bingung bagaimana bisa Angkasa bisa masuk ke dalam kamarnya
"Karena aku sudah menduplikat pintu kamarmu," jawab Angkasa dengan santai. "Jadi aku bisa dengan mudah keluar dan masuk kedalam kamarmu."
Laretta mendelik, menatap Angkasa yang tak percaya. "Kau menduplikat pintu kamarku? Lalu kenapa kau tidak meminta izin padaku?"
"Kau ini!" Laretta memukul lengan Angkasa. Tatapan kesal ke arah Angkasa yang sudah bersikap semaunya.
Angkasanya mengulum senyumannya. "Aku sengaja melakukan ini, karena terkadang aku tidak mengerti dengan sikapmu Laretta. Kau sering sekali menutupi rasa marahmu, dan kau akan lebih memilih untuk diam daripada harus membahas alasan dirimu marah."
Laretta menatap lekat manik mata Angkasa. "Apa maksudmu?"
"Aku selalu ingin mengerti dirimu, memahamimu. Aku tahu kemarin kau tidak dalam suasana hati yang baik." Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Sejak kau pulang dari rumahku kemarin, aku melihat kau menyembunyikan sesuatu kepadaku. Kau terlihat lebih muram dan cenderung lebih diam. Aku pun sudah bertanya pada Ibuku, tapi dia tidak mau mengatakan apapun. Ada apa sebenarnya, Laretta? Kau adalah calon istriku, aku hanya ingin kau selalu terbuka di setiap masalahmu."
Laretta terdiam sebentar, dia memang sengaja meminta Citra untuk menutupi ini. Alasannya, karena Laretta tidak ingin jika Alena akan mendapatkan masalah. Meski hati Laretta sudah sangat tersakiti, tapi Laretta tetap tidak tega pada Alena.
"Aku tidak apa-apa Angkasa. Aku hanya sedang lelah saja." dengan terpaksa Laretta masih menutupi masalah Alena,dia tidak ingin Angkasa mengetahuinya sekarang. Setidaknya Laretta ingin menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Alena. Jika Laretta mengatakan di awal, Laretta takut jika Angkasa akan menghukum Alena. Dan itu akan membuat Alena semakin membenci dirinya.
"Are you sure?" Angkasa menatap lekat manik mata Laretta, mencari kebenaran di mata wanita itu. Dan terlihat jelas Laretta tengah menutupi sesuatu darinya.
Laretta mengangguk dan tersenyum. "Ya Angkasa, kau jangan khawatir."
"Baiklah, tapi saat kau ada masalah jangan lupa kau harus bercerita padaku." kata Angkasa.
"Aku pasti akan bercerita padamu." balas Laretta.
"Angkasa?"
"Hmm?"
"Besok aku akan datang ke pesta ulang tahun temanku, apa kau bisa ikut denganku?"
"Besok aku ada meeting dengan rekan bisnisku asal Dubai. Mungkin aku akan pulang sedikit terlambat. Tapi, kau kirimkan saja alamat di mana pesta ulang tahun temanmu itu. Dan aku akan menjemputmu besok."
"Apa aku tidak merepotkanmu? Kau pasti lelah bekerja? Tidak masalah, lebih baik kau langsung pulang saja. Nanti, aku akan di jemput oleh sopir."
"Tidak, mana mungkin kau merepotkanku. Aku akan menjemputmu besok malam."
"Tapi-"
"Aku memaksanya Mrs. Nakamura, aku tetap ingin menjemputmu. Aku tidak akan tenang jika kau pergi di malam hari tapi aku tidak menjemputmu," potong Angkasa cepat.
Seketika Laretta menghangat, mendengar Angkasa memanggilnya dengan sebutan Mrs.Nakamura. Dulu Laretta selalu di panggil dengan sebutan Mrs. Mahendra kini dirinya di panggil dengan Mrs. Nakamura membuat hatinya benar-benar bahagia. Ini seperti mimpi karena sebentar lagi nama belakang dirinya akan berganti menjadi Nakamura.
Laretta mengulas senyuman di wajahnya. "Baiklah, besok aku akan mengirimkan pesan padamu alamat pesta temanku itu."
Angkasa mengangguk. "Apa nanti kau akan pergi dengan Devita?"
"Ya, besok aku akan pergi dengan Devita."
"Baiklah, kabarkan aku besok jika kau sudah di pesta temanmu itu," ujar Angkasa. "Aku harus pulang sekarang. Kau jangan tidur larut malam."
"Ya Angkasa, hati - hati." balas Laretta.
Angkasa mengecup kening Laretta. Kemudian berjalan meninggalkan wanita itu. Sedangkan Laretta, melihat Angkasa sudah pergi dia pun melangkah masuk kedalam kamarnya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih ๐ทatau โ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh๐
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.