Love And Contract

Love And Contract
Kesibukan Para Pria



Pagi hari Devita yang masih tertidur pulas harus terbangun karena sinar matahari pagi yang menembus jendela menyentuh wajahnya. Devita menggeliat dan menguap. Devita mulai membuka matanya, tangan kanannya mulai kesamping. Namun saat Devita merasa di sampingnya sudah kosong, dengan cepat Devita langsung menoleh. Dan benar saja, Brayen ternyata sudah tidak ada. Hari ini memang hari terakhirnya di Las Vegas. Besok Devita sudah pulang kembali ke Indonesia.


Devita mendesah pelan, dia beranjak dan mengikat asal rambutnya. Pandangan Devita kini menatap sebuah note yang ada di atas nakas. Devita langsung mengambil note itu dan membacanya.


*Aku ada urusan pagi ini. Beberapa client memintaku untuk bertemu denganku hari ini. Sarapanmu ada di meja, dan aku sudah meminta pelayan untuk mengantarkannya ke kamar. Nanti aku akan menghubungimu. - Your Husband Brayen*


Devita pun sudah tidak terkejut mendapatkan note yang seperti ini. Bahkan ketika mereka berlibur pun, suaminya akan tetap fokus pada pekerjaannya. Devita memilih untuk langsung ke kamar mandi. Berendam di pagi hari akan membuat dirinya jauh lebih tenang.


Tiga puluh menit kemudian, Devita sudah selesai untuk berendam. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan dress yang nyaman di tubuhnya. Devita melirik ke arah jam dinding yang kini sudah pukul sembilan pagi. Devita melangkah dan mengambil sandwich susu kacang yang ada di atas meja. Sebenarnya Devita masih belum lapar, ini karena tadi malam dirinya makan terlalu banyak. Tapi Devita tidak mungkin jika tidak sarapan. Jika Brayen tahu, sudah pasti Devita akan langsung kena marah.


"Lebih baik aku ke kamar Laretta dan juga Olivia." gumam Devita.


Devita meletakkan gelas di tempat semula. Kemudian, dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan berjalan keluar kamar menuju ke kamar Laretta dan juga Olivia. Devita merasa bosan, jika hanya sendirian di dalam kamar. Terlebih Devita juga tidak tahu jam berapa suaminya itu akan pulang.


Devita menekan bel pintu kamar Laretta dan Olivia. Hari ini mereka memang tidak pergi kemanapun. Kemarin malam, Devita sudah sepakat dengan yang lain. Jika siang hari mereka akan berada di hotel.


Ceklek,


Pintu terbuka dan Laretta sedikit terkejut melihat Devita yang berada di hadapannya.


"Devita? Kau datang? Aku pikir kau sedang beristirahat di kamarmu. Ayo masuk, aku tadi memesan ice cream," Laretta langsung mengajak masuk kedalam kamar.


"Aku tidak mungkin tidur seharian ini, Laretta." balas Devita.


Devita dan Laretta melangkah masuk kedalam kamar. Devita menatap Olivia duduk di sofa tengah menonton film sembari menikmati ice cream. Devita langsung duduk di samping Olivia dan langsung mengambil ice cream yang sudah tersedia di atas meja.


"Aku pikir kau masih tidur. Saat tadi kita sarapan, Brayen tadi mengatakan padaku dan Laretta agar jangan mengganggumu." kata Olivia saat melihat Devita sudah duduk di sampingnya.


"Brayen bilang seperti itu kepadamu?" Devita menautkan alisnya.


Olivia mengangguk. "Ya mangkanya aku pikir kau itu akan berada di kamarmu sampai sore nanti."


"Dia itu memang berlebihan sekali." Devita mendengus kesal. "Saat aku bangun saja Brayen sudah tidak ada di sampingku. Dan dia hanya meninggalkan note. Dia bilang padaku, jika dia pergi untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Kita tengah berlibur saja yang dia pikirkan tetap pekerjaannya."


Laretta terkekeh pelan. "Sama saja, Angkasa juga mengunjungi perusahaan cabangnya yang baru saja di buka di Las Vegas. Semua pria seperti itu Devita. Mereka tahu, mereka memiliki tanggung jawab yang besar."


"Laretta benar, tapi aku juga sangat kesal sekali dengan Felix yang selalu sibuk! Padahal sudah sejak awal aku mengatakan kepada Felix, untuk tidak terlalu memikirkan pekerjaannya saat kita berlibur." keluh Olivia kesal. "Rasanya sekarang setelah Felix sudah menjadi kekasihku, dia itu lebih banyak sibuk dengan pekerjaannya. Apa semua pria seperti itu? Setelah mendapatkan mereka akan lebih sibuk dengan dunianya?"


Devita mengulum senyumannya. "Tidak seperti itu Olivia, kau tahu sendiri bukan bahwa tagihan belanja mu itu sangat banyak. Felix sedang berjuang demi kalian. Brayen selalu mengatakan itu kepadaku. Brayen bilang, dia bekerja demi diriku dan juga anak-anak kita nanti. Jadi, kau jangan berpikiran buruk tentang Felix. Aku yakin, Felix hanya sibuk saja."


"Kau kenapa membela Felix! Harusnya kau itu membelaku, Devita!" Dengus Olivia kesal.


Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Lebih baik kita itu menonton film saja. Jangan di pikirkan pasangan kita yang telah sibuk bekerja. Paling tidak mereka itu bukan sibuk dengan wanita lain."


"Tapi untuk Kak Brayen aku sangat tahu, dia itu tidak akan mungkin sibuk dengan wanita lain. Karena dia saja sudah tergila - gila denganmu, Devita." lanjut Laretta sambil terkekeh kecil.


"Kau bebas Laretta, suamiku tidak mungkin berani." Devita terkekeh pelan.


"CK! Felix juga tidak berani. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri jika dia berani macam-macam di belakangku!" Seru Olivia.


...***...


"Brayen, bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Felix, sembari menyesap kopi yang di tangannya. Kini Felix, Brayen dan juga Angkasa tengah berada di sebuah kafe tidak jauh dari hotel mereka. Setelah mereka mengurus masing-masing pekerjaannya. Kemudian mereka memutuskan untuk menikmati kopi yang berada di sebuah kafe terdekat dengan hotel mereka tinggal.


"Semuanya berjalan dengan baik" jawab Brayen. "Aku sudah menghubungi Albert, beberapa produk aku akan mengambil di perusahaanmu. Nanti Albert akan menghubungi asistenmu."


Felix mengangguk. Ya, nanti aku akan katakan pada Asistenku."


Pandangan Brayen kini melihat ke arah Angkasa. "Kapan orang tuamu itu akan bertemu dengan Laretta?"


"Secepatnya," balas Angkasa. "Terakhir aku menghubungi orang tuaku, mereka mengatakan baru bisa datang ke Indonesia Minggu depan. Dan aku akan langsung membawa Laretta untuk bertemu dengan keluargaku."


"Apa kau sudah menceritakan semuanya pada orangtuamu tentang kau dan juga Laretta?" kini giliran Felix yang bertanya.


"Sudah," jawab Angkasa. "Aku sudah mengatakan semuanya pada orang tuaku. Tapi kau tenang saja, aku yakin orang tuaku itu pasti akan menyukaimu, Laretta."


"Ya, orangtuamu pasti menyukai adikku!" Tukas Brayen dingin. "Tidak mungkin ada pria yang akan menolak Putri dari keluarga Mahendra."


Angkasa tersenyum, " Kau memang benar. Tidak mungkin orang tuaku tidak menyukai Laretta Gissel Mahendra. Tuan putri dari keluarga Mahendra yang terkenal sangat cantik."


"Lalu bagaimana denganmu, Felix? Kapan kau akan menikah dengan Olivia?" Angkasa bertanya pada Felix. Karena dia rasa sudah cukup untuk membahas tentang dirinya dan juga Laretta.


"Olivia masih menunda pernikahan kami." Felix kembali menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir kopi di tempat semula. "Aku rasa Olivia masih khawatir tidak bisa memberiku anak. Lagi pula, aku cukup berdua saja dengan Olivia tidak masalah bagiku. Ada atau tidaknya anak di kehidupanku dengan Olivia tidak akan mengubah apapun. Aku akan tetap mencintai Olivia."


"Apa yang terakhir Dokter katakan padamu?" tanya Brayen.Tatapannya menatap lekat Felix yang sedang duduk di sampingnya.


"Dokter mengatakan, aku dan Olivia masih memiliki kemungkinan untuk mempunyai anak. Dokter juga menyarankan agar kami berdua untuk cepat menikah dan segera melakukan program kehamilan." jawab Felix.


"Kau akan tetap akan memilki anak dengannya," balas Brayen. "Segeralah kau menikah, dan aku akan mengirimkan dokter kandungan yang terbaik dari New York dan juga Paris."


Felix tersenyum, "Aku tahu, kau memang selalu bisa di andalkan."


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.