Love And Contract

Love And Contract
Ingin Tahu Saja



"Ini sungguh enak," komentar Olivia saat mencoba masakan dari Felix.


"Kau tidak berbohong kepadaku kan, Felix? Ini memang masakanmu kan?" Olivia masih menatap curiga pada Felix, pasalnya bagaimana mungkin Felix bisa membuat masakan yang seenak ini.


Felix membuang napas kasar, "Bukankah kamu memiliki CCTV di setiap sudut rumahmu, sayang. Jadi kau juga bisa memeriksanya. Aku tidak mungkin berbohong."


"Lalu kenapa kau itu bisa memasak?Aku saja yang perempuan tidak bisa memasak," balas Olivia sambil menikmati makanannya.


Felix terkekeh kecil, "Aku memang bisa memasak, tetapi setelah aku lulus kuliah, aku tidak terlalu sering melakukannya. Aku sudah sibuk dengan pekerjaanku. Kalau kau samakan aku dengan Brayen sepupuku itu jelas berbeda, sepupuku itu selalu hidup dalam kemewahan. Dia tidak pernah mau menyusahkan dirinya sendiri."


Olivia mengangguk paham, "Sekarang kau bisa beritahu padaku kemana saja kau beberapa hari ini? Kenapa kau tidak menghubungiku?" suara Olivia bertanya terdengar begitu dingin, kini Olivia menatap lekat Felix yang duduk di hadapannya.


"Aku sibuk bekerja," balas Felix. "Maaf sayang, lain kali aku akan menghubungimu."


"Kau itu sibuk bekerja atau kau sedang marah karena aku selalu menghindar dari pembahasan tentang pernikahan?" Olivia sudah lebih dulu menebak. Karena terakhir dirinya bertengkar karena membahas tentang pernikahan.


"Aku tidak ingin berdebat Olivia," jawab Felix. "Lebih baik kita makan saja dan lupakan masalah yang kemarin."


"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau hilang tidak memberikan kabar, paling tidak kau itu memberikan aku kabar," seru Olivia yang masih kesal.


"Ya, maafkan aku. Lain kali aku akan memberikan kabar kepadamu," ujar Felix. "Olivia, kau masih terus minum vitamin yang dokter berikan kepadamu bukan?"


"Aku masih meminumnya, jangan khawatir dan tenang saja. Dokter juga masih terus memeriksa kesehatanku." balas Olivia.


"Di pemeriksaan selanjutnya aku akan menemanimu." ucap Felix


"Apa kau tidak sibuk?" tanya Olivia.


"Tidak sayang, aku akan selalu mengutamakanmu."


Olivia tersenyum, "Terima kasih."


"Ada yang ingin aku katakan, nanti kau harus temani aku ke pesta pertunangan Davin. Dia salah satu temanku dan juga teman Brayen."


"Aku sudah tahu itu?"


"Kau sudah tahu? Apa aku sudah mengatakan sebelumnya padamu?" Felix mengerutkan keningnya.


"Tidak, bukan kau. Tapi Devita, dan tadi aku baru saja kembali dari rumah Devita. Karena aku memilih gaun pesta. Aku pikir kau tidak akan mengajakku. Tapi ternyata benar apa kata Devita, kau akan mengajakku." ujar Olivia dengan nada kesal.


Felix mengulum dengan senyumannya, "Maafkan aku sayang, aku ingin mengatakannya langsung kepadamu. Aku tidak mungkin pergi ke pesta tanpa dirimu."


Olivia mendengus, "Lain kali, kalau kau tidak ada kabar, aku tidak akan memperdulikan mu."


"Allright, aku tidak akan mengulanginya." balas Felix.


"Tapi tunggu, tadi di depan aku melihat Bugatti Veyron berwarna biru, itu mobilmu? Kau baru membeli mobil lagi?" tanya Olivia yang baru ingat di depannya ada mobil yang dia tidak kenali.


"Bukan baru, sayang. Itu mobil yang sudah lama tidak aku pakai," jawab Felix. "Kenapa? Kau menyukainya? Aku akan membelikannya untukmu jika kau menginginkannya juga?"


Olivia berdecak pelan. "Kau itu, baru saja perusahaanmu selamat dari kebangkrutan! Jangan membuang uangmu untuk hal yang tidak perlu."


"Kau tenang saja aku Felix Jordy Mahendra, tidak mungkin dengan mudahnya bisa bangkrut." tukas Felix dengan yakin.


"Ya, tidak akan bangkrut karena kau itu memiliki sepupu seperti Brayen! Jika saja kau tidak memilikinya, sudah pasti kau akan bangkrut!" Olivia mencibir kesal.


...***...


Devita melangkah masuk kedalam kamar, dia duduk di sofa kamarnya sambil menikmati cheese cake yang tadi di bawakan oleh pelayan. Devita menatap jam dinding, kini sudah pukul tujuh malam, hari ini Brayen mengatakan akan pulang terlambat. Mau tidak mau, Devita harus tidur lebih dulu.


Terdengar suara dering ponsel, Devita mengambil ponselnya berada di atas meja. Menatap ke layar, tertera Nadia ibunya yang tengah menghubunginya. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian menempelkan ke telinganya.


"Mama?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Sayang, apa Mama menganggumu?" tanya Nadia dari sebrang telepon.


"Of course not, Mama tidak mungkin mengangguku. Ada apa Ma?"


"Sayang, Mama ingin memberitahumu. Besok Mama akan kembali ke kota K. Ada hal yang harus Mama kerjakan di sana?"


Devita tersentak. "Mama ke kota K? Mama pergi dengan Papa?"


"Ya sayang, Mama akan pergi dengan Papa."


"Coba saja aku tidak hamil, aku pasti akan ikut Mama dan juga Papa."


"Sayang, nanti setelah kau melahirkan. Kau bisa datang ke kota K."


"Ya aku tahu, tapi berapa lama Mama akan di kota K?"


"Mungkin, dua atau tiga minggu."


"Kenapa lama sekali?"


"Sayang, jarak ke kota K ke kota B itu jauh. Tidak mungkin Mama hanya pergi dalam waktu beberapa hari."


"Baiklah, tapi Mama jangan lupa untuk menghubungiku."


"Tentu, kau tenang saja."


"Tidak Devita, karena suamimu sudah mengaturnya. Nanti, Mama dan Papa akan ke kota K menggunakan pesawat pribadi milik suamimu."


"Jadi, Brayen sudah tahu kalau Mama dan papa akan pergi ke kota K?"


"Tentu saja suamimu tahu, sayang. Karena Papamu itu sangat dekat dengan menantunya. Kau seperti tidak tahu saja jika Papamu dan Brayen itu sangat dekat."


"Tapi kenapa Brayen tidak memberitahuku? Kenapa dia itu selalu tahu lebih dulu, Ma?" keluh Devita kesal.


"Sayang, mungkin Brayen lupa memberitahumu. Belakangan ini juga Brayen memegang kendali perusahaan keluarga kita yang harusnya kau yang memimpin. Terlalu banyak tanggung jawab suamimu itu."


"Salahkan dia sendiri! Kenapa tidak membiarkan aku untuk memimpin perusahaan! Apa Mama tahu, semenjak aku hamil suamiku itu terlalu berlebihan."


"Devita jangan seperti itu. Kau tahu, Brayen melakukan ini semua demi dirimu."


"Ya, ya baiklah. Aku juga tahu itu, dia selalu melakukan apapun demi diriku."


"Ya sudah, Mama harus tutup dulu. Nanti, kalau Mama sudah di kota K, Mama akan menghubungimu."


Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Devita mendengus kesal, ketika Brayen sudah lebih tahu dulu rencana orang tuanya itu.


Tanpa Devita sadari, sudah sejak tadi Brayen berdiri di ambang pintu. Brayen melipat tangannya di depan dada, menatap Devita yang baru saja berbicara dengan Nadia.


"Sudah selesai membicarakan ku Mrs. Mahendra?" Brayen melangkah mendekat dan duduk di samping Devita.


"Eh? Kau sudah pulang?" Devita terkejut melihat Brayen yang kini sudah di sampingnya.


"Ya, aku sudah pulang. Sejak tadi aku sudah melihat istriku sibuk membicarakan suaminya sendiri," ujar Brayen.


Devita mencebik. "Bagaimana aku tidak membicarakan mu! Kau tahu, jika orang tuaku akan pergi ke kota K tapi kau tidak memberitahuku."


"Kau tidak bertanya, sayang." Brayen melonggarkan dasinya, dan hendak melepaskan dasinya itu.


"Apakah aku harus bertanya dulu? Aku saja tidak tahu rencana orang tuaku!" Devita mengambil alih, dia membantu Brayen untuk melepaskan dasi.


"Terpenting kau sudah mengetahuinya," Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. Seperti biasa, Brayen memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Istrinya.


"Ada urusan apa orang tuaku pergi ke kota K? Seingatku, mereka sudah tidak memiliki urusan pekerjaan di sana." balas Devita.


"Mungkin ibumu sedang merindukan kampung halamannya." jawab Brayen.


"Sebenarnya yang anak mereka itu aku atau dirimu? Kenapa kau selalu tahu lebih awal? Menyebalkan sekali!" Devita mendengus tidak suka. Dia kesal karena Brayen lebih tahu dari dirinya.


Brayen mengulum senyumannya dan mengeratkan pelukannya. "Aku juga anak mereka sayang, kau tidak lupa bukan?"


"Ya, tapi harusnya aku jauh lebih tahu darimu! Semenjak aku menikah denganmu, Papa itu sangat dekat denganmu!" Seru Devita.


"Aku juga, semenjak kau menikah denganku. Orang tuaku jauh lebih memikirkan mu dari pada aku." Brayen menjawab dengan santai.


"CK! Itu berbeda. Aku perempuan, pasti Mom Rena dan Dad David akan memperhatikanku," balas Devita.


Brayen menggeleng pelan dan tersenyum. "Sekarang katakan kepadaku, apakah kau sudah memilih gaun? Tadi aku sudah dengar dari Nagita, desainer yang aku minta sudah datang?"


Devita mengangguk. "Benar, namanya Viona. Aku sangat menyukai gaun rancangannya sangat indah dan berkelas."


"Kau tidak ingin menunjukkan kepadaku, gaun apa yang sudah kau pilih?" Brayen meletakkan dagunya di puncak kepala istrinya.


"Tidak, nanti saja. Karena aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu. Pokoknya gaun yang aku pilih itu sangat cantik," balas Devita antusias.


"Allright, aku akan menunggunya."


"Brayen?"


"Ya, kenapa?"


"Apa kau sudah lama mengenal Davin?"


"Sudah, toko jam tangan miliknya itu sangat terkenal. Sejak dulu aku dan Daddyku menjadi pelanggan tetap di sana. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dia sedikit bingung karena Devita tiba - tiba menanyakan tentang Davin.


"Tidak apa - apa, aku hanya ingin tahu saja." jawab Devita yang terpaksa berbohong. Dia tidak ingin menceritakannya sekarang. Devita takut, suaminya itu akan salah paham.


"Ya sudah, aku ingin mandi dulu." Brayen mengecup kening Devita, kemudian dia beranjak berjalan menuju ke arah kamar.


Melihat Brayen yang sudah berjalan menuju ke arah kamar mandi, dan Devita menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. Setelah selesai menyiapkan piyama untuk Brayen, dan Devita membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.