Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Keluarga Mahendra



Brayen tersenyum tipis. Dia kembali menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Karena memang aku yang mengendalikan semuanya, sayang. Kau harus bisa menerima ini. Kau dan anak - anak kita nanti selalu berada dalam kendaliku."


Devita menghela nafas dalam, suaminya ini benar - benar keterlaluan. "Sudahlah, lebih baik kita bersiap - siap. Kita harus segera kerumah Mom Rena dan Dad David. Mereka pasti menunggu karena kemarin malam aku sudah mengirim pesan pada Mom Rena kalau kita juga akan datang."


Devita memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini dengan suaminya. Ini hanya membuat kepalanya bertambah sakit. Memikirkan nasib anak - anaknya yang sama sekali tidak memiliki kebebasan. Brayen benar - benar keterlaluan.


Devita mengurai pelukannya, dan hendak berdiri namun Brayen kembali menarik tangannya. "Brayen! Bersiap - siap. Nanti kita datang terlambat!"


"Kita mandi bersama!" Balas Brayen.


"Eh tidak? Akh-!" Devita memekik saat Brayen beranjak dan dengan mudahnya langsung membopong dirinya. Brayen ini memang menyebalkan bahkan dirinya belum menjawab. Jika mandi bersama dengan Brayen tentu tidak akan mungkin sebentar. Ini bisa lama dan pasti akan terlambat. Tapi jika seperti ini, Devita tidak bisa menolaknya.


Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi, dia mengulum senyumannya, ketika istrinya hanya pasrah dan mengikuti kemauannya. Karena memang istrinya menolak, dia akan tetap memaksa. Bagaimana tidak? Brayen sudah membopong istrinya ini. Tentu saja Devita tidak berbuat apa-apa, selain menuruti dirinya.


...***...


Laretta dan juga Angkasa turun dari mobil. Ini pertama kalinya Angkasa mendatangi rumah keluarga Laretta. Dulu, saat Angkasa ingin menemui kedua orang tua Laretta, dengan tegas Laretta menolaknya. Kini Angkasa menggenggam tangan Laretta masuk kedalam rumah. Para penjaga langsung memberikan jalan ketika melihat Laretta datang.


Laretta terlihat begitu gugup, dia melirik ke arah Angkasa yang terlihat begitu tenang. Sangat berbeda dengan dirinya. Angkasa semakin erat menggenggam erat tangan Laretta, ketika merasakan tangan Laretta dingin dan sedikit gemetar.


"Aku di sampingmu, Laretta. Jangan takut." kata Angkasa dengan suara yang pelan. Dia tahu, wanita di sampingnya ini sangat cemas.


Laretta berusaha untuk mengatur napasnya, jujur saja saat ini dia memang sangat takut. "Aku sudah lama tidak pulang. Aku juga sudah lama tidak melihat kedua orang tuaku."


Angkasa mengalihkan pandangannya. Lalu menatap lekat Laretta. "Kita akan menghadapi ini bersama."


Laretta mengangguk pelan, kemudian mereka melanjutkan lagi langkahnya masuk kedalam rumah. Para pelayan yang melihat Laretta datang, mereka langsung menundukkan kepalanya. Laretta membalas mereka dengan senyuman hangat, lalu kembali melangkah kedalam. Laretta sudah tahu orang tuanya pasti tengah berada di ruang keluarga.


Saat Laretta dan Angkasa memasuki ruang keluarga, Laretta menatap Ayah dan Ibunya duduk di sofa. David dan Rena menatap lekat Laretta dan juga Angkasa yang kini melangkah ke arah mereka.


"Dad... Mom..." sapa Laretta. David mengangguk singkat, terlihat jelas raut wajah David tidak menunjukkan keramahan saat Angkasa datang.


"Duduk!" Tukas David dingin. Kemudian Laretta dan juga Angkasa duduk di hadapan David dan Rena.


"Apa kabar Tuan David?" Angkasa lebih dulu menyapa, dia tetap tenang dan membalas tatapan David.


"Seperti yang kau lihat?" jawab David singkat.


Angkasa tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rena. "Bagaimana dengan kabar anda, Nyonya Rena?"


"Aku baik," Rena berusaha membalas senyuman Angkasa.


"Aku senang mendengarnya," balas Angkasa.


"Ya, lebih tepatnya aku ingin memberitahu padamu, tujuanku datang kesini karena aku ingin menikahi putrimu. Aku serius dengan putrimu. Dan aku berharap, kau menyetujui hubungan kami." Angkasa mengatakan dengan tegas. Dia membalas tatapan mata David.


"Apa kau tahu, siapa wanita yang berada di sampingmu?" David tersenyum sinis. "Kau berani meminta putriku? Dan apa kau sudah memantaskan dirimu bersama dengan putriku?"


"Dad..," tegur Laretta pelan. Dia sungguh tidak enak dengan Angkasa. Benar apa yang sudah dia duga, Ayahnya akan mengatakan sesuatu yang akan melukai hati Angkasa.


"Kau diam Laretta!" David kini melemparkan tatapan tajam pada putrinya.


Angkasa melihat ke arah Laretta, dan tersenyum. Pria itu memberikan isyarat agar Laretta tetap diam. Sungguh kini Laretta tidak enak pada Angkasa. Dia takut Ayahnya akan menyakiti Angkasa.


"Tuan Alexander David Mahendra, aku tentu mengenal siapa putrimu. Aku sendiri sangat beruntung, bisa memiliki wanita seperti putrimu. Lepas dari apa yang kami lakukan, aku ingin memberitahumu satu hal. Aku sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan putrimu. Aku datang kesini bertemu denganmu karena aku mencintai putrimu dan menginginkan putrimu menjadi istriku."


"Dan jika kau bertanya apa aku sudah memantaskan diriku untuk putrimu atau belum, maka jawabannya adalah aku sudah berusaha keras untuk memantaskan diriku. Aku tahu siapa wanita yang aku inginkan. Tentu tidak mudah bagiku bisa mendapatkan Tuan Putri dari keluarga Mahendra."


"Tapi, meski aku tahu itu tidak mudah, kau bisa melihatnya sendiri di media. Saat ini perusahaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sadar, perusahaan ku masih jauh di bawah perusahaan milik Tuan David. Dan sekalipun aku masih berada jauh di bawah perusahaan mu, bukan berarti aku tidak mampu membahagiakan Laretta. Aku pastikan aku sangat mampu membahagiakan dan menjaga dengan baik putrimu."


Angkasa mengatakannya dengan tegas dan penuh keyakinan. Tatapannya tidak henti menatap David. Sedangkan David terdiam sebentar saat mendengarkan perkataan Angkasa. Suasana di ruangan begitu hening. Tidak ada satupun yang berbicara. Raut wajah Laretta semakin cemas, pasalnya David hanya diam dan tidak merespon Angkasa. Rena hanya memperhatikan David dan Angkasa. Rena juga mengamati sifat Angkasa yang termasuk berani berbicara dengan David.


Hingga kemudian David tersenyum tipis. "Kau memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Angkasa Nakamura, aku pernah mendengar di media kau pernah mengalami kegagalan dalam sebuah proyek? Meski aku tahu kau sekarang sudah membuat perusahaanmu jauh lebih baik, tapi kau pernah gagal. Bagaimana seorang pemilik perusahaan tidak memikirkan perencanaan dengan matang? Bisa kau jelaskan padaku?"


"Bukankah setiap orang pernah melakukan sebuah kesalahan, Tuan David?" balas Angkasa, "Aku melakukan kesalahan, karena pada saat itu aku tidak memiliki banyak waktu. Keadaan mendesak untukku mengambil sebuah keputusan. Dan aku menyadari kebodohan yang telah aku lakukan. Setelah kejadian itu, aku jauh lebih berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Aku juga pastikan, aku tidak akan lagi mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya."


David menganggukkan kepalanya, seolah mempercayai apa yang di katakan oleh Angkasa. "Jika apa yang kau katakan itu tidak terbukti? Langkah apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kau akan menyelamatkan keluargamu dari ambang kehancuran yang telah kau lakukan? Karena aku sudah melihat berita mengenai perusahaanmu terakhir, kau mendapatkan investor yang menyuntikkan dana besar padamu. Itu yang membuatmu mampu bertahan hingga detik ini. Jika tidak ada investor pada saat itu, aku yakin perusahaanmu sudah berada di jurang kehancuran."


Laretta mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia memejamkan mata singkat. Perkataan Ayahnya itu sungguh menyakitkan. Laretta ingin sekali membela Angkasa. Tapi berkali - kali pria itu memberikan isyarat, agar Laretta tetap diam dan tidak membantu. Sejak awal Laretta sangat yakin, Ayahnya akan membuat sebuah perkataan yang akan melukai perasaan Angkasa. Laretta terus merutuki dirinya harus lahir dari keluarga Mahendra. Ayah dan Kakaknya memang memiliki sifat yang tidak jauh berbeda.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.