Love And Contract

Love And Contract
Merasa Takut



**Hai... hai para readerku, yuk jangan pelit - pelit kasih tombol likenya buat author😁 Seperti biasa jangan lupa juga kasih sajen vote dan hadiah 🌷 atau ☕.


Besok yang mau crazy up sampai 6 Bab sekaligus. Author cuma mau minta tolong pada kakak - kakak semua penuhi isi kolom komentarnya dong..😭😭~ biar author lebih semangat dan rajin lagi buat Up.


Happy Reading....🤗**


"Itu adalah bukti perselingkuhan Elena. Dia berselingkuh saat menjadi kekasihku. Aku tahu kau pasti sangat terkejut dengan satu foto ini, kenapa bisa ada William di foto ini. benar bukan?" Brayen sudah menebak pertanyaan yang ada di pikiran Devita.


Devita mengangguk, dia memang tidak mengerti kenapa ada foto William di sana.


"Aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan William menjalin hubungan dengan Elena. Apa kau ingat aku pernah mengatakan kepadamu untuk menjauh dari William?" ujar Brayen dengan tatapan yang melekat pada Devita.


"Ya, aku mengingatnya," jawab Devita dengan suara yang pelan.


"Dulu, aku dan William adalah teman yang sangat dekat. Kami satu kampus di Harvard. Aku menjalin hubungan dengan kekasihku yang bernama Veronica. Aku tidak tahu, apakah aku benar mencintainya atau tidak. Tapi yang aku tahu, aku merasa sangat nyaman bersama dengannya. Sampai suatu hari aku menemukan, jika William juga menyukai Veronica. Hingga suatu saat, aku Melihat foto Veronica tidur bersama dengan William," Ucap Brayen, dia lebih memilih menceritakan masa lalunya pada Devita.


"Di saat itu, Veronica memang membuktikan padaku, jika dirinya mabuk hingga bisa tidur bersama dengan William. Tapi aku tidak mungkin memaafkannya. Aku lebih memilih untuk meninggalkan Veronica. Hubunganku dengan William berakhir sejak saat itu. Aku sudah tidak lagi mempercayai seseorang. Aku hanya dekat dengan Albert, asistenku dan juga Felix. Mereka tidak mungkin mengkhianatiku."


"Aku tidak pernah takut kehilangan apapun, jika boleh jujur, aku menikahimu awalnya karena paksaan. Daddyku mengancamku tidak akan memberikan hak warisan kepadaku, jika aku tidak menikahimu. Tapi aku sangat bersyukur akhirnya aku menikah dengan gadis sepertimu. Aku tahu, aku bukanlah pria yang baik di masa lalu. Devita, percayalah aku tidak pernah mencintai seseorang seperti ini. Dalam hidup ini, ini adalah pertama kalinya aku merasa takut. Ketakutan yang aku miliki adalah kehilanganmu, Devita"


Setelah mengatakan itu, Brayen menyentuh tangan Devita dan mengecup punggung tangan istrinya itu.


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. Air matanya mulai membasahi pipinya.


Brayen langsung menghapus air mata Devita dengan jari jemarinya. " Devita, percayalah aku sangat yakin itu bukan anakku. Anakku hanya boleh lahir dari rahimmu Devita. Tidak ada wanita yang aku inginkan selain dirimu,"


Tanpa menjawab Devita langsung memeluk erat tubuh Brayen. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Suara Isak tangisnya terdengar di telinga Brayen. Hingga membuat Brayen langsung mengeratkan pelukannya.


"Kau membuatku tidak mampu berkata - kata," Isak Devita sesegukkan dalam pelukkan Brayen.


Brayen mengurai pelukannya. Dia menarik dagu Devita. " Kalau begitu tidak perlu berkata - kata," bisik Brayen tepat di bibir Devita. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. Tidak hanya diam, Devita mengalungkan tangannya di leher Brayen, dan membalas ciuman suaminya itu.


...***...


Kini Brayen dan juga Devita tengah menikmati sarapan pagi di ruang makan. Tentu ini karena permintaan Devita. Jika sebelumnya, Brayen lebih memilih untuk sarapan di kamar. Tapi karena bosan selalu berada di dalam kamar, Devita meminta suaminya untuk sarapan di ruang makan.


"Devita, lebih baik kau mulai sekarang pergi dengan sopir," kata Brayen sembari menyesap kopi di tangannya. Tatapannya, melihat koran yang ada di hadapannya yang sedang dia baca.


"Sopir? Kenapa aku harus dengan sopir?" seru Devita. Sejak dulu Devita selalu menghindari pergi dengan sopir. Dia tidak pernah suka jika harus pergi dengan sopir. Dia lebih memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri.


Brayen meletakkan cangkir yang berisi kopi, lalu menatap dingin Devita. " Apa kau masih tidak ingat? Beberapa hari yang lalu saat kau marah? Kau membawa mobil seperti apa? Dan aku baru tahu, kau bisa membawa mobil dengan kecepatan penuh. Bahkan kau tidak ada takutnya sama sekali."


"Kau juga lupa alasanku membawa mobil seperti itu, itu karena aku marah denganmu!" Devita mendengus kesal. Dia tidak terima jika harus di salahkan.


Brayen membuang napas kasar. "Maaf, ini memang salahku. Tapi tetap saja kau tidak bisa membawa mobil seperti kemarin. Aku bersumpah akan menarik mobil sport milikmu jika kau masih mengendarai mobil seperti kemarin,"


Devita berdecak. " Jika kau mengambil mobilku. Lalu aku memakai mobil apa? Baiklah tidak apa - apa, kau masih memiliki koleksi mobil sport yang lain. Aku akan memilih mobil yang lain." Brayen menjawab dengan santai.


"Tidak, kau tidak akan aku izinkan membawa mobil sport jika cara membawa mobilmu masih seperti kemarin!" Tukas Brayen penuh dengan penekanan dan tidak ingin bantah.


"Ya, baiklah aku tidak akan membawa mobil seperti kemarin!" Cebik Devita kesal.


"Good," Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Ya," Brayen beranjak dari tempat duduknya, lalu mengecup bibir Devita. Kemudian dia dan juga Devita melangkah keluar meninggalkan ruang makan, menuju mobil mereka.


Brayen masuk ke dalam mobilnya, begitu pun dengan Devita yang masuk ke dalam mobilnya. Kini mobil mereka keluar beriringan meninggalkan mansion.


Ya, kali ini Devita tidak mungkin mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


...***...


"Devita," Olivia berlari menghampiri Devita, yang baru saja masuk ke dalam lobby.


Devita menghentikan langkahnya, dia melihat Olivia yang berlari menghampirinya.


"Kau kemana saja Devita? Sudah tiga hari kau tidak masuk. Aku yakin kau ini tidak sakit. Katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Olivia cemas. Dia tahu, pasti terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


Devita mendesah pelan dan berkata, "Panjang ceritanya, Vi."


"Kalau begitu kamu cerita sekarang." Olivia langsung menarik tangan Devita berjalan keluar dari perusahaan menuju kafe yang mereka sering datangi.


Saat tiba di kafe, Olivia memesan cokelat panas, kemudian mereka memilih duduk di dekat jendela.


"Sekarang katakan padaku, ada apa?" Olivia kembali bertanya dan menatap lekat Devita.


"Kemarin, saat aku datang ke kantor Brayen. Elena datang juga di kantor Brayen. Dan aku tidak sengaja mendengar percakapan Elena dan juga Brayen. Elena bilang jika dirinya hamil anak Brayen," jawab Devita dengan suara yang tenang.


Olivia tersentak. " What? Are you kidding me?"


"Awalnya aku berpikir itu benar anak Brayen. Aku marah dan kecewa pada Brayen. Aku juga meminta berpisah dengan Brayen. Tapi kemarin Brayen membuktikan padaku jika Elena berselingkuh darinya. Brayen sendiri ragu itu dia adalah anaknya. Tapi Brayen meyakinkanku, jika itu bukan anaknya," jawab Devita. " Brayen memberikanku foto Elena bermesraan dengan pria lain. Dan apa kau tahu? Salah satu pria yang bersama dengan Elena adalah William Dixon."


Mata Olivia membelalak terkejut, " William Dixon? Maksudmu William, pemilik perusahaan kita magang? Kau tidak bercanda kan, Devita?" seru Olivia yang masih tidak percaya.


"Aku tidak ingin membuang waktu dengan bercanda tentang ini Olivia," tukas Devita.


"Tapi bagaimana mungkin William bisa bersama dengan Elena?" Olivia menatap tak percaya, dia bahkan tidak menyangka jika Elena telah berselingkuh.


"Sudahlah lupakan. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa Elena berselingkuh. Harusnya dengan apa yang dimiliki oleh Brayen, tidak akan mungkin membuat Elena berselingkuh," balas Devita.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.