
"Hm, Devita. Dimana Laretta?" tanya Olivia ketika menyadari tidak ada Laretta di rumahnya itu.
"Laretta ada di rumah lama ku." jawab Devita. "Ada apa?"
"Bagaimana hubungan Laretta dengan Angkasa? Aku sungguh kasihan dengan mereka berdua. Usia kandungan Laretta kini sudah membesar, tidak mungkin bukan jika Laretta harus melahirkan sebelum menikah dengan Angkasa?" ujar Olivia yang mencemaskan Laretta.
Devita meletakkan piring yang berisi cheesecake di atas meja, lalu dia menatap lekat Olivia yang sedang duduk di sampingnya. "Untuk masalah Laretta aku belum berani membicarakannya dengan Brayen. Aku juga kasihan dengan Laretta. Tapi aku sendiri juga bingung harus apa.Tidak mungkin aku membicarakan ini pada Brayen, kau tahu sendiri bukan kalau suamiku sangat keras. Terlebih jika aku mengingat masalah Alena yang sudah berani menghina Laretta."
"Apa Angkasa sudah bertemu dengan Brayen?" tanya Olivia memastikan.
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin Angkasa pasti sudah bertemu dengan Brayen. Tidak mungkin jika Angkasa hanya diam saja." balas Devita.
Seketika senyum di bibir Olivia terukir. "Aku rasa, aku memiliki rencana. Aku tidak tahu, ini akan berhasil atau tidak. Tapi setidaknya kita itu bisa mencobanya."
"Rencana?" Devita mengerutkan keningnya. Menatap bingung Olivia. "Rencana apa yang kau maksud Olivia?"
Olivia mendengus. "Aku yakin pasti ada titik kelemahan suamimu. Jadi kita coba saja siapa tahu Angkasa akan menang."
"Tapi-"
"Tidak ada salahnya jika kita mencobanya, bukan? Aku juga tidak seratus persen yakin jika Angkasa akan menang. Tapi setidaknya kita telah berusaha." balas Olivia meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu aku setuju." ucap Devita, yang akhirnya menyetujui rencana Olivia.
"Ya sudah, lebih baik kita menyusul Brayen dan juga Felix," kata Devita. "Aku ingin kita pulang kerumah. Kasihan Laretta sendirian di rumah. Nanti, aku akan meminta Chef Della untuk memasak makanan untuk kita."
Olivia mengangguk setuju, kemudian Olivia dan juga Devita beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan menghampiri Brayen dan juga Felix.
...***...
Laretta menatap lukisannya yang baru saja pelayan pasangkan di dinding kamarnya. Sebuah lukisan keluarga yang kemarin dia lukis. Senyum di bibir Laretta terukir ketika melihat lukisan itu. Laretta selalu membayangkan jika lukisan itu adalah lukisan dirinya bersama dengan Angkasa dan anaknya. Meski Laretta tidak pernah tahu, dengan akhir hubungannya dengan Angkasa. Namun, setidaknya Laretta ingin bermimpi jika hubungannya dengan Angkasa akan memiliki akhir yang bahagia.
Setelah memastikan lukisannya terpasang sempurna. Laretta duduk di sofa dan mengambil majalah yang terletak di atas meja. Saat Laretta membaca majalah itu, dia melihat wajah Kakaknya berada di halaman yang paling depan. Laretta selalu bangga pada Brayen, lihat saja sekarang Brayen selalu menduduki posisi teratas. Sebenarnya tanpa melihat majalah pun, Laretta sudah tahu jika Kakaknya itu memang sangat hebat. Kemudian Laretta membuka setiap lembar halaman. Kini Laretta melihat Edwin Smith, Ayahnya Devita yang juga masuk kedalam pengusaha yang baru - baru ini menambah cabangnya di Kota K.
Namun ketika Laretta membuka halaman yang selanjutnya, dia sedikit terkejut karena melihat wajah Angkasa. Pria itu memang sungguh bekerja keras. Laretta tersenyum bangga ketika Angkasa berhasil meraih kesuksesan. Selama ini Angkasa selalu bekerja keras demi Laretta. Lepas dari itu, Angkasa juga ingin menunjukkan kepada Brayen, jika pria itu pantas bersanding dengan Laretta.
"Apa aku terlihat tampan di majalah itu?" suara bariton dari arah belakang, membuat Laretta terkejut. Dengan cepat Laretta membalikkan tubuhnya, menatap sosok pria yang kini menghampirinya. Laretta beranjak dari tempat duduknya. Saat melihat Angkasa dia langsung menarik Angkasa masuk kedalam. Lalu mengunci rapat pintu kamarnya.
"Astaga Angkasa? Apa yang kau lakukan di sini!" Seru Laretta kesal. "Kenapa kau selalu datang Angkasa? Bagaimana jika pengawal Kakakku melihatmu? Tidak selamanya kau tidak akan ketahuan. Penjagaan di rumah Kakakku begitu ketat Angkasa. Jangan pernah membahayakan dirimu sendiri!"
Angkasa melipat tangannya di depan dada, dia membiarkan wanita yang ada di hadapannya ini memarahinya. Angkasa tersenyum melihat wajah Laretta yang terlihat begitu panik. Sedangkan dirinya begitu santai seolah tidak perduli, jika memang nantinya Brayen harus melihatnya.
"Angkasa, kenapa kau diam saja? Lebih baik kau pulang sekarang, Kakakku memang tidak ada-"
Laretta tersentak, ucapannya terpotong ketika melihat Angkasa bersimpuh di hadapannya. Pria itu mensejajarkan tubuhnya demi bisa mencium perut buncit Laretta.
Angkasa tidak menjawab, di mengusap lembut perut Laretta yang sudah mulai membuncit itu. Kemudian, dia terus memberikan kecupan bertubi-tubi di perut Laretta.
Sedangkan Laretta, dia hanya diam saja melihat Angkasa yang terus menerus menciumi perutnya. Hatinya begitu menghangat dengan apa yang dilakukan oleh Angkasa. Laretta membawa tangannya, mengusap rambut Angkasa.
"Apa dia baik - baik saja?" Angkasa mendongakkan wajahnya, menatap Laretta yang masih tak bergeming dari tempatnya.
Laretta tersenyum. "Dia baik - baik saja. Kemarin Dokter Keira sudah memeriksa kandungan ku."
"Aku senang mendengarnya." Angkasa bangkit dan berdiri, kemudian menarik tangan Laretta, dan membawa Laretta untuk duduk di sofa.
"Sekarang katakan padaku Angkasa, kenapa kau itu begitu berani untuk kembali datang kesini?" Laretta kembali bertanya pasalnya, dia masih belum bisa tenang.
"Aku tahu, Brayen sedang tidak ada di rumah." jawab Angkasa. "Jadi, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Aku langsung datang kesini. Ketika anak buahku mengatakan jika Brayen sedang tidak ada di rumah."
Laretta mendesah pelan, "Tidak ada di rumah, bukan berarti Kakakku itu tidak pulang. Jangan membahayakan dirimu Angkasa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
"Tidak perlu mencemaskanku Laretta." Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Aku tidak apa-apa karena memang berjuang mendapatkanmu adalah hal yang membuatku bahagia. Itu artinya, wanita yang aku inginkan bukanlah wanita yang sembarangan. Aku harus berusaha keras untuk mendapatkan wanita itu."
Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Kau ini berlebihan sekali Angkasa."
"Aku hanya berbicara kenyataan." Angkasa mengelus lembut pipi Laretta. "Kau tidak perlu mencemaskanku, aku itu cukup tangguh melawan Kakakkmu yang arrogant itu."
Laretta berdecak. "Jangan bercanda Angkasa! Kakakku itu sangat keras! Aku rasa kau mengenal dengan baik Kakakku!"
Angkasa mengedikkan bahunya acuh. "Meskipun aku mengenal dengan baik Kakakkmu itu, bukan berarti aku harus takut. Karena aku akan tetap berdiri di depan, jika dia terus menghalangi hubungan kita."
"I know Angkasa. Kau tidak mungkin dengan mudahnya menyerah. Aku percaya padamu." balas Laretta.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.