
"Tenanglah, aku yakin pasti Angkasa bisa menanganinya. Sekarang katakan padaku, bagaimana kabar keponakanku? Apa dia sehat?" tanya Devita.
Laretta tersenyum, ia mengelus perutnya dengan lembut. "Ya, dia sehat dan belakangan ini aku sering makan banyak. Beratku sudah naik tiga kilogram."
"Kau akan tetap sangat cantik, meski beratmu naik Laretta. Aku membaca dari buku, seorang wanita hamil juga jauh lebih terlihat seksi." ujar Devita.
Laretta terkekeh kecil "Aku harap apa yang di katakan di buku itu benar,"
"Pasti benar, kau juga terlihat sangat cantik." balas Devita dan Laretta juga tersenyum.
"Hem, Devita. Apa besok kau mau ke rumah kedua orangtuaku? Aku ingin sekali melihat mereka. Tapi aku yakin, mereka pasti belum mau bertemu denganku. Apa kau mau mewakili ku melihat mereka?" pinta Laretta wajahnya berubah menjadi muram.
Devita menatap lekat wajah Laretta, lalu ia menyentuh tangan Laretta memberikan ketenangannya untuk adik iparnya itu. "Kau tidak perlu meminta seperti itu, Laretta. Dad David dan Mom Rena juga orang tuaku. Aku menyayangi mereka dan sangat menghormati mereka, sama seperti orang tua kandungku sendiri." ujar Devita.
"Terima kasih Devita." ujar Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Jangan berterima kasih, itu memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang anak," balas Devita.
"Ya sudah, aku harus ke kamar dulu mengganti pakaianku." ucap Devita dan Laretta pun mengangguk.
Kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari studio lukis. Saat Devita berjalan menuju ke kamar, ia berpapasan dengan pelayannya. Ia langsung meminta pelayan mengantarkan ice cream vanilla ke kamarnya. Pikiran dan tubuhnya begitu lelah, hanya ice cream yang bisa membuatnya lebih tenang.
...***...
Devita duduk di sofa kamar setelah ia mengganti pakaian ia langsung memilih untuk menonton televisi. Ice cream yang tadi di bawa oleh pelayan kini berada di tangannya. Ice cream memang membuat perasaan dan pikirannya jauh lebih tenang.
Saat Devita tengah menatap televisi, ia terpaku melihat berita yang ada di televisi. Devita meletakkan Ice creamnya, lalu berjalan mendekat ke arah televisi.
"Krisis Nakamura company. Kini perusahaan yang pernah selamat dari kebangkrutan beberapa tahun yang lalu, harus mengalami hal yang sama di tahun ini. President Director dari Nakamura company menekankan jika perusahannya masih bisa terselematkan. Tapi bagaimana dengan proyeknya yang gagal? Akankah Nakamura company menekankan jika perusahaannya masih bisa di selamatkan. Tapi bagaimana dengan proyek yang gagal? Akankah Nakamura Company akan selamat dari keterpurukan ini?" ucap sang reporter.
Devita tidak bergeming tubuhnya mematung saat mendengar pemberitaan mengenai perusahaan milik Angkasa. Pikirannya kini memikirkan tentang Laretta. Tapi dia juga memikirkan bagaimana keadaan Angkasa. Devita tidak mungkin mampu membantu Angkasa, meski Devita bisa membantu tetapi tidak banyak akan bisa menolong Angkasa.
"Apa yang terjadi," gumam Devita, pikirannya kini terus memikirkan keadaan Angkasa. Bagaimana pun Angkasa adalah teman masa kecilnya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Devita langsung menoleh ke arah pintu. Ia menatap Brayen yang kini sudah berdiri di depan pintu. Devita berusaha untuk tersenyum lalu melangkah mendekat ke arah Brayen. Membantu Brayen melepas dasi dan jasnya.
"Kau kenapa?" tanya Brayen yang melihat raut wajah istrinya berbeda dari biasanya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Devita yang berbohong. Ia mengambil dasi dan jas Brayen dan meletakkannya ke tempat pakaian kotor.
Brayen menarik tangan Devita dan menatap lekat mata istrinya. "Aku sangat mengenal siapa istriku. Aku tidak mungkin tidak tahu, jika kau sedang memikirkan sesuatu. Apa yang kau pikirkan?"
"T...Tidak Brayen. Aku tidak memikirkan apapun," bantah Devita, ia memalingkan wajahnya namun Brayen menarik dagu Devita dan kembali menatap lekat mata Devita. "Kau tidak pandai berbohong Devita Mahendra, katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Brayen, ia tahu istrinya itu sedang berbohong dan menutupi sesuatu darinya.
"Hem, aku melihat berita tentang perusahaan milik Angkasa. Mereka mengatakan perusahaan milik Angkasa sedang berada di ambang kehancuran. Proyek yang telah Angkasa kerjakan gagal. Apa berita itu benar Brayen?" tanya Devita hati - hati.
Brayen membuang napas kasar. " Jadi, karena masalah Angkasa kau memikirkannya sampai seperti ini?"
"Bukan begitu, Brayen. Kau salah paham. Aku hanya memikirkan perasaan Laretta. Jika sampai perusahaan Angkasa hancur itu artinya dia tidak lolos di persyaratan keduamu," ujar Devita.
"Jika dia tidak lolos, maka dia memang tidak pantas untuk menjadi suami dari adikku," balas Brayen dingin.
Devita mendengus tidak suka. " Jangan seperti itu Brayen. Kau harus membantu Angkasa. Bagaimana pun dia seperti itu karena mengikuti persyaratan darimu. Kau harus membantunya Brayen. Dan kau harus memikirkan perasaan Laretta, aku tidak tega padanya."
"Tidak Brayen! Laretta sedang hamil anak Angkasa, kau jangan seperti ini Brayen. Kau harus membantu Angkasa. Uang yang kau miliki sangat mampu untuk menyelamatkan perusahaan Angkasa," ujar Devita. Dia berusaha membujuk suaminya agar mau membantu Angkasa.
"Meski aku memiliki banyak uang aku tidak berkewajiban untuk membantunya." balas Brayen.
"Astaga, kenapa kau ini keras kepala sekali Brayen! Kau harus membantunya! Pikirkan bagaimana perasaan Laretta! Karena ini bermula dari persyaratanmu yang aneh itu!" Seru Devita yang mulai kesal. Brayen memang sangat keras kepala, dia sudah berusaha membujuknya tapi tetap saja Brayen tidak mendengarkannya.
"Persyaratan yang aku berikan kepadanya, harusnya dia mampu untuk melalui itu. Waktu yang aku berikan padanya sangat cukup," tukas Brayen.
"Tapi tidak semua orang sepertimu Brayen! Tidak semua orang mampu seperti dirimu!" Balas Devita, ia berusaha menahan emosinya.
"Aku ingin mandi, aku tidak ingin berdebat denganmu," Brayen beranjak meninggalkan Devita, ia memang tidak ingin Devita tahu rencananya. Namun, saat Brayen berjalan Devita menahan tangan Brayen. "Aku juga tidak ingin berdebat denganmu Brayen! Aku hanya memintamu untuk membantunya! Dan memikirkan perasaan Laretta!" Tukas Devita.
"Devita, dia itu seorang pria. Biarkan dia memikirkan bagaimana caranya dia menyelesaikan masalahnya." tegas Brayen.
Devita membuang napas kasar. " Jika kau tidak membantunya, maka aku yang akan membantunya!"
"Kau tidak memiliki uang sebanyak itu, Devita! Dan kau tidak bisa membantunya!" Balas Brayen.
Devita menatap lekat Brayen. " Aku memang tidak memiliki banyak uang untuk membantunya. Tapi kau jangan lupa aku adalah Istrimu. Aku berhak mengeluarkan dana besar."
"Dan kau melupakan sesuatu Devita Mahendra. Kau tidak bisa mengeluarkan dana di atas lima ratus juta dollar tanpa persetujuan dariku! Kau harus ingat itu Devita!" Tukas Brayen dingin. Lalu ia berjalan meninggalkan Devita.
Devita menggeram ia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Brayen! Lihat saja, kalau kau masih tidak mau membantu Angkasa aku akan marah besar padamu!" Seru Devita.
...***...
Sinar matahari begitu cerah, kini Devita telah besiap menuju ke kampus. Ia menatap cermin dan memoles make up tipis di wajahnya. Hari ini, Devita lebih memilih untuk berpenampilan casual namun tetap terlihat sangat cantik. Ia memilih mini skirt denim dan kaos berwarna hitam di padukan dengan sneakers berwarna pink. Devita melirik ke arah jam dinding sekarang masih pukul delapan pagi. Brayen memang sudah berangkat lebih awal, setelah perdebatan kemarin dengan dirinya Brayen lebih memilih untuk diam.
Devita mengambil tasnya yang ada di meja. Lalu ia melangkah keluar kamar menuju ke ruang makan. Perasaannya kini tidak enak karena sejak kemarin Brayen mendiamkannya. Devita hanya ingin membantu Laretta, ia tidak ingin Laretta kecewa. Selain itu Angkasa adalah teman masa kecilnya. Devita tahu, semua itu terjadi karena persyaratan dari Brayen. Itu kenapa Devita meminta ijin agar Brayen mau membantu Angkasa. Jujur, Devita tidak tega jika harus melihat perusahan milik Angkasa hancur.
"Morning Laretta," sapa Devita, saat memasuki ruang makan. Ia menatap Laretta yang hanya terdiam bahkan Laretta tidak membalas sapaannya. Devita mendekat dan duduk tepat di hadapan Laretta.
"Laretta?" panggil Devita pelan. Ia tahu, kini Laretta sedang memikirkan sesuatu.
"Ah, Devita? Kau sudah ada disini? Maaf aku melamun." ucap Laretta yang sedikit terkejut melihat Devita sudah berada di hadapannya.
Devita tersenyum. "Apa yang sedang kau pikirkan Laretta? Kenapa kau melamun?"
"Aku tidak memikirkan apapun Devita." jawab Laretta yang berusaha untuk menutupi sesuatu dari Devita.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.