Love And Contract

Love And Contract
Rencana Laretta



Brayen memarkirkan mobilnya di halaman parkir mansionnya. Kemudian Brayen turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Para pelayan pun menundukkan kepalanya ketika melihat Brayen melangkah masuk kedalam rumah.


"Selamat sore, Tuan." sapa seorang pelayan.


"Dimana istriku?" tanya Brayen dingin.


"Nyonya sedang pergi, Tuan." jawab pelayan itu


"Pergi?" Brayen menatap lekat pelayan yang ada di hadapannya itu. "Memangnya pergi kemana? Dan sejak kapan dia pergi? Kenapa dia tidak memberitahuku jika dia pergi? Harusnya kalian itu mencegahnya! Bukankah kalian sudah tahu, kalau istriku sedang kurang sehat!"


"M- maafkan saya, Tuan. Karena sebelumnya Nyonya hanya mengatakan akan pergi sebentar." pelayan itu menunduk dan tidak berani menatap Brayen. Tanpa menjawab Brayen mengambil ponselnya dan dia langsung menghubungi Devita. Satu, dua hingga lima kali panggilan tapi Devita tidak menjawabnya.


"Istriku pergi dengan sopir atau menyetir sendiri?" tatapan Brayen menatap tajam pelayan yang berdiri di hadapannya.


"Maafkan saya Tuan. Tapi hari ini Nyonya menyetir sendiri." jawab pelayan itu yang masih terus menunduk dan tidak berani melihat wajah Brayen.


"Kenapa kau membiarkannya! Bukankah aku sudah sering mengatakan jika istriku itu harus selalu bersama dengan sopir!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


"Ada apa ini?" Devita yang baru saja masuk kedalam rumah. Dia begitu terkejut mendengar suara Brayen yang membentak pelayan.


Brayen mengalihkan pandangannya. Dia menatap dingin Devita yang baru saja masuk dan melangkah mendekat ke arahnya. "Kau darimana saja Devita? Kenapa kau itu pergi tidak bilang kepadaku?"


Devita pun mendesah pelan, dia menoleh ke arah pelayan yang masih berdiri dengan tubuh yang bergetar ketakutan. "Tolong bawakan shopping bagku yang ada di dalam mobil."


Pelayan itu mengangguk patuh, lalu undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.


"Kau belum menjawabku Devita!" Tukas Brayen yang terus menatap dingin Devita.


Tanpa menjawab, Devita langsung memeluk lengan Brayen dan langsung mengajaknya masuk ke dalam kamar. Devita memang sengaja tidak memberikan kabar kepada Brayen. Karena dia tidak mengira jika Brayen akan pulang cepat ke rumah.


Saat tiba di kamar, Devita langsung melepaskan sepatunya dan meletakkan tasnya di atas meja rias. Kemudian membantu Brayen melepaskan dasi dan juga jasnya.


"Kenapa kau pergi tidak memberitahuku, Devita?" Brayen kembali bertanya. Kali ini tersirat jelas geraman kemarahan dari suaminya itu.


Devita menarik Brayen untuk duduk di sofa, dan tanpa di duga Devita langsung duduk di pangkuan suaminya itu. Devita mengelus dengan lembut rahang suaminya itu. "Maaf sayang, tadi aku berbelanja dengan Olivia. Aku tidak memberitahumu, karena aku pikir kau akan pulang malam. Lagi pula, aku juga hanya pergi sebentar."


Brayen membuang napas dengan kasar, dan berusaha untuk menurunkan emosinya. "Kau harus tetap bilang padaku, Devita. Dan kenapa kau itu hari ini tidak pergi dengan sopir? Bukankah aku sudah sering mengatakannya kepadamu? Aku itu sudah tidak memperbolehkanmu untuk membawa mobil sendiri. Kenapa kau membantah perintahku Devita!"


"Maaf Brayen," Devita mengerutkan bibirnya dan tidak ada pilihan lain lagi selain merajuk dan meminta maaf pada suaminya itu. "Aku hanya bosan di rumah. Jadi, aku pergi berbelanja. Aku juga tidak bersama dengan sopir, karena aku itu sudah terbiasa untuk membawa mobil sendiri."


Melihat wajah Devita yang sudah seperti ini, tidak mungkin Brayen bisa marah berlama-lama dengan istrinya. Brayen mengeratkan pelukannya dan merapatkan tubuh Devita ke tubuhnya. "Jangan pernah ulangi lagi Devita, kalau kau ingin berbelanja. Kau tetap harus bersama dengan sopir.Minggu depan aku akan meminta Albert untuk mencarikan Asisten untukmu. Waktu itu aku sempat menunda mencarikannya. Tapi sekarang, aku rasa kau sangat membutuhkannya."


"Tidak Brayen," tolak Devita cepat.


"Kau tidak bisa membantahku Devita!" Tukas Brayen.


Devita mendesah pelan, "Ya, baiklah. Dan terserah kau saja."


Brayen menempelkan keningnya pada kening istrinya. "Aku hanya khawatir sayang. Aku tidak akan bisa tenang, jika kau hanya pergi sendiri,"


Devita tersenyum dan memeluk lengan Brayen dan menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku tahu, Brayen. Maaf, sudah membuatmu cemas. Lain kali aku tidak akan membuatmu cemas lagi."


Brayen tidak menjawab dan dia hanya tersenyum samar. Brayen kemudian mengeratkan pelukannya dan mengusap lembut punggung istrinya.


...***...


Suara ketukan pintu terdengar. Membuat Devita yang masih tertidur pulas harus terganggu karena suara dari ketukan pintu. Devita menggeliat dan mengerjap, Tangan kanan Devita mengusap kesamping kanannya. Ketika Devita merasakan ranjangnya sudah kosong, Devita menoleh dan ya benar saja, Brayen sudah tidak ada di ranjang. Devita mendesah kasar, dia beranjak dan mengikat asal rambutnya. Kemudian berjalan membuka pintu kamar.


Ceklek.


Pintu terbuka, dan kini Devita menatap Laretta yang sudah berada di hadapannya.


"Morning, Devita. Maaf aku sudah menganggumu di pagi hari seperti ini?" ucap Laretta.


"Morning Laretta, tidak apa - apa. Masuklah," balas Devita dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"Devita, aku sudah meminta pelayan untuk membawakan kita sarapan di sini." ujar Laretta yang kini sudah duduk di sofa.


Pandangan Devita kini teralih menatap note yang berada di atas nakas. Dan Devita sudah yakin, itu note dari Brayen. Dengan cepat Devita langsung mengambil note dan membacanya.


*Sayang, maaf aku tidak membangunkanmu. Hari ini aku memiliki meeting dengan rekan bisnisku dari Moscow dan nanti malam, kau tidurlah duluan. Aku akan pulang terlambat. Your Husband - Brayen*


Devita mendengus, dia sudah menduga isi note yang di tulis oleh suaminya itu pasti mengatakan permintaan maaf karena tidak membangunkan dirinya.


"Devita?" panggil Laretta ketika melihat Devita yang tengah membaca sebuah note di tangan wanita itu.


Devita menoleh dan menatap Laretta. "Ya, Laretta?"


"Kak Brayen berangkat lebih awal?" tanya Laretta.


Devita menghela nafas dalam. "Seperti biasa, kau sudah tahu kebiasaan dari Brayen."


Laretta mengulum senyumannya. "Ya sudah, lebih baik kau mandi. Aku akan menunggumu untuk sarapan."


"Ya kau benar, lebih baik aku mandi." balas Devita. Tanpa menunggu lama, Devita langsung melangkah menuju ke arah kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian, kini Devita sudah selesai mandi. Setelah selesai mengganti baju, Devita menghampiri Laretta yang tengah asyik menonton film.


"Laretta, maaf sudah membuatmu menunggu lama." kata Devita yang saat ini sudah duduk di samping Laretta.


"Kau yang tidak perlu untuk meminta maaf. Karena aku yang sudah menganggu tidurmu." balas Laretta. "Sudah, lebih baik kita sarapan. Tadi pelayan sudah membawakan sandwich tuna dan susu kacang untuk kita."


"Aku juga sudah lapar," Devita mengambil sandwich tuna yang sudah di hidangkan di atas meja dan mulai menikmatinya.


"Devita, ada hal yang ingin aku katakan padamu, mengenai ulang tahun Kak Brayen," kata Laretta sambil menikmati sarapannya"


"Ada apa?" Devita menatap Laretta dengan serius.


"Aku sangat yakin, Kakakku itu sangat lupa dengan ulang tahunnya. Sejak dulu, Kak Brayen memang tidak terlalu mengingat hari ulang tahunnya sendiri karena kesibukannya." ujar Laretta. "Jadi, aku rasa kita itu harus membuat kejutan yang berbeda di tahun ini."


"Berbeda bagaimana maksudmu, Laretta?" Devita menautkan alisnya menatap bingung Laretta. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Adik iparnya itu.


"Begini Devita, aku ingin kau mendiamkan Kakakku sampai dia berulang tahun. Jika Kakakku mengajakmu berbicara, kau tidak perlu untuk meresponnya," jelas Laretta.


"Lalu bagaimana kalau dia memaksa? Kau seperti tidak tahu Kakakmu itu. Dia itu selalu memaksa, dan aku rasa tidak mungkin Brayen membiarkan aku mendiamkannya." balas Devita.


"Kau bisa beralasan dengannya, Devita. Kau ini kan sedang hamil, dan seorang ibu hamil itu selalu sensitif dan mudah untuk marah." kata Laretta mengingatkan.


Seketika raut wajah Devita pun berubah, benar apa yang di katakan oleh Laretta. Seperti biasa dirinya akan selalu menggunakan kehamilannya. Devita pun tersenyum senang, menjadi ibu hamil membuat keuntungan tersendiri baginya. Brayen juga akan lebih menuruti dirinya dan memilih untuk mengalah. Jika saja Devita tidak hamil, mungkin suaminya itu tetap dengan sifatnya yang menyebalkan.


"Bagaimana? Apa kau setuju denganku?" seru Laretta.


Devita mengangguk, "Aku sangat setuju sekali. Sesekali aku ingin mendiamkan suamiku itu dan aku juga ingin lihat, apa yang akan dia lakukan jika aku mendiamkannya."


Laretta tersenyum. "Besok, aku sudah menyiapkan semuanya."


"Terima kasih, kau memang sangat membantuku, Laretta." balas Devita.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.