
"Diam kau! Beraninya kau menutupi ini dariku! Kemarin kau pergi kemana?! Sudah lama kalian tidak bertemu, apa kau sudah berciuman dengannya? Katakan Devita!" Bentak Brayen.
"Tidak Brayen! Aku tidak serendah itu!" Bentak Devita.
"Diam kau sialan! Aku akan membuktikannya sendiri dia menyentuhmu atau tidak!" Brayen melangkah mendekat ke arah ranjang dan melempar jas sembarangan, Devita yang duduk di ranjang langsung memundurkan badannya saat Brayen melepas kemejanya. Wajah Brayen penuh dengan amarah.
"B... Brayen. Kau mau apa?" ucap Devita gugup saat melihat Brayen melepas kemejanya.
"Aku akan membuktikannya!" Seru Brayen.
Brayen langsung menarik paksa kaki Devita, hingga membuat Devita terbaring di ranjang. Dengan cepat Brayen langsung naik ke atas Devita. Lalu dia paksa menarik paksa dress Devita hingga robek dan melemparnya sembarangan.
"B... Brayen jangan seperti ini. Aku tidak mau Brayen" Devita berusaha mendorong dada Brayen. Namun sia - sia, Brayen mengunci tubuh Devita. Hingga membuat tubuh Devita tidak bisa bergerak.
"Hari ini, aku akan membuktikannya. We just having *** not make love." desis Brayen tajam.
Wajah Devita menegang dia ingin memberontak namun Brayen mengunci tubuhnya. Dia kembali berusaha mendorong tubuh Brayen tapi Brayen semakin mengunci tubuhnya.
"B... Brayen jangan..." ucap Devita. Kini air matanya mulai membasahi pipinya.
Tanpa memperdulikan ucapan Devita. Brayen langsung melepaskan pengait bra Devita. Tidak hanya itu Brayen menarik ****** ***** Devita dengan kasar. Kemudian dia menghisap keras leher Devita. Hingga membuat Devita menjerit merasakan sakit.
Kini Brayen mencium dengan kasar gundukan kembar di dada Devita hingga membuat Devita menjerit. Devita tidak bisa merasakan sentuhan lembut suaminya seperti biasa, yang dia rasakan rasa sakit yang Brayen lakukan padanya.
"Brayen hentikan." ucap Devita dengan suara yang lemah. Air matanya terus membasahi pipinya.
Saat Brayen bangkit, Devita berusaha berlari, namun Brayen menarik Devita dan membanting Devita ke ranjang.
Brayen naik ke atas tubuh Devita dan langsung mencium kasar bibir Devita. Brayen tidak memperdulikan rintihan dan air mata Devita. Kini dirinya hanya penuh dengan kemarahan. Kemudian Brayen pun langsung menyatukan miliknya dengan milik Devita dengan paksa. Devita menjerit kesakitan, dirinya belum siap namun Brayen tidak memperdulikannya.
Brayen menghentakan miliknya semakin dalam. Menambah temponya dengan cepat, Devita terus menjerit dan menangis. Namun, Brayen sama sekali tidak mendengarkannya. Brayen terus menghentakkan miliknya.
Sentuhan Brayen begitu kasar, Devita merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Devita sudah tidak lagi menangis, perlahan Devita membiarkan Brayen melakukannya dengan kasar. Hingga akhirnya Brayen mendapatkan pelepasan. Tubuh Devita lemah bahkan dirinya terlihat begitu pucat.
Brayen bangkit berdiri kembali memakai bajunya. Tanpa memperdulikan keadaan Devita, Brayen berjalan meninggalkan kamar. Ia harus segera meninggalkan kamar sebelum dirinya menyakiti Devita.
Melihat Brayen pergi, Devita menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Devita terisak pelan melihat perbuatan Brayen. Devita tahu, Brayen sangat marah padanya. Tapi dia tidak menyangka Brayen akan melakukan ini padanya.
Tubuh Devita terasa remuk, Devita bahkan tidak mampu beranjak dari ranjang. Hatinya begitu sakit dengan perbuatan Brayen. Meski dia tahu, semua karena Devita yang menutupi ini. Dari awal Devita hanya takut Brayen akan salah paham dan itu terbukti. Sekarang Brayen sudah mengetahuinya sebelum Devita menceritakannya.
Perlahan Devita mulai memejamkan matanya
, berusaha untuk melupakan tindakan kasar Brayen padanya. Meski dirinya merasakan sakit, tapi ini tidak sepenuhnya salah Brayen.
...***...
Suara dentuman musik terdengar hingga keluar, Brayen memarkirkan mobil Bugatti Veyron miliknya di parkiran Moisellee klub malam yang terkenal di kota B. Brayen turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam klub malam. Klub malam ini biasanya di datangi oleh para artis dan kalangan atas. Ya, Brayen memilih mengalihkan emosinya pergi ke klub malam. Dia tidak ingin lebih menyakiti Devita.
Beberapa wanita berusaha menggoda Brayen. Namun, dengan hanya melayangkan tatapan tajam pada para wanita itu. Membuat wanita itu tidak berani mendekati dirinya.
Tujuan Brayen mendatangi klub malam, selain karena tidak ingin menyakiti Devita, pikirannya kini tidak bisa berpikir jernih. Rasa marah di dirinya semakin bertambah, mengingat Devita telah membohonginya. Bukan hanya itu, bahkan Devita bertemu dengan Angkasa di belakang Brayen. Jika mengingat itu, Brayen ingin membunuh Angkasa di detik ini juga.
Brayen masuk ke dalam ruang VVIP, dia sudah melihat Felix yang sedang di kelilingi oleh para wanita. Felix memang datang ke klub setiap malam. Felix yang melihat Brayen masuk kedalam ruang VVIP, dia langsung beranjak dan meninggalkan para wanita yang mengelilinginya.
"Brayen, kau di sini?" sapa Felix, dia mendekat ke arah Brayen dan duduk di samping sepupunya.
"Ya," Brayen meneguk Vodka di tangannya hingga tandas.
"Banyak yang aku pikirkan," ucap Brayen dingin.
"Tentang apa? Tentang Istrimu?" Felix menautkan alisnya dan menatap Brayen.
Brayen memilih diam, dan tidak menjawab. Dia kembali menegak vodkanya. Entah sudah gelas ke berapa. Tapi Brayen masih enggan untuk membahas tentang Devita.
Felix menggeleng pelan. " Aku jadi ingat aku belum menepati janjiku pada Devita untuk berkunjung ke rumah kalian. Belum aku berkunjung, kalian sudah bertengkar."
"Jangan membahasnya! Aku sedang tidak ingin membahas dia!" Balas Brayen dengan dingin. Wajahnya menunjukkan penuh amarah ketika Felix menyebut nama Devita.
Felix tersenyum sinis. " Kau ini seperti anak kecil, memiliki masalah tapi menghindar."
Brayen kembali menegak vodkanya. "Pria yang Devita cintai telah kembali. Devita menipuku!" Ucapnya dengan penuh amarah.
"Brayen, harusnya kau membahas ini bukan denganku. Kau bicara baik-baik dengan Istrimu. Sekarang kau malah datang ke klub dan mabuk seperti ini," seru Felix dengan kesal. Pasalnya sepupunya itu tidak menyelesaikan masalah langsung dengan Devita, tapi malah dengan mendatangi klub malam.
"Berikan aku seorang wanita yang cantik, Felix. Biarkan dia menemaniku malam ini." Brayen menegak vodkanya. Entah sudah berapa gelas. Rasanya dengan minum, masalah yang ada di pikirannya mulai berkurang.
"Jangan bertindak sesuatu yang kau akan menyesalinya di kemudian hari, Brayen! Aku sudah memberikan peringatan padamu, lebih baik kau, ku antar pulang, kau sudah mabuk!" Tukas Felix tegas. Tatapannya penuh peringatan pada Brayen.
"Lebih baik, kau antarkan aku satu wanita! Aku ingin dia mengantarkan aku pulang kerumah!" Brayen tidak memperdulikan ucapan Felix. Dia hanya ingin di temani oleh satu orang wanita saat ini. Tubuh Brayen mulai ambruk, namun dengan cepat Felix menahan tubuh sepupunya itu.
"Kau ini sudah gila? Bagaimana jika Devita melihatnya! Dia akan salah paham padamu!" Seru Felix kesal. Dia paling benci jika berhadapan dengan orang mabuk seperti ini. Pikirannya sering di luar akal sehat dan bertindak gegabah. Felix hanya tidak ingin Brayen menyesali apa yang akan dia lakukan, saat dirinya sudah tersadar nanti.
"Berisik sekali kau, Felix! Lebih baik panggilkan aku satu wanita! Aku hanya meminta dia untuk mengantarkan aku pulang!" Jawab Brayen menekankan. Felix masih memegang terus tangan Brayen, menopang tubuh sepupunya agar tidak jatuh.
Felix membuang napas kasar. " Ingat Brayen, dia hanya mengantarmu pulang. Jangan berbuat sesuatu yang akan kau sesali belakangan."
Tanpa menunggu lama, Felix meminta pelayan mengantarkan satu wanita cantik untuknya. Tatapan Felix kini teralih pada sosok wanita yang sangat cantik dan seksi dengan balutan gaun berwarna maroon yang mencetak lekukan tubuh indahnya. Lalu wanita itu mendekat kearah Felix.
"Siapa namamu?" tanya Felix dingin. Suaranya tidak menunjukkan keramahan pada wanita yang ada di hadapannya.
"Jenifer," jawab seorang wanita bernama Jenifer. Tatapannya begitu menggoda, bibir penuh dan bentuk tubuh yang begitu seksi itu, mampu membuat para pria tidak henti menatapnya.
"Alright, ini sepupuku. Aku rasa kau mengenalnya, sudah sejak tadi aku melihatmu tidak henti menatap dirinya. Aku memintamu untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya. Ingat hanya pulang. tidak melakukan apapun. Pria ini sudah beristri. Jika kau berani mencoba merayunya, aku bersumpah akan menghancurkanmu," tukas Felix tajam penuh dengan ancaman.
Jenifer mengangguk cepat. " Aku mengerti,"
Kemudian Jenifer mendekat ke arah Brayen. Saat Brayen melihat sosok wanita cantik mendekat ke arahnya, dia langsung tersenyum. " Kau cantik sekali, kau harus menemaniku pulang. Aku ingin menunjukkanmu di depan Istriku."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.