
Laretta menunduk, dia sama sekali tidak berani melawan Brayen. Laretta tahu, jika sampai dia berani melawan Kakaknya, sama saja dengan mencari masalah baru. Meski sebenarnya Laretta sungguh tidak tega, tapi dia tidak mampu melakukan apapun. Masalah Alena yang menghina dirinya. Laretta sudah memaafkan itu. Laretta sudah tidak lagi mempermasalahkan itu. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan Laretta sudah memaafkan Alena, jauh sebelum Alena meminta maaf.
Sedangkan Devita, dia memilih untuk diam. Devita tidak berani bersuara jika Brayen sedang di penuhi dengan amarah. Setelah ini, Devita akan berbicara berdua dengan suaminya. Devita berharap, dirinya bisa membujuk suaminya itu.
"Brayen, kau sangat keterlaluan. Jangan seperti itu!" Tukas Felix. "Dia tahu, apa yang di lakukan oleh adiknya Angkasa sulit di maafkan. Tapi Felix tidak menyangka Brayen akan meminta hal yang seperti itu.
"Lebih baik kau jangan ikut campur!" Peringat Brayen tajam.
"Aku pastikan Alena akan meminta maaf pada Laretta. Tapi, biarkan aku saja yang berlutut menggantikan posisi adikku. Kau bebas mempermalukanku di depan media. Lakukan sepuasmu Brayen Adams Mahendra. Bukan aku ingin membela adikku, tapi jika dia di permalukan di media sama saja menghancurkan masa depannya. Aku tahu, apa yang di lakukan adikku itu salah. Dan aku tidak akan membela adikku yang telah melakukan kesalahan. Aku menggantikan posisi adikku bukan untuk membelanya, tapi sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang Kakak."
"Sama seperti dirimu bertanggung jawab pada Laretta, aku juga tidak bisa menghilangkan kenyataan dimana aku bertanggung jawab pada Alena. Kau menyayangi adikmu dan ya aku juga menyayangi adikku. Kau sudah menjebloskan adikku kedalam penjara aku sama sekali tidak membelanya. Aku membiarkan proses hukum berjalan. Aku akan berdiri yang paling depan jika Laretta kembali tersakiti. Tapi, jika kau meminta persyaratan mempermalukan adikku seperti itu, maka aku yang akan menggantikannya. Aku berharap kau mengerti dengan apa yang aku katakan. Dan aku tegaskan, aku tidak akan membela adikku yang sudah melakukan kesalahan. Aku hanya bertanggung jawab atas adikku."
Angkasa mengatakannya dengan suara yang tenang. Baik Angkasa dan Brayen saling melemparkan tatapan dingin satu sama lain. Bukan Angkasa ingin membela Alena, hanya saja Angkasa ingin bertanggung jawab atas adiknya. Angkasa tidak peduli jika dirinya harus berlutut meminta maaf di hadapan media sekalipun. Bagi Angkasa, memperjuangkan Laretta adalah hal yang harus di lakukan dan tidak akan pernah ada kata menyerah.
Brayen tersenyum sinis mendengar perkataan Angkasa. "Kau menggantikan posisi adikmu? Bukannya aku sudah mengatakan, kalau aku tidak memiliki sifat baik? Kau pikir aku akan menerima permintaan maaf jika kau yang melakukan itu? Aku hanya ingin melihat adikmu yang di permalukan. Sama seperti adikmu yang sudah mempermalukan adikku. Jika aku berada di posisimu, aku tidak akan bertanggung jawab. Aku selalu mengajarkan adikku, untuk menerima akibat dari segala yang telah dia lakukan."
Angkasa terdiam, dia tidak mampu lagi untuk berkata - kata. Kali ini, perkataan Brayen sukses membuat dirinya bungkam.
"Brayen.... " tegur Devita pelan. Dia langsung menyentuh lengan suaminya.
"Lebih baik sekarang, kau ganti pakaianmu." Devita sengaja melakukan ini. Dia ingin menghentikkan perdebatan ini.
"Laretta, kau bawa Angkasa ke kamar tamu. Nanti aku akan meminta Nagita untuk menyiapkan makanan untuk kalian." ujar Devita. "Kau juga Felix, bawa Olivia masuk. Lebih baik kalian beristirahat. Nanti Nagita akan membawakan makanan untuk kalian."
Setelah mengatakan itu, Devita langsung memeluk lengan Brayen masuk kedalam. Beruntung Brayen memilih diam dan menuruti keinginannya.
"Olivia, kita masuk kedalam. Aku memiliki kamar di sini." Felix memeluk bahu Olivia, membawa kekasihnya untuk masuk kedalam kamarnya.
"Angkasa...." Laretta mengelus lembut pipi Angkasa. "Maafkan Kakakku, aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan membiarkanmu di permalukan di media. Jangan lakukan itu, Angkasa. Jika kau tetap melakukan itu, aku tidak akan pernah lagi muncul di kehidupanmu."
Suara tenang milik Laretta tersirat penuh dengan peringatan. Bagaimana pun, Laretta tidak mungkin bisa menerima Angkasa melakukan itu demi dirinya. Laretta tahu, apa yang di lakukan Brayen karena Kakaknya itu begitu menyayangi dirinya. Tapi, ini sungguh keterlaluan. Sejak dulu, Laretta mengenal sifat keras Brayen. Kakaknya itu juga akan selalu menaruh dendam pada orang yang telah mengusik keluarganya.
Angkasa menyentuh tangan Laretta dan membawanya mendekat ke bibirnya lalu mengecup punggung tangan wanita itu. "Aku melakukan ini demi dirimu. Semua kesalahan ada padaku. Aku pernah gagal melindungimu. Tapi aku berjanji, aku tidak akan lagi gagal dalam menjagamu. Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain melukaimu Laretta."
"Kau boleh melindungiku tapi tidak dengan mempermalukan dirimu Angkasa." balas Laretta menekankan. "Aku bersumpah, akan menjauh darimu jika kau sampai melakukan itu. Bagaimana pun aku tidak ingin melihat pemberitaan media yang buruk tentang dirimu."
"Laretta-"
"Angkasa please, aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu, jika kau melakukan itu. Aku akan sungguh - sungguh melakukan itu. Jangan lakukan itu Angkasa..." Laretta langsung memotong ucapan Angkasa dengan nada tegas.
Laretta tersenyum hangat, lalu menganggukan kepalanya. Dia langsung memeluk Angkasa meninggalkan badminton court menuju ke arah tamu.
...***...
Brayen berjalan keluar dari arah kamar mandi. Kini dirinya sudah mengganti pakaiannya hanya dengan menggunakan celana training panjang. Seperti biasa Brayen tidak pernah memakai baju jika di dalam kamar. Brayen menatap Devita yang tengah melamun dan duduk di sofa. Dia mendekat lalu duduk di samping istrinya itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" tegur Brayen. Dia menarik tangan Devita membawanya kedalam pelukannya.
Devita menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Aroma parfum maskulin begitu menyeruak di penciumannya. Beberapa saat Devita tidak menjawab pertanyaan dari Brayen. Dia memilih untuk menghirup aroma parfum suaminya itu. Hingga kemudian, Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Bertanya?" Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya itu. "Kau ingin bertanya apa?"
"Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?" Devita menatap serius Brayen. Meski tentunya dia tahu, Brayen tentu sangat mencintai dirinya. Hanya saja,Devita butuh untuk bertanya ini pada Brayen.
Brayen tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari Devita. Dia menempelkan keningnya pada kening istrinya. "Kau sangat tahu, kau adalah pusat kehidupanku." bisiknya tepat di bibir Devita
"Kalau begitu, maukah kau menuruti permintaanku?" pinta Devita dengan tatapan yang memohon.
"Apa yang kau inginkan?" Brayen menangkup kedua pipi Devita, dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir istrinya itu.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.