
"Olivia, dimana Laretta?"
Suara Angkasa dari arah belakang, membuat Olivia menoleh ke sumber suara itu. Olivia menatap di hadapannya sudah ada Angkasa, Felix dan juga Brayen.
Beruntung, Alena sudah pergi sejak tadi. Jika masih di sini, mungkin di pesta ini akan terjadi keributan karena Alena sudah berani menganggu adik dari Brayen Adams Mahendra.
"Laretta sedang berada di toilet bersama dengan Devita?" jawab Olivia.
"Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Angkasa. Dia menatap wajah Olivia yang terlihat begitu kesal.
"Tidak, hanya saja gaun Laretta yang ketumpahan minuman." bukannya tidak ingin jujur, tapi Olivia tidak ingin membuat keributan di pesta pertunangan ini. Olivia tahu, Brayen tidak hanya akan tinggal diam ketika adiknya mengalami masalah.
"Aku akan menyusul mereka." tukas Brayen.
"Aku ikut denganmu," Angkasa melangkah ke arah Brayen, dan mereka berjalan menghampiri ke arah Devita dan juga Laretta yang masih berada di toilet.
...***...
"Laretta, sepertinya bajumu terlalu basah. Kau harus mengganti gaun yang baru," ujar Devita menatap depan baju Laretta.
Laretta mendesah pelan, "Aku tidak membawa gaun ganti di mobil. Hari ini aku datang di jemput oleh Angkasa. Jadi tidak mungkin ada gaun di mobil Angkasa."
"Aku juga tidak membawa gaun, aku juga tidak pernah membawa gaun cadangan di mobil Brayen," balas Devita. "Kali ini Alena memang sungguh keterlaluan, aku sungguh tidak bisa memaafkannya. Kenapa sekarang sifatnya menjadi seperti itu."
"Aku tidak apa-apa Devita, mungkin dia memang benar tidak sengaja." Laretta mengelus lengan Devita. "Jangan membencinya, bagaimanapun juga dia adalah teman masa kecilmu Devita. Aku tidak ingin hubungan kalian yang sudah terjalin baik, harus jadi berantakan karena aku."
"Ini semua bukan karenamu Laretta. Alena sendiri yang sudah bersikap keterlaluan seperti itu. Aku sungguh seperti tidak mengenal Alena. Lagi pula, kau adalah adik iparku. Aku tidak mungkin jika tidak membelamu Laretta. Aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri," ujar Devita. "Aku juga tidak mungkin hanya diam saja, jika ada yang melukaimu Laretta. Terlebih kalau Brayen sampai tahu tentang semua ini, aku yakin Brayen akan memberikan pelajaran pada Alena."
Laretta tersenyum, "Aku juga menyayangimu Devita. Terima kasih sudah memperdulikan ku. Aku yakin, aku dan Alena akan memilki hubungan yang baik. Sudah, jangan lagi di permasalahkan. Lebih baik kita keluar sekarang. Pasti semua orang sudah menunggu kita."
Devita menghela nafas dalam. "Ya kau benar. Lebih baik kita keluar sekarang."
Laretta memeluk lengan Devita, kini mereka berjalan keluar dari toilet. Namun, saat Laretta dan juga Devita baru saja keluar, dia menatap sosok pria yang berdiri di depan pintu. Pria itu menatap Devita dengan tubuhnya yang bersandar ke dinding dan tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"Hi, you're looking stunning." pria itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Devita.
"Kau? Kenapa kau muncul lagi di hadapanku? Bukannya aku sudah mengatakan padamu, jangan lagi menggangguku!" Seru Devita. Dia melayangkan tatapan dingin pada pria yang ada di hadapannya. Tersirat wajah Devita yang tidak suka pada pria yang ada di hadapannya.
"Kau Tuan Raymond bukan? Kakak dari Davin? Bisakah kau tidak menganggu Kakak Iparku?" tukas Laretta tegas.
Raymond tertawa rendah, "Laretta Gissel Mahendra, aku hanya ingin menyapa Kakak Iparmu saja. Malam ini dia terlihat begitu menakjubkan. Ternyata, istri dari Brayen Adams Mahendra memiliki tubuh yang sangat indah. Dan sudah sejak tadi, mataku tidak berhenti menatap dirinya."
Raymond mengatakan dengan santai, tatapannya terus menatap Devita. Karena sudah sejak tadi Raymond menatap Devita, terlihat jelas di wajah Raymond jika ia menatap kagum penampilan Devita pada malam ini.
"Bisakah kau tidak mengangguku?" seru Devita.
"Aku hanya menyapa sayang, karena malam ini kau terlihat begitu sangat cantik dan seksi. Aku tidak bisa berhenti untuk menatap dirimu." jawab Raymond.
Raymond mengedikkan bahunya acuh, "Terkadang menyukai seseorang memang sering membuat kita tidak waras."
"Laretta, lebih baik kita pergi dari sini. Karena aku tidak ingin melihatnya." ucap Devita, kemudian Devita langsung menarik tangan Laretta dan berjalan meninggalkan Raymond. Namun, langkah mereka terhenti ketika Raymond menghadang Devita dan juga Laretta.
"Apa begitu caramu menyapa seseorang Nyonya Devita Mahendra? Apa tidak bisa kita mengobrol sebentar?" tanya Raymond sambil tersenyum miring. "Paling tidak, sebagai istri dari Brayen Adams Mahendra. Kau itu, berbicara dengan orang lain harus dengan ramah dan baik. Sehingga bisa menunjukkan pencitraan yang bagus di hadapan publik. Bukankah itu sebuah keharusan Nyonya Devita Mahendra?"
"Listen to me! Aku tidak membutuhkan sebuah pencitraan di hadapan publik! Aku tidak perduli, jika publik akan menilaiku seperti apa? Jadi, lebih baik kau menyingkir saja dari hadapanku sekarang!"
Devita mengatakannya dengan tegas, tersirat raut kemarahan di wajahnya. Tapi Devita terus berusaha untuk menahan diri. Karena Devita tidak ingin mencari masalah di pesta pertunangan ini.
"Ah begitu? Kalau seperti itu, kau adalah wanita yang seperti aku inginkan. Cantik dan mengagumkan." balas Raymond.
"Sungguh berani sekali kau menginginkan istriku!"
Suara bariton meninggi di ruangan itu. Hingga membuat Devita dan Laretta menoleh ke sumber suara itu. Devita menelan salivanya susah payah. Seketika Devita tidak mampu berkutik. Brayen melayangkan tatapan tajam dan penuh kemarahan di wajahnya.
Raymond membalas tatapan dari Brayen, dia menaikkan sebelah alisnya. "Kau di sini? Tadi aku lihat kau sedang berbicara dengan rekan bisnismu. Jadi aku langsung menghampiri istri cantikmu ini. Tidak salah bukan? Lagi pula aku sudah beberapa kali bertemu dengan istri cantikmu ini?"
"Apa maksudmu sudah beberapa kali bertemu dengan istriku?" seru Brayen. Dia melangkah mendekat, dan membawa Devita berdiri di belakangnya. Sedangkan Angkasa langsung menghampiri Laretta.
"Apa kau sudah lupa? Aku pernah bertemu dengan istrimu di Las Vegas? Tidak hanya itu, tapi beberapa kali istri cantikmu itu datang ke toko jam milikku. Dan yang pasti kau tahu, toko jam itu milik Davin." jawab Raymond dengan santai.
Seketika rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. tatapannya semakin menajam ke arah Raymond.
"Lebih baik kau pergi sekarang, sebelum aku menghabisimu di sini!" Tukas Brayen tajam.
Raymond melangkah mendekat ke arah Brayen. Kini jarak mereka begitu dekat, dengan tatapan saling membenci satu sama lain. "Dengar Tuan Brayen, ketika orang menjadi kekasih bisa putus , lalu kenapa jika sudah menikah tidak bisa bercerai? Apa kau ingat pepatah seperti itu, Tuan Brayen Adams Mahendra?" Raymond menyeringai setelah mengatakan itu.
BUGH.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.