Love And Contract

Love And Contract
Kekhawatiran Devita



"Aku sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan restu dari kedua orangtuaku Devita. Ini benar - benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bahkan Kakakku Brayen juga membantunya." ujar Laretta.


Devita menyentuh tangan Laretta, lalu mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Aku tahu, kau akan bahagia Laretta. Aku juga tahu, Brayen melakukan ini karena dia begitu menyayangi dan mencintaimu."


"Ya kau benar, karena sejak kecil Kakakku memang selalu melindungiku." balas Laretta dengan senyumannya.


Seketika wajah Olivia muncul di pikiran Devita. Sekarang Laretta sudah bahagia dengan Angkasa. Devita juga berharap agar Olivia bisa bahagia dengan Felix. Devita tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan sahabatnya itu.


"Devita, kau kenapa?" Laretta menegur ketika melihat wajah Devita berubah menjadi lebih muram.


"Aku ingat Olivia," jawab Devita dengan helaan nafas berat. "Melihatmu sudah mendapatkan kebahagiaan, aku juga ingin jika Olivia mendapatkan kebahagiaan. Olivia adalah sahabat baikku sejak kecil. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Dia terlihat berusaha tersenyum di hadapanku, meski aku tahu sebenarnya Olivia ingin menangis."


"Devita, aku yakin Olivia dan Felix juga akan bahagia. Aku percaya itu Devita." kata Laretta yang berusaha untuk menenangkan kekhawatiran Devita. "Lalu bagaimana dengan Olivia? Aku sudah menjenguknya ketika dia sudah sadar. Dan kapan Olivia bisa pulang?"


"Aku belum tahu, tadi pagi aku sudah mengirimkan pesan pada Felix, tapi Felix bilang akan mengabari aku lagi sore ini. Rencananya besok aku akan menjenguk Olivia. Aku juga ingin membawakan makanan kesukaan Olivia." balas Devita.


"Olivia memang begitu beruntung memiliki sahabat sepertimu, Devita. Kau sangat baik dan begitu perhatian pada Olivia." Laretta menatap kagum Kakak Iparnya itu. Wajar saja jika Brayen begitu mencintai Devita. Karena memang Devita adalah wanita yang sangat baik.


Devita tersenyum tipis, "Sudah, jangan berlebihan Laretta. Aku tidak seperti itu."


Tidak lama kemudian Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Beberapa menit sebelumnya Brayen memang berdiri di depan pintu mendengar percakapan istri dan juga adiknya itu. Devita dan juga Laretta menghentikkan obrolan mereka saat melihat Brayen melangkah masuk.


"Devita, aku harus menemani Angkasa di bawah." Laretta beranjak pergi, dia tidak enak meninggalkan Angkasa sendiri.


Devita mengangguk pelan, "Ya Laretta, salamkan aku pada Angkasa."


"Tentu," Laretta kembali melangkah, namun langkahnya terhenti tepat di depan Brayen. Tiba - tiba Laretta langsung memeluk nya Brayen. Sudah sejak tadi Laretta ingin memeluk erat Kakaknya itu. Brayen tersenyum tipis, dan membalas pelukan adiknya.


"Aku sangat menyayangimu, Kak. Kau memang Kakakku yang terbaik." Laretta mengurai pelukannya, kemudian berjalan meninggalkan Brayen. Devita tersenyum haru melihat Laretta dan juga Brayen. Devita memang tidak pernah tahu, bagaimana rasanya memiliki seorang Kakak laki - laki. Tapi sekarang dia telah memiliki seorang suami yang telah memberikannya kasih sayang yang begitu besar padanya.


Devita melangkah mendekat ke arah Brayen, dia langsung membenamkan wajahnya di dada suaminya. Mencium aroma parfum suaminya yang menjadi kesukaannya itu. Devita tidak berhenti bersyukur bisa memiliki suami seperti Brayen. Dengan segala sifat Brayen yang terlihat buruk diluar, tapi suaminya menunjukkan sifat yang sangat baik dengan caranya sendiri.


Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen, lalu menatap lekat wajah suaminya itu. "Kenapa foto kita di sini sangat banyak?"


"Bukankah sudah seharusnya foto kita terpajang di kamarku?" Brayen mengelus lembut pipi istrinya.


Devita tersenyum, "Kalau begitu nanti di kamarku, aku akan meminta Mama Nadia meletakkan foto kita. Seingatku, hanya foto pernikahan kita saja yang ada di kamarku. Aku belum memberikan foto bulan madu kita saat di Turkey dan foto kita saat di Berlin waktu itu."


"Tidak perlu, karena beberapa hari yang lalu aku sudah meminta Albert untuk meletakkan semua foto kita bersama di kamarmu," jawab Brayen.


"Eh? Kau sudah meminta Albert untuk meletakkan foto kita di kamarku?" Devita sedikit terkejut, karena suaminya sudah lebih dulu meminta Albert meletakkan foto mereka di kamarnya.


Brayen mengangguk singkat, kemudian dia membawa Devita untuk duduk di ranjang. "Aku akan meminta pelayan untuk membawakan mu, buah dan juga yogurt."


"Buah dan yogurt sangat bagus untuk kandunganmu Devita." tukas Brayen, Devita mendesah pelan, dia tidak bisa melawan jika suaminya sudah memintanya seperti ini.


Tidak lama kemudian, suaminya membawakan pesanan dari Brayen. Beberapa jenis buah dan juga yogurt.


Brayen langsung meminta Devita untuk makan buah anggur yang sudah di bawa pelayan tadi.


"Brayen, aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucap Devita menatap lekat Brayen yang duduk di sampingnya.


"Ada apa?" Brayen mengernyitkan keningnya.


"Hmm, apa kau pernah mengenalkan mantan kekasihmu dulu pada kedua orang tuamu?" tanya Devita hati - hati. Sejak tadi, saat berbicara dengan Laretta, dia ingin langsung bertanya dengan suaminya.


Brayen tersenyum, kemudian tangan Brayen menyelipkan rambut Devita di belakang telinga wanita itu. Brayen tahu, Devita pasti akan bertanya tentang ini. Karena tadi saat Brayen datang, dia sudah mendengar lebih dulu percakapan Laretta dan juga istrinya.


"Kenapa kau diam Brayen!" Devita mengerutkan bibirnya, kesal karena Brayen tidak langsung menjawab.


Brayen menarik tangan pelan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Aku tidak pernah mengenalkan mantan kekasihku pada orang tuaku. Dan satu - satunya wanita yang di kenal baik dengan orang tuaku hanya kau Devita."


Devita berusaha menutupi dirinya yang ingin tersenyum. " Kenapa kau tidak mengenalkan mereka pada orang tuamu?" tanya Devita yang masih penasaran. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.


"Aku tidak pernah membawa mereka, karena sejak awal aku masih ragu. Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau mereka bisa aku kenalkan pada orang tuaku." jelas Brayen. "Lagi pula, aku rasa kedua orang tuaku juga tidak mungkin menyukai mereka. Karena sejak awal aku sudah di jodohkan denganmu."


"Apa kau menyesal sudah di jodohkan denganku?!" Devita memincingkan matanya.


Brayen menarik tangan Devita dan membawanya duduk di pangkuannya. Tatapannya menatap lembut istrinya itu. "Aku tidak pernah sedikitpun menyesal. Bukankah aku sudah sering mengatakan padamu? Jika aku tahu dari awal aku memiliki istri sepertimu, maka aku tidak akan pernah membuang waktuku untuk memiliki wanita lain di hidupku."


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.