
"Wanita baik?"Alena tersenyum miring. "Tidak ada seorang wanita yang baik hamil di luar nikah! Aku sangat yakin, Laretta sudah menjebak Kakakku. Atau bisa saja, anak yang ada di kandungnya Laretta bukanlah anak dari Kakakku. Laretta hanya meminta pertanggung jawaban saja pada Kakakku! Tapi kenyataannya wanita itu bukan mengandung anak Kak Angkasa."
"Alena Nakamura!" Suara Devita berseru menahan geraman amarah pada Alena. Devita tidak mungkin terima jika Laretta di hina. Devita sangat tahu, bahkan Laretta tidak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun. Karena pria yang dulu Laretta cintai hanyalah Felix.
"Jaga bicaramu Alena! Kau tidak mengenalnya dengan baik. Aku tidak akan terima kalau kau menghina adik iparku. Dan aku tegaskan padamu, Laretta bukan wanita sembarangan. Kau sangat tahu, Laretta adalah putri dari keluarga Mahendra. Kenapa kau itu begitu berani sekali menghina Laretta?" Devita menatap dingin Alena.
"Kenapa kau sangat marah padaku, Devita? Aku hanya bicara yang sesungguhnya
Tidak ada wanita baik-"
"Bagaimana jika kejadian itu terjadi padamu Alena? Laretta dan Angkasa, sama - sama terjebak dan terpengaruh oleh alkohol. Aku rasa di sini Laretta tidak sepenuhnya salah, kau juga harus menyalahkan Angkasa. Tapi meski mereka melakukan sebuah kesalahan, mereka mau mempertanggung jawabkan semuanya." Devita sudah tidak tahan lagi, dia langsung memotong ucapan Alena.
"Dan kau bertanya kenapa aku sangat marah padamu?" Devita tersenyum tipis. "Aku marah karena sifatmu yang tidak dewasa Alena. Kau juga menilai seseorang dari sudut pandangmu, sayangnya penilaian dari sudut pandanganmu itu sungguh sangat buruk Alena. Harusnya kau itu sangat bangga memiliki Kakak Ipar seperti Laretta."
"Tapi aku tetap tidak menyukai Laretta!" Tukas Alena menegaskan.
"Jika alasanmu menginginkanku untuk menjadi Kakak Iparmu, sungguh aku sangat kecewa padamu, Alena." Devita beranjak dari tempat duduknya, dia melayangkan tatapan dingin dan penuh kekecewaan pada Alena yang masih duduk di hadapannya. "Aku harus pergi, aku berharap kau mengerti semua ini. Aku dan Angkasa memang tidak di takdirkan bersama. Mungkin suatu saat kau akan mengerti, jika takdir tidak memihak dirimu bersama dengan cinta pertamamu. Tapi percayalah, jika benar suatu saat kau tidak mendapatkan cinta pertamamu. Kau itu harus tetap bangkit, karena aku yakin kau akan di pertemukan dengan pria lain."
"Hal yang aku alami sama dengan Laretta. Adik Iparku juga tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya. Dan pada akhirnya takdir membawa Laretta menjadi milik Angkasa. Pikirkan semuanya baik-baik Alena. Dan belajarlah untuk lebih bijaksana untuk menyikapi sebuah kenyataan," lanjut Devita. Kemudian Devita berjalan meninggalkan Alena yang masih terdiam ketikan mendengar ucapan Devita.
Sebelum pergi, Devita menuju ke arah kasir untuk membayar bill yang di pesan oleh dirinya dan Alena. Sedangkan Alena masih terus menatap Devita yang kini mulai berjalan keluar meninggalkan restoran.
Perkataan Devita, mampu membuat Alena terdiam dan tidak berkutik. Alena memang masih menginginkan Devita menjadi Kakak Iparnya, tapi ketika Devita mengatakan jika suatu saat posisi Devita berada di posisi dirinya, itu yang membuat Alena terdiam. Alena tidak mampu membayangkan bagaimana kehidupannya ketika tidak bisa mendapatkan cinta yang pertamanya.
...***...
Devita menyandarkan punggungnya di sofa, sembari menikmati tiramisu cake yang di bawakan oleh pelayan. Sejak Pertemuan Devita dengan Alena membuat Devita menjadi kesal. Devita tidak tahu, kenapa sekarang Alena semakin berubah menjadi gadis yang keras kepala. Pertama kalinya Devita berkata dengan keras pada Alena saat wanita itu menghina Laretta. Devita tidak menyangka hinaan akan terlontar dari Alena. Bahkan Alena menilai Laretta dari sudut pandang yang salah. Jika memikirkan ini, benar - benar membuat Devita sakit kepala.
Namun, seketika Devita baru mengingat. Dan Devita melihat jam dinding masih pukul jam sembilan malam. Dia Madrid kini sudah pukul tiga dini hari, tapi sejak tadi Brayen belum menghubunginya. Devita mengambil ponsel dan menatap ke layar dan benar saja Brayen belum menghubungi dirinya, Devita mendengus kesal, padahal Devita sudah mengatakan pada Brayen, untuk segera menghubunginya jika sudah tiba di Madrid. Devita yakin, Brayen akan beralasan dengan pekerjaannya yang begitu banyak.
Tidak ingin menunggu, Devita langsung menghubungi Brayen lebih dulu. Devita mengerutkan keningnya ketika mendengar nada tersambung, tapi tidak juga mendapatkan jawaban. Satu, dua hingga tiga kali panggilan tapi Brayen tidak juga menjawabnya. Hingga kemudian, Devita memilih untuk menghubungi Albert.
"Albert?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Nyonya Devita? Selamat pagi Nyonya?" jawab Albert dari sebrang telepon.
"Pagi Albert, maaf menganggumu tidak waktu tidurmu ini."
"Tidak apa - apa, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?".
"Dimana suamiku, Albert? Kenapa dia belum menghubungiku? Apa pekerjaan kalian itu terlalu banyak? Hingga Suamiku itu lupa untuk menghubungiku?"
"Nyonya, Tuan baru saja beristirahat. Hari ini ada sedikit masalah di perusahaan, dan itu yang membuat hari ini Tuan Brayen kembali ke hotel terlambat. Kemungkinan beberapa hari kedepan, Tuan Brayen akan sibuk Nyonya."
"Maaf Nyonya, lebih baik Nyonya langsung bertanya saja pada Tuan. Karena saya tidak berani menceritakannya pada Nyonya."
"Aku ingin kau menjelaskan. Kau tidak perlu takut dengan suamiku. Aku ini istrinya, jadi aku wajib tahu apa saja yang terjadi di perusahaan milik suamiku."
"Tapi Nyonya-"
"Albert, sebagai istri dari pemilik perusahaan dimana kau bekerja, aku memaksamu untuk memberitahuku!" Tukas Devita menekankan.
Helaan nafas berat Albert terdengar dari balik telepon. "Tuan besar David salah mengambil keputusan, itu berdampak pada penurunan saham di perusahaan cabang yang berada di Madrid. Sepertinya, lawan bisnis dari Mahendra Enterprise sengaja mendekati Tuan David untuk membuat Mahendra Enterprise mengalami penurunan saham. Saat ini, Tuan Brayen di sibukkan bertemu dengan perusahaan dari luar negeri yang ingin bekerja sama. Tidak hanya Tuan Brayen tetapi perusahaan milik Tuan Felix juga mengalami masalah yang sama. Karena perusahaan cabang yang ada di Madrid masih bersangkutan dengan perusahaan milik Tuan Felix."
"Lalu bagaimana sekarang, Albert? Apa yang akan Brayen lakukan? Apa akan terjadi masalah?" suara Devita terdengar begitu cemas setelah mendengar penjelasan dari Albert.
"Tidak Nyonya, perusahaan di Madrid hanya sebagian kecil dari Mahendra Enterprise. Tidak mungkin berdampak pada perusahaan pusat yang ada di Indonesia. Hanya saja, jika tidak segera ditangani perusahaan milik Tuan Felix bisa mengalami kebangkrutan. Karena perusahaan milik Tuan Felix di Madrid bukan perusahaan yang kecil. Bisa di katakan, jika perusahaan milik Tuan Felix di Madrid jauh lebih besar dari perusahaan yang ada di Indonesia."
"Astaga, tapi Brayen akan membantu Felix kan? Brayen tidak hanya diam kan?" raut wajah Devita semakin terlihat cemas.
"Tuan Brayen, tidak hanya membantu Tuan Felix tetapi juga mencoba untuk memulihkan perusahan cabang Mahendra Enterprise. Dan untuk Tuan Felix, Nyonya tidak perlu khawatir. Tuan Brayen sudah memberikan dua milliar dollar pada Tuan Felix agar saham di perusahaan Tuan Felix tetap stabil.
Devita mendesah lega. "Aku tahu, suamiku akan selalu membantu keluarganya. Suamiku itu memang orang yang lebih sering di nilai buruk di depan. Tapi tanpa orang ketahui, suamiku selalu berbuat baik dengan caranya sendiri. Suamiku tidak pernah menunjukkan kebaikannya di depan orang. Itu yang membuatku bangga memilikinya."
"Nyonya benar, apa yang Nyonya katakan. Tuan Brayen memang orang yang tidak suka menunjukkan kebaikannya di depan orang. Saya selama menjadi asisten Tuan Brayen, selalu bangga dengan sifat yang di miliki oleh Tuan Brayen."
Devita tersenyum. "Terima kasih karena selalu berada di samping suamiku, Albert. Aku harus istirahat sekarang. Tolong sampaikan pada Brayen, kalau aku menghubunginya malam ini. Besok katakan padanya kalau dia harus menghubungiku."
"Baik Nyonya, akan saya sampaikan. Kalau begitu selamat beristirahat, Nyonya."
Panggilan terputus, Devita langsung beranjak dan berjalan menuju ke arah ranjang. Devita meletakkan ponselnya yang ada di atas nakas, kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Setidaknya, meski Devita belum berbicara dengan Brayen, tetapi Devita masih mendengarkan kabar suaminya itu dari Albert. Devita menarik selimut dan memejamkan matanya.
...******"...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.