Love And Contract

Love And Contract
Aku Ingin Bersamamu



Tidak ingin berlama-lama, Brayen menarik Devita dan langsung ******* bibir Devita. Dia tidak membiarkan istrinya memimpin permainan itu.


"My naughty girl," bisik Brayen di sela - sela ciumannya.


Devita tersenyum, dia berusaha menutupi rona pipinya. Entah keberanian dari mana tetapi Devita ingin memuaskan suaminya itu. "And you are my naughty boy." Devita berbisik dengan suara yang begitu menggoda di telinga Brayen.


"****! Sudah cukup, aku tidak tahan lagi." desis Brayen, dia membalikkan tubuh Devita dan kini istrinya itu berada di bawahnya. Mata mereka saling bertatapan, Brayen tersenyum tipis saat melihat mata sayu istrinya. " I need to be insise of you now," bisik Brayen serak.


"Yes, please...." pinta Devita dengan wajah penuh permohonan. Brayen menyeringai dan memulai penyatuannya. Devita menjerit kala benda asing memasuki tubuhnya. Devita menggigit bibirnya karena rasa sakit itu.


"Did i hurt you?" tanya Brayen, dia menggeram saat miliknya merasakan berada di dalam milik Devita. Brayen ingin sekali bermain dengan kasar tapi dia tidak ingin melukai istrinya.


Devita menggeleng pelan, menatap wajah Brayen, dengan tatapan mata sayu, "Aku tidak apa - apa, Sayang."


Brayen tersenyum, lalu ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan saat memasuki lembah kenikmatan milik Istrinya. Devita mencengkram dengan kuat kulit sprei saat Brayen menghentakkan miliknya. ******* dan erangan lolos dari bibir Devita, ketika Brayen mempercepat temponya.


"Maaf sayang, kau harus sedikit menahan sakit ini," bisik Brayen. Lalu, dia semakin mempercepat temponya. Menghentakan miliknya semakin dalam. Hingga membuat Devita terus mendesah. Tubuh Devita bergetar dan menggelinjang. Dia tidak berhenti mendesah mendapatkan kenikmatan itu. Devita mulai memejamkan matanya.


"Open your eyes, Devita. Tatap aku," ucap Brayen, dia tidak berhenti menghentikkan hentakkannya.


Perkataan Brayen begitu menghipnotis. Devita membuka matanya menatap sayu mata Brayen. ******* lolos dari bibir Devita saat Brayen semakin menaikkan temponya. Hingga akhirnya mereka berdua mendapat pelepasan, tubuh Brayen ambruk. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Devita. Kemudian Brayen membaringkan tubuhnya di samping Devita.


"Kau luar biasa," bisik Brayen, dia mengecup bibir Devita yang terbuka saat wanita itu tengah mengambil napas.


Devita tidak menjawab dia mulai memejamkan matanya. Tubuhnya sangat remuk, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Melihat Devita yang sudah tertidur, Brayen semakin mengeratkan pelukannya. Brayen mengecupi pucuk kepala Devita berkali-kali.


"Aku mencintaimu, lebih dari apapun yang kau pikirkan, Devita." ucap Brayen, lalu ia kembali mengeratkan pelukannya.


...****...


Sinar matahari begitu cerah, cahayanya menembus jendela. Kini Brayen terus menatap sosok wanita yang masih tidur pulas di sampingnya. Tubuh polos Devita yang masih terbalut oleh selimut, wajah polos Devita yang tidak memakai makeup, membuat Brayen tidak berhenti memandangi istrinya. Brayen memang harus mengakui jika istrinya itu sangat cerdas. Bahkan tadi malam, tanpa di minta Devita sudah melakukan yang Brayen inginkan.


Brayen masih terus menatap Devita yang tertidur di dalam pelukannya. Objek pemandangan pagi ini terlalu indah bagi Brayen untuk tidak di lihat. Wajah istrinya memang begitu sangat cantik, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan mungil, bibir yang tipis membuat rasanya Brayen tidak pernah bosan menatap istrinya yang cantik itu. Bahkan tadi malam, mereka bercinta hingga hampir pagi. Brayen mengulum senyumannya. Dia membiarkan istrinya masih tertidur. Dia tahu, istrinya itu sudah sangat kelelahan akibat ulahnya yang selalu meminta lagi dan lagi.


Brayen menarik pelan dagu Devita mengecup dengan lembut bibir Devita, pagi ini sangat indah. Brayen ingin terus memeluk wanita yang sangat dia cintai itu. Devita menggeliat saat merasakan ada yang mencium bibirnya. Perlahan, Devita mulai membuka matanya, dia sedikit terkejut Brayen tidak henti mencium dirinya.


"Apa aku menganggu tidurmu?" ucap Brayen dengan lembut, dia menatap Devita yang kini sudah membuka matanya.


Devita menggeleng pelan. " Tidak, aku sama sekali tidak terganggu."


Brayen tersenyum tipis, dia mengeratkan pelukannya. " Aku rasa, aku tidak ingin berangkat. Pagi ini, aku ingin bersama denganmu."


Devita mendongakkan wajahnya dalam pelukan Brayen. " Kau yang benar saja! Hari ini, aku harus bertemu dengan dosenku. Bukannya kau ada meeting dengan Mr. Lee siang ini?"


"Biarkan Mr. Lee, meetingnya dengan Albert. Aku ingin menikmati waktu berdua kita seperti bulan madu," jawab Brayen dengan santai. Terlalu berat baginya untuk beranjak bangun dari ranjang. Dia ingin terus menikmati waktu bersama dengan Devita.


Devita mencebik kesal, dia bukan tidak ingin berdua dengan Brayen. Tapi dia sudah terlanjur memiliki janji dengan dosen. Jika dia membatalkan akan sulit baginya mengantur lagi bertemu dengan dosen. "Brayen, aku sudah ada janji dengan dosenku. Tidak mungkin aku membatalkannya." balas Devita.


"Tidak sulit bagiku, untuk membawa dosenmu kehadapanmu. Kau tidak perlu susah, aku akan meminta Albert untuk membawa dosenmu di hadapanmu." tukas Brayen mengingatkan. Devita mendelik tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu. "Kau ini benar - benar Brayen! Jangan pernah melakukan hal itu! Aku tidak ingin, jika teman - temanku mengira aku ini menggunakan kekuasaan yang kau miliki untuk mendapatkan apapun." ucap Devita ketus.


"Jika kau menggunakan kekuasaan yang aku miliki untuk mencapai sebuah tujuan mu itu bukanlah masalah besar, Devita Mahendra. Karena kau adalah Istriku, segala yang kau inginkan harus kau dapatkan. Aku tidak ingin kau harus bersusah payah mendapatkan apapun yang kau inginkan." jelas Brayen, dia tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh Istrinya itu. Jika semuanya bisa di dapat dengan mudah kenapa istrinya itu membuatnya sulit.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.