
Yeay....👏👏 Akhirnya Novel ke empat Author tamat juga 🤗 Sekali lagi saya sebagai penulis LAC (Love Anda Contract) sangat berterima kasih kepada para reader yang sudah setia meluangkan waktunya membaca karya abal - abal ku ini. Much Love😘 Tapi tenang aja. Mungkin besok author bakalan buat extra partnya kok.
Ingat! Ingat! Hari ini episode terakhir 'LAC' bertepatan dengan hari senin Author mohon kasih likenya dong jangan pada pelit ya..ya...ya😄 Jangan lupa sajen vote dan hadiahnya ya para readerku. Yuk lah perbanyak juga komentarnya~~
Happy Reading semuanya...
...***...
Delapan bulan kemudian....
Kini usia kandungan Olivia sudah memasuki minggu ke tiga puluh empat. Selama kehamilan ini Olivia di larang melakukan kegiatan yang berat. Biasanya Olivia menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah atau menonton film drama kesukaannya. Sejak hamil, Felix begitu overprotektif padanya. Saat Dokter memberitahu dia hamil bayi kembar. Tentu Olivia dan Felix begitu bahagia menyambut bayi kembar mereka.
"Felix, kenapa kau tidak ingin memeriksa jenis kelamin anak kita? Aku sudah penasaran dengan bayi kita," ucap Olivia pada Felix yang berada di sampingnya.
"Sayang, aku ingin membuat kejutan untuk kita. Seperti Brayen dan juga Devita tidak memeriksakan jenis kelamin bayi kembar mereka." Felix merengkuh bahu Olivia, dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
Olivia tersenyum, "Tidak peduli laki - laki atau perempuan yang terpenting mereka sehat. Tapi jika boleh meminta, aku akan meminta Tuhan memberikanku anak laki - laki. Aku ingin memiliki anak laki - laki yang memiliki sifat sepertimu. Kau sangat mencintaiku dan tidak pernah sedikitpun kau menyerah untuk mendapatkanku. Meski banyak masalah yang terjadi di hubungan kita, kau adalah orang pertama yang selalu mempertahankannya. Terima kasih karena sudah menjadi yang sempurna untukku Felix. Terima kasih untuk rasa cintamu yang begitu besar padaku. Hinggap detik ini aku selalu bersyukur mendapatkan suami yang sebaik dirimu. Aku percaya, kau bukan hanya menjadi suami yang baik untuk diriku. Tapi kau juga akan menjadi Daddy yang hebat untuk anak - anak kita."
Felix tersenyum hangat mendengar ucapan dari Olivia, hatinya benar - benar tersentuh dengan apa yang di ucapkan oleh Olivia. "Sama seperti dirimu, Olivia. Aku iga bersyukur memilkimu. Kau adalah wanita yang sangat baik dan sempurna untuk menemani hidupku. Terima kasih karena kau telah memberikanku kesempatan. Aku tidak pernah bisa membayangkan, bagaimana kehidupanku. Jika tidak ada kau di sampingku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan juga anak - anak kita."
"Aku mencintaimu Felix Jordy Mahendra." ucap Olivia.
"Aku lebih mencintaimu, Olivia Jordy Mahendra," jawab Felix kemudian mencium dan ******* lembut bibir Istrinya.
...***...
Laretta menatap lembut bayi laki - lakinya yang tengah berada di pelukan Angkasa. Ya, Stevano Leon Nakamura buah cintanya dengan Angkasa itu kini tengah berusia satu bulan. Tidak pernah terpikirkan oleh Laretta, dia akan memilki suami yang sangat baik dan mencintai dirinya serta putra dan putri mereka yang sangat menggemaskan.
"Kau sangat tampan, sayang...."Laretta mengecup pipi Leon, dia menatap putra bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. "Wajahmu benar - benar mirip dengan Daddy. Kau pasti akan tumbuh menjadi pria yang hebat," bisiknya di telinga putranya itu.
Angkasa yang berdiri di ambang pintu dia tersenyum mendengar ucapan Laretta. Tanpa Laretta sadari, sudah sejak tadi Angkasa memperhatikannya. Kemudian Angkasa melangkah mendekat ke arah Laretta. "Sepertinya kau tengah asyik mengajak Leon berbicara sampai tidak menyadari kehadiran suamimu." ucapnya seraya mengelus lembut rambut Laretta.
Laretta terkejut, dia mendongakkan kepalanya, menatap ternyata Angkasa sudah berdiri di hadapannya. "Kau sudah pulang? Maaf aku tidak tahu kalau kau sudah pulang sayang...."
Angkasa tersenyum, dia duduk di samping istrinya. "Tidak apa - apa, sayang..." Tatapannya kini teralih pada Leon yang berada di pelukan Laretta. "Berikan Leon padaku, di pasti merindukanku."
Laretta mengangguk, dia memberikan Leon yang ada di pelukannya ke tangan Angkasa. "Leon sangat mirip denganmu, Angkasa."
"Ya, tentu saja dia akan sangat mirip denganku." Kemudian dia menatap Laretta seraya berucap. "Aku tidak pernah menyangka akan memilki kehidupan denganmu, Laretta. Terima kasih karena kau sudah memberikanku kedua anak yang sangat tampan dan cantik. Memilikimu adalah yang terindah dalam hidupku."
Laretta tersenyum mendengar perkataan Angkasa. "Aku juga tidak menyangka, begitu banyak masalah yang kita lewati akhirnya kita bisa bersatu. Terima kasih, kau tidak pernah menyerah memperjuangkanku dari sifat Kakakku yang keras. Mungkin jika saat ini kau menyerah, kita tidak akan pernah bersatu."
Angkasa pun tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyerah. Meskipun Kakakmu melarang untuk dekat denganmu sekalipun. Aku akan tetap memperjuangkanmu. Sejak awal aku sudah tahu, kau memang hanya untukku Laretta." Kini bibir Angkasa mendekatkan bibirnya ke bibir Laretta, lalu memagutnya dengan lembut. Mereka meluapkan perasaan cinta mereka yang begitu besar.
"Daddy... Mommy...." Vania berlari dan langsung kedalam kamar. Angkasa dan Laretta yang mendengar suara Vania langsung melepaskan pagutannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Vania.
"Daddy, kenapa Daddy seringkali mencium Mommy? Ka Sean jarang menciumku, Daddy?" Vania melipatkan tangannya di depan dada, dia merengut dengan wajahnya yang tampak begitu kesal. Laretta dan Angkasa terkekeh mendengar ucapan polos Vania.
"Baiklah, kalau Kak Sean tidak menciummu. Biarkan Mommy dan Daddy yang menciummu, sayang." ucap Laretta sambil mencubit pelan hidung Vania.
Vania menggangguk antusias. "Oke, Mommy I want...."
Laretta dan Angkasa kembali terkekeh. Laretta langsung mencium pipi kanan Vania. Begitupun dengan Angkasa yang langsung mencium pipi kiri Vania. Sesaat Angkasa dan juga Laretta saling menatap lembut satu sama lain. Kini mereka telah hidup bahagia dengan kedua anak - anak mereka dan dengan di penuhi dengan cinta dan kasih sayang.
...***...
"Sayang? Kau sudah pulang? Siapa yang menjemputmu di rumah Grandma Rena?" tanyanya dengan bingung. Padahal sopir yang akan menjemput Sean masih berada di rumah.
Sean mendongakkan kepalanya menatap Devita. "Daddy yang menjemputku, Mommy."
"Daddy?" kening Devita berkerut, menatap bingung putranya itu. "Jika Daddy yang menjemputmu, dimana Daddy sekarang?"
"Itu, Mommy..." Sean menunjuk ke arah ambang pintu, Devita langsung menatap ke arah pintu. Seketika senyum di bibir Devita terukir kala melihat Brayen berada di ambang pintu tengah melangkah mendekat ke arahnya.
"Brayen? Kau sudah pulang?" tanya Devita saat Brayen sudah tiba di hadapannya.
"Ya," dia mengecup bibir Devita lalu mengalihkan pandangannya pada Laura yang tengah di gendong oleh Amora. Kemudian, Brayen langsung mengambil alih Laura dari Amora. Dan Amora, pengasuh putrinya pun undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.
"Dia sangat cantik." Brayen mencium seluruh wajah Laura yang tengah tertidur pulas.
Devita tersenyum hangat, melihat Brayen yang tengah menggendong Laura. "Dia memiliki wajah yang sama denganmu dan Sean."
Brayen mengalihkan pandangannya menatap sang istri. "Myesha memiliki wajah yang sama denganmu." ucapnya sambil memberikan kecupan di pipi Myesha yang tengah di gendong oleh Devita.
"Daddy... Mommy... Aku juga ingin mencium Myesha dan Laura..." Sean melipatkan tangannya di depan dada, dia mengerutkan bibirnya menatap Brayen dan Devita bergantian.
Brayen dan Devita mengulum senyumannya. Kemudian, mereka langsung menundukkan tubuh mereka ke arah Sean. Dengan cepat Sean memberikan kecupan ke arah Myesha dan Laura.
"Mommy, nanti ketika mereka sudah seusiaku. Aku akan mengajak mereka bermain robot. Mereka harus menemaniku bermain robot.".
"Sean, kedua adik kembarmu itu perempuan. Tidak mungkin bermain robot. Mereka akan bermain barbie seperti Vania." Brayen mengusap kepala Sean.
"Ya sudah, kalau begitu aku ingin adik laki-laki! Aku ingin satu adik laki-laki yang bisa menemaniku bermain robot! Dad, berikan aku adik laki-laki, Dad" Seru Sean dengan tangan yang dilipat di depan dada.
"Alright, Daddy akan membuatkannya" Brayen mengusap lembut rambut putranya itu seraya memberikan kecupan di kening putranya.
"Brayen, kau ini benar-benar! Tiga anak sudah cukup! Aku tidak ingin lagi," ucap Devita dengan suara yang pelan agar tidak di dengar oleh Sean.
"Keinginan Sean harus di turuti, sayang. Tidak bisa jika kita tidak turuti." Brayen kembali mencium pipi Devita.
Devita memilih diam dan tidak lagi menjawab. Brayen terus tersenyum menatap wajah kesal sang istri.
"Jangan marah, sayang. Aku ingin memilki banyak anak darimu karena aku sangat mencintaimu. Dan terima kasih, karena sudah mau berada di sisiku, Devita." ucapnya dengan tatapan yang begitu dalam pada istrinya.
Perlahan Devita pun mulai luluh mendengar ucapan dari Brayen. Devita pun tersenyum. Tangannya menyentuh rahang Brayen seraya menjawab "Kau selalu bisa membuatku tidak lagi marah padamu. Dan terima kasih, Brayen karena sudah menjadi suami yang sempurna di hidupku.
Brayen mengecup kening Devita, lalu dia merengkuh bahu Devita dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggedong Laura. Tepat di saat Brayen merengkuh bahunya, Devita langsung menggenggam tangan Sean dengan tangan kirinya dan dengan tangan kanan yang menggendong Myesha. Kini mereka melangkah masuk kedalam kamar. Sesaat Devita dan Brayen saling menatap dalam satu sama lain. Sebuah tatapan yang begitu penuh cinta dan kasih sayang.
Berawal dari sebuah perjodohan dan akhirnya mereka memiliki kehidupan yang sempurna. Hal yang mereka pelajari dari semuanya adalah cinta tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Seperti kisah cinta Brayen dan Devita, di awal pernikahan mereka tidak saling mencintai, tapi pada akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain. Kehidupan mereka begitu sempurna. Memiliki anak - anak yang begitu menggemaskan. Selanjutnya, mereka akan menjalani kehidupan dengan suara dan canda tawa anak - anak mereka.
...-TAMAT-...
...******...
Hallo readers, akhirnya LAC tamat juga untuk extra part-nya akan menyusul ya...
Terimakasih telah menemani Brayen dan Devita...