Love And Contract

Love And Contract
Kejujuran Devita



"Angkasa? Memangnya kenapa dengan Angkasa?" Laretta menautkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Devita.


"Aku mengenal Angkasa sudah lama. Dia adalah teman masa kecilku. Usiaku dengannya berbeda lima tahun. Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku harus mengatakan ini padamu Laretta. Dulu sebelum aku menikah dengan Brayen, Angkasa adalah cinta pertamaku. Kami saling mencintai hingga suatu saat Angkasa di minta oleh Ayahnya untuk meninggalkan kota B. Angkasa memimpin perusahaan Ayahnya yang ada di Jepang. Saat Angkasa meninggalkan kota B, dia berpesan padaku untuk menunggunya hingga kembali. Aku dengan setia menunggu Angkasa kembali. Tapi dia tidak pernah kembali."


"Hingga akhirnya aku di jodohkan dengan Brayen. Lalu menikah dengannya. Dan perlahan perasaanku telah hilang pada Angkasa. Saat ini, hanya Brayen yang aku cintai. Kemarin saat aku baru saja di tiba di kota B, dan Angkasa datang ke rumah sakit itu adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama aku dengannya tidak pernah bertemu."


"Laretta, aku minta maaf padamu karena menutupi ini. Sungguh sudah tidak ada lagi yang tersisa antara aku dan Angkasa. Aku menutupi ini karena aku menunggu waktu yang tepat untuk berbicara pada Kakakmu. Tapi dia sudah lebih dulu mengetahui ini. Dia marah saat kemarin melihat Angkasa datang ke kampusku, Angkasa datang hanya untuk menyapa. Dia juga menanyakan kabarmu Laretta,"


Laretta terdiam sesaat mendengar ucapan Devita. Lalu dia kembali menyentuh tangan Devita dan mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Terima kasih atas kejujuranmu, Devita. Tapi percayalah, aku sangat tahu seperti apa dirimu. Sejak awal aku sudah menilai dirimu sangat baik. Hingga detik ini dan seterusnya, pandanganku tentang dirimu tidak berubah. Jujur aku memang belum mencintai Angkasa. Tapi aku bisa melihat dari matamu, kau mengatakan yang sejujurnya. Aku sangat percaya padamu."


Tanpa sadar, air mata Devita berlinang membasahi pipinya. "Tapi Brayen tidak mau mendengarkan penjelasanku. Sungguh aku dengan Angkasa telah berakhir. Aku memang bertemu dengannya untuk mengatakan jika kita telah berakhir, aku sudah menikah dengan Brayen dan Angkasa akan menikah denganmu,"


Laretta menarik napas dalam, dan menghembuskan perlahan. " Aku tahu Devita, aku sangat mengerti. Kalian hanya masa lalu. Mungkin nanti malam kau bisa membicarakannya dengan Kakakku. Bicarakan ini baik - baik, aku yakin Kakakku mendengarkan penjelasanmu."


"Sebenarnya aku masih sakit hati. Tadi malam Brayen mabuk dan di antar oleh seorang wanita. Bahkan dia berciuman di depanku. Aku tahu, Brayen sengaja melakukan itu. Rasanya jika bukan karena aku menutupi sesuatu darinya. Aku sudah pergi meninggalkannya saat aku melihat dia berciuman dengan wanita lain." Air mata Devita semakin berlinang, ketika mengingat Brayen telah berciuman dengan wanita lain.


Laretta berdecak kesal, " Kakakku memang sialan, bisa - bisanya dia melakukan itu. Maafkan Kakakku Devita. Aku tahu dia sangat mencintaimu. Dia hanya di butakan oleh kecemburuan."


"Tapi bagaimana aku menjelaskannya pada Bratey, bahkan tadi pagi dia sudah berangkat lebih dulu. Aku yakin dia mengingat kejadian tadi malam, dia juga tidak meminta maaf padaku. Aku rasa dia tidak mau mendengarkan penjelasanku." ucap Devita dengan suara yang parau.


"Tidak Devita, aku yakin Kakakku akan mendengarkan penjelasanmu. Aku tahu Kakaku sangat mencintaimu, dia hanya di butakan oleh kecemburuan," balas Laretta meyakinkan.


"Apa kau tidak membenciku karena sudah menutupi ini semua darimu Laretta?" tanya Devita seraya menatap dalam Laretta.


Laretta menggeleng pelan dan tersenyum, "Aku sungguh tidak mungkin marah padamu. Semua orang memiliki kisah masa lalu. Kakakku juga memiliki masa lalu, dan apa kau tau siapa pria yang kucintai?"


Devita mengerutkan dahinya. "Siapa? Apa pria yang aku kenal?"


"Ya, kau sangat mengenal dekat pria itu." jawab Laretta.


"Siapa? Aku tidak banyak memiliki teman pria. Apa kau menyukai salah satu teman kampusku?" kening Devita berkerut dalam, dia penasaran dengan pria yang di maksud Laretta.


"Ini adalah sebuah kesalahan, tapi aku berusaha untuk menutupinya. Aku meninggalkan kota B, karena ingin melupakan pria yang selama ini ada di hatiku. Kau boleh mengatakan aku kehilangan akal sehatku, karena aku sendiri tidak tahu kenapa bisa aku mencintai dia," Laretta mengatakan ini dengan pikiran yang menerawang ke depan. " Aku mencintai Felix Sepupuku sendiri, jika kau bertanya padaku sejak kapan, mungkin aku sudah sejak dulu mencintai Felix. Tapi Felix tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita. Dia melihatku sebagai Sepupunya," lanjutnya dengan wajahnya yang kini tampak muram.


Devita terdiam sesaat mendengar ucapan Laretta. Dia mengulas senyuman di wajahnya, lalu menjawab, "Aku tidak mengatakan, kau kehilangan akal sehatmu. Karena cinta memang selalu datang begitu saja. Sekarang, kau sudah memiliki Angkasa. Aku yakin, seiring berjalannya waktu akan bisa melupakan Felix dan bisa mencintai Angkasa."


Laretta mendesah pelan. "Tapi aku tidak yakin, Kakakku akan memberikan izin padaku. Devita. Terlebih Angkasa adalah pria di masa lalumu, bagaimana mungkin Kakakku mengizinkanku?"


"Kau tenang, Laretta. Aku akan memastikan Brayen akan mengizinkanmu. Anak yang kau kandung harus memiliki sosok Ayah. Aku tidak akan membiarkanmu membesarkan anakmu seorang diri," ujar Devita dengan yakin.


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku, Devita? Aku masih belum berani bertemu dengan mereka." ucap Laretta dengan suara pelan.


Laretta tersenyum. " Kakakku memang beruntung memilikimu, maafkan Kakakku jika dia bertindak kasar padamu,"


"Aku sudah melupakannya, aku mengerti sifat Brayen." jawab Devita meski hatinya masih sakit dengan sifat Brayen. Tapi Devita mencoba untuk mengerti, setidaknya Devita harus menjelaskan pada Brayen.


...***...


Brayen duduk di kursi kebesarannya. Pagi ini dia datang lebih pagi. Dia sengaja menghindar dari Devita, karena dirinya masih belum bisa mengendalikan amarahnya. Mengingat Devita telah berbohong kepadanya rasanya dia sangat sulit untuk mendengar penjelasan dari Devita.


Sebenarnya Brayen merasa menyesal karena kemarin telah melukai Devita. Brayen bahkan tidak memperdulikan tangis dan teriakan Devita yang memohon kepadanya untuk berhenti. Brayen terlalu di penuhi dengan amarah. Terlebih Brayen mendengar jika Devita bertemu dengan Angkasa di belakangnya.


Di pikiran Brayen selalu memikirkan Devita masih mencintai Angkasa. Brayen sudah mendengar, Devita begitu setia menunggu Angkasa ke kembali ke kota B. Itu yang membuat Brayen geram dan tidak bisa mengendalikan amarahnya.


Brayen menyadarkan punggungnya di kursi kerjanya dan memejamkan mata lelah. Masalah adiknya belum terselesaikan, sekarang harus bertambah dengan Istrinya yang tidak berkata jujur kepadanya. Dia tidak akan pernah membiarkan Laretta menikah dengan Angkasa. Dia juga tidak akan pernah melepas Laretta pada pria masa lalu istrinya. Brayen yakin, Angkasa masih mencintai istrinya. Terlihat jelas bagaimana Angkasa memperdulikan Devita.


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Brayen menghentikkan lamunannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu, lalu menginterupsi untuk masuk.


"Tuan," sapa Albert saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Saya sudah menyelidiki Nyonya dan juga Tuan Angkasa. Mereka memang tidak pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi mereka pernah beberapa kali pergi bersama. Tuan Edwin tidak pernah menyetujui hubungan mereka. Saya juga sudah mendapatkan informasi, sebenarnya Nyonya sudah di jodohkan dengan anda. Sejak Nyonya masih berusia lima tahun. Itu kenapa Tuan Edwin membatasi pergaulan Nyonya. Karena memang sejak awal Tuan Edwin dan Tuan David, sudah menjodohkan Nyonya Devita dengan anda, Tuan." Albert menjelaskan dengan hati - hati, hasil informasi yang dia dapatkan.


Brayen membuang napas kasar "Aku tetap tidak bisa menerima Istriku menutupi ini dariku. Dia bahkan menutupi jika dia bertemu dengan pria sialan itu di belakangku," tukas Brayen dingin. Sorot matanya menajam. Tangannya terkepal kuat.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.