
Kini Devita telah tiba di Simo' ce Restauran. Tempat yang telah sebelumnya Devita tentukan untuk bertemu dengan Angkasa. Jujur saja hingga detik ini, Devita tidak menyangka Angkasa akan kembali ke Kota B dengan kondisi yang seperti ini. Beruntung di hatinya sudah tidak ada lagi Angkasa. Devita sudah melupakan Angkasa. Devita datang menemui Angkasa hanya karena menganggap Angkasa adalah teman lamanya.
Devita melangkah masuk ke dalam restoran. Tatapannya teralih melihat Angkasa yang duduk di dekat jendela. Kemudian Devita melangkah mendekat ke arah Angkasa.
"Maaf, membuatmu menunggu," dengan nada dingin dan langsung duduk di hadapan Angkasa.
Angkasa tersenyum, melihat Devita kini berada di hadapannya. "Aku juga baru saja datang, Devita. Aku sudah memesankan orange juice untukmu. Tapi aku belum memesankan makanan. Kau ingin makan apa?" tanyanya dengan tatapan tak melepas manik mata Devita.
"Terima kasih, tapi aku tidak lapar, cukup orange juice saja " jawab Devita
"Baiklah, jika kau ingin makan sesuatu kau pesan saja," balas Angkasa mengangguk singkat.
"Devita, bagaimana kabarmu?" Angkasa lebih dulu bertanya. Dia berusaha untuk mencairkan suasana.
"Seperti yang kau lihat, aku baik. Bagaimana denganmu?" Devita menjawab dengan nada dingin.
"Ya, aku juga baik. Kau terlihat sangat berbeda Devita. Kau sangat cantik," ucap Angkasa yang sejak tadi tak lepas menatap Devita. Terlihat dari tatapannya merindukan wanita itu.
Devita tersenyum, "Waktu mengubah seseorang Angkasa,"ucapnya begitu dingin. Seakan perkataan ini penuh dengan sindiran.
Angkasa membalasnya dengan senyuman. Tanpa Devita mengatakan pun Angkasa sudah mengerti maksud ucapan Devita.
"Ya, kau benar Devita. Waktu memang telah mengubah seseorang. Aku melihatmu dulu masih menjadi gadis remaja yang sangat cantik. Tapi kini aku melihatmu menjadi wanita yang cantik dan anggun. Pesona yang kau miliki bisa menjerat para pria yang ada di sini," balas Angkasa jujur.
Devita tertawa sinis, "Sayangnya aku tidak membutuhkan menjerat pria lain di hidupku. Suamiku sudah sangat sempurna, rasanya tidak mungkin aku terpikat oleh pria lain, bukan?"
Angkasa mengangguk, "Ya, kau benar. Siapa yang tidak menginginkan menjadi istri dari Brayen Adams Mahendra. Pria yang selalu di inginkan oleh para wanita. Tentu kau tidak akan terpikat oleh pria lain," jawab Angkasa dengan memasang wajah datar.
Devita tidak merespon ucapan Angkasa, dua mengambil gelas yang berisikan orange juice, lalu mulai menyesapnya perlahan.
"Devita, apa Brayen tahu kau bertemu denganku hari ini?" tanya Angkasa dengan tatapan begitu serius pada Devita.
"Aku akan memberitahunya nanti, setelah aku mendengar apa yang ingin kau katakan padaku," jawab Devita dingin. Wajahnya tampak tidak bersahabat pada Angkasa. Terlihat Devita tidak ingin berlama-lama bertemu Angkasa.
"Tuan Angkasa Nakamura, apa yang ingin kau katakan padaku?" suara Devita bertanya dingin. Tatapannya menatap lekat Angkasa.
Kini mereka saling menatap satu sama lain. Jika Devita menatap Angkasa dengan tatapan yang dingin. Berbeda dengan Angkasa, terlihat tatapan Angkasa yang begitu merindukan Devita.
Devita tersenyum tipis, "Kenapa kau harus minta maaf padaku?" tukas Devita dingin.
"Maafkan aku Devita. Aku pergi dan memberikan harapan palsu padamu. Aku memintamu untuk menungguku, tapi aku tidak pernah memberikan kabar padamu. Aku sungguh minta maaf." Angkasa menunduk terlihat raut wajahnya yang menyesal telah mengecewakan Devita.
"Tanpa kau meminta maaf, aku sudah memaafkanmu. Bukankah bagus kau tidak kembali? Jika kau datang di saat aku menunggumu, mungkin saat ini aku tidak bersama dengan Brayen," jawab Devita sinis.
Angkasa menatap nanar Devita, dia terlihat begitu rapuh menatap manik wanita itu. Kemudian dia berkata, "Saat itu, aku memimpin perusahaanku yang ada di Jepang, perusahaanku hampir bangkrut. Aku harus segera mencari investor untuk perusahaanku, lalu Ayahmu datang padaku dan menjadi investor di perusahaanku. Memberikan dana yang besar hingga membuat perusahaanku bangkit dari keterpurukan,"
"Aku sangat senang saat Ayahmu datang ke perusahaanku menjadi investor di perusahaanku. Tapi ada syarat yang Ayahmu ajukan yaitu menjauh darimu. Ayahmu mengatakan padaku kau sudah dijodohkan dengan Putra Alexander David Mahendra. Aku menolak, aku mengatakan aku bisa lebih hebat dari perusahaan pria yang di jodohkan olehmu,"
"Tetapi Ayahmu mengatakan jika dia hanya menginginkan Brayen menjadi menantunya. Aku tidak memiliki waktu banyak saat itu. Jika aku tidak menerima tawaran Ayahmu maka perusahaanku akan hancur. Aku tidak mungkin membiarkan perusahaan yang sudah di bangun oleh Ayahku hancur begitu saja. Kau mungkin akan membenciku, aku tahu itu,"
"Akhirnya aku menerima tawaran Ayahmu. Aku mengorbankan perasaanku padamu. Aku membiarkanmu terus berpikiran buruk tentangku. Aku berkencan dengan banyak wanita. Membiarkan para media meliputku, aku ingin kau melihat semuanya Devita. Aku ingin membuatmu membenciku tanpa harus mengatakan perpisahan padamu,"
"Aku bersumpah, aku tidak pernah sanggup mengucapkan kata perpisahan padamu. Aku tidak mampu Devita, bahkan saat aku mendengar berita kau menikah dengan Brayen Adams Mahendra, hatiku hancur. Aku melampiaskannya pada wanita lain. Kenyataannya aku tidak bisa, kau masih dalam bayang - bayangku. Aku tidak mampu melupakan mu."
"Hingga aku bertemu dengan Laretta di sebuah klub saat aku berlibur ke Korea. Demi Tuhan, Devita. Aku tidak tahu jika Laretta adalah adik dari Brayen Adams Mahendra. Aku baru mengetahuinya saat aku datang ke kota B. Aku masih berharap, Laretta hanya gadis biasa bukan dari keluarga Mahendra. Sampai kita bertemu kemarin, aku berusaha untuk tidak menatapmu. Tapi aku tidak bisa. Mataku masih ingin tetap memandangmu. Hatiku masih tetap sama, masih sangat mencintaimu."
"You make me crazy, Devita. Tapi aku harus bertanggung jawab pada Laretta. Aku tidak mungkin membuat Laretta membesarkan anakku sendirian. Meskipun aku tidak mencintainya. Tapi aku tetap harus bertanggung jawab. Hanya satu masalahnya, aku tidak mampu mengendalikan diriku jika bertemu denganmu."
Devita terdiam mendengar penjelasan dari Angkasa. Bahkan dia tidak mampu berkata - berkata. Dia melihat tatapan Angkasa penuh dengan penyesalan. Dirinya tidak mampu menjawab ucapan dari Angkasa. Jujur saat ini Devita begitu terkejut mendengar ucapan Angkasa. Dia tidak menyangka Ayahnya terlibat dalam hal ini.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.