Love And Contract

Love And Contract
Rencana Devita



Devita menggigit bibir bawahnya, dia terus berpikir cara apa yang membuat Brayen menghentikkan perkelahiannya. Seketika, Devita mendapatkan suatu cara yang membuat Brayen menghentikkan pukulannya.


"Akhh! Brayen perutku sakit! Perutku sangat sakit Brayen!" Jerit Devita dengan keras.


Brayen langsung menghempaskan tubuh Angkasa, ketika mendengar suara rintihan istrinya. Dengan begitu panik dan cemas. Brayen menghampiri Devita dan langsung memeluk tubuh istrinya itu.


"Sayang? Perutmu sakit?" tanya Brayen dengan cemas dan panik.


Devita berusaha merintih kesakitan dan terpaksa, hanya dengan cara ini yang dapat membuat kemarahan Brayen mereda. Jika Devita tidak melakukan ini, suaminya itu bisa saja membunuh Angkasa. Berpura-pura demi kebaikan memang tidak masalah bukan.


"Brayen perutku sangat sakit!" Ringis Devita.


"Nagita!" Teriak Brayen dengan suara yang keras.


Nagita yang berada di sana langsung segera berlari menghampiri Brayen. "I- Iya Tuan....." jawab Nagita menundukkan kepalanya, ketika berhadapan dengan Brayen dan juga Devita.


"Lima menit! Dokter Keira harus segera datang kesini!" Seru Brayen.


Nagita mengangguk patuh. "B - baik Tuan."


Tidak menunggu lama, Brayen langsung membopong tubuh Devita, gaya bridal meninggalkan ruangan itu. Devita mengedipkan sebelah matanya pada Laretta, dan memberikan isyarat pada Laretta.


Laretta tersenyum, ketika tahu Devita membantu dirinya. Kemudian Laretta langsung menghampiri Angkasa, membantu Angkasa untuk mengobati lukanya, begitupun dengan Olivia, yang membantu Felix untuk mengobati luka lebam yang ada di wajah Felix.


...***...


"Ah," ringis Angkasa ketika Laretta mengoleskan obat di lukanya.


"Maafkan Kakakku, aku sungguh minta maaf." kata Laretta yang merasa bersalah.


Angkasa tersenyum dia mengelus pipi Laretta. "Aku tidak apa-apa, tapi aku rasa aku harus berlatih. Kakakmu itu begitu hebat, aku harus mengakui kehebatan Kakakmu itu."


Laretta mendesah pelan. "Sejak kecil, jika Kakakku marah, dia itu mampu untuk melumpuhkan lawannya. Sekarang aku harus berterima kasih pada Devita."


"Berterima kasih pada Devita?" Angkasa mengerutkan keningnya. Menatap bingung Laretta.


"Tadi Devita itu berpura - pura sakit, demi membuat perkelahian kalian itu berhenti." jawab Laretta. "Setidaknya, Devita mampu menghentikan Kakakku."


"Jadi tadi Devita hanya berpura-pura?" ulang Angkasa dan Laretta mengangguk.


Angkasa tersenyum. "Kalau begitu aku memiliki hutang budi padanya. Karena dia sudah menyelamatkanku dari kemarahan Brayen."


"Ya kau benar," balas Laretta. "Tapi aku mohon, lebih baik kau itu mundur. Aku tidak ingin kau terluka lagi karena Kakakku."


"Aku itu tidak mungkin mundur," jawab Angkasa. "Meski aku harus mati di tangan Brayen, aku itu tidak akan mundur. Aku berusaha untuk melawannya, meski dia mampu menepis setiap pukulan dariku."


Laretta mendengus tak suka. "Jadi? Kau itu ingin mati di tangan Kakakku yah? Bahkan kau belum melihat anakmu ini lahir!"


Angkasa kemudian menarik tangan Laretta dan membawanya kedalam pelukannya. "Aku akan berusaha untuk terus hidup, menjagamu dan juga anak kita."


Laretta menyandarkan kepalanya di dada bidang Angkasa. Berada di dekat Angkasa adalah hal terindah baginya. Begitu banyak yang menghalangi hubungan mereka, tapi sekarang Laretta yakin, Angkasa akan terus berusaha dan tidak pernah menyerah.


...***...


"Sayang, pelan - pelan.." ringis Felix ketika Olivia sedang mengompres luka lebamnya.


"Tahan sedikit! Kau ini, begini saja sakit!" Olivia terus saja mengompres wajah kekasihnya itu.


"Apakah kau tidak bisa lembut? Sepupuku yang sialan itu melayangkan pukulan keras di wajahku," seru Felix yang merasa kesal pada Brayen.


Olivia mencebik. "Kau ini! Kenapa kau memisahkan saja tidak bisa? Malah kau yang terkena pukulan Brayen!"


"Kalau saja Devita tidak membantu tadi, aku rasa wajahmu pasti akan penuh dengan lebam!" Olivia mendengus. "Lain kali, kau harus meminta anak buahmu saja yang memisahkan Brayen. Sekarang, lihatlah wajah tampanmu ini penuh dengan luka lebam seperti ini."


"Jika tadi ada anak buahku yang memisahkan Brayen dan juga Angkasa. Pasti anak buahku akan di kerumuni oleh anak buah milik Brayen dan Angkasa. Jadi mau tidak mau aku harus memisahkan Brayen." jelas Felix.


Olivia mendesah pelan. "Kenapa Brayen masih belum juga mengizinkan hubungan Angkasa dan juga Laretta? Aku sungguh kasihan pada mereka. Kandungan Laretta sudah semakin besar. Tidak mungkin ketika Laretta melahirkan nanti, Angkasa belum menikah dengan Laretta."


"Kau tenang saja. Aku yakin, Brayen pasti akan menyetujui hubungan Laretta dan juga Angkasa," ujar Felix.


"Hm, tapi sebenarnya tadi sebelum kita pergi kesini. Aku memikirkan cara membuat Angkasa menang untuk melawan Brayen." seru Olivia antusias.


"Cara menang dari Brayen?" Felix mengerutkan keningnya menatap bingung Olivia.


Olivia tersenyum. "Aku tidak tahu pasti, tapi aku hanya berusaha. Setidaknya aku ingin membuat Angkasa melawan Brayen."


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Felix langsung.


"Mungkin dengan menembak, memanah, berkuda, atau apapun. Aku ingin menunjukkan pada Brayen jika Angkasa memiliki kemampuan." balas Olivia.


Felix membuang napas kasar. "Kau tidak mengenal Brayen. Dia memiliki kehebatan semuanya! Dia pernah berlatih menembak saat kuliah. Dia juga bisa memanah. Dan berkuda, itu adalah hobi dari Brayen!"


Olivia membulatkan matanya menatap tak percaya. "Kenapa Devita tidak pernah mengatakannya padaku! Istri macam apa dia tidak mengetahui kehebatan suaminya sendiri!"


"Karena Devita tidak pernah melihat Brayen latihan menembak, memanah, atau pun berkuda. Beberapa tahun terakhir, Brayen selalu sangat sibuk dengan pekerjaannya." balas Felix. "Tapi aku rasa Laretta pernah mengatakan ini, dan mungkin saja Devita yang lupa."


Olivia mendengus. "Kalau begitu, cara apa yang bisa melawan Brayen!"


Felix mengedikkan bahunya. "Aku sendiri tidak tahu. Sejak dulu, dia itu tidak memiliki banyak teman. Brayen hanya menghabiskan waktunya untuk berlatih menjadi orang yang hebat. Dia selalu mengatakan padaku, dia ingin menjadi orang yang hebat."


Olivia langsung menyandarkan punggungnya di sofa. Kepalanya langsung pusing mendengar ucapan dari Felix. Kalau seperti ini rencananya sia - sia.


...***...


Brayen duduk di tepi ranjang sembari merapihkan rambut istrinya. Beruntung Dokter Keira segera datang. Meski Dokter Keira mengatakan tidak terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya, tapi tetap saja Brayen tidak pernah bisa tenang. Jika Devita sudah merintih kesakitan di perutnya, Brayen tidak akan pernah bisa untuk tidak mencemaskan anak dan juga istrinya.


"Setelah ini, kau harus lebih banyak beristirahat Devita. Jika kau ingin berbelanja dan membeli sesuatu, kau bisa meminta Nagita untuk membelikannya. Aku tidak ingin kau terlalu lelah, sayang." ujar Brayen mengingatkan istrinya itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya.


"Aku tidak apa-apa, Brayen." jawab Devita. "Hanya sakit sedikit saja. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku sakit, jadi kau tidak perlu cemas."


Devita berusaha mengulas senyuman hangat di wajahnya. Sungguh dia merasa bersalah, Karena sudah membohongi suaminya sendiri. Tapi, jika Devita tidak berpura-pura seperti tadi maka Brayen bisa saja membunuh Angkasa. Tidak ada pilihan lain, hanya ini yang bisa Devita lakukan untuk bisa meredakan amarah suaminya itu.


"Aku tidak mungkin bisa tidak cemas, sayang." Brayen mengelus pipi Devita. "Setiap kau mengatakan perutmu sakit, aku selalu mengingat kejadian dimana kandunganmu itu lemah. Kesalahan yang pernah aku perbuat membuatmu seperti ini. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Aku sungguh takut jika sesuatu terjadi pada kandunganmu."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.