
Sebenarnya Laretta masih belum percaya, jika yang melakukan ini adalah Brayen. Tapi Alena tidak mungkin bisa bebas dari penjara, jika bukan karena Kakaknya yang membebaskan Alena.
"Jangan minta maaf padaku." Alena menggelengkan kepalanya. Dia tidak setuju jika Laretta meminta maaf padanya. "Apa yang aku dapatkan, karena aku memang pantas menerima semua ini Laretta. Aku sungguh pantas menerima semua ini."
"Dan kau berhak mendapatkan kesempatan kedua Alena." ujar Laretta dengan tatapan yang begitu lembut pada Alena. "Terima kasih banyak sudah menerimaku."
Tanpa menjawab Alena langsung memeluk erat tubuh Laretta. Tangis Alena pecah ketika berada di pelukan Laretta. Dia tidak menyangka, wanita yang dulunya dia begitu benci, adalah wanita yang sangat baik. Sekarang, dia mengerti apa alasannya Angkasa mencinta Laretta. Setelah ini, Alena berjanji, tidak akan pernah melukai wanita yang sebaik Laretta.
"Aku tidak akan lagi menolak memilki Kakak ipar yang sebaik dirimu, Laretta." Isak Alena. Hatinya begitu tersentuh dengan segala kebaikan yang di miliki oleh Laretta. Alena bersyukur, dirinya masih memiliki kesempatan yang kedua untuk memperbaiki semuanya.
Tanpa mereka sadari, sudah sejak tadi, Devita berdiri di ambang pintu. Air mata Devita berlinang membasahi pipinya mendengar perkataan dari Alena. Bahkan Devita tidak menyangka, jika yang melakukan ini adalah Brayen, suaminya sendiri. Devita tidak pernah berpikir, jika Brayen akan membebaskan Alena.
Hati Devita jauh lebih tenang. Kini Alena sudah menerima Laretta. Itu artinya semuanya berjalan dengan baik. Laretta akan segera bersatu dengan Angkasa.
Devita masih terus menatap pemandangan yang begitu indah. Melihat Alena dan juga Laretta sudah baik - baik saja. Bahkan Alena terlihat begitu menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
Devita menghapus air matanya, dia mengambil ponselnya dan segera mengirimkan pesan untuk suaminya.
Pulanglah lebih cepat. Aku ingin kau pulang lebih awal. Aku merindukanmu
Setelah mengirimkan pesan, Devita membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Alena dan juga Laretta.
...***...
Devita duduk di sofa empuk kamarnya, dia melirik jam dinding kini sudah pukul tujuh malam. Sebelumnya Devita sudah mengatakan pada Brayen agar pulang lebih awal. Devita sudah tidak sabar untuk bertanya pada suaminya itu.
Devita mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Brayen. Namun, ketika Devita menghubungi Brayen, satu, dua, hingga lima kali tetap tidak ada jawaban. Devita mendengus kesal, padahal dia sudah mengirimkan pesan meminta suaminya untuk pulang lebih awal.
Ceklek.
Pintu terbuka. Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Senyum di bibirnya terukir ketika melihat Brayen sudah berdiri di ambang pintu. Dengan cepat Devita beranjak berdiri, dia langsung berlari ke arah suaminya itu. Brayen terkejut, melihat Devita yang berlari ke arahnya. Ketika Devita menghamburkan tubuhnya ke pelukan Brayen, dengan sigap Brayen langsung menangkup tubuh Devita.
"Devita! Kenapa kau berlari! Kau ini sedang hamil!" Suara Brayen terdengar begitu dingin dan penuh peringatan. Terdengar geraman Brayen menahan kesalnya karena istrinya itu berlari.
Devita meringis, dia melupakan satu hal. Dia adalah seorang wanita hamil. Dia terlalu senang melihat suaminya yang sudah pulang hingga melupakan dirinya yang sedang mengandung.
Kemudian, Devita mengurai pelukannya. Dia tersenyum dan memperlihatkan gigi putihnya. "Maaf sayang, aku lupa."
"Lupa?" Brayen melayangkan tatapan tajamnya. "Kau lupa jika kau sedang hamil, Devita Mahendra?"
Devita berdecak pelan. Suaminya itu memang selalu berlebihan.
"Maaf sayang...." Devita lebih memilih untuk mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan suaminya itu. Devita mengelus rahang Brayen, memberikan kecupan bertubi - tubi di sana.
Melihat Devita mencium dirinya, Brayen tidak mungkin jika tidak luluh. Dia menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.
Devita mengangguk patuh. "Maaf sayang, aku tidak akan melakukan itu lagi."
"Ya, jangan mengulanginya lagi." Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan banyak kecupan di bibir Istrinya itu. "Kenapa kau memintaku untuk pulang lebih awal, hm? Merindukanku?" bisiknya tepat di depan bibir Devita.
Devita langsung menarik tangan Brayen dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Kenapa kau tadi tidak menjawab teleponku?" Devita mengerutkan bibirnya kesal. Dia kembali mengingat suaminya itu tidak menjawab telepon darinya.
"Kau menghubungiku ketika aku sudah di bawah. Aku sengaja tidak menjawab karena ingin melihat istriku marah." Brayen mencubit bibir Devita yang mengerut itu. Kemudian dia menarik tangan Devita dan membawanya duduk di pangkuannya. Devita memekik terkejut, karena dirinya kini sudah duduk di pangkuan suaminya itu.
"Brayen!Kau ini! Aku sudah berat sekarang! Kenapa dengan mudahnya kau mengangkat tubuhku?" seru Devita.
"Berat?" Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Kau sama sekali tidak berat."
"Aku tadi melihat timbanganku, beratku bertambah menjadi tiga kilogram!" Cebik Devita.
"Kenapa hanya sedikit sayang? Apa Chef Della tidak membuat masakan yang enak untukmu?" Brayen memincingkan matanya. Terlihat ketidaksukaannya karena tubuh istrinya hanya mengalami sedikit kenaikan berat badan
"Jadi? Kau ingin aku bertambah gemuk ya!" Devita melayangkan tatapan tajamnya. "Kau pasti ingin melihatku gemuk, agar bisa melihat wanita yang lebih seksi dariku? Itu maksudmu bukan?"
Brayen mengulum senyumannya. Mendengar perkataan istrinya itu, Brayen semakin mengeratkan pelukannya, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya. Lalu menarik dagu Devita, menatap lekat manik mata istrinya itu. "Aku tidak mungkin tertarik dengan wanita lain. Aku tidak pernah melihat wanita yang sempurna seperti dirimu. Jadi tidak mungkin, aku tertarik pada wanita lain hanya karena melihat bentuk tubuhmu berubah. Terlebih, bentuk tubuhmu berubah karena sedang mengandung anakku."
Devita memeluk leher Brayen, dia membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Aroma parfum maskulin menyeruak di penciumannya. Mencium aroma tubuh suaminya sudah menjadi candu bagi Devita.
"Terima kasih, sudah menjadi suami yang sempurna. Segala semua yang kau lakukan, aku menyukainya." bisik Devita di telinga Brayen. "Aku sungguh sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Kau mencintai keluargamu. Kau selalu menjadikan keluargamu sebagai prioritas yang utama. Aku tidak pernah berhenti bersyukur memilikimu di hidupku."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.