Love And Contract

Love And Contract
Makan Malam



Edge Steakhouse, tempat yang dipilih oleh Brayen untuk makan malamnya. Brayen sengaja memilih restoran ini. Mengingat Devita yang memang menyukai makanan manis. Dan di sini adalah tempat yang tidak hanya terkenal menu steaknya yang sangat lezat tapi dessert yang di sediakan di restoran ini juga terkenal sangat enak.


Kini mobil Brayen telah tiba di Edge Steakhouse. Brayen dan Devita turun dari mobil. Devita menatap restoran yang terlihat sangat nyaman itu. Brayen menggenggam tangan Devita melangkah masuk kedalam restoran. Dan yang lainnya mengikuti Devita dan Brayen melangkah masuk kedalam restoran.


Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan VVIP yang sudah Brayen pesan. Devita duduk di sebelah Brayen. Begitupun juga dengan Laretta yang duduk di samping Angkasa. Dan Olivia yang duduk di samping Felix.


Kemudian pelayan mengantarkan berbagai menu steak. Tidak hanya itu, Brayen juga meminta pelayan untuk mengantarkan langsung dessert. Karena Brayen tahu, istrinya itu sangat menyukai segala jenis cake. Hidangan sudah tertata di atas meja. Mereka mulai menikmati makanan yang sudah di hidangkan di atas meja.


"Devita, apa besok kamu sudah memutuskan kita akan pergi kemana?" tanya Olivia sembari menikmati makanannya.


"Bagaimana jika besok kita mengunjungi tempat yang di kunjung oleh sepupumu itu?" Devita menatap Olivia dengan senyuman di wajahnya.


"Mandalay Bay Beach?" balas Olivia.


"Besok kita akan ke Las Vegas Strip. Kalau kalian ingin ke Mandalay lebih baik setelah kita ke Las Vegas Strip." jawab Brayen datar tanpa menoleh ke arah Devita.


Devita mengangguk setuju. "Sepertinya itu bagus. Apa kau akan bermain kasino?"


"Lihat nanti," balas Brayen.


"Brayen, aku rasa kita bertiga harus bermain kasino. Terakhir kali kau datang kesini bukankah kau kalah dariku, Brayen. Jika kali ini kau kalah lagi maka uangmu yang ada di perusahaanku jangan kau minta lagi." seru Felix yang langsung mendapatkan tatapan dingin dari Brayen.


"Well, tidak buruk untuk bermain kasino. Aku juga sudah lama tidak bermain kasino," kata Angkasa yang menyetujui perkataan Felix. "Dan aku juga ingin melihat kemampuan Kakak Iparku bermain kasino. Felix bilang kau tadi kalah Brayen? Aku pikir kau tidak akan pernah mengalami kekalahan di dalam hidupmu."


"Lebih baik kau diam." tukas Brayen dingin. Dia tidak memperdulikan ucapan Angkasa.


"CK! Brayen, jangan bilang kau takut kalah dariku lagi." Felix terkekeh kecil.


Brayen melayangkan tatapan tajam ke arah Felix dan tersenyum sinis. "Kalau kau sampai kalah, kau harus memberikan keuntungan dari uang yang aku berikan pada perusahaanmu lima kali lipat. Bagaimana? Apa kau berani?"


Felix mengumpat di dalam hati mendengar ucapan dari Brayen. Mengganti lima kali lipat sama saja, dia akan kehilangan sebagian dari perusahaannya.


"Kau gila!" Seru Felix


Devita, Laretta dan Olivia terkekeh geli mendengar perdebatan Felix dan Brayen.


"Kau takut?" tanya Brayen sambil tersenyum miring.


Felix membuang napas kasar, "Tidak! Lihat saja besok kau pasti kalah!"


Brayen mengedikkan bahunya acuh, dia mengambil wine di atas meja dan mulai menyesapnya.


"Angkasa, kau juga ikut bermain. Aku tidak ingin hanya rugi sendiri." seru Felix.


"Kau tenang saja, aku pasti akan ikut bermain. Termasuk melihat Kakak Iparku ini." balas Angkasa dengan santai.


Brayen tidak menjawab, dia langsung memanggil pelayan mengantar bill. Brayen mengeluarkan black cardnya untuk pembayaran. Setelah selesai membayar, mereka kembali pulang ke hotel. Devita sudah terlihat mengantuk. Laretta dan Olivia juga terlihat lelah. Kondisi Devita yang sedang mengandung membuat Brayen, tidak mungkin membiarkan istrinya terlalu lama berada di luar.


...***...


Malam semakin larut, sebelum kembali ke hotel Devita meminta Brayen untuk pergi mengunjungi Las Vegas Asian Night Market. Sejak awal Brayen tidak menyetujui keinginan istrinya itu. Tapi seperti biasa Devita selalu mengatakan bahwa itu adalah keinginan anak mereka. Brayen sudah kehilangan kata - kata jika Devita mengatakan hal itu. Sama seperti ketika Devita menginginkan ketoprak. Brayen hanya melayangkan tatapan dingin pada Istrinya. Meski dirinya menuruti keinginan Devita, tapi tetap Brayen tidak memperbolehkan Devita terlalu lama berada di luar.


Devita dan Brayen melangkah masuk kedalam kamar hotel. Terlihat jelas, Brayen sudah kelelahan. Devita melepas sepatunya., lalu mengambil gaun tidur yang ada di dalam koper dan langsung mengganti pakaiannya. Setelah sudah mengganti pakaian dan sudah menghapus make up di wajahnya, Devita melangkah menuju ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya. Melihat Devita sudah berbaring di ranjang, Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Terdengar suara panggilan ponsel milik Brayen, Devita menoleh menatap ponsel milik suaminya itu. Ponsel Brayen tidak berhenti berdering. Sedangkan Brayen masih di dalam kamar mandi. Devita beranjak dan langsung mengambil ponsel milk Brayen. Devita menatap ke layar tertera nama Albert. Tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Devita mengusap ke layar ponsel untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Nyonya Devita?" suara Albert terdengar sedikit terkejut, saat Devita yang menjawab telepon itu.


"Brayen sedang berada di dalam kamar mandi, ada apa Albert? Nanti aku akan sampaikan pada Brayen.


"Tidak apa - apa, Nyonya. Saya hanya ingin melaporkan perkembangan pembangunan mall dan Apartemen. Saat ini Smith Company telah menjadi tanggung jawab, Tuan Brayen. Saya hanya ingin melaporkannya saja Nyonya."


Devita mendesah pelan, "Apa Smith Company sangat merepotkan Brayen?"


"Tidak Nyonya, saya yakin Tuan Brayen sangat mampu menangani semuanya."


"Sebenarnya aku ingin membantu suamiku. Tapi dia tidak memperbolehkan ku karena aku sedang hamil."


"Nyonya tidak perlu khawatir. Tuan Brayen tidak hanya menangani ini sendiri. Tuan Edwin juga masih turut membantu. Selain itu saya juga ikut membantu Tuan Brayen untuk menangani proyek ini nyonya."


"Terima kasih, Albert. Kau selalu membantu suamiku."


"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, Nyonya."


"Kalau begitu aku tutup dulu. Aku ingin beristirahat. Nanti aku akan sampaikan pada Brayen, kalau kau menghubunginya."


"Baik Nyonya. Selamat malam."


Panggilan tertutup, Devita meletakkan kembali ponsel milk Brayen di atas nakas. Tidak lama kemudian, Brayen berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke arah ranjang, Brayen sudah mengganti pakaiannya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Brayen, tadi Albert menghubungimu." ucap Devita saat melihat Brayen sudah membaringkan tubuhnya.


"Albert?" Brayen mengernyitkan keningnya. "Ada apa dia menghubungiku."


"Albert ingin melaporkan perkembangan Apartemen dan mall yang sedang kau bangun," jawab Devita. Lalu pandangan Devita menatap lekat ke arah suaminya. "Brayen, apa kau lelah? Sekarang kau juga mengurus Smith Company. Harusnya itu sudah menjadi tanggung jawabku Brayen."


Brayen menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. Dia mengecup puncak kepala istrinya. "Aku tidak lelah sayang, ini memang menjadi tanggung jawabku."


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen, tangannya membalas pelukan Brayen. "Tapi kau tidak hanya mengurus perusahaan keluargamu saja. Aku tidak tega kau harus kelelahan jika harus mengurus perusahaan milik keluargaku juga."


"Aku tidak pernah merasa lelah sedikitpun." Brayen mengeratkan pelukannya. " Jangan di pikirkan, aku tidak ingin hal ini membebani pikiranmu. Lebih baik kita tidur sekarang. ini sudah malam."


Devita mengangguk pelan, dia membenamkan wajahnya di dada suaminya. Brayen mengusap lembut punggung istrinya. Perlahan Devita mulai memejamkan. Brayen juga ikut memejamkan matanya setelah melihat istrinya itu sudah tertidur dalam pelukannya.


... *******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.