Love And Contract

Love And Contract
Mencari Waktu Yang Tepat



"Maafkan aku harus berbohong Brayen. Aku akan mengatakan ini padamu nanti," gumam Devita saat melihat Brayen yang kini sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Devita menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Dia berusaha untuk tenang. Dia belum bisa mengatakannya saat ini. Dia ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Brayen.


Kini Devita berjalan menuju wardrobe milik Brayen. Dia mengambil piyama untuk Brayen lalu meletakkannya di sofa. Setelah menyiapkan piyama untuk Brayen, Devita berjalan menuju ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Ada perasaan rasa bersalah di diri Devita karena tidak mengatakan yang sejujurnya pada Brayen. Tapi dia terlalu sangat takut untuk mengatakannya sekarang. Rasanya dia belum siap mendengar amarah dari Brayen.


Terdengar suara dering ponsel milik Devita dengan Devita mengalihkan pandangannya dan langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia melihat ke layar ponselnya ternyata Olivia sahabatnya mengirimkan pesan. Tanpa menunggu lama, dia segera membaca pesan masuk dari sahabatnya itu.


Olivia : Devita, kau sudah kembali dari Turkey?"


Devita. : Ya, aku sudah berada di kota B.


Olivia : Ada hal yang harus aku beritahu padamu?


Devita : Ada apa Olivia?"


Olivia : Aku tidak sengaja melihat Angkasa di kota B, dia sudah kembali ke kota B, Devita!


Devita : Ya, aku tahu itu.


Olivia : What? Are you kidding me? Kau tahu dari mana?


Devita : Long story, I will tell you tomorrow.


Olivia " Oke, see you. Aku berharap it's not bad news.


Devita menghela nafas dalam, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ternyata Olivia juga sudah melihat Angkasa berada di kota B.


Brayen baru saja selesai mandi dan sudah memakai piyama yang Devita sudah siapkan untuknya. Brayen menatap Devita terlihat pucat, Brayen berjalan mendekat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Devita, kau sakit?" tanya Brayen sambil menatap wajah Istrinya yang terlihat begitu pucat.


Devita menggeleng pelan dan tersenyum, "Tidak, aku baik - baik saja. Mungkin aku terlalu kelelahan untuk hari ini,"


"Tadi, saat kau berbelanja kenapa tidak pergi membawa Ruby? Dia bisa membawa barang belanjaanmu." Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Aku masih bisa menanganinya sendiri, Brayen. Aku akan membawa Ruby jika aku belanja sangat banyak," jawab Devita yang berbohong. Jika membawa Ruby itu sama saja bunuh diri dan Brayen akan tahu, jika Devita bertemu dengan Angkasa.


Brayen menarik tangan Devita dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. "Lain kali, kau harus membawa Ruby. Aku tidak ingin melihatmu terlalu lelah,"


Devita mengangguk, " Ya, Brayen. Lain kali aku membawa Ruby."


Brayen mengecup puncak kepala Istrinya, menghirup aroma rambut Istrinya yang menjadi kesukaannya.


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen. " Bagaimana keadaan Daddy David, Brayen?" tanyanya yang mencemaskan keadaan mertuanya itu.


"Tadi, sebelum aku pulang aku datang ke rumah sakit. Keadaan Daddyku sudah jauh lebih baik. Dia juga sudah sadar," jawab Brayen sembari memberikan kecupan di bibir Istrinya.


Devita mengelus rahang Brayen. "Keluargamu beruntung, memiliki seorang putra sepertimu.Kau menyayangi kedua orang tuamu dan juga adikmu. Sejak dulu, aku ingin sekali memilikii seorang Kakak. Tapi kenyataannya aku adalah anak tunggal,"


Brayen mengeratkan pelukannya dan mengecupi puncak kepala Istrinya. " Kau sekarang memilikiku, Devita. Tanpa harus memiliki seorang kakak, aku akan memberikan semua cinta dan perhatianku padamu,"


Devita tersenyum lalu mengecup rahang Brayen. "Ya, aku tahu itu."


"Brayen, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" ucap Devita dengan tatapan yang begitu lekat pada Brayen.


"Jika suatu saat aku berbohong padamu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membenciku?" Devita bertanya dengan raut wajah yang tampak begitu ketakutan.


Brayen mengerutkan keningnya, "Kau berbohong padaku?"


Devita menggeleng cepat. " Maksudku, aku hanya bertanya jika suatu hari nanti aku berbohong padamu. Apa kau akan membenciku?"


"Semua tergantung apa masalahnya. Jika bukan perselingkuhan maka aku tidak mungkin membencimu. Tapi aku akan tetap kecewa padamu, jika sampai kau berbohong padaku," jawab Brayen tegas. " Devita, terkadang memang jujur membuat kita terluka. Tapi itu jangan menjadikan alasan untuk menutupi sesuatu."


Devita terdiam mendengar ucapan dari Brayen. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Ingin sekali Devita menceritakan semuanya. Devita hanya takut jika Brayen akan salah paham.


"Lebih baik kita tidur sekarang, besok kau harus kuliah pagi aku juga ada meeting di pagi hari," Brayen mengelus lembut pipi Devita sembari memberikan kecupan di bibir Istrinya itu.


Devita mengangguk, kemudian dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Jujur saja saat ini hati Devita merasa bersalah saat ini. Tapi dia masih bingung bagaimana menjelaskan ini pada Brayen.


"Maafkan aku, Brayen. Aku belum siap menceritakannya padamu. Aku akan bercerita di waktu yang tepat. Aku hanya takut, jika aku bercerita sekarang itu akan menimbulkan kesalahpahaman," ucap Devita dalam batin.


...***...


Cuaca pagi hari begitu cerah, hari ini Devita sudah kembali ke aktivitas sebelumnya. Devita juta tersenyum senang menyambut pagi hari yang indah. Sebelumnya tadi pagi Brayen sudah lebih dulu berangkat ke kantor karena Brayen memiliki jadwal meeting pagi hari.


Kini Devita mematut cermin. Dia memoles make up tipis di wajahnya. Hari ini, Devita memilih mini dress berwarna navy dengan di padukan dengan sneakers dengan warna yang senada dengan dress yang di pakainya. Setelah selesai berias, Devita mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruang makan. Devita tidak terlalu suka breakfast di kamar. Dia lebih memilih breakfast di ruang makan.


"Morning, Devita," sapa Laretta saat melihat Devita berjalan masuk kedalam ruang makan.


Devita tersenyum. " Morning,"


Devita menarik kursi lalu duduk di hadapan Laretta. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan beef cheese omelette dan tomato juice pada Devita.


"Bagaimana kandunganmu, Laretta? Apa kau masih mual?" tanya Devita. Sejak kemarin dia terus melihat Laretta yang terus mual.


Laretta menggeleng pelan. "Sudah lebih baik, dokter sudah memberikan obat untukku. ini normal untuk ibu hamil. Biasanya aku selalu mengalami morning sickness."


"Jika kau ingin ke dokter, kau bisa memintaku untuk menemanimu, Laretta " ujar Devita. Jujur saja Devita begitu kasihan melihat Laretta ke dokter seorang diri. Meski Laretta di temani oleh seorang pengawal, namun tetap saja Laretta akan merasakan kesepian


"Terima kasih Devita. Kau memang Kakak Iparku yang sangat baik," ucap Laretta dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Sudah jangan berlebihan, bayi yang ada di kandunganmu adalah keponakanku, tentu aku akan menyayanginya," balas Devita.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.